Seorang pemuda bernama Wang Fei yang dianggap lemah dan tertindas berusaha mendobrak batasan dan ingin menentukan nasibnya sendiri dengan menjadi lebih kuat.
"Jika langit tidak adil dan ingin membatasi takdirku, maka aku bersumpah akan meruntuhkan langit itu.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jin kazama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Di Dunia Ini Yang Terpenting Adalah Kekuatan.
Bab 26. Di Dunia Ini Yang Terpenting Adalah Kekuatan.
"Aku tidak tahu banyak," ucapnya sambil menggeleng.
"Nona hanya berpesan agar aku menyerahkan giok komunikasi ini kepadamu. Dan juga... memintaku untuk menyerahkan token identitas khusus pribadinya. Ketika kamu membaca pesan di dalam giok komunikasi nanti, kamu akan mengerti. Hanya itu yang aku tahu. Selebihnya itu bukan wewenangku lagi," jelas Ling-Ling lugas.
Seberkas energi spiritual menyembur dari telapak tangan Ling-Ling, dan dua benda itu pun segera dikirimkan kepadanya.
Di seberang, Wang Fei yang mendengarnya cukup terkejut. Tapi pada akhirnya dia tidak banyak bertanya dan menerima giok komunikasi serta token tersebut. Toh semuanya akan jelas ketika dia membaca pesan di dalamnya.
Pada saat itu, Ling-Ling berkata,
"Baiklah, karena sudah bertemu denganmu, aku akan segera pamit. Aku harus melapor kepada nona kalau pesan sudah aku sampaikan kepadamu," ucapnya sambil tersenyum.
Wang Fei mengangguk kecil.
"Terima kasih."
"Sama-sama... Lagi pula ini bukan apa-apa, hanya mengerjakan tugas yang diperintahkan kepadaku," jawabnya ringan.
Setelah itu dia berbalik dan segera melangkah pergi meninggalkan kediaman Wang Fei.
Seperginya Ling-Ling, Wang Fei mengalirkan energi spiritualnya ke dalam giok komunikasi. Pada saat itu terdengarlah suara yang sangat familiar di telinganya.
Mendengar suara itu dia tersenyum kecil. Namun ketika dia mendengar apa yang dikatakan oleh saudarinya itu, sebuah keterkejutan pun melintas di matanya.
"Hah... Apakah ini serius? Undangan makan malam? Dan itu adalah permintaan pribadi langsung dari ayah Saudari Meilan? Aduuh... Bagaimana ini? Jangan-jangan beliau ingin menjodohkan putrinya denganku... Waduh, bukankah ini gawat? Lalu bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Saudari Xia Qing-Qing dan Saudari Mu Lingyue? Bagaimana jika keduanya marah dan salah paham?" pikir Wang Fei yang lagi-lagi narsisnya kambuh.
Tapi setelah berpikir sejenak, dia pun segera berkata dengan tegas.
"Huh... Khawatir dan takut apa. Aku adalah pria bersih dan jujur. Jika memang harus menghadapi calon ayah mertua, baiklah, aku akan menghadapi semuanya dengan percaya diri."
Tepat pada saat itu, suara Xue Jian terdengar mengejek di dalam pikirannya.
"Uh... Kakak, aku baru sadar kalau ternyata selain percaya diri kamu juga cukup tidak tahu malu. Lihatlah wajahmu itu! Tebal sekali."
Alih-alih marah, Wang Fei justru terkekeh dan menggurui.
"Tsk... Xue Jian... Sepertinya dari nada bicaramu tuanmu sebelumnya sangat buruk dalam masalah wanita, ya? Aku ini, meskipun masih dalam masa pertumbuhan, tapi caraku memandang dunia ini tidaklah sempit sama sekali... Dalam dunia kultivasi, wanita dan pedang adalah dua hal yang saling melengkapi satu sama lain," ucapnya sok bijak.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Wang Fei, Xue Jian terdiam seribu bahasa. Faktanya, apa yang dikatakan olehnya adalah kebenaran.
Tuannya yang sebelumnya terlalu kaku, lugu, monoton, dan terkenal membosankan. Yang dia tahu hanyalah berlatih dan berlatih.
Bahkan orang yang berinteraksi dengannya yang bisa disebut teman pun bisa dihitung dengan jari. Dia adalah tipe orang tertutup yang susah sekali berinteraksi dengan orang lain. Menghela napas, Xue Jian hanya berharap bahwa tuannya itu bisa bereinkarnasi dan mendapat kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Dan sekarang, ketika menanggapi provokasi dari Wang Fei, mau tidak mau dia harus menyerah.
