Lima tahun Riana menyerahkan hatinya untuk satu nama yaitu Irwan. Lima tahun pula ia percaya bahwa dirinya adalah satu-satunya.
Sampai sebuah kenyataan menamparnya dan menghancurkan segalanya.Ternyata selama ini Riana bukan kekasih Irwan tapi ia hanya... selingkuhan.
Riana ingin memutuskan untuk pergi. Ia muak. Tapi Irwan menolak melepasnya. "Kamu sudah terlalu dalam di hidupku" katanya, dengan nada yang membuat Riana takut sekaligus lemah.
Di tengah luka dan ancaman itu, hanya ada satu orang yang selalu ada dua lah Arif. Sahabat yang selalu menemaninya, yang hapal caranya menangis dalam diam. Arif yang ternyata sudah lama menyimpan rasa, tapi memilih pergi demi kebahagiaan Riana.
Kini Riana harus memilih. Bertahan dalam cinta yang memenjarakan, atau berani bebas meski harus kehilangan semuanya? Dan sanggupkah Arif tetap diam saat wanita yang ia cinta sedang tenggelam?
Lima tahun cinta, ternyata hanya lima tahun kebohongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rika nopiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Seharian penuh ini Sikap Riana berubah drastis dari yang awalnya dia sangat bersemangat untuk ikut kuliah tapi kini ia malah terlihat lesu juga banyak melamun di kelas.
Ia terus memikirkan pembicaraannya dengan Ara.Riana memikirkan cara terbaik agar bisa melupakan Irwan,ya sepertinya ia memang harus menjauh dari Irwan agar semuanya lebih mudah.
Ara bilang mereka akan mengurus Irwan agar tak menemui Riana lagi.Baiklah,maka kini Riana yang harus menghapus segala memory tentang Irwan.Karna sejak awal hubungan mereka adalah sebuah kesalahan.
"Riana tolong fokus,kalo kamu masih sakit jangan memaksakan diri ikut kelas saya" tegur salah satu dosen saat ia melihat Riana tidak fokus mengikuti materi yang di berikan.
Riana tersentak kaget "Maaf pak" ucap Riana sambil melihat semua teman yang menatap ke arahnya karna konsentrasi mereka seketika buyar.
Beranjak siang mereka sudah bisa pulang,Melly dan Riana berbincang di taman kampus sambil menunggu Arif dan Ido datang."Ri kenapa sih dari tadi ngelamun terus?" tanya Melly hati-hati.
Tak lama Arif dan Ido pun datang menghampiri mereka dengan satu kantong penuh berisi minuman dan cemilan.
"Nih minum biar pikiran loe adem" ucap Arif sambil menempelkan kaleng minuman dingin ke pipi Riana.
"Aaww dingin,apaan sih loe?" Riana mengusap pipinya lalu membuka dan meneguk minumannya.
"Tadi si Boris bilang loe di tegor sama dosen?" ucap Ido penasaran,Riana hanya mengangkat kedua bahunya acuh." Idih,udah tau Dosennya galak malah ngelamun"
Riana mengerucutkan bibirnya kedepan,Arif spontan mencapit bibir Riana dengan jari-jarinya.
"ih,Arif nyebelin" ucapnya sambil memukul bahu Arif lumayan kencang.
"Gue kan udah bilang jangan berurusan lagi sama Si Ara,bandel banget sih loe!Pasti urusannya gak jauh dari si cowo kurang ajar itu.Ngomong sama dia itu malah ganggu pikiran sama mood loe" Arif terlihat kesal,Riana ini sangat sulit di atur.
"Udah deh jangan mulai ceramahin gue lagi!" Riana melihat raut wajah Arif yang menatapnya tajam "Iya,gue janji deh ga bakalan ngomong lagi sama dia" Riana menggeser duduknya mendekat pada Arif sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Jauh-jauh sana" Arif mengibaskan tangannya pada Riana.
Seketika Riana bangkit dari duduknya dan hendak pergi,namun Arif menahannya dan menyuruhnya duduk kembali.
"Bukannya loe ngusir gue?" ucap Riana sinis.
"Siapa yang ngusir?gue cuma bilang agak jauhan dikit" ucap Arif sambil menggaruk kepalanya.
"Ya udah gue duduknya di bangku ujung sana aja" Riana menunjuk pada bangku yang cukup jauh dari situ.
"Becanda gue!Yaelah lagi PMS ya loe?" Arif mulai kebinggungan.Melly dan Ido hanya bisa menahan tawa melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
Sepulang dari kampus Riana memaksa mereka menuju sebuah mall terlebih dahulu karna sudah lama ia tidak pergi keluar rumah.Ia ingin berjalan-jalan sebentar untuk menghilangkan penatnya.
Begitu sampai Riana langsung menuju toko pakaian dan berbelanja banyak barang di sana.Ia membelikan empat buah kaos dengan motif serta warna yang sama untuk teman-temannya.
"Ganti ya bajunya pake yang ini biar kompak kita" ucap Riana sambil membagikan kaosnya.
"Ri,kita kayak jadi sales dong pake baju samaan gini!" Ido protes,ia sejujurnya enggan memakai baju kembaran seperti ini,di matanya ini terlalu kekanakan.
"Ih lucu kali,jadi kalo elo ilang gampang nyarinya" ucap Riana sambil terkekeh,di amini juga oleh Melly.
Akhirnya mereka pasrah dan mengikuti keinginan Riana,mereka mengganti baju yang mereka pakai dengan kaos yang Riana pilihkan.
Riana mengajak mereka menuju sebuah studio foto untuk mengambil potret mereka.Riana dan Melly berjalan di depan sedangkan Arif dan Ido mengekor di belakang sambil membawa paper bag milik para gadis itu.
"Gue beli ice cream itu ya.Udah lama gue gak beli" ucap Riana ia membeli ice cream untuknya dan yang lainnya.
"Ri cari tempat duduk dulu yu,susah nih gue makannya tangan gue penuh sama belanjaan loe" ucap Arif sambil memakan ice creamnya yang sedang di pegang oleh Riana.
"Nyari bangkunya di lantai bawah aja ya gue mau battle dance sama Melly di arena bermain,nanti loe sama Ido nontonin kita sambil makan ice cream" Riana sangat bersemangat.
Di arena permainan,Riana dan Melly begitu lincah mengikuti setiap gerakan yang ada di layar mereka walaupun terkadang salah injak namun mereka terlihat sangat menikmatinya.Keringat terlihat bercucuran di wajahnya,beberapa kali Arif menyuruhnya istirahat namun ia selalu bilang 'satu kali lagi'.
"Dia kayaknya belum bisa move-on dari si Irwan" ucap ido sambil memandang Riana prihatin.
"Mungkin iya!Mereka pacaran kan lama banget pasti susah lupainnya" jawab Arif yang juga memandang Riana.
"Gue kasian sama dia.Kayak yang buang-buang waktu anjir 5 tahun nemenin cowo mokondo.Loe inget dong waktu si Irwan nganggur,Riana yang jor-joran modalin buat bikin usaha walau hasilnya zonk." ucap Ido mengigat kembali kisah mereka di masa lalu.
" Iya,kita harus bisa bikin dia selupa-lupanya sama tuh cowo" balas Arif.
" Yang gue tau,kalo mau cepet lupain cowonya,ya obatnya sama cowo lagi" ucap Ido.
"Maksud loe?" tanya Arif.
"Dia harus cepet dapet penggantinya!Kalo loe ga minat lagi sama Riana,gue sama Melly rencananya mau cari kandidat lain" ucap Ido santai,Arif seketika menendang kaki ido.
"Apa gue pantes buat dia?" raut wajah Arif berubah sendu.
"Elo gak pede bro?!? Riana belum sadar sama perasaan loe.Gue yakin sebenernya dia juga suka sama loe cuma dia belum bisa ngebedain aja, mungkin dia pikir dia sayang sama loe sebagai sahabat padahal gue rasa gak gitu!" ucap Ido dan langsung menghentikan pembicaraan mereka saat Riana dan Melly mendekat ke arah bangku mereka,dengan sigap Arif menyodorkan dua botol air mineral pada mereka.
"Loe gak apa-apa?" tanya Arif sambil mengelap keringat di dahi Riana dengan sapu tangan miliknya,Riana menggeleng sambil meminun airnya.
"Makan yuk,laper!" ajak Riana dan mereka langsung menuju sebuah restoran di dekat sana.
Mereka tengah menunggu makan malam mereka di sajikan.Energi Riana dan Melly terkuras habis di arena permainan tadi namun Riana masih terlihat bersemangat.
"Gue ke toilet dulu ya bentar!" pamit Riana.
"Mel,anterin dong.kasian Riana sendiri kalo ada apa-apa gimana?" Arif khawatir.
"Apaan sih loe Rif,toiletnya juga di ujung situ,suka lebay" Arif menatap Riana yang berlalu pergi.
"Dasar cowo lebay,lagian yang kenapa-kenapa itu gue.Loe gak liat kaki gue sampe gemeteran gini kelamaan main di sana,tapi kok si Riana biasa aja gitu ya" ucap Melly heran.
Tak lama Pramusaji datang membawakan makanan mereka dan menatanya di meja bersamaan dengan kedatangan Riana kembali dari toilet.
Mereka makan dengan lahap sambil mengobrol santai dan saling mencicipi makanan satu sama lainnya.
Tiba-tiba Arif mendekat pada kursi Riana lalu menangkup wajahnya membuat Riana terlonjak kaget untuk sesaat.
"Gue bersihin dulu saos di mulut loe belepotan banget" Arif mengelap mulut Riana dengan tisu.
"Thanks" ucap Riana sambil kembali melahap makanannya dengan rakus,Arif menatap Riana heran ia tak seperti biasanya.Sebetulnya Arif mengajak Riana pulang dari tadi karna khawatir kondisinya akan drop tapi Riana menolak pulang dan memilih menghabiskan waktu bermain bersama mereka.
"Kenapa loe liatin gue gitu?makan tuh,sayang udah di beli" tegur Riana pada Arif sambil menunjuk pada piring makanan Arif,dan Arif hanya tersenyum sambil mengacak-acak rambut Riana sehingga membuat Riana langsung cemberut sambil merapikan kembali rambutnya.
Menghabiskan banyak waktu dengan teman-temannya merupakan pilihan terbaik,Ara Memang benar Riana beruntung karna di kelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.Ia harus banyak bersyukur akan hal itu.
.
.
.
.