NovelToon NovelToon
Fajar Kedua Sang Lady

Fajar Kedua Sang Lady

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Sistem / Wanita perkasa / Tamat
Popularitas:43.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

tiba-tiba terbangun di tubuh Lady Genevieve, seorang bangsawan wanita yang sedang diasingkan di sebuah kastil tua karena fitnah kejam di ibukota. Suaminya sendiri, Duke of Blackwood, mengabaikannya. Saat dia bangun, sebuah "Sistem" muncul dan memberitahunya bahwa ada pelayan di kastil ini yang pelan-pelan meracuninya setiap malam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Reruntuhan yang Terlupakan di Sungai Umbra

Langkah demi langkah, Genevieve menembus neraka putih yang tersembunyi di perut Aethelgard. Setiap kali sepatu bot kulit usangnya tenggelam ke dalam tumpukan salju abadi, terdengar suara gemeretak pelan yang langsung ditelan oleh keheningan jurang yang sangat luas. Di punggungnya, mantel bulu Serigala Salju raksasa yang belum dikeringkan itu terasa luar biasa berat. Sisa-sisa lemak dan darah monster yang mulai membeku membuat kulit pelapis bagian dalamnya terasa kaku dan berbau anyir yang memualkan. Namun, Genevieve mencengkeram ujung mantel itu dengan kedua tangannya yang mati rasa, menariknya lebih rapat untuk membungkus tubuh kurusnya. Beban seberat apa pun jauh lebih baik daripada sensasi pisau es tak kasat mata yang siap merobek nyawanya dari hipotermia.

Perjalanannya menembus dasar Jurang Hitam adalah sebuah penyiksaan yang diukur dalam satuan inci. Hutan Pohon Pinus Besi di sekitarnya semakin merapat, menciptakan labirin pilar-pilar abu-abu pucat yang tampak seperti penjara tulang belulang raksasa. Akar-akar mereka yang hitam dan berbonggol mencuat dari balik salju, memaksa Genevieve untuk terus memperhatikan pijakannya.

Efek dari Lumut Darah Beku (*Frostblood Moss*) yang ia oleskan di pergelangan kakinya masih bekerja. Rasa panas yang membakar kulitnya berdenyut seiring dengan detak jantungnya, sebuah rasa sakit konstan yang secara paradoks justru membantunya untuk tidak kehilangan kesadaran. Pembengkakan di kakinya menahan diri untuk tidak memburuk, memungkinkan ia memaksakan sebuah ritme jalan yang pincang namun stabil.

Angin utara tidak bisa menyentuh dasar jurang ini dengan kekuatan penuhnya, namun kabut beku yang tebal mengambang setinggi dada, menyembunyikan apa pun yang mengintai di balik lapisan salju. Pandangannya sangat terbatas. Dunia Genevieve saat ini hanya terdiri dari warna putih salju, abu-abu batang pohon, dan hitamnya batu tebing di kejauhan.

Pikirannya berputar seperti roda gigi mekanis yang tak kenal lelah. Di kehidupan masa lalunya, ia mungkin akan menangis, berteriak meminta tolong, atau menyerah pada keputusasaan. Namun, jiwa yang kini mendiami tubuh Lady Genevieve telah dibakar oleh pengkhianatan yang terlalu dalam. Gideon, Tabib Silas, dan Nyonya Besar House Blackwood telah melemparnya ke tempat ini dengan harapan ia akan membusuk tanpa nama. Setiap tarikan napasnya yang menyakitkan, setiap langkah kakinya yang menggoreskan perih di tulang rusuknya yang retak, adalah bahan bakar untuk tungku dendamnya. Ia akan keluar dari jurang ini, dan ia akan memastikan orang-orang itu menyadari betapa fatalnya kesalahan mereka karena tidak memenggal kepalanya sendiri.

Setelah berjalan tertatih selama hampir dua jam, pendengarannya yang dipertajam mulai menangkap perubahan frekuensi di udara.

Suara lolongan angin di ketinggian tebing perlahan tergantikan oleh suara gemuruh rendah yang konstan. Suara itu berdebur, bergemericik kasar, dan memancarkan aura kelembapan yang berat. Air. Ada aliran air dalam jumlah besar di dekat sini.

Genevieve mempercepat langkahnya, mengabaikan protes dari pergelangan kakinya. Menemukan sumber air yang tidak membeku di tempat dengan suhu seekstrem ini adalah sebuah anomali, dan anomali selalu menyimpan jawaban.

