NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilangnya Rio

"Sudahlah, aku tidak marah pada kalian dan sudah memaafkan kalian," kata Rayya sungguh-sungguh.

Sejujurnya Ia tidak membenci mereka, tapi karena mereka berdua selalu saja menargetkannya, membuat Rayya juga tidak bisa tinggal diam membiarkan hal tersebut.

"Terimakasih Rayya, terimakasih."

Lily dan Mona langsung bangun dengan wajah bahagia dan lega, mereka juga membantu Monika untuk ikut bangkit.

"Ayo kita pergi, tidak usah berurusan dengan mereka lagi," kata Marsel menarik pinggang Rayya dan membawanya pergi.

Setelah kepergian Rayya yang di bawa oleh Marsel, ketiga wanita itu kembali memperlihatkan wajah asli mereka.

"Ini adalah penghinaan bagiku, aku tidak bisa membiarkan wanita sok hebat itu begitu saja," ucap Monika penuh dendam.

Mona mengangguk setuju, jika saja Marsel tidak berpihak pada Rayya, pasti sejak pertama kali Rayya masuk di rumah itu sudah menjadi permainan mereka.

"Tante tahu siapa yang bisa menghadapi Rayya tanpa takut pada Marsel," kata Lily dengan wajah penuh rencana. Nampaknya Ia akan menyebarkan sesuatu yang tidak baik lagi.

"Siapa, Ma?" tanya Mona penasaran.

"Serina."

Lily menyebut nama itu dengan pasti. Mona juga langsung setuju begitu nama Serina di sebut.

"Ih Tante, Marsel itu hanya boleh jadi milikku."

Monika terdengar tidak suka dengan Serina, sepertinya ada sesuatu dengan Serina itu.

"Diamlah! Ini juga baik untukmu. Sekalian kita singkirkan mereka berdua," kata Lily penuh rencana. Monika yang awalnya berwajah masam seketika ceria kembali.

"Tante, kamu memang licik," puji Monika dengan wajah tak senang karena saingan nya datang lagi.

Lily hanya tersenyum mendengar pujian Monika.

_____________________

Kembali ke orang tua Rayya. Sella baru saja sampai di rumah dan di sambut oleh Indah.

"Kamu cuma pulang sendiri, mana Rio?" tanya Indah.

"Memang nya dia belum pulang, Ma? Tunggu, aku hubungi dulu lagi."

Sella yang belum hilang rasa khawatirnya kembali menghubungi Rio, tapi sayang nomor Rio kembali tidak aktif.

"Bagaimana?"

"Tidak aktif, Ma. Saat di rumah sakit sebelum mengantar Rayya, di hubungi juga tidak aktif."

Wajah Sella masih cemas.

"Sudahlah, mungkin nanti dia pulang. Kita masuk dulu saja."

Indah akhirnya mengajak Sella masuk, Sella berusaha tidak berpikiran buruk tentang Rio. Mungkin ponsel pria itu kehabisan baterai, begitu pikirnya.

Namun hari hampir gelap, masih belum ada kabar dari Rio sampai saat ini.

"Bagaimana ini, Ma?"

Sella tidak bisa menyembunyikan kecemasan nya lagi. Indah juga mulai ikut khawatir di buatnya.

"Coba hubungi Rayya, tanya apakah Rio ada menghubungi dia," usul Indah dan Sella segera melakukannya. Walau merasa berat untuk merepotkan Rayya, tapi Ia tidak tahu lagi harus bagaimana.

"Hallo Rayya," sapa Sella begitu panggilan terhubung.

"Iya, Ma. Ada apa?"

Saat ini Rayya baru selesai mandi dan cepat-cepat keluar dari kamar mandi saat mendengar dering telepon nya berbunyi.

Ia bahkan tidak peduli pada Marsel yang dari keluar kamar mandi tadi terus memperhatikan nya.

"Rayya, apa Papa ada mengabarimu. Mama sangat cemas memikirkannya."

"Maksud Mama, Papa belum juga pulang?" tanya Rayya terkejut dengan dahi mengkerut.

"Iya Nak, Papa belum pulang. Apa kita perlu lapor polisi."

Sella tidak tahu harus mencari Rio ke mana, maka yang bisa di lakukan hanya melaporkan hilangnya Rio ke polisi.

"Tapi, Ma. Papa hilang belum sampai dua puluh enam jam. Polisi mungkin belum akan memproses nya."

Jika melapor sekarang pasti percuma saja.

"Lalu bagaimana Rayya. Mama sangat cemas memikirkan Papa."

Suara Sella tidak bisa tenang lagi, bahkan sudah terdengar tergugu karena menangis memikirkan Rio yang entah ada di mana.

"Mama tenang dulu, ya. Rayya akan coba cari. Nanti Rayya hubungi Mama lagi kalau ada kabar dari Papa."

Rayya juga tidak tahu harus bagaimana, Ia hanya bisa menenangkan Sella lebih dulu.

Panggilan itupun berakhir, Rayya menggenggam erat ponselnya dan berpikir keras apa yang harus dirinya lakukan. Dimana Ia harus mencari keberadaan Rio.

"Rayya, ada apa?" tanya Marsel melihat Rayya seperti tidak baik-baik saja.

