Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penempaan Tubuh II
Keajaiban terjadi begitu kilat petir menghilang, tubuh Qin Zhao terbentuk dan sepenuhnya berwarna merah keemasan.
“Ha-ha-ha! Energi petir ini sangat kuat!” Qin Zhao terharu pembentukan tubuhnya kali ini merupakan manifestasi dari tubuh petir.
Akan tetapi, kebahagiaan yang dirasakannya itu tidak berlangsung lama. Di atasnya kepulan awan berubah bentuk ke wujud seekor monster yang tubuhnya dipenuhi kilatan petir.
“Rupanya dia marah,” kata Qin Zhao setelah memperhatikan perubahannya.
Dhuaar!
Gelegar petir kembali menyambar, tetapi dengan cepat Qin Zhao berkelit menghindarinya.
“Energi petir ini meningkatkan kecepatanku,” ucapnya takjub.
Dhuar! Dhuar! Dhuar!
Monster di atasnya semakin murka dan terus menyambarnya tanpa henti.
“Ha-ha-ha! Kau tidak bisa lagi menyambarku. Sekarang giliran aku yang akan menyambarmu.”
Sambil berlari, Qin Zhao melepaskan energi petir di tubuhnya, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan energi petir milik si monster.
Peraduan kilatan petir yang tidak seimbang itu membuat Qin Zhao terpelanting. Namun, Qin Zhao tidak menyerah. Ia terus mengerahkan petir miliknya sampai batas kemampuan.
Sontak saja hal itu membuat dirinya menjadi samsak hidup si monster yang membabi buta menyambarnya.
“Aku seperti anak kecil yang terus meninju raksasa. Aku harus mencari cara untuk mengalahkannya,” gumamnya begitu sadar upayanya hanya kesia-siaan belaka.
Sambil melepaskan energi petir, Qin Zhao mengamati tubuh si monster untuk mencari celah meskipun tubuhnya terus terpental berjatuhan.
“Monster petir itu terbang rendah, aku harus melompati tubuhnya. Mungkin saja aku memiliki kesempatan untuk bisa mengalahkannya,” ucapnya setelah melihat puncak gunung.
Kali ini Qin Zhao tidak mengerahkan energi petir. Ia berlari cepat ke arah gunung tertinggi dan menapaki puncaknya.
Monster petir itu mendekatinya, dan kali ini Qin Zhao dapat melihat permukaan atas tubuh si monster petir.
Luapan energi di tubuh monster petir itu merupakan pusat energi.
“Apa yang harus kulakukan?” Qin Zhao berpikir keras.
Sementara si monster petir tidak tinggal diam. Getaran energi di tubuhnya menguat dan sepertinya ia sedang memusatkan energi untuk menciptakan satu petir terkuat.
Seperti dikejar waktu, Qin Zhao tidak bisa lagi berpikir untuk mencari solusi. Satu-satunya cara adalah mempertaruhkan nyawa memasuki pusat energi si monster.
Begitu kilatan petir terkuat menyembur, Qin Zhao melompat dari puncak gunung ke punggung si monster.
Boom!
Puncak gunung tertinggi hancur berkeping-keping. Sementara Qin Zhao yang melompat terhisap oleh poros energi petir.
“Aaaah!” jerit histeris Qin Zhao merasakan tubuhnya tersengat ribuan petir.
“A … aku harus bertahan dari siksaan ini,” ucap Qin Zhao bertekad.
Sengatan demi sengatan yang dialaminya membentuk tubuh Qin Zhao ke ranah baru dan berhasil menyerap sepenuhnya esensi petir di tubuh si monster yang kemudian meledak.
“Ha-ha-ha! Aku tidak menyangka pertaruhanku membuahkan hasil,” racaunya bangga.
“Kini waktunya bagiku untuk menjelajahi alam ini,” imbuhnya.
Kecepatan langkah Qin Zhao yang sekarang setara dengan kecepatan cahaya. Dalam satu tarikan napas ia berhasil menempuh satu benua.
“Aku kembali ke tempat ini,” ucapnya begitu melihat kawah besar tempatnya disambar petir.
“Penempaan tubuhku di alam ini sudah selesai, kenapa portal dimensi tidak muncul?” Qin Zhao memutar tubuhnya mencari portal dimensi yang belum menampakkan diri.
Ia pun berkelebat mencarinya.
“Mungkin saja masih ada hambatan yang menghalangiku. Sebaiknya aku berdiam diri di sini,” imbuhnya setelah tidak berhasil menemukan portal dimensi.
