NovelToon NovelToon
DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

DARI TUKANG PAKIR HINGGA LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tri Wahyuni92

tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Warisan yang Belum Selasai

Lorong batu itu sempit dan berkelok-kelok, menurun tajam ke dalam perut bumi. Satu-satunya penerangan bagi Rian hanyalah cahaya keemasan lembut yang memancar dari lempengan batu peninggalan ayahnya. Semakin jauh ia melangkah, semakin terasa udara di sana menjadi berat, dingin, dan berbau lembap bercampur aroma tua yang samar—seperti bau perpustakaan yang tertutup selama ratusan tahun.

Dinding-dinding di sekelilingnya tidak lagi polos. Di sepanjang jalan, terukir ribuan gambar dan tulisan kuno. Rian berhenti sejenak untuk mengamati salah satu ukiran itu. Gambar itu memperlihatkan seorang laki-laki yang sangat mirip dengannya, bertarung melawan sekelompok orang berjubah hitam di tepi sungai.

Di bagian bawahnya, ada goresan tambahan yang lebih baru, seolah ditulis tergesa-gesa:

 "Aku hampir sampai, tapi mereka memaksaku mundur. Jika kau membaca ini, anakku... lanjutkan apa yang tak sempat ku serahkan. Kuncinya ada pada kebenaran, bukan kekuatan."

Jantung Rian berdegup kencang. Itu tulisan tangan ayahnya. Raka pernah berada di sini, bertahun-tahun yang lalu, namun ia gagal mencapai ujungnya dan akhirnya gugur di luar sana, melindungi jalan ini agar tidak jatuh ke tangan yang salah. Air mata menggenang di mata Rian, namun ia secepatnya menghapusnya. Ia tidak boleh lemah sekarang. Ia harus menyelesaikan ini.

Setelah berjalan cukup lama, suara gemuruh air yang tadinya samar kini terdengar semakin keras, bergema memenuhi lorong. Tiba-tiba, jalan di depannya terbuka lebar. Rian tertegun, terpaku di ambang pintu batu raksasa yang menampakkan sebuah ruangan luar biasa besar, seukuran lapangan, yang berada tepat di bawah pertemuan dua sungai tadi.

Di tengah ruangan itu mengalir air sungai yang masuk melalui celah-celah batu di langit-langit, jatuh membentuk air terjun kecil yang mengelilingi sebuah altar batu besar di tengahnya. Di atas altar itu, terbaring sebuah benda yang bersinar terang—sebuah kristal biru bening yang memancarkan cahaya begitu kuat hingga membuat seluruh ruangan itu tampak siang hari. Energi yang keluar dari benda itu terasa menusuk hingga ke tulang; Rian bisa merasakan betapa dahsyatnya kekuatan yang tersimpan di sana.

Namun, yang paling menarik perhatiannya bukanlah kristal itu, melainkan sosok yang berdiri diam di depan altar itu, membelakangi pintu masuk. Sosok itu mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu yang sudah lusuh, dan saat mendengar langkah kaki Rian, ia perlahan berbalik.

"Kau akhirnya datang juga," suara itu parau namun tenang, bergema di seluruh ruangan.

Rian mundur selangkah, tangannya mencengkeram lempengan batu di dadanya erat-erat. Di hadapannya berdiri seorang lelaki tua berambut putih, wajahnya penuh kerutan namun matanya tajam dan penuh wibawa. Di bahu jubahnya, terpasang lambang ular melilit pedang—tanda yang sama dengan musuh-musuhnya. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari pandangan lelaki ini. Ia tidak terlihat beringas atau haus darah seperti pengikut-pengikutnya di luar sana.

"Siapa kau?" tanya Rian tegas. "Kau bagian dari mereka? Kau yang memberi perintah membunuh ayahku, Raka?"

Lelaki tua itu menghela napas panjang, lalu melangkah perlahan mendekat, namun berhenti saat jarak mereka masih cukup aman. Ia menatap wajah Rian lekat-lekat, seolah sedang melihat bayangan orang lain di sana.

"Aku bernama Darmawan. Dan ya... aku adalah pemimpin kelompok yang kau sebut 'mereka'. Bertahun-tahun lalu, akulah yang berhadapan langsung dengan ayahmu di tempat ini." Darmawan menunjuk ke arah altar. "Dulu, kami seia sekata. Aku dan ayahmu sama-sama murid, sama-sama percaya bahwa kekuatan di sini bisa digunakan untuk kebaikan, untuk melindungi tanah ini dari bencana dan penderitaan."

