"Apa salah kalo aku cinta ke mas?" tanya Nerrisha suaranya parau hampir tak terdengar
Nick tertunduk dan menghela nafasnya panjang dan menjawab dengan suara lirih.
"Nerrisha, dengar baik-baik. Jarak diantara kita terpaut jauh. Kamu tahu jurang di depan sana? Itu, anggap saja itu adalah kita..." ucap Nicholas lembut
"Seperti itulah jarak usia diantara kita. Saya gak mau dengar teman-temanmu memanggilmu dengan sebutan sugar babby. Maaf saya gak pantas buat kamu..." ucapnya kemudian yang berlalu begitu saja dari hadapan Nerrisha yang masih berdiri mematung terpaku memandang jurang di seberang sana
*****
Nerrisha dan Nicholas awalnya hanya sebatas saling sapa biasa saja. Namun seiring berjalannya waktu disetiap pertemuan-pertemuan kecil yang terjadi di keluarga Adiwangsa kerap menjadi saksi bisu perasaan keduanya.
Namun usia mereka terpaut 10 tahun jauhnya sehingga Nerrisha kerap disebut teman-temannya dengan sebutan sugar babby.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setahun Lamanya Menghilang Tanpa Jejak
Setibanya di kota Bangkok, Nicholas menyewa sebuah hotel untuk beberapa jam ke depan. Setelah waktu terbang 4 jam 15 menit, kini Nicholas check-in hotel di Bangkok untuk membersihkan diri, makan, dan beristirahat sejenak.
Sebelum akhirnya melakukan perjalanan ke kuil Wat Pa Tam Wua. Tujuannya datang ke kota ini tak lain ingin mencari kedamaian diri dengan jalur bermeditasi dan jika dirinya mampu menyingkirkan segala pikiran yang menggoda hatinya saat ini.
Maka dirinya akan memutuskan untuk menjadi biksu di kota Bangkok ini dan apabila dirinya gagal, dia akan kembali ke Indonesia namun tidak ke Jakarta dikarenakan ingin menghindar dari Nerrisha.
Tepat pukul 15.00, Nicholas melakukan perjalanan dengan kereta cepat menuju Vihara Wat Pa Tam Wua. Setelah tiba disana, dia pun mulai mengikuti proses demi proses untuk pemilihan untuk mendaftar sebagai biksu atau hanya ingin merasakan kehidupan meditasi dan hidup bersama para biksu di Vihara.
Nicholas pun memilih untuk merasakan kehidupan meditasi dan tinggal bersama para biksu selama satu bulan penuh lamanya.
Dengan hati yang berat, Nicholas meninggalkan kehidupan dunianya dan memasuki kehidupan spiritual yang tenang. Dia mengganti pakaian modernnya dengan jubah biksu yang sederhana, dan memulai perjalanan spiritualnya.
Suara genta dan nyanyian mantra para biksu memenuhi udara, membuat Nicholas merasa damai dan tenang.
"Apa yang kamu cari, anak muda?" tanya seorang biksu senior yang berasal dari Indonesia namun sudah 25 tahun lamanya tinggal di Vihara ini.
"Kedamaian, Pak. Saya ingin mencari kedamaian diri," jawab Nicholas, dengan suara yang lembut.
Biksu senior itu tersenyum, "Kedamaian ada di dalam diri kita sendiri. Kamu hanya perlu mencari dan menemukannya. Amitabha..."
Nicholas mengangguk, dan memulai perjalanan meditasinya. Dia duduk bersila, menutup mata, dan mulai mengatur napasnya. Suara-suara di sekitarnya mulai memudar, dan pikirannya mulai tenang.
...****************...
SETELAH SATU TAHUN KEMUDIAN.
Sudah satu tahun lamanya Nicholas tak pernah ada kabar. Menghilang tanpa alasan dan tanpa jejak setelah malam itu. Hari ini tepat dihari kelulusan Nerrisha dia sangat berharap sekali Nicholas datang dan memberikannya sebuah kejutan manis. Namun yang menjadi harapannya dibiarkannya pupus begitu saja.