Ia menerobos sekumpulan semak berduri yang tertutup es, menggunakan sisa papan peti matinya untuk menyingkirkan ranting-ranting tajam dari wajahnya. Begitu ia melewati rimbunan Pohon Pinus Besi terakhir di jalur itu, pemandangan yang terbentang di hadapannya membuat langkahnya terhenti secara otomatis.

Di hadapannya, membelah dasar lembah seperti urat nadi raksasa yang berdenyut, mengalir sebuah sungai bawah tanah yang sangat lebar. Namun, air di sungai itu tidak memantulkan cahaya kelabu dari langit fajar. Airnya berwarna hitam pekat, sekelam tinta obsidian, bergerak dengan arus yang sangat deras dan agresif. Di atas permukaan air yang bergolak itu, kabut putih tebal mengepul naik, menandakan bahwa suhu air tersebut jauh lebih hangat daripada udara beku di sekitarnya.

Sungai Umbra—begitulah memori asing dari tubuh aslinya menyebut rumor tentang aliran air mematikan yang membelah dunia bawah Aethelgard. Konon, airnya menyerap racun dari mineral vulkanik purba.

Genevieve tidak berani bertindak gegabah. Ia berjalan mendekati tepian sungai yang berbatu licin. Ia berlutut dengan susah payah, menjaga jarak aman agar tidak tergelincir ke dalam arus mematikan tersebut.

"Sistem," perintahnya secara mental, matanya terpaku pada riak hitam air sungai. "Pindai komposisi air ini. Apakah ada racun atau ancaman biologis? Mengapa air ini tidak membeku?"

Panel biru langsung memecah udara di depan wajahnya, merespons perintahnya dengan deretan analisis komprehensif.

**[Memindai Komposisi Cairan...]**

**[Hasil Pemindaian: Kandungan mineral sulfur dan karbon vulkanik sangat tinggi, menyebabkan warna air menjadi gelap pekat. Suhu cairan: 15 Derajat Celcius (Dihangatkan oleh aktivitas geotermal pasif di kedalaman kerak bumi).]**

**[Status Toksisitas: Level Rendah. Aman untuk dikonsumsi dalam jumlah terbatas, meskipun akan memiliki rasa seperti abu kayu dan belerang. Tidak ada mikroorganisme mematikan yang terdeteksi.]**

**[Peringatan Lingkungan: Arus air di bawah permukaan bergerak dengan kecepatan 40 knot. Jika Tuan Rumah terjatuh ke dalam sungai, tingkat kelangsungan hidup akibat tenggelam adalah 0%.]**

Genevieve menghela napas lega. Ia membutuhkan cairan, dan mencairkan salju dengan panas mulutnya telah menguras energi vitalnya yang berharga. Ia menangkupkan kedua tangannya, mencelupkannya sedikit ke tepi air hitam yang beriak, lalu membawanya ke bibir. Air itu terasa hangat, kontras yang sangat mengejutkan di tengah neraka es ini. Rasanya memang menjijikkan—seperti menelan debu arang dan besi berkarat—tetapi cairan itu membasahi tenggorokannya yang mengering dan memberikan kehangatan buatan dari dalam perutnya. Ia meminumnya tiga kali lagi sampai dahaganya benar-benar terpuaskan.

Setelah membersihkan tangannya, ia bangkit berdiri, menelusuri pandangannya ke arah aliran sungai.

Jika sungai ini dihangatkan oleh aktivitas geotermal, itu berarti sungai ini mengalir dari celah bumi yang lebih dalam, atau mungkin mengarah ke sistem gua bawah tanah yang bisa berujung pada permukaan dunia di suatu tempat di luar wilayah Kastil Ravenscroft. Mengikuti aliran sungai ini adalah satu-satunya navigasi logis yang ia miliki, alih-alih berjalan tanpa arah di dalam hutan pinus mematikan.

Ia mulai berjalan menyusuri tepian sungai yang berbatu. Suara gemuruh air menenggelamkan suara langkah kakinya, memberikan semacam pelindung akustik dari monster-monster yang mungkin mengandalkan pendengaran untuk berburu.

Satu jam berlalu. Lanskap di sekeliling sungai mulai berubah.

