seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Kebenaran Terungkap
Malam itu, suasana di rumah megah keluarga Dewantara terasa sunyi dan kaku. Leonardo dan Liana berada di kamar tidur utama mereka. Liana duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan, hanya berbicara seperlunya saja saat Leonardo menanyakan sesuatu. Ia masih menahan semua perasaannya sampai hasil tes DNA keluar, meskipun hatinya sudah dipenuhi dengan berbagai dugaan.
Leonardo Duduk di samping Liana, menepuk bahu istrinya dengan lembut "Liana, kamu yakin tidak apa-apa? Sejak kemarin kamu jadi pendiam sekali. Kalau ada apa-apa, ceritakan saja padaku. Kita hadapi bersama-sama."
Liana Menoleh sebentar, lalu menundukkan wajahnya "Aku baik-baik saja, Mas. Hanya... ada hal yang sedang aku pikirkan. Aku akan ceritakan semuanya nanti, setelah semuanya jelas. Maaf ya, aku membuatmu khawatir."
Leonardo menghela napas panjang. Ia tahu istrinya sedang menyembunyikan sesuatu, tapi ia juga tidak mau memaksanya. Ia hanya bisa menunggu sampai Liana merasa siap untuk bercerita.
Di ruang tengah, Nayla duduk sendirian di sofa. Ia masih memikirkan apa yang dilihatnya tadi siang—Mama pergi ke rumah sakit bersama Dinda. Ia ingin menanyakan hal itu kepada orang tuanya, tapi ia masih ragu dan takut mendengar jawaban yang akan membuatnya hancur. Ia hanya memainkan ponselnya tanpa tujuan, pikirannya terus berputar dengan berbagai pertanyaan yang tak terjawab.
Tiba-tiba, ponsel Leonardo berdering. Ia melihat nama Adrian di layar, lalu segera mengangkatnya. Suara Adrian terdengar serius dan mendesak dari seberang telepon.
"Halo, Leonardo. Kamu masih di rumah? Saya sudah mendapatkan semua informasi yang kita cari. Dan ini sangat penting. Kamu harus segera datang ke kantor untuk membicarakannya. Tidak bisa ditunda lagi."
Jantung Leonardo berdegup kencang. Ia tahu bahwa apa yang akan didengarnya nanti akan mengubah segalanya.
: "Baiklah, Adrian. Aku akan segera ke sana. Tunggu aku."
Ia menutup telepon, lalu menoleh ke arah Liana yang masih duduk diam di tepi ranjang.
"Liana, aku harus pergi ke kantor sebentar. Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan Adrian. Aku akan segera kembali."
Liana hanya mengangguk pelan, tanpa menanyakan apa-apa. Ia masih terjebak dalam pikirannya sendiri.
Leonardo segera keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang tengah. Ia melihat Nayla yang masih duduk sendirian di sofa.
"Nayla, Papa harus pergi sebentar ke kantor. Kamu di rumah saja ya, jaga Mama. Kalau ada apa-apa, telepon Papa saja."
Nayla Mengangkat wajahnya, menatap ayahnya dengan tatapan penuh pertanyaan "Papa mau ke mana? Ada hal penting apa sampai harus pergi malam-malam begini?"
"Ada urusan kantor yang harus diselesaikan, Sayang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Papa akan segera kembali."
Nayla hanya mengangguk, meskipun di dalam hatinya ia semakin penasaran. "Ada apa sebenarnya? Kenapa semuanya jadi aneh-aneh belakangan ini? Mama diam saja, Papa pergi malam-malam... dan apa hubungan semuanya dengan Dinda?"
Leonardo segera keluar dari rumah dan menuju mobilnya. Ia melaju dengan cepat menuju kantornya, dengan perasaan yang campur aduk antara harap dan cemas. Ia tidak tahu apa yang akan didengarnya nanti, tapi ia tahu bahwa hidupnya dan keluarganya tidak akan pernah sama lagi setelah ini.
Sementara itu, di dalam rumah, Nayla masih duduk di ruang tengah, menunggu dengan perasaan yang tidak menentu. Ia bertekad untuk tidak diam saja lagi. Jika orang tuanya tidak mau bercerita, ia akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
******
Sesampainya di kantor, Leonardo langsung memarkirkan mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia berjalan cepat menuju lantai atas di mana ruang kerja Adrian berada. Hatinya berdebar kencang, seolah ia sudah merasakan bahwa apa yang akan didengarnya nanti adalah sesuatu yang sangat besar dan mengubah segalanya.
Saat tiba di depan pintu ruangan Adrian, ia tidak mengetuk pintu dan langsung masuk. Di dalam ruangan itu, Adrian sudah menunggunya bersama Rian, orang suruhannya yang telah mencari informasi ke rumah sakit tadi siang. Wajah mereka berdua tampak serius dan penuh kekhawatiran.
" Leonardo, silakan duduk. Terima kasih sudah datang secepat ini."
Leonardo duduk di kursi yang tersedia, menatap mereka berdua dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Adrian? Kamu bilang kamu sudah mendapatkan semua informasi yang kita cari. Katakan padaku semuanya. Jangan ada yang disembunyikan."
Adrian mengangguk, lalu menoleh ke arah Rian.
"Rian, ceritakan semuanya yang kamu dapatkan dari rumah sakit kepada Leonardo."
Rian mengangguk, lalu membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa dokumen serta tablet yang berisi rekaman CCTV.
"Baik, Pak. Tadi siang saya pergi ke rumah sakit tempat Bu Liana dan Sari melahirkan 17 tahun yang lalu. Awalnya saya hanya mencari catatan medisnya saja, dan semuanya terlihat normal dan rapi. Tapi kemudian saya meminta akses ke rekaman CCTV yang tersimpan dari masa itu, dan di situlah saya menemukan sesuatu yang sangat mencurigakan."
