Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lama menunggu Linus berusaha sekuat tenaga untuk turun dari ranjang rumah sakit, ia benar-benar merasa bosan berdiam diri di dalam ruang rawat terlalu lama.
"Clara sialan, dia benaran ningalin gue apa?" Batin Linus.
Setelah berhasil turun dari ranjang, dirinya berjalan ke arah pintu dan keluar dari sana.
Namun terlihat Clara yang berlari cepat ke arah Linus sambil membawa kresek di tangan nya.
"Lo mau ke mana? Kan udah gue bilang tunggu di dalam," ocehannya saat tiba di hadapan Linus.
"Gue kira Lo udah pulang dan ningalin gue sendiri, gak bertanggung jawab, dan gak mau nerima permintaan gue," timpal Linus.
"Engak bego, gue ke dokter ambil obat, sama bayar tagihan rumah sakit nya, mumpung Lo udah keluar yaudah ayok gue anterin pulang sekarang," Clara melangkah ke samping Linus sambil memegang tangan nya yang sebelah kiri.
Linus melihat Clara yang begitu peduli dengan nya, dia baru menyadari kalau di sela sikap galak Clara tersimpan sosok yang lembut dengan hati yang tidak tegaan.
"Apa? Cepetan jalan," Clara menyadari jika Linus melirik nya dan merasa risih.
Mereka pun bersama-sama keluar dari rumah sakit, karena Clara dan Linus tidak membawa mobil, Clara terpaksa harus naik taxi online.
Tidak butuh waktu lama, taxi yang di pesan Clara pun tiba, keduanya bergegas masuk karena hari sudah semakin sore.
"Kemana non?" tanya sang sopir dengan sopan.
"Jalan xx pak," Linus belum sempat mengatakan alamat rumahnya kepada Clara, namun gadis itu malah sudah tau.
"Astaga mampus gue, kok gue langsung ngomong sih dia pasti bakal curiga,"batin Clara seketika panik.
"Lo kok tau alamat rumah gue?" Linus mengerutkan keningnya.
Clara menatap Linus dengan bingung ia menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Emm, anu gue ... itu ... Kak Raja, iya dia pernah bilang ke gue,"
"Raja? Oh iya Clara gue boleh gak nanya satu hal sama Lo," Linus mengabaikan topik pembicaraan mereka dan membuat topik baru.
"Apa?"
"Lo punya hubungan apa sama Raja? Akhir-akhir ini Lo selalu bareng dia dan kalian kelihatan lengket banget, Lo sama dia beneran pacaran?" Meskipun merasa tidak berhak untuk menayangkan hal yang pribadi seperti itu kepada Clara, namun Linus sama sekali tidak bisa menahan nya.
Clara teridam dalam beberapa detik, ia terlihat enggan untuk menjawab pertanyaan Linus, namun mau bagaimana pun Raja pernah mengatakan kalau ia ingin memberikan pelajaran kepada Linus dan mengubah sifat nya menjadi orang yang lebih baik ia harus berbohong kepada Linus kalau dirinya dan Raja pacaran, bukan adik kakak tiri.
"Kenapa diam?" rasa penasaran Linus semakin menjadi-jadi ketika melihat Clara diam.
"Iya,"
Satu kata akhirnya keluar dari mulut gadis cantik itu dan membuat darah Linus seketika berdesir hebat dan dada nya memanas.
"Pantes, kok Lo bisa mau sama dia? Apa karena dia baik?" Linus tersenyum paksa.
"Enggak, karena memang gue suka aja sama dia," Clara menoleh dan menatap senyum palsu Linus.
Suasana pun mulai hening, baik Linus maupun Clara mereka saling bungkam.
Sampai di mana sang sopir Taxi memberhentikan taxi nya di depan rumah Linus.
"Kita udah sampai," Linus tidak bisa membuka pintu mobil karena kondisi tangan nya.
Clara pun mengerti dan kemudian keluar lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuk Linus.