Nerrisha kini sudah menyandang gelar sarjananya yaitu sarjana S. SI atau lebih tepatnya sarjana sistem informasi. Tak hanya itu kini usianya sudahlah genap 21 tahun dirinya juga memperoleh cumlaude hari ini. Tapi yang membuatnya merasa sesak Nicholas tak pernah datang disaat acara wisudanya.
"Sudahlah nak lupakan dirinya. Toh dia menghilang begitu saja sudah setahun ini. Bahkan keluarganya pun juga gak ada yang tahu dia kemana..." ucap bu Shanty membelai lembut bahu kiri putrinya itu, dengan ekspresi yang sedikit sedih.
"Nerrisha papa mohon sama kamu. Jangan sia-siakan waktu mudamu dengan menangisinya yang sekarang entah kemana rimbanya. Bahkan perusahaannya saja di pegang oleh Evander dan Damar selama setahun ini..." ucap pak Arya menasehati putri semata wayangnya itu, dengan ekspresi yang sedikit frustrasi.
"Hiks...hiks...seandainya dia masih ada di dunia ini semoga saja Tuhan mempertemukan kami kembali nantinya. Tapi kalo dia udah gak ada di dunia ini lagi, aku bakal ikhlasin dia untuk selamanya..." ucap Nerrisha disela isak tangisnya, dengan ekspresi yang sangat sedih.
"Hah...aku pusing dengan keinginanmu itu Nerrisha. Bahkan sudah setahun lamanya pun kamu belum bisa move on dari Nicholas tapi mana dia kemana selama ini?" ucap pak Arya sembari mengusap wajahnya kasar, dengan ekspresi yang sedikit kecewa.
Disaat itu pula terdapat sebuah langkah ketukan sepatu yang berjalan mengenai lantai dan menampilkan sosok Evander yang datang bersama dengan Vania dan buah hatinya yang berusia setahun.
"Selamat ya untuk Nerrisha, sekarang kamu sudah menyandang gelar S. SI..." ucap Vania membuka pembicaraan, dengan ekspresi yang sedikit gembira.
"Thanks mbak Vania. Kalian cuma bertiga?" ucap Nerrisha yang netranya memindai mereka bertiga bergantian, dengan ekspresi yang sedikit berharap.
"Ya, siapa lagi yang kamu tunggu memangnya?" tanya Vania ramah, dengan ekspresi yang sedikit menggoda.
"Ehem...Nerisha selamat atas hari wisudamu. Ini buket untukmu dan ya ini ada sebuah bingkisan kado dari Nicholas yang dititipkannya setahun yang lalu sebelum pergi..." ucap Evander pada Nerrisha yang memberinya sebuah buket dan bingkisan kado bersampul merah muda.
Dengan secepat kilat Nerrisha membuka bingkisan kotak kado yang diberikan oleh Nicholas dia menemukan sebuah gaun pengantin berwarna baby blue dilengkapi dengan kerudung veilnya dan ada sebuah surat di atasnya.
"Dear Nerrisha...
Terimakasih atas semua hadiah pemberianmu, oh ya kue buatanmu enak banget, bi Rina dan Damar suka banget kue buatanmu tapi saya rasanya gengsi untuk memuji kue buatanmu.
Nerrisha kemeja dan dasi pemberianmu akan selalu ku simpan tapi aku gak janji bisa memakainya. Bukan suatu alasan aku menolak pemberianmu tapi aku memutuskan untuk melepaskan ikatan terhadap keduniawian pada siapapun termasuk keluargaku sendiri.
Oh ya...jangan pernah tanyakan soal bagaimana perasaanku pada dirimu. Jangan ya, jangan pernah. Ada satu hal yang perlu kamu ketahui dimansionku ada sebuah lukisan yang ku tinggalkan untukmu, aku melukisnya dengan sepenuh hatiku dan jika kau suka kau boleh ambil lukisan itu dari mansionku tapi jika kau marah padaku jangan pernah bakar lukisan itu biarkan lukisan itu menjadi pajangan di mansionku.