Rian menyalakan tabletnya dan memutar rekaman CCTV yang berhasil ia salin. Ia meletakkan tablet itu di atas meja agar Leonardo bisa melihatnya dengan jelas.
"Ini rekaman dari malam hari, sekitar pukul 2 pagi, tanggal 17 tahun yang lalu. Di sini terlihat ada seorang wanita yang memakai baju perawat masuk ke ruang perawatan bayi. Lihatlah gerak-geriknya, Pak. Ia terlihat sangat gugup dan terus-menerus melihat ke sekeliling seolah takut ketahuan."
Leonardo menatap layar tablet itu dengan seksama. Matanya melebar saat melihat wanita yang dimaksud berjalan menuju tempat tidur bayi di mana bayi Liana dan bayi Sari terbaring.
"Perawat yang bertugas saat itu sedang sibuk menulis catatan di meja di sudut ruangan, sehingga ia tidak menyadari apa yang sedang dilakukan wanita itu. Dan lihatlah ini..."
Di layar terlihat jelas bagaimana wanita itu dengan cepat mengambil kedua bayi tersebut, lalu menukar gelang identitas di pergelangan tangan mereka. Gerak-geriknya tergesa-gesa dan terlihat seperti orang yang sedang melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan. Setelah selesai, ia meletakkan kembali kedua bayi itu ke tempatnya masing-masing dan berjalan keluar dari ruangan dengan langkah cepat.
Leonardo dengan Suaranya bergetar "Ini... ini apa artinya? Apakah dia... dia menukar bayi kita dengan bayinya?"
"Benar, Pak. Dan yang lebih mengejutkan lagi... saya sudah memeriksa data karyawan rumah sakit pada masa itu, dan wanita yang terlihat di rekaman ini bukanlah staf rumah sakit. Ia tidak terdaftar sebagai perawat atau apa pun di sini."
Rian menggeser layar tabletnya, menampilkan foto wajah wanita yang terlihat jelas saat keluar dari ruangan.
"Dan ini... wajah wanita itu, Pak. Apakah Bapak mengenalinya?"
Leonardo menatap foto itu dengan mata terbelalak. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Ia mengenali wajah itu dengan sangat baik. Wajah wanita yang selama 17 tahun bekerja sebagai pembantu di rumahnya, yang ia anggap sebagai orang yang bisa dipercaya.
"Ini... ini Sari. Mantan pembantu saya ."
"Ya, leo . Itu benar. Sari yang melakukan semuanya. Ia menyamar sebagai perawat, memanfaatkan kelengahan staf yang bertugas, lalu menukar kedua bayi tersebut."
Leonardo Tangan gemetar, suaranya terdengar parau "Jadi... yang kita anggap sebagai anak kita selama 17 tahun ini... Nayla... sebenarnya adalah anak kandung Sari. Dan gadis itu ... dia adalah anak kandung saya dan Liana ? Anak kami yang sebenarnya?"
"Sepertinya begitu, Mas. Semua bukti yang ada menunjukkan hal itu. Sari sengaja menukar mereka, mungkin karena iri dengan kehidupan kita yang kaya raya. Ia ingin anaknya bisa hidup bergelimang harta dan mendapatkan pendidikan yang baik, sedangkan anak kita harus tumbuh dalam keterbatasan bersamanya."
Leonardo terdiam sejenak. Ia merasa seperti sedang bermimpi buruk yang tidak bisa bangun. Selama 17 tahun ia membesarkan anak orang lain dengan sepenuh hati, memberikan semua kasih sayang dan kemewahan, sedangkan anak kandungnya harus hidup dalam kesusahan, bekerja keras untuk bertahan hidup.
Rasa marah, sedih, dan kecewa bercampur aduk menjadi satu di dalam hatinya. Ia merasa dipermainkan oleh seseorang yang ia percayai selama ini. Ia merasa bersalah pada anak kandungnya yang tidak pernah ia rawat, tidak pernah ia sayangi, dan tidak pernah ia kenal selama ini.
Leonardo Mengusap wajahnya yang basah oleh air mata yang tanpa sadar menetes . "Mengapa dia melakukan hal sekejam ini? Bagaimana dia bisa memisahkan seorang anak dari orang tuanya sendiri selama 17 tahun? Bagaimana dia bisa hidup dengan tenang sambil menyimpan rahasia sebesar ini?"
"Saya juga tidak mengerti, Mas. Tapi bukti-bukti ini tidak bisa dibantah. Semua sudah tercatat dengan jelas di rekaman CCTV. Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Leonardo menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya meskipun hatinya masih bergemuruh. Ia tahu bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi, tapi ia harus bertindak dengan tegas demi kebenaran dan keadilan.
"Kita akan memanggil Sari. Kita akan menemuinya dan menanyakan semuanya secara langsung. Kita akan memastikan semuanya, dan kemudian kita akan mengembalikan hak anak kami yang sebenarnya. Dan putri kami berhak mendapatkan kehidupan yang seharusnya ia miliki. Dan Nayla... apa pun yang terjadi, kita tidak akan membiarkannya hidup dalam kebohongan selamanya."
"Baik, Leo . Saya siap membantu apa saja yang dibutuhkan."
Leonardo berdiri dari kursinya, menatap ke luar jendela dengan tatapan yang penuh tekad.
"Sekarang, aku harus pulang. Aku harus memberitahu Liana tentang semuanya. Aku tidak bisa menyembunyikan hal ini darinya lagi. Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama."
...----------------...