Tebing batu hitam di sisi kanannya perlahan merapat ke arah sungai, memaksa Genevieve berjalan di celah sempit antara tebing dan air yang bergejolak. Namun, apa yang membuat matanya memicing tajam bukanlah penyempitan jalur itu, melainkan bentuk bebatuan di sekitarnya.

Batu-batu yang berserakan di sini tidak lagi terlihat alami. Mereka terpotong dengan sudut-sudut geometris yang terlalu presisi untuk disebut sebagai hasil erosi alam. Lebih jauh ke depan, bayangan raksasa mulai menembus kabut beku.

Genevieve memperlambat langkahnya. Otot-ototnya menegang secara instingtif. Tangan kanannya segera mencengkeram erat paku besi berkarat yang disembunyikan di balik mantel bulunya.

Begitu kabut sedikit tersingkir oleh hembusan angin dari arah sungai, Genevieve bisa melihatnya dengan jelas. Itu bukanlah formasi tebing. Itu adalah pilar-pilar batu raksasa yang telah runtuh, beberapa di antaranya masih berdiri miring, menjorok ke arah sungai hitam. Di atas pilar-pilar itu, terpahat ukiran-ukiran kuno yang nyaris terhapus oleh waktu dan es. Ukiran itu menggambarkan pertempuran antara manusia-manusia bersayap dan makhluk-makhluk bawah tanah bermata satu.

1
Memyr 67
𝗃𝗂𝗄𝖺 𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉 𝖺𝗀𝗎𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖻𝗂𝖼𝖺𝗋𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇, 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗌𝖺𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗍𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝖺𝗇𝖺. 𝗄𝖾𝗍𝗂𝗄𝖺 𝗄𝖾𝖻𝖾𝗇𝖺𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖾𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺𝖺𝗇, 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎, 𝗍𝗎𝗆𝖻𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗎𝗌𝗄𝗎𝗉𝖺𝗇, 𝗁𝗂𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖾𝗒𝖺𝗄𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗈𝗅𝗎𝗍.
Endang Sulistia
keren
Memyr 67
𝗈𝗐 𝗍𝖺𝗆𝖺𝗍. 𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗇𝗈𝗏𝖾𝗅𝗇𝗒𝖺 𝗒𝗀 𝗅𝗎𝖺𝗋 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝗂𝗇𝗂
Yue Li MZy
Manarik juga~
Putri Amalia
kak author ini serius kan gak Hiatus? please smpe end
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗊 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍
Memyr 67
𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝗎𝖻𝗎𝗁 𝗒𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗎𝗁 𝗋𝖺𝖼𝗎𝗇 𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋?
Memyr 67
𝖺𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋 𝗍𝖾𝗅𝖺𝗁 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗄𝖾𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗎𝗉 𝖻𝖾𝗋𝗂𝗄𝗎𝗍𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗉𝖺𝖽𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁 𝗍𝗎 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗒𝖺? 𝗍𝗎𝗅𝖺𝗇𝗀𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖺𝗍𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍. 𝖺𝗄𝗎 𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎
Memyr 67
𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗋𝗈𝗆𝖺 𝖻𝗎𝗌𝗎𝗄. 𝗆𝖺𝗐𝖺𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝗄𝖾 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗂𝗇𝗍𝖾𝗋 𝖻𝖺𝗇𝗀𝖾𝖽 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗆𝖾𝗇𝖽𝖾𝗌𝗄𝗋𝗂𝗉𝗌𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗄𝖾𝗇𝗀𝖾𝗋𝗂𝖺𝗇 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖺𝗅𝖺𝗆𝗂 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁. 𝖽𝗂𝗍𝗎𝗇𝗀𝗀𝗎 𝗄𝖾𝗅𝖺𝗇𝗃𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗂𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗎𝗉 𝗉𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗄𝖾𝖻𝖺𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝖽𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝖺𝗇 𝗂𝗍𝗎 𝖽𝗎𝗄𝖾 𝖺𝗋𝗈𝗀𝖺𝗇 𝖺𝗅𝗅𝗂𝗌𝗍𝖺𝗂𝗋
Endang Sulistia
nahan nafas bacanya ...
Memyr 67
𝖽𝖾𝗇𝖽𝖺𝗆 𝗌𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖾𝗇𝗀𝗎𝖺𝗌𝖺 𝗄𝖾𝗀𝖾𝗅𝖺𝗉𝖺𝗇 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗃𝗎𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗁𝗂𝗍𝖺𝗆 𝗆𝖾𝗇𝖾𝗆𝗎𝗄𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗅𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!