Oh ya satu hal lagi aku ingin melihatmu menikah dengan pasanganmu kelak dengan gaun pengantin yang ku berikan padamu, saat kau menikah kemungkinan aku akan hadir disana dengan penuh kebahagiaan tapi bukan sebagai pengantin lelakimu melainkan sebagai seorang biksu atau memungkinkan seorang pastor yang melayani pernikahanmu hahaha...apa kau sanggup? Siapkan mentalmu dengan sepenuhnya saat bertemu denganku kembali dalam status lain ya...
See you next time Nerrisha, I love you Nerrisha...jika ada kehidupan selanjutnya aku ingin dilahirkan seumuran denganmu dan membuat kisah cinta yang manis bersamamu..."
Nerrisha yang usai membacanya kini tubuhnya merosot perlahan-lahan sembari menggenggam erat kertas ditangan kanannya dia juga semakin menangis sejadi-jadinya.
"Seandainya waktu itu bisa di ulang kembali. Aku gak bakalan buat tindakanku yang gila itu. Seandainya papa gak memarahiku bahkan menamparku di hadapannya mungkin dia masih tetap berada disini bersama dengan kita..." isak tangis Nerrisha sejadi-jadinya, dengan ekspresi yang sangat sedih.
"Bangunlah Ner, bakal gue kasih tahu dimana dia saat ini berada. Mungkin lo bisa temuin dia sambil cari kerja jadi kesannya menyelam sambil minum air gitu..." ucap Evander lirih menahan air matanya agar tak menetes dihadapan semua orang, dengan ekspresi yang sedikit lembut.
"Apa itu benar? Mas Evan gu...gue masih bisa ketemu sama dia?" tanya Nerrisha tergagap, dengan ekspresi yang sedikit berharap.
"Iya masih bisa. Besok adalah hari pentahbisanya loe bisa datang kesana sebelum jam 9 lo bisa gagalin dia. Dulu memang dia sempet ke Bangkok selama 1 bulan dia tinggal di Vihara Wat Pa Tam Wua bersama para biksu dia pernah bilang pengen jadi biksu tapi suatu hari dia gagal karena salah satu biksu tertua ngelihat dia mau jadi biksu karena patah hati dan masih nyimpen perasaan cinta ke seorang gadis yaitu kamu jadi digagalkan akhirnya dia balik ke Indonesia belajar di pastoral di Bali selama setahun ini dia berada di gereja katedral Denpasar. Kalo lo mau Damar bisa antar lo sekalian dia pulang ke kampungnya..." ucap Evander lembut, dengan ekspresi yang sedikit tenang.
"Ya, gue mau pergi sekarang juga. Ayo pah ayo mah...kita pulang buat siap-siap baru setelah itu antar aku ke bandara dan mas Evan tolong konfirmasi ke mas Damar ya. Sebelumnya thanks banget mas Van..." ucap Nerrisha yang dengan langkah lebar menjinjing bawahan kebayanya menuju mobil pak Arya dan disusul oleh pak Arya dan bu Shanty.
Setelah melihat mereka memasuki mobil barulah Evander menitikkan air matanya.
"Maaf ya Nick. Gue harus lakuin ini semua buat gagalin niat lo buat jadi pastor. Gue gak mau lo ngorbanin perasaan lo dan gak pernah berani jujur. Gue pengen lo bahagia bersama pasangan lo kayak gue bahagia sama Vania..." ucap Evander pelan sementara Vania hanya mengusap lembut punggung belakang suaminya itu, dengan ekspresi yang sedikit sedih.
"Udah? Ayo kita pulang. Tugas kita sudah selesaikan disini..." ucap Vania lembut, dengan ekspresi yang sedikit tenang.
"Ayo kita pulang sayang. Sini Zefania biar aku yang gendong..." ucap Evander lembut mengambil alih putri kecilnya yang tampak bengong melihat papanya menangis saat ini, dengan ekspresi yang sedikit gembira.
"Pa...pa...pa...pa..." celoteh bayi usia 1 tahun itu yang masih aktif-aktifnya dan belajar mengoceh, dengan ekspresi yang sedikit lucu.
BERSAMBUNG.

Lanjut thor penasaran jadinya bakal gimana nasib si nerris