NovelToon NovelToon
TRAPPED

TRAPPED

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Single Mom / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:125
Nilai: 5
Nama Author: Ann Rhea

Luz terperangkap dalam pernikahan kontrak yang penuh rahasia dan tekanan keluarga. Kehamilannya yang tak pasti membuatnya harus menghadapi kenyataan pahit seorang diri, sementara Zaren, ayah bayinya, pergi meninggalkannya tanpa penjelasan. Dalam kekacauan itu, Luz berjuang dengan amarah dan keberanian yang tak pernah padam.

Karel, yang awalnya hidup normal dan mencintai wanita, kini harus menghadapi orientasi dan hati yang terluka setelah kehilangan. Hubungannya dengan James penuh rahasia dan pengkhianatan, sementara Mireya, sahabat Luz, menjadi korban kebohongan yang menghancurkan. Di tengah semua itu, hubungan mereka semakin rumit dan penuh konflik.

Di balik rahasia dan pengkhianatan, Luz berdiri teguh. Ia tidak hanya bertahan, tapi melawan dengan caranya sendiri, mencari kebebasan dalam kegelapan yang membelenggunya. Trapped adalah kisah tentang perjuangan, keberanian, dan harapan di tengah gelapnya kehidupan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Rhea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STAY CLOSE

Luz duduk di tepi tempat tidur, matanya tertuju pada ponsel yang bergetar beberapa kali, dengan pesan dari James. Namun, kali ini, pesan itu terasa kayak beban yang lebih berat dari sebelumnya. Padahal ia tidak ingin memikirkannya terlalu larut. Cuman, James jatuhnya terus menekan dan meneror. Jadi Luz bangun lebih pagi, ia terus merenung. Yang dirinya ketahui semalam membuatnya tak percaya bahwa manusia tidak akan pernah cukup bahkan jika di berikan berlian mewah dan langka sekalipun.

Apa yang ia ketahui soal rahasia James. Membuatnya tercengang, dia bukan gay, melainkan biseksual yang menyukai perempuan sekaligus laki-laki. Hal itu membuat perasannya campur aduk, antara marah, bingung dan terluka.

Karel, orang yang menolongnya. Mireya, sahabatnya. Bom waktu pasti akan datang, tidak terbayang sehancur apa orang yang berharga di hidupnya di sakiti oleh orang yang sama. Tapi yang membuatnya tertekan, bukan cuman janji kepada Karel. Tapi ancaman tersembunyi yang datang bersama rahasia itu. Terngiang jelas ucapan James semalam, dengan nada penuh peringatan dan wajah yang menyeramkan. Tidak ada pilihan lain, Luz harus menurut.

Di lihat wajah Karel teduh dan sedih sih. Ia tahu sesayang apa Karel pada James. Tapi James? Berkhianat dengan Mireya. Bahkan ia juga tahu Mireya sangat mencintainya begitu besar. Jika Luz mengungkapkan kebenaran itu begitu saja. Ia akan menghancurkan hubungan mereka, hubungan sahabat dan suaminya. Termasuk reputasi dirinya. Tapi di sisi lain, ia juga tidak ingin membiarkan Karel maupun Mireya dii dekat James. Apalagi tertipu lebih jauh. Kenapa Luz harus menampung banyak kebenaran dari orang yang suka kebohongan?

Apa yang bisa Luz lakukan? Setidaknya bisa menyelamatkan keduanya dan juga dirinya.

Luz melirik jam dinding. Pukul 6 pagi. Ia sudah melamun selama 1 jam. Karel sebentar lagi bangun, kalau melihatnya bingung dia pasti kepo.

Luz tidak pandai menyembunyikan perasaannya apalagi berbohong. Ia harus menemukan cara. Dalam pikirannya, ia mulai membentuk strategi absurd, cara untuk menjauhkan Karel dari James secara tidak langsung.

Luz bangkit, berjalan ke jendela, menatap langit pagi yang sudah terang. Perasannya kian gusar, maag nya juga kambuh sampai kepalanya pusing. Ada satu hal yang perlu di lakukan---dia tahu ini akan sulit. Menghadapi Karel dengan penuh perasaan bukanlah hal yang mudah, justru malah aneh, terutama dengan perasaan dan niat yang tersembunyi. Ini resiko, karena kebenaran hanya akan menyakitkan, tapi itu lebih baik dari kebohongan yang manis.

Luz melihat Karel masih terlelap, ia segera masak. Untuk melupakan beban pikirannya. Sambil menyiapkan rencana, sesuatu yang bisa membuat Karel menjauh tanpa di curigai. Sesuatu yang tidak akan lagi melibatkan kebohongan besar, tetapi cukup untuk meredakan konflik meskipun sementara. “Gak lucu kalo sahabat gue ngatain suami gue pelakor, kocak anying,” batinnya.

