NovelToon NovelToon
Gadis Berjari Enam

Gadis Berjari Enam

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Reinkarnasi / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.

Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.

bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Perubahan Nara

Yan Ning merasa puas melihat Yan Ran pergi sambil menghentakkan kaki karena kesal.

Begitu menoleh kembali ke arah Nara, rasa heran di wajahnya muncul lagi. Dia pun bertanya dengan hati-hati. "Kak, kamu hebat banget tadi. Si anak manja itu sampai tidak berkutik. Ini benar-benar bukan seperti dirimu yang biasanya."

Nara sadar kalau Yan Ning sedang menyelidikinya. Wajar saja, jiwa di dalam tubuh ini kan sudah tertukar.

Pemilik asli tubuh ini selalu menutup diri dan minder karena punya enam jari sejak kecil. Perubahan sikap Nara yang mendadak berani begini pasti terasa aneh bagi orang terdekat.

Mengingat hal itu, Nara menaruh mangkuk obatnya ke samping. Dia meraih jemari Yan Ning lalu menghela napas pelan.

"Ning, waktu aku nekat memotong jari ini, aku cuma ketakutan karena mengira Ibu bakal diceraikan. Kupikir kalau jarinya hilang, aku bisa jadi normal dan Kakek sama Nenek tidak akan membenciku lagi. Tapi nyatanya? Aku cuma terlalu polos."

"Kakak..." Suara Yan Ning terdengar tercekat. Dia balas menggenggam erat tangan Nara.

"Tahu tidak, pas aku pingsan kemarin, aku seperti bermimpi melihat orang-orang dari dunia lain. Pakaian mereka aneh sekali, dan ada beberapa orang yang jarinya enam juga, tapi tidak ada yang menganggap mereka pembawa sial," lanjut Nara.

"Itu bukan kutukan, Ning. Di sana, mereka bilang itu cuma kelainan pertumbuhan tulang biasa, sejenis penyakit biasa saja."

"Benaran, Kak?" tanya Yan Ning dengan mata membulat tidak percaya.

Nara mengangguk mantap. "Ning, aku sudah hampir mati kemarin, dan kejadian itu membuatku sadar. Karena mereka tidak pernah menganggap kita keluarga, buat apa kita capek-capek cari muka di depan mereka?"

"Kita semua sama-sama manusia, kenapa kita harus pasrah diperlakukan semena-mena? Percuma saja berkorban buat orang-orang yang berhati dingin," tegas Nara.

"Jadi, Kakak mau..." Yan Ning menatap Nara sambil mengernyitkan dahi, mencoba menebak arah pembicaraan.

"Dulu aku memang penakut, tapi setelah lolos dari maut—lagipula jari ini juga sudah hilang..." Nara mengusap perban di tangan kirinya, lalu menatap Yan Ning dengan lekat.

"Mulai sekarang, aku tidak akan lari lagi kalau ada masalah. Aku akan jadi lebih kuat, dan aku berjanji tidak akan membiarkan kamu atau Ibu diinjak-injak lagi."

"Kakak!" Tenggorokan Yan Ning mendadak terasa perih karena haru. Tanpa aba-aba, dia langsung menghambur dan memeluk Nara erat-erat.

Selama ini, justru Yan Ning yang sering bersikap berani layaknya seorang kakak demi melindungi Nara dan Nyonya Mu. Padahal umurnya baru sebelas tahun, masih anak-anak.

Begitu mendengar ucapan Nara barusan, dia akhirnya merasa punya tempat bersandar yang kokoh. Tangisnya pun pecah karena lega.

Nara mengusap lembut rambut Yan Ning sambil mengedarkan pandangan ke seantero kamar yang reot itu. Sadar kalau dia tidak mungkin bisa pulang ke kehidupan lamanya, dia mencoba berdamai dengan keadaan.

Di dunia modern dulu, orang tuanya sudah tiada dan dia cuma punya Cika sebagai satu-satunya keluarga. Kebetulan sekali, wajah Yan Ning sangat mirip dengan Cika.

Mungkin ini memang takdir. Nara bertekad akan menyayangi serta melindungi adik barunya ini sama seperti dia menyayangi Cika dulu.

Tak lama kemudian, Nyonya Mu kembali ke kamar. Nara pun memanfaatkan momen itu untuk mengulang kembali tekad yang dia bicarakan dengan Yan Ning tadi.

Berbeda dengan Yan Ning yang kelihatan bersemangat, wajah Nyonya Mu justru tampak mendung dan dipenuhi rasa cemas.

"Ibu, ada apa? Kenapa wajah Ibu sedih begitu?" tanya Nara begitu menyadari perubahan raut wajah ibunya.

"Tidak apa-apa, Nak," jawab Nyonya Mu sambil memaksakan sebuah senyuman tipis. Dia mengulurkan tangan yang kasar untuk mengusap pipi pucat Nara, lalu menghela napas berat.

"Ini semua salah Ibu yang tidak berguna. Ibu tidak bisa melindungi kalian sampai harus menderita seperti ini."

Nara memejamkan mata sejenak, merasakan kehangatan tangan ibunya. "Ibu jangan bicara begitu. Mulai sekarang, aku yang akan memastikan Ibu dan Ning bisa hidup tenang dan bahagia."

Yan Ning ikut menyahut cepat, "Iya, Ibu jangan menyalahkan diri sendiri. Seperti yang pernah dibilang Guru Bai, tidak ada anak yang malu karena ibunya sederhana. Bagaimana mungkin aku dan Kakak kepikiran begitu?"

Melihat kedua putrinya yang begitu pengertian, air mata Nyonya Mu kembali tumpah karena haru. Dia langsung merengkuh kedua anaknya ke dalam pelukan hangat.

"Anak-anak pintar... Punya kalian berdua saja sudah membuat Ibu sangat bersyukur."

1
Andira Rahmawati
hadir thor..👍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇😍
Ntaaa___
Jangan lupa mampir ya ka💪😇
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
maaf kak aku skip ya
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
aduh... makin kesini makin kesana
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
tahap ini masih belum apa-apa ya 🤔
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
saran kak jangan terlalu lembek ya pemeran utama nya🤭
Puji Pangestuti: iya PU nya lembek bnr dah,yg jahat malah yg berkuasa😎
total 1 replies
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
masih nyimak aku kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!