Namun sopir taxi tersebut mengira kalau Clara tidak akan masuk lagi, ia yang sudah menerima bayaran dari sebelum Clara turun segera pergi meninggalkan mereka.
"Lah, lah kok bapak taxi nya minggat?" Clara menunjuk-nunjuk taxi yang telah melaju jauh.
"Lagian Lo mau pulang apa? Lo kan belum ngerawat gue," Linus melirik Clara dengan lirikan yang mematikan.
Clara yang mendengar itu seketika menatap tajam Linus, karena seingat nya dia belum menyetujui permintaan Linus untuk jadi perawat.
"Gue gak ada bilang iya, kok Lo udah semena-mena," ia menatap Linus dengan tatapan geli.
"Gue udah anggap itu setuju karena buktinya Lo nganterin gue pulang,gue gak mau tau sekarang ayo masuk bantuin gue mandi," tampa menunggu jawaban dari Clara Linus mengunakan tangan kirinya mengengam pergelangan tangan Clara segera menyeretnya masuk ke dalam rumah.
Clara merasa otaknya sedikit ngebug ketika mendengar ucapan Linus, setelah beberapa detik barulah ia ngeh dengan arti kata Linus barusan.
"Apa? Gak! Enak aja dasar cowok cabul!" Clara melepaskan tangan Linus dari pergelangan tangan nya saat mereka telah tiba di depan pintu masuk rumah mewah itu.
"Cabul? Maksud nya apaan kan Lo perawat gue semuanya jelas Lo yang harus bantuin sebagai seorang perawat Lo gak mungkin dong gak paham apa aja tugas Lo sekarang," omel laki-laki tampan itu ia terlihat kesal saat Clara mengatakan dirinya cabul namun saat marah ia terlihat lebih tampan dengan rambut panjang ala aktor Korea milik nya.
"Linus gue gak mau tolong biarin gue balik gue takut kak Raja bakal nyariin dan marah sama gue," tidak tau harus bagaimana Clara yang polos merasa begitu takut dan ingin pulang.
"Lo gak mungkin tingal serumah sama Raja kan?" tutur Linus lagi, kalau saja tidak bisa mengontrol emosi mungkin saat ini dirinya ingin berteriak sekencang mungkin.
Lagi-lagi Clara terkena pertanyaan yang membuat ia bingung harus menjawab apa, namun Linus seolah tidak peduli dan segera menarik kembali tangan Clara masuk ke dalam rumah tersebut, mereka segera menaiki tangga menuju kamar Linus yang ada di lantai dua.
Sementara itu di sisi lain ...
"Kok Lo datang sendirian ke rumah gue? Di mana Clara? Lo gak mungkin ningalin dia di rumah sakit kan?" Melihat Bastian yang datang ke rumah nya sendirian Raja mulai gelisah.
Sebelumnya Raja sudah mengirimkan alamat tempat tinggal baru nya ya itu rumah papa Tian kepada Bastian agar nantinya Bastian tidak perlu bertanya kepada Clara saat hendak mengantarkan sang adik pulang.
"Adek Lo gak mau pulang, btw rumah Lo gede banget, eh maksud gue rumah papa nya Clara gede banget," Bastian seolah tidak mempedulikan Raja dan berjalan masuk ke dalam rumah tersebut lalu duduk tepat di sofa ruang tamu.
Hal ini membuat Raja yang melihatnya begitu kesal dan segera menyusul Bastian.
"Bodoh! Kan gue udah bilang! Jangan tinggalin dia! Lo ningalin dia sama Linus?" Raja berdiri di hadapan Raja kemarahan nya memuncak seolah seekor harimau yang sedang bersiap untuk menerkam orang yang menggangu nya.
"Katanya dia bakal nelpon Lo buat ngabarin, dia mohon sama gue buat gak pulang ya mau gimana lagi, gak mungkin gue seret kan rumah sakit dan gue juga gak ada hak buat marahin dia karena gak mau balik lagian dia kelihatan ada hubungan sama Linus gue gak mungkin stay di sana jadi orang ketiga," jelas Bastian dengan tenang.