Dugaan Qin Zhao tidak salah. Yang menjadi hambatannya datang dalam beberapa waktu kemudian. Langit di atasnya kembali gelap dan lebih pekat dari sebelumnya.
“Apa monster petir itu belum mati?” Qin Zhao menyeringai.
Seperti yang sudah diduganya, langit hitam di atasnya membentuk wujud monster petir, tetapi bukan satu, melainkan lima monster petir yang bergemuruh menutupi langit.
“Kalian datang untuk meningkatkan kekuatanku. Ayo serang aku!” tantang Qin Zhao yang sekarang diliputi kepercayaan diri.
Kelima monster itu seperti tahu dengan apa yang terjadi pada monster petir sebelumnya. Mereka tidak langsung menyambar Qin Zhao, melainkan menggabungkan kekuatan mereka untuk bisa menghancurkan tubuh lawannya dalam sekali serangan.
“Ya ampun, bukankah mereka ingin menghancurkan alam ini?” Qin Zhao mulai waspada merasakan energi yang terus menguat.
Alam di tempatnya berdiri bergetar keras, dan satu per satu pegunungan di sekitarnya mengalami retakan.
“Mereka terlalu serius menghadapiku,” kata Qin Zhao berusaha bertahan dari tekanan energi yang menekannya.
Di atasnya, sebuah bola energi berukuran raksasa terbentuk. Suhunya yang panas melahap habis pepohonan dan membakar pegunungan hingga gosong berasap lalu berubah menjadi debu yang beterbangan.
“Apakah aku sanggup menahannya?” Qin Zhao mulai ragu.
Meskipun tubuhnya mampu bertahan dari tekanan dan suhu panas, tetapi dengan kekuatan sebesar itu, Qin Zhao tidak yakin tubuhnya mampu bertahan.
Bola energi dari kelima monster itu setara dengan luas satu benua. Kekuatannya terlalu mengerikan untuk seorang manusia yang berasal dari alam fana.
“Biar hancur sekalian, aku akan menyerap semuanya,” kata Qin Zhao tak lagi memiliki pilihan.
Berbeda dari sebelumnya yang memasuki pusat energi petir si monster. Kali ini ia akan menyerapnya langsung dari serangan energi yang menghantamnya.
Ia kemudian merentangkan kedua tangan dan bersiap menyambut ledakan dari serangan kelima monster.
Alam bergemuruh keras seolah akan hancur, dan kelima monster itu akhirnya melemparkan bola energi ke bawah.
Laksana kiamat, gelombang kejut dari energi petir membinasakan semua objek yang terhampar di alam dalam satu tarikan napas.
“Aaah!” Qin Zhao kembali menjerit.
Ledakan dari bola energi petir di tubuhnya terasa sangat menyakitkan. Lebih sakit dari ketika ia memasuki pusat energi.
Namun, tubuhnya tidak mengalami kehancuran, melainkan bertransformasi ke wujud raksasa.
Setiap sel energi terserap memasuki tubuhnya dan bahkan wujud kelima monster petir ikut terserap ke dalamnya.
Jeritan Qin Zhao masih menggema seiring terserapnya sisa energi di sekitarnya.
Suasana kemudian hening. Begitu tenang sampai kedua mata Qin Zhao kembali terbuka dan memancarkan kilatan petir.
“A … aku berhasil,” ucapnya setelah membuka mata.
Qin Zhao kembali mencari portal dimensi. Ia berkelebat menyusuri alam, tetapi kali ini ia merasa suasana alam mengalami perubahan dari sebelumnya.
“Ada apa ini? Mengapa gunung-gunung sebelumnya menjadi kecil?” ucapnya bertanya-tanya.
Ia kemudian memperhatikan tubuhnya yang dipenuhi kilatan petir, dan tidak menemukan sesuatu yang berubah pada dirinya.
“Aneh, alam ini seolah menyusut. Apakah karena ledakan sebelumnya?” Kembali Qin Zhao memikirkannya.
Setelah itu, ia melanjutkan langkah dan terkejut menyadari kecepatannya yang mengagumkan.
“Ada apa ini? Apakah alam ini benar-benar menyusut?” Qin Zhao tak habis pikir. Ia merasa sebelumnya alam yang dijejakinya itu sangat luas, tetapi kali ini terasa seperti di dalam rumah.
Sayangnya Qin Zhao masih belum menyadari tubuhnya berubah menjadi raksasa sebesar gunung.
Tak lama berselang, sebuah portal dimensi muncul di hadapannya. Qin Zhao tentu senang dan tanpa menunggu lama, ia memasukinya.