"Baiklah, baiklah, kau menang. Wanita dan pedang adalah dua hal yang saling melengkapi. Aku akan mengingat semuanya dengan baik," dengusnya agak kesal.
Kali ini bukan lagi terkekeh, tetapi Wang Fei benar-benar tertawa.
"Hahaha, tampaknya tebakanku benar. Sudah, jangan dipikirkan lagi. Xue Jian... Mulai sekarang dengan mengikutiku kehidupanmu akan jauh berbeda. Akan ada banyak hal menarik yang kita temui. Mungkin nanti kita bisa mendapatkan banyak teman," kata Wang Fei sambil tersenyum.
Dan begitulah akhirnya, setelah selesai membaca pesan dari giok komunikasi, sepanjang pagi sampai sore dia gunakan untuk melatih semua tekniknya, mulai dari Langkah Petir, Tinju Sembilan Matahari, dan juga Teknik Pedang Kilat yang dikombinasikan dengan pedang terbang.
...◦~●❃●~◦...
Malam hari.
Sekitar pukul tujuh malam, Wang Fei sudah berpakaian rapi. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia benar-benar mempersiapkan diri dengan baik.
Bagaimanapun, ini adalah undangan yang diberikan oleh saudarinya. Terlebih lagi, itu adalah permintaan khusus dari seseorang yang berstatus sebagai calon ayah mertuanya di masa depan.
Jadi, pada pertemuan pertama kali ini, dia harus meninggalkan kesan yang baik. Setelah merasa penampilannya sudah cukup rapi, dia pun meninggalkan kediamannya.
Tidak butuh waktu lama, gerbang pelataran murid luar pun terlihat di depan mata. Dan benar saja, ketika dua penjaga melihat Wang Fei yang wajahnya tampak asing, mereka langsung menghalanginya di depan pintu.
Setelah meneliti penampilan Wang Fei dengan saksama dan mendapati bahwa ia mengenakan pakaian sederhana, tatapan mereka pun dipenuhi rasa jijik dan penghinaan. Salah satu dari mereka berkata dengan dingin,
"Orang yang bukan murid luar tidak diperbolehkan masuk. Silakan pergi atau kami akan bertindak tegas."
Orang di sampingnya juga ikut menimpali,
"Ya... lebih baik kau tahu diri dan bersikap rendah hati. Pelataran wilayah murid luar bukanlah sesuatu yang bisa kau datangi hanya karena kau menginginkannya," serunya dengan acuh tak acuh.
Mendengar itu, wajah Wang Fei yang semula dipenuhi senyum ramah dan ingin menyapa langsung berubah menjadi dingin.
Diremehkan!
Lagi-lagi dia diremehkan dan dipandang sebelah mata hanya karena penampilannya saja.
Xue Jian yang notabene adalah jiwa pendendam dan haus darah, serta dingin tanpa belas kasihan, seketika langsung menunjukkan niat membunuh.
"Hanya penjaga gerbang rendahan saja, beraninya mereka bersikap sombong. Dan lagi, kekuatan mereka juga hanya berada di Ranah Penempaan Tubuh Level 7 Tahap Menengah. Sampah semacam ini, hak apa yang membuat mereka begitu angkuh? Kakak! Jangan menunda waktu lagi, bantai saja mereka semua!" ucapnya dengan geram.
Alih-alih ikut tersulut oleh teriakan Xue Jian yang menggema di kepalanya, dia justru sangat tenang. Namun, di balik ketenangan itu terdapat badai yang siap meletus kapan saja jika pihak lawan benar-benar tidak tahu diri dan terus-menerus menahannya.
"Maaf sebelumnya. Tetapi aku datang kemari atas undangan Nona Shi Meilan dari murid luar," ucapnya dengan tenang.
Dia juga segera menunjukkan token khusus milik saudarinya itu agar segera dipersilakan masuk.
Bukan apa-apa, hanya saja dia tidak ingin terlambat karena itu bisa memberikan kesan buruk pada pertemuan pertama.
Namun, bukannya segera memberi jalan, kedua penjaga itu saling berpandangan lalu segera tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha! Hai, bocah. Apa kau pikir kita berdua ini bodoh? Shi Meilan katamu? Hahaha! Apakah kau sedang melamun? Mana mungkin murid luar seperti dirinya mengenalmu. Apa kau tidak sadar jika kau seperti kodok yang merindukan daging angsa? Statusnya begitu tinggi dan orang rendahan seperti dirimu sampai kapan pun tidak akan pernah bi..."