Rian mengerutkan kening, bingung. "Apa maksudmu? Ayahku selalu bilang kalian adalah orang jahat yang ingin menguasai dunia."

"Dulu memang begitu pikirannya," jawab Darmawan pelan, nadanya berubah sedih. "Kami berpisah karena perbedaan paham. Aku percaya kekuatan ini harus diambil dan dikendalikan untuk mengubah nasib manusia. Ayahmu... dia percaya kekuatan ini terlalu besar dan berbahaya, harus tetap disegel dan dijaga agar tidak ada yang menggunakannya. Kami bertengkar hebat.

Dan pada pertemuan terakhir kami di sini, aku hampir saja berhasil mengambil kristal itu, tapi Raka menghalangi jalanku, melukai aku parah, dan menutup jalan ini sementara waktu dengan pengorbanan nyawanya sendiri."

Darmawan menunjuk ke arah dinding di sisi ruangan itu. Di sana, terukir nama Raka di atas tanda pedang yang patah.

"Dia mati bukan karena kalah bertarung, Rian. Dia mati karena memilih mengorbankan dirinya demi menahan kami agar tidak masuk ke sini sebelum waktunya tiba. Dan waktu itu adalah hari ini."

Rian merasakan dunianya berguncang. Selama ini ia tumbuh dengan kebencian kepada orang-orang yang membunuh ayahnya, ternyata kenyataannya jauh lebih rumit dan menyakitkan. Di hadapannya kini berdiri musuh terbesar ayahnya, yang ternyata pernah menjadi sahabat dan seperjuangan, dan yang kini menunggu kedatangannya dengan tujuan yang belum sepenuhnya jelas.

"Lalu kenapa kau tidak mengambil kristal itu sendiri?" tanya Rian, matanya tetap waspada. "Kau sudah di sini. Kenapa belum kau ambil dan pergi?"

Darmawan tersenyum tipis, lalu menunjuk ke arah lempengan batu di tangan Rian yang masih bersinar.

"Karena ada satu hal yang Raka sembunyikan dariku. Kristal ini tidak akan bisa diambil atau digerakkan oleh siapa pun kecuali mereka yang membawa darah keturunannya dan membawa kunci ini. Kau lihat? Aku bisa masuk ke sini, aku bisa berdiri di sini selama bertahun-tahun menunggu, tapi aku tidak bisa menyentuhnya. Tanpa kau, semua usahaku sia-sia belaka."

Nada suaranya berubah menjadi dingin dan penuh ancaman. Darmawan mengangkat tangannya, dan dari bayang-bayang di sudut ruangan, muncullah orang-orang berjubah hitam yang mengejar Rian tadi, kini sudah mengepungnya dari segala arah.

"Serahkan lempengan itu, Rian. Selesaikan apa yang ayahmu mulai, tapi dengan caraku. Bersama kita kuasai kekuatan ini, atau kau akan menyusul ayahmu ke alam baka di sini juga."

Rian mundur perlahan mendekati dinding, punggungnya menyentuh ukiran nama ayahnya. Di satu sisi ia bingung mendengar kenyataan pahit ini, tapi di sisi lain, ia ingat pesan terakhir yang terukir di lorong tadi: Kuncinya ada pada kebenaran, bukan kekuatan.

Ia menggenggam lempengan itu semakin erat, merasakan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Rian tahu, pertarungan sesungguhnya bukan lagi sekadar fisik, melainkan pertarungan untuk menentukan nasib kekuatan purba ini, dan warisan yang ditinggalkan ayahnya.

"Ayahku salah satu hal, Tuan Darmawan," ucap Rian lantang, suaranya bergema di ruangan luas itu. "Dia salah mengira bahwa kekuatan ini harus disegel selamanya. Tapi kau juga salah... karena kau pikir kekuatan ini bisa dimiliki siapa pun."

Rian mengangkat lempengan batu itu tinggi-tinggi, dan cahaya keemasan itu tiba-tiba bertambah terang, menyatu dengan cahaya biru dari kristal di tengah ruangan.

"Kebenaran yang sebenarnya adalah... kekuatan ini bukan untuk diambil, tapi untuk dikembalikan ke asalnya!"

1
Indra P.
lanjutkannnn
Indra P.
mantappp.....inspirasi yg hebatt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!