Bastian, gak sebaik dan gak sesempurna yang kalian kira guys. Lihat kisahnya disini, dimana dia hanya menyewa seorang wanita, hanya untuk memenuhi keinginan sang mama, untuk memberikannya cucu.
Tara, terpaksa mau untuk menolong keluarganya, hal yang makin membuat bastian benci sekaligus mulai sayang padanya, tapi bastian terlalu bodoh dan gensi untuk mengakuinya.
Bagamana kisah bastian.
Masih pada inget sosok bastian gak?
udah pernah saya post, satu part, mau dilanjutkan di buku baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 - CIUMAN PERTAMA
Bastian mengambil jaketnya, takuta tara kedinginan, gak baik udara malam. Bastian menyerah, dari pada tara sama calon bayinha nahan makan sampai besok. Sampai mamanya bangun, dan cuma mama bastian yang bisa bujuk. Bastian menyerah.
"Tadinya aku mau pinjem motor satpam ke supermarket depan komplek. Tapi kamu ikut, kita naik mobil aja ya?" Bastian mengarahkan tara untuk berjalan kegarasi mobilnya.
"Aku kirain mau jalan. Jadi sekalian jalan malam, mas." protes tara lagi, maunya jalan, mau liat bintang.
"Nanti kecapean ta, kamunya. Inget kata tante, gak boleh kecapean. Kamu sendirikan yang yakin udah ada adeknya," bastian menujuk perut tara dengan kaku. Tara langsung memeluk perutnya sendiri, sedikit malu. Tapi tara yakin sudah ada kok, "jadi makin gak boleh kecapean."
kali ini tara yang mengalah, tara nurut dengan Bastian. Mereka naik mobil ke supermarket depan, membeli banyak barang, sekalian belanja bulanan. Setelah selesai mereka langsung pulang ke rumah, bastian melarang tara yang ingin membawakan beberapa barang.
"Jangan Ta, inget adek bayinya." bastian mengusap perut tara. Bastian mengambil beberapa barang yang tara ambil, untuk dia bawa, bastian lepas kendali, tara juga, seakan tak yakin bastian benar-benar melakukannya tadi. Bastian mengusap perut tara. Sesaat.
Dug...
Jantung tara terasa langsung bedebar kencang. Sampai tara sendiri terkejut mendengar debaran jantungnya. Tara masih diam, mengingat sepersekian detik tadi. Bastian sibuk di dapur, tara sibuk mendengarkan detak jantungnya padahal didepannya tv menyala.
"Tadi, mas tian sentuh perut aku?" tara seakan masih tak percaya.
"waktunya makann..." bastian membuyarkan lamunan tara. Dia membawa makanan yang tara tunggu sejak tadi. Tara langsung memakannya.
"auhhh... panas. Fuh.." tara terlalu terburu-buru. Dia memakan nasi goreng yang masih panas begitu saja. Sampai didalam mulut jadi kepanasan.
"Pelan-pelan, ta. Baru jadi, masih panas." bastian. Tara mengipaskan tangannya didepan mulut yang dia buka. Bastian juga ikut-ikutan.
"Laper banget ya?" tanya bastian bahkan mulutnya seakan ikit meniup kearah mulut tara, membuat tara canggung, deket banget, tinggal beberapa cm. Andai hubungan mereka normal, tara ingin sekali mencium bibir suaminya. Tak sengaja mata keduanya bertemu.
Bastian juga sama tergodanya, dengan bibir mungil tara yang memerah, setelah makan dan kepanasan. Tanpa sadar bastian mendekati tara, ingin menciumnya. Sudah lama bastian yak menyentuh bibir wanita. Terakhir kali dia menolak ciuman dengan tania, yang akan menciumnya.
Bastian mendekati Tara, tara sungguh tak ingin menolak, sejak pertolongan pada ibunya. Lalu sejak program, sejak tadi pagi, tara yakin tara mencintai ayah dari janin yang dia simpan dalam perutnya. Tara tak ingin menolak, mungkin juga bastian sudah mencintainya.
Cupp..
Tara membiarkan bastian mencium bibirnya, menikmati bibirnya begitu juga dengan Tara yang ikut menikmati bibir bastian.
"Ta, maaf."
Tiba-tiba bastian menjauh, menjauhi tara dan meminta maaf. Tara bingung, kenapa maaf?
"Maaf, ta. Aku kelepasan. Jangan anggap lebih perasaan aku ke kamu karena ciuman ini ya." Bastian pergi begitu saja keatas.
Tara kesal, bagaimana dia mengatakan itu, yang tara harapkan bastian menyatakan cintanya. Tara hanya diam, seakan tak terjadi apa-apa. Tara juga ikut masuk, membawa nasi goreng dan juga air minumnya ke kamar. Menangis, tak berguna. Awas aja besok, giliran Tara yang ingin mengerjai Bastian.