Mau tidak mau Raja tidak bisa menyalakan Bastian karena yang di ucapkan oleh sepupunya itu ada benarnya.
Dengan hati panas ia duduk di samping Bastian sambil mengacak-acak rambut terlihat sangat furstasi.
Bastian yang melihat itu seketika bingung dan seolah ada sesuatu yang mendorong dirinya untuk bertanya.
"Hubungan Lo sama Linus bukanya dekat banget ya? Kok Lo keliatan beda sekarang, apa jangan-jangan Lo suka sama Clara?" tebakan yang tepat di lontarkan oleh Bastian kepada Raja.
Raja menatap Bastian dengan tatapan dingin, ia juga tidak tau mengapa tapi rasanya begitu khawatir jika Linus berdekatan dengan Clara lagi yang notabene nya adalah Cery.
"Lo gak tau apa-apa soal Clara dan jangan asal tebak, gue cuma gak mau bajingan kayak Linus dekatin dia dan nyakitin dia untuk yang kesekian kalinya gue gak rela sama sekali gak rela gua gak mau kehilangan Cery untuk ya g kedua kalinya," tampa sadar Raja mengucapkan kata-kata yang membuat Bastian semakin tidak mengerti.
"Cery? Siapa lagi Cery dan maksud Lo apaan sih? Linus kan sahabat baik Lo bukan nya bagus ya kalau adek tiri Lo sama dia?" polosnya Bastian mengatakan hal itu.
"Dengerin gue Bastian ... " Raja pun tidak tahan untuk menjelaskan semuanya kepada Bastian, ia pun mulai menceritakan kronologi bagaimana ia dan Linus bisa bermusuhan sekarang.
Ia menceritakan mulai dari siapa Clara dan siapa Cery lalu bagaimana ia bisa sebenci sekarang terhadap Linus.
Setelah mendengar cerita Raja dari awal sampai saat ini, barulah Bastian mengerti kenapa Raja cukup membenci Linus sekarang dan sangat tidak ingin kalah Clara dan Linus berdekatan meskipun ia tau bagaimana penyesalan Linus sekarang.
"Oke, oke gue ngerti," Bastian mengangguk paham.
"Udah,gue mau mandi abis itu Lo temenin gue jemput Clara ke rumah Linus," Raja berdiri dari duduknya segera meninggalkan Bastian sendirian di ruang tengah.
Bastian tidak menjawab nya, seorang pelayan datang membawa nampan yang berisikan segelas teh serta cemilan untuk di nikmati Bastian sambil menunggu Raja.
"Baru kelihatan tu anak posesif nya," batin Bastian.
Sementara itu di kediaman Linus ...
"Bukain," Linus memaksa Clara untuk membuka kancing baju sekolah yang ia kenakan.
Saat ini ia dan Clara berada di kamar nya dan dirinya meminta Clara membantu nya mandi.
"Gak gue gak mau! Gue mau pulang!" sergah Clara menajuh dari Linus.
"Pulang? Oke Lo boleh pulang, Lo juga boleh bawa mobil gue pulang nanti ke rumah Lo," saat Clara melangkah mundur untuk menjauhi nya, Linus malah maju dan maju sambil tersenyum miring.
"Beneran boleh nih? Pulang? Tapi gak perlu bawa mobil Lo gue bisa pesen Taxi lagi aja kok," Clara bersemangat meskipun terus mundur.
Dukh ... Kaki Clara mentok ke ranjang Linus dan ia tidak bisa menjaga keseimbangan dan memegang lengan kiri Linus sehingga keduanya sama-sama tidak bisa menjaga keseimbangan dan Linus jatuh di atas ranjang dengan Clara di bawah tubuhnya.