'Aku hampir lupa. Marsel pasti bisa dengan mudah menemukan orang hilang. Tapi bagaimana caranya aku meminta tolong padanya' batin Rayya bingung apakah harus meminta bantuan Marsel atau tidak. Tapi Ia yakin Marsel bisa menemukan Rio dengan cepat. Sedangkan dirinya tidak memiliki petunjuk apapun tentang keberadaan Rio.

"Rayya, ada masalah?" tanya Marsel lagi karena Rayya hanya diam dari tadi tanpa membalas pertanyaan nya.

"Bisakah aku meminta bantuan mu?" pinta Rayya dengan suara pelan dan wajah tak enak. Sejujurnya Ia malu meminta tolong pada Marsel, tapi ini menyangkut Rio dan sangat mendesak.

"Ada apa, katakanlah."

Marsel langsung menarik Rayya untuk duduk terlebih dahulu, sepertinya bantuan yang Rayya inginkan itu sangat serius.

"Papaku belum pulang dan tidak ada kabar seharian ini. Bisakah kamu mencari keberadaan nya untuk ku," kata Rayya agak sungkan meminta bantuan Marsel.

"Hanya itu?" tanya Marsel memastikan tidak ada masalah lain yang saat ini membuat Rayya tidak nyaman.

"Hanya itu."

Rayya mengangguk.

"Baiklah, Rayyaku istirahat saja. Biar aku yang mencarinya untuk mu."

Marsel menenangkan Rayya agar wanita itu tidak perlu cemas dan membiarkan saja Marsel yang mengurus hilangnya Rio.

"Apa aku bisa membantu."

Rayya tidak enak jika membiarkan Marsel mencari sendiri, tapi Marsel malah menggeleng menanggapi ucapan Rayya.

"Tidak perlu, Rayya baru saja keluar dari rumah sakit. Rayyaku istirahat saja."

Biasanya mendengar Marsel menyebut Rayyaku membuat wanita itu kesal, tapi entah kenapa kali ini sebutan itu terasa berbeda di telinga Rayya. Apa karena Marsel akan membantunya mencari keberadaan Rio, atau karena hal lain.

Entah lah, Rayya tidak tahu dan sekarang dia malah patuh mengikuti perintah Marsel yang menyuruhnya untuk istirahat.

Marsel segera keluar dan menghubungi Alex yang sedang ada di ruang bawah tanah.

"Periksa lokasi keberadaan Rio sekarang," perintahnya cepat. Alex dengan patuh mengiyakan dan segera bergerak.

Marsel menunggu di ruang kerjanya dengan tenang di atas kursi kebesarannya. Tidak lama pintu ruangan nya di ketuk dan itu adalah Alex, Marsel langsung menyuruhnya untuk langsung masuk.

"Bos, lokasi terakhir Tuan Rio berada di pemakaman,"

Dahi Marsel berkerut mendengar hal tersebut. Kenapa ada di pemakaman? Begitu pikirnya.

"Sejak kapan posisinya ada di sana?" tanya Marsel memastikan.

"Dari pagi, Bos. Bahkan sebelum Nona Rayya pulang dari rumah sakit."

Alex memberitahu.

"Sepertinya ada yang aneh, kita segera ke sana."

Marsel langsung bangkit dan segera meluncur ke pemakaman untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada Rio.

Tidak berselang lama mobil mereka langsung sampai di lokasi. Mereka juga dapat melihat mobil Rio memang terparkir di tempat itu.

"Periksa mobil," perintah Alex pada anak buahnya yang juga ikut serta. Para bawahan segera bergerak dan kembali dengan cepat.

"Kosong Bos," lapor salah satu di antara mereka.

"Mungkin dia ada di dalam. Bos, apakah kita akan masuk dan melihat?"

Alex meminta persetujuan Marsel terlebih dahulu sebelum bertindak.

"Masuk."

Mereka tahu jika ke tempat itu, sudah pasti Rio akan ke makam anaknya Liam, tapi apa yang mau Rio lakukan selama ini di sana dan juga waktu akan gelap.

"Ada orang lain. Di sini juga sepertinya terjadi cekcok."

Alex meneliti tempat tersebut dan memprediksi gesekan yang terjadi di tanah. Jika hanya Rio seorang tidak akan menciptakan bentuk seperti itu, hanya bekas alas kaki yang bisa saja terlihat. Tapi itu justru seperti hal yang lebih serius.

"Bos, ada yang di seret ke arah sini."

Alex memanggil. Marsel melihat dan itu benar seperti menarik sesuatu.

Mungkinkah tubuh seseorang? Pikir Marsel.

"Ikuti," perintah nya.

Mereka pun mulai mengikuti jejak yang tertinggal itu dan berhenti begitu saja. Tidak ada bekas seretan lagi, namun sepertinya beberapa bekas pijakan tertinggal di sana.

"Sepertinya Tuan Rio sudah di bunuh," ujar Alex dan Marsel tidak menanggapi.

Ia tahu apa yang terjadi, Rio sudah di bunuh dari makam tadi dan di seret ke tempat itu oleh seseorang. Tapi kenapa setelah sampai di sana jejak kaki yang ada bukan hanya seorang, melainkan beberapa orang.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: makasih ❤️
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!