***
"Ta, nasi goreng siapa?"
Keesokan harinya Bina bangun lebih dulu. Dia melihat tara yang setengah berbaring, matanya bengkak, kayak habis nangis semalaman. Tapi Tara sedang memegang ponselnya.
"Aku. Tapi nasi goreng tadi malam bi. Jangan dimakan, nanti sakit perut."
"Ouhh.." Bina bangun. Dia beranjak ke kamar mandi kamar omnya dan mencuci muka, lalu kembali melihat sahabatnya yang masih tiduran diranjang.
"Ta, mata lo bengkak sih. Gak tidur ya semalam? kayak habis nangis semalam." kata bina mendekati tara dan memperhatikan matanya.
Bastian sudah bangun, dia ingin melihat keadaan Tara. Dia berhenti didepan kamarnya. Bastian langsung membuka pintu setelah setengah mendengar perkataan bina, menangis semalaman? siapa?
"Kenapa bi?" tanya bastian yang masuk begitu saja. Pintunya tak pernah tara kunci. Tara takut kalau tidur di kamar yang baginya asing sebenarnya. Jadi bastian bisa masuk begitu saja, lagi pula itu bastian, suami diatas kertasnya.
"Bi, aku mandi dulu ya. Semalam aku nonton beberaoa episode reality show kemarin kamu itu, bi. Makannya agak bengkak sama merah. Bukan nangis." sindir tara menekan kalimat terakhirnya. Dia langsung mengambil handuk dan ke kamar mandi.
"Lo apaain semalem, nangis tuh calon ibu. Kasian tau gak. Boong banget kalau tara gak nangis. Gue itu tau banget tara, jarang nangis.. ya masak sekali nangis karena cowok, gara-gara lo sih om. Jahat banget om gue. Tanggung jawab ya." Bina berbisik disebelah bastian. Kemarin nangis karena dia. Ini lagi? tapi karena apa lagi? ciuman tadi malam? ketika bastian tinggal, tara terlihat baik-baik saja.
Bastian yang sudah mandi menunggu tara keluar kamat mandi. Bastian penasaran dengan tuduhan Bina, benarkan dia yang membuat Tara menangis semalaman. Tapi kenapa? Sementara bina bersiap-siap ke kampus.
krekkk...
Tara tak tau kalau bastian akan stay di kamarnya. Biasanya kan bastian gak akan perduli. Tara keluar begitu saja dengan handuk yang melilit tubuh mungil yang sedikit berisinya. Hanya sebatas lutut dan dibawa ketiaknya yang terlilit handuk.
"MAS TIAN, NGAPAIN?" teriak tara kaget.
Bastian terkejut, dia kira tara akan memakai handuk yang berbentuk baju. Biasanya kan orang-orang suka memakai itu, dia juga sih lebih suka handuk biasa. Pokoknya rasa khawatir Bastian itu membuat bastian lupa akab seperti ini, kejadian setelah mandi pakai handuk.
"keluar gak dari kamar sekarang." usir tara lagi, menutupi badan depannya dengan kedua tangan.
"Ta, semalem kamu nangis karena aku?"
"Aku gak nangis, aku.. aku kan udah bilang, nonton film semaleman, jadi matanya agak bengkak merah, soalnya semalem gak bisa tidur."
"kata bina, kamu kayak orang nangis semalam."
"udah sana keluar. Aku mau ganti baju, kan kata mama hari ini harus cek up, sana. Aku masih ngambek ya, gak mau ngomong sama kamu mas. Sana keluar." tara mendorong bastian untuk keluar kamarnya.
"mas keluar, dikira badan kamu enteng apa. Jalan keluar sana, aku dorong kamunya gak jalan. Kamu mau nyakitin bayi aku karena ngotot dorong kamu." bastian gak mau pergi sebenarnya, tapi karena kasian, juga lucu mendengar ucapan tara bastian menyerah. Dia berjalan keluar.
"Ta, kalau aku bilang aku sayang sama kamu, kamu mau izinin aku disini. Liat tubuh kamu, peluk kamu, cium kamu, aku mau liat perut kamu, ta?" bastian menyerah pada dirinya sendiri, dia sangat ingin menikmati tubuh tara setelah semalam. Hasratnya tiba-tiba saja memuncak ketika bersentuhan dengan tara, yang paling dia inginkan, melihat perut tara tanpa sehelai kain pun, juga mengusapnya, setiap bulan berganti dan menyaksikan bayinya tumbuh disana. Tara terdiam, apa yang bastian katakan benar?
belibet..
krn sepasinya trlalu panjaang kadang bikin gk nyambung jadinya
💪💪💪💪💪
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
sukses selalu thor suka banget ceritanya
ditunggu cerita selanjutnya
semangat
💪💪💪💪💪💪