Dua pasang mata itu kini beradu dengan sepasang jantung yang bertemu dan saling berdetak kencang.
Sepuluh detik berlalu, kini Linus mulai merasakan sakit di tangan kanan nya.
"Arghhh, sakit banget tangan gue Clara," ringis nya dengan posisi masih berada di atas Clara.
"Gue juga sakit ini, Lo berat banget Linus berdiri kek!" bentak Clara yang perutnya terasa sesak karena di tiban Linus yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
Ia yang mungil seolah hilang di bawah tubuhnya Linus.
Linus pun berusaha bangkit dengan satu tangan, namun Clara tampa sengaja membuat Linus kembali jatuh dan tangan yang bertumpu ke dada Clara.
"Astaga!" gadis itu menjerit dan refleks mendorong Linus ke samping dan segera bangkit dari tempat tidur lalu merapikan rambut dan pakaian nya.
"Clara sialan! Sakit bego! Lo mau bikin tangan gue yang terkilir langsung patah ya?!" Linus menjerit kesakitan sementara Clara sibuk merapikan pakaian nya.
"Lo sih kurang hajar main pegang-pegang aja," umpat Clara masih berdiri diam dan membiarkan Linus.
"Apa nya yang kurang hajar sih lagian gak terasa juga kok rata doang," ujar Linus yang bicara tampa filter terlebih dahulu membuat Clara yang mendengar nya seketika bertambah marah.
"Apa?!" mata gadis itu memerah seperti orang kesurupan.
Ia mendekati Linus yang terlentang di kasur menikmati rasa sakit lengan kanan yang di dorong Clara.
"Lo mau ngapain?" Suasana mencengkam perasaan Linus seketika jadi tidak enak.
Awalnya ia berfikir kalau Clara akan memukulnya namun setelah tepat di dekatnya Clara bercekak pingang dan kemudian berkata dengan tatapan tajam. " Lo pikir gue gak kerasa? Pusaka milik Lo juga rasanya kecil banget datar dan lepek,"
Deg ...
Jantung Linus terasa ingin berhenti memompa saat mendengar ucapan dari Clara.
"Lo bilang apa barusan?" Ia ingin Clara mengulang ucapan barusan.
"Kecil dan lepek!" gadis itu benar-benar mengulang nya.
Rasa sakit yang ada di tangan Linus kini seolah hilang, berpindah ke jantung nya karena menerima perkataan dari Clara.
Wajah gadis itu terlihat polos dan tersenyum miring sekarang.
"Clara kurang hajar! Sekarang cepetan bantuin gue ke kamar mandi! Gue mau mandi!" jerit Linus penuh emosi karena merasa di remehkan Clara.
Para pelayan yang ada di lantai bawah ikut mendengar teriakan Linus, namun mereka malah tertawa sendiri dan tidak ingin ikut campur.
Lima menit kemudian,
Setelah membantu Linus masuk ke dalam kamar mandi, Clara pun memilih untuk keluar dan menunggu di ruang tengah, karena tidak mungkin ia diam di kamar Linus untuk melihat Linus memakai pakaian.
Tidak mempedulikan bagaimana kesulitan Linus memakai pakaian yang jelas Clara ingin sekali cepat-cepat kembali ke rumah.
"Silahkan di makan cemilan nya non, anda temannya tuan muda atau pacarnya?" tanya salah satu pelayan nya Linus yang meletakkan segelas jus jeruk dan juga cemilan untuk Clara.
"Ah anu bi, aku cuma temennya kok, karena dia luka jadi aku nganterin dia ke rumah sakit dan nganterin dia pulang," jawab Clara sambil tersenyum cangung.
"Oh terima kasih banyak non ... "
"Clara bi, nama ku Clara,"
"Iya non Clara, makasih banyak ya udah mau bantuin tuan muda Linus, nyonya dan tuan pasti akan sangat menyukai non Clara karena sudah baik sama tuan muda," pelayan tersebut mengatakan hal itu kepada Clara.