Tapi saat sedang memotong wortel, ujung pisau malam mengenai telunjuk. Luz terkejut, menjerit kecil saat darah bercucuran deras. Sambil mengibaskan tangan, berdamai dengan luka yang baru saja terukir. Luz akan mulai melakukan kedekatannya dengan Karel. Menampilkan dirinya sebagai sosok yang peduli dan menawarkan kenyamanan berkedok ibu hamil manja. Tanpa menyentuh topik sensitif. Cuman Luz makin pusing sekarang, ia mumet terjebak di dalam dilema moral antara menjaga rahasia yang mana dulu, tidak mungkin ia simpan semua. Yang ada semua akan kacau dan hancur secara bersamaan.

Harusnya ibu hamil tidak boleh stres apalagi tekanan batin seperti ini.

“Gak ada salahnya gue manja ke Karel, buat tunjukkin kalo gue lemah dan perlu dia sebagai gantinya.” Luz berjalan mendekati Karel, meringis dramatis menunjukkan lukanya.

“Apa?”

Kaget, melihat noda darah di baju dan tangan Luz sangat banyak. “Why?” Ia sangat peduli, perhatian dan membuat Luz kaget ternyata dia sekaget itu.

“Tunggu!” Karel berlari mencari kotak P3K. Terus membersihkan lukanya dan membalut dengan kapas. “Lukanya mayan panjang dan dalem banget. Lo motong apaan sih? Apa sengaja mau motong jari.”

“Bego banget gue kalo motong jari sendiri, mana telunjuk ntar gak bisa---“ Luz menggantung ucapannya.

Karel menaikkan sebelah alisnya.

Luz menyengir. “Gak bisa omek. Hehe.”

“Kan ada vibrator.”

Setelah lukanya di balut, Luz bingung sendiri. Antara mau jujur apa yang mengganggu pikirannya atau diem.

Karel masih memegang jari Luz, merapihkan plesternya. “Jangan ceroboh makanya, kan ada gue. Atau beli aja.”

“Kepikiran aja.” Luz pun diam. “Gue pengen ke rumah mama hari ini, mungkin nginep juga.”

--✿✿✿--

“Ayah abis dari mana?” tanya Devan yang tengah duduk selonjoran di teras rumah, menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya.

Erwin tampak murung. Dari aura wajahnya beda. Kayak orang lagi gak punya duit. Ia langsung masuk saja dan meminta Minawari membuat kopi.

“Tapi kan ayah, mama susah ngapa-ngapain—“

“Ya kan bisa di raih.”

“Susah ayah. Minta tolong bikinin sama Mbak aja.”

Erwin malah menggebrak meja. “Jangan jadiin ini alasan kamu buat leha-leha.”

Minawari menghela nafas dan menekan roda, hingga bisa bergerak sendiri tanpa harus menunggu seseorang mendorongnya. Ia menahan tangis, nelangsa sekaligus amarah. “Iya sebentar.”

“Ini nih alasan gua mau cere dari dulu, lu tuh pemalas.”

Tangan Minawari goyah, hingga air panas mengenai tangannya.

“Aduh ibu hati-hati, sini biar saya aja,” kata Bebingah mengambil termos kecil dan gelasnya.

Minawari terlihat menutupi sedihnya. “Maaf ya, saya jadi ngerepotin banyak orang.”

“Tidak apa-apa ibu, saya kan di bayar dan itu tugas saya menjaga dan merawat ibu, serta membantu pekerja Ibu,” katanya.

Minawari melirik suaminya. Padahal ia hanya minta pulang karna rindu. Tapi malah marah. Susah payah ia menghampirinya. “Ayah, marah kenapa?”

“Ya mikirlah, ayah baru aja berangkat, mama udah merajuk, siapa yang gak marah coba?” Erwin mendengkus kesal, kemudian beranjak pergi.

Minawari menunduk, menatap lantai yang kosong. “Memangnya salah dan harus semara itu?” Ia hanya bisa memendam, meratapi Erwin pergi, nanti juga baik lagi.

“Yuhu im cooming!” Suara teriakan Luz menggelegar di halaman rumah.

Devan sampe kaget, terbangun dari tidurnya. “Sumpah mak Lampir dateng lagi. Gimana kabarnya Sis?”

Luz berlenggak-lenggok, memperlihatkan gaya pakaian dan tas. “Seperti yang lo lihat, gue selalu one point. Kece dan menggelegar. Oh ya salim dulu kepada kakak Devan yang terGANTENG.”