Belum sempat salah satu dari mereka menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba niat membunuh yang begitu tajam langsung meletus dari dalam tubuh Wang Fei.
"BOOM!"
Seketika aura kematian yang haus darah langsung menggelegak bagaikan tsunami raksasa yang menelan dunia.
Ketika berpadu dengan energi pembantaian, dua penjaga itu langsung membeku karena ngeri. Saat mereka memandang mata Wang Fei yang telah berubah menjadi merah darah, ruang seolah terdistorsi dan di sekeliling mereka seketika berubah menjadi medan perang yang penuh pembantaian dan gunungan mayat yang menumpuk.
Darah mengalir seperti sungai, sementara sosok Xue Jian yang menjelma dalam wujud Wang Fei berdiri di atas gunungan mayat itu dengan pedang hitam yang berlumuran darah.
Tidak lama, pemandangan itu hanya berlangsung sekitar lima tarikan napas, setara dengan tiga puluh detik.
Namun, di mata keduanya, meskipun hanya berlangsung selama tiga puluh detik, rasanya seperti terjebak dalam neraka pembantaian abadi.
Tubuh mereka menggigil dan bergetar tanpa henti. Ketika semuanya kembali normal, tidak ada lagi tatapan menghina ataupun mengejek seperti sebelumnya.
Yang ada hanyalah tatapan horor yang dipenuhi rasa takut.
Mereka menyadari bahwa sosok yang ada di depan mereka bukanlah orang yang sederhana. Kali ini mereka bukan menemukan sasaran empuk, melainkan telah menendang pelat baja yang mungkin saja bisa menghancurkan mereka hanya dengan satu jari.
Seketika sikap mereka berubah menjadi sangat sopan. Kepala mereka menunduk dan ucapan mereka mulai terbata-bata saat membiarkan Wang Fei masuk ke dalam wilayah pelataran murid luar.
"T-tuan Muda, tolong maafkan kami. Kami tidak mengenali orang hebat dan tadi telah menyinggung Anda. Tolong berikan kami kesempatan untuk hidup dan anggap saja kami ini sebagai udara yang tak berarti."
Keduanya menyadari bahwa jika tidak bisa membuat pemuda yang ada di depan mereka puas, maka yang menanti mereka hanya satu, yaitu kematian.
Mendengar itu, Wang Fei memasang ekspresi datar. Kemudian suaranya yang dingin dan acuh tak acuh mulai terdengar.
"Ini hanya sebuah peringatan, tetapi tidak ada lain kali. Bayangkan jika yang kalian singgung adalah murid dalam sekte. Kalian bisa membayangkan seperti apa nasib kalian saat ini."
Kemudian dia melangkah masuk, meninggalkan kedua penjaga yang kini sudah basah oleh keringat yang mengucur deras di sekujur tubuh.
Benar... jika saja saat ini yang mereka singgung adalah murid dalam, maka bisa dipastikan mereka akan mati tanpa tempat pemakaman.
Mengingat sikap mereka yang sebelumnya sangat sombong dan arogan, kini mereka sangat menyesal. Seandainya waktu bisa diputar ulang, maka mereka pasti akan bersikap lebih baik agar tidak menyinggung pihak lain.
Keduanya pun menangkupkan tangan dan membungkuk dengan hormat.
"Terima kasih atas kesempatan hidup yang diberikan oleh Tuan Muda," ucap keduanya dengan rendah hati.
Ya... meskipun pemandangan ini cukup aneh karena seorang penjaga murid luar membungkuk kepada seorang murid pelayan, tetapi fakta tidak tertulis tetaplah menjadi bagian terpenting dari dunia ini, dan itu adalah kekuatan.
Siapa yang lebih kuat, dialah yang memegang kendali. Dan kekuatan yang ditunjukkan oleh Wang Fei bahkan jauh lebih dari cukup untuk mendapatkan rasa hormat dari mereka.
Melihat perubahan 180 derajat yang terjadi pada para penjaga tersebut, Wang Fei sama sekali tidak memperdulikan mereka. Benar saja, di dunia ini yang terpenting adalah kekuatan.
Akhirnya sesuai petunjuk yang disampaikan melalui giok komunikasi, Wang Fei pun segera melangkah ke arah tertentu dengan tegas dan percaya diri.
izin iklan ya guys aku baru up butuh bantuan teman2 buat baca novel ku
utk itu saya uplaus satu vote