Clara teridam,ia mengingat bagaimana jahat nya mulut mamanya Linus ya itu Maya menghinanya saat ia masih menjadi Cery yang culun dan miskin, ini membuat Clara ingin bertemu kembali dengan Maya dan ingin melihat reaksi wanita mata duitan itu.
"Emangnya sekarang mama sama papa nya Linus kemana bi?" Clara bertanya untuk memastikan apakah yang di katakan Linus itu benar atau tidak.
"Nyonya dan Tuan sedang ke ke luar negeri, mungkin akan kembali dalam beberapa minggu, mereka selalu sibuk dengan bisnis tidak terlalu memperhatikan tuan muda," jelas sang pelayan.
Namun saat Clara ingin kembali angkat bicara, terdengar bel rumah Linus yang di tekan secara brutal oleh seseorang yang ada di luar rumah.
"Sebentar ya non, saya bukain pintunya dulu," pelayan tersebut segera berlari kecil menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.
Bertepatan di saat itu, Linus tiba di ruang tengah dan melihat Clara sedang menikmati cemilan dan jus.
"Beneran Lo ya! Dari tadi gue panggil-panggil gak nyaut, lihat nih gue gak bisa pake baju dengan bener," ujar Linus marah.
Clara melihat ke arah Linus, seketika ia menyemburkan semua makanan nya ke luar.
"Hahaha! Hahaha!" Clara tertawa renyah melihat Linus.
Siapa yang mampu menahan tawa, melihat Linus yang saat ini pekai baju namun tangan yang masuk hanya sebelah yang sebelahnya lagi di dalam baju.
"Ketawain apa? Cepetan tolongin engap ini!" jerit Linus furstasi.
Baru beberapa jam bersama Clara Linus sudah seperti ODGJ pinggir jalan yang memakai pakaian compang camping.
"Iya iya sabar," segera saja Clara berdiri dan kemudian hendak mebantu Linus membenarkan pakaian dan membuka hand sling nya.
"Clara!" suara seseorang terdengar bergema di ruang tengah rumah tersebut.
Membuat Clara dan Linus menatap ke arah suara secara bersamaan.
"Kak Raja," Clara terlihat kaget dan segera menghentikan aktifitas nya.
Raja menghampiri mereka berdua dan kemudian menarik tangan Clara.
"Kak sakit," leguh Clara.
Pelayan dan Bastian hanya memeprhatikan mereka tidak berani mengatakan apapun.
Linus dan Raja saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.
"Ngapain Lo bawa Clara ke rumah Lo? Lo mau manfaatin tangan Lo yang terluka buat bikin dia ngerasa bersalah dan ngerawat Lo di sini?" ujar Raja.
"Tepat banget dugaan Lo," Linus menjawab nya dengan santai sambil tersenyum.
"Denger ya, gue gak bakal biarin Lo ngerpotin Clara,ini bukan salah dia, Lo gak usah memanfaatkan kesempatan, Lo mau bikin dia kayak Cery?!" Raja terpancing emosi dan menyebut Cery.
"Gak usah bawa Cery, ini bukan lagi tentang itu, gue gak peduli apa yang lo ucapin sekarang meskipun Clara cewe Lo, yang jelas dia udah setuju sama permintaan gue," jiwa Linus dan Raja seolah bertukar sekarang Linus jadi lebih tenang sementara Raja malah tersulut emosi.
"Lo!" Raja hampir melayangkan tangan nya ke wajah Linus.
Dengan cepat Bastian menarik Raja untuk tidak melakukan apapun kepada Linus sekalipun Bastian juga tidak menyukai Linus,di ruang tengah ada cctv hal ini membuat Bastian khawatir kalau Raja akan terkena masalah.
"Kak jangan bertengkar plis," mohon Clara menenangkan Raja.
"Kalau Lo gak mau gue bertengkar sekarang juga pulang sama gue!" Raja mengengam erat tangan Clara dan kemudian menarik nya pergi dari sana.
"Clara! Besok jangan lupa jemput gue ke sekolah bareng! Gue gak bisa bawa mobil!" dengan sengaja Linus berteriak untuk membuat Raja semakin panas.
Raja akhirnya membawa Clara pulang dengan mobil Bastian.
Setelah mengantarkan Raja dan Clara sampai ke rumah mereka, Bastian pun pamit kembali ke rumah nya.
Masalah hari ini membuat nya sangat lelah.
"Kak sakit kak lepasin," Clara melepaskan tangan Raja dari pergelangan tangan nya yang kini sudah memerah.
"Udah gue bilang jangan nurutin apa kata Linus Lo malah nurut sampai-sampai ikut dia pulang ke rumah nya, Lo lupa gimana mama nya perlakuin Lo hah!?" Setibanya di ruang tengah, Raja mulai meluapkan kembali amarah nya.
"Tapi kak, aku ... aku cuma gak tega soalnya mama papanya juga gak ada di rumah dia gak mungkin bisa pulang sendirian," lirih Clara sambil merunduk takut.
"Lo udah lupa apa yang dia lakuin ke Lo? Gak habis fikir pokoknya gue gak ngijinin Lo ngerawat dia pokoknya gak boleh!" Raja benar-benar marah.
"Tapi ini kesempatan bagus kak,"
"Kesempatan bagus? Kesempatan bagus buat Lo deket-deket dia lagi abis itu lupain semuanya?" Raja bercekak pingang dan menatap Clara.
"Gak gitu kak, aku cuma gak mau satu sekolah angap aku sebagai orang yang gak bertanggung jawab dan gak tau terima kasih, kedudukan ku di sekolah udah bagus aku gak mau di hina lagi, cuma dua Minggu kak abis itu udah lagian gimana caranya balas dendam kalau gak dekatin dia, aku juga punya kesempatan nantinya buat lihat reaksi mama nya," jelas Clara dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipi nya.
Raja teridam, ia tau kalau saat ini Clara sudah nyaman dengan status nya di sekolah, tidak ada yang membuli nya, semua laki-laki menghormati nya begitu juga dengan perempuan selalu ingin berteman dengan Clara di sekolah.
"Tapi Lo yakin gak bakal terpengaruh sama Linus? Lo yakin gak bakal suka lagi sama dia? Kalau Lo beneran yakin, gue bakal ngijinin Lo buat ngelakuin apapun yang Lo pengen buat bikin dia patah hati sama kayak dia kemarin ngelakuin itu ke Lo," tawar Raja kepada sang adik yang saat ini sedang menangis di hadapan nya.
Baru kali ini Clara melihat sisi keras nya Raja, meskipun di antara mereka tidak ada hubungan darah namun ternyata sikap Raja sangat mirip dengan papa Tian, terlihat lembut dingin namun ketika ada malsah mereka akan bersikap setegas mungkin.
"Ba-baik kak, a-aku jamin gak bakal bawa perasaan lagi," Clara menunduk tak berani menatap wajah Raja.
"Oke, gue pegang ucapan Lo, sekarang masuk kamar dan istirahat," setelah menerima jawaban dari Clara, Raja merasa lega dan meminta Clara untuk pergi ke kamar tidur.
"Kakak gak tidur?" tanya Clara lagi.
"Duluan aja," ujar nya.
Clara pun tidak ingin membantah lagi, ia takut kalau-kalau emosi Raja akan kembali tidak stabil, ia juga tidak akan melawan Raja karena di hadapan dirinya sang papa mewakilkan segala tanggung jawab tentang mengurus dirinya kepada Raja.
Ia berjalan menaiki tangga dengan cepat segera masuk ke dalam kamar.
Sementara Raja masih berdiam diri di ruang tengah, ia berusaha menenangkan dirinya sendiri, ia juga merasa kesal telah terlalu keras membantak Clara.
Bersambung ....