Devan menyentil dahi Luz. “Gausah banyak gaya, ke peleset, keguguran lu ntar.”

Luz tersenyum kecut lalu berjalan centil tak menghiraukan Devan. Ia kesini ingin melepas penat bertingkah seperti anak kecil. “Mama aku pulang!”

“Eh sayang.” Minawari mengulurkan kedua tangannya dan berpelukan. “Kesini sama siapa, gak sama Karel?”

“Seperti yang Mama lihat. Aku sendiri, Karel sibuk selalu sibuk.” Luz tersenyum lebar menunjukkan dirinya baik-baik saja. “Oh ya tadi aku lihat ada mobil ayah keluar, baru aja pergi ya?”

Minawari tersenyum dan mengangguk, wajahnya pucat dan lesu. Matanya juga sayu. Luz dapat membaca, terjadi sesuatu. “Mau makan apa sayang? Biar Mama bantu siapin.”

“Aku ke sini cuman kangen karokean aja sih.”

Devan melompat dari saung di teras. “Wah asik tuh, gua ikutan. Siapin sound system dulu.”

Luz terkekeh, kakaknya tidak lagi bersikap seakan dirinya musuh. “Gasss mau siapin dulu cemilan.”

“Mama tunggu disini, biar aku yang handle semuanya.” Luz memegang bahu Minawari lalu ke dapur. Menyapa asisten baru yang pertama kali ia temui.

“Kenalin Non, nama saya Bebi,” katanya mengenalkan diri.

Mata Luz terbelalak, ia tertawa garing. “Oh ternyata emang namanya ya Bebi? Haha oke salken Mbak Bebi.”

“Iya Non hehe. Eh katanya Non lagi hamil ya? Semoga nanti lahirannya lancar ya.”

Luz mengangguk, mengelus bahu Bebingah. Ia merasa bisa lebih aman, Minawari ada yang menemani. “Nitip Mama ya Mbak, gue kan jarang di rumah. Gatau juga kesininya tiap kapan, ya paling minus, harus ngurusin itu ada barongsai juga haha tapi aman kok, dia baik, cuman gitu deh.”

Usai membuat minuman dan menyiapkan Snack. Luz keluar dan ternyata Devan sudah selesai memasang sound. “Wah jadi nih gue dangdutan.”

“Yuhu mari bergoyang.” Devan geol-geol.

Di letakkan nampan, Luz menurunkan bajunya yang dari tadi ke tarik ke atas menyembulkan perutnya yang kian membuncit. “Kala ku pandang kelip bintang yang jauh disana---“

Luz mulai menari-nari dengan alunan irama dari lagu berjudul kopi dangdut. Devan sudah mengeluarkan saweran. Keduanya tertawa bersama, membuat Minawari merasa hangat, akhirnya mereka bisa akur walau pasti ada aja yang bikin ribut.

“Devan!” teriakan Luz melengking keras. “Lo kenapa mukul bahu gue?!” Matanya melotot seakan ingin copot.

Devan menggeleng. “Kaga, ada nyamuk ini. Ntar gatel.”

“Tapi sakit.” Luz jadi badmood. Ia menghentakkan kakinya di lantai, bisa-bisanya lagi enak-enak bernyanyi malah di pukul, kenceng banget lagi. “Tau ah gatau, betmut!” Ia langsung meninggalkan halaman rumah, masuk ke kamar mengunci diri dan gak keluar lagi.

Bebingah kaget, ia pikir mereka saudara yang akrab taunya lebih sering ribut. “Waduh.”

“Mereka sering begitu bahkan lebih hebat dari ini, Bi. Kamu gausah kaget ya.” Minawari hanya takut, Bebingah jadi mengundurkan diri karna Devan.

“Devan, udah tau adek kamu sensitif terlebih dia lagi hamil. Malah kamu jailin. Lagian mana ada nyamuk, ngaco kamu ini!” Minawari tertawa, ia tahu akal busuk Devan dari senyum dan wajahnya. Terlihat jelas itu bohong.

--✿✿✿--

“Kamu sudah sampai di Bandung, Mas?” tanya Gladys di seberang telepon.

Zaren berdehem, malas sekali mendengarnya. Dia terlalu membosankan dari segala hal. “Iya. Udah dulu ya.” Langsung ia akhiri karna malas basa-basi.

Zaren ada pekerjaan. Tapi tanpa berpikir panjang, langsung mampir datang ke Bandung. Akan mengunjungi rumah Luz. Ingin sekali bertemu dengannya, sangat dan sangat. Ada rasa dan gejolak emosi yang sulit ia jelaskan. Seperti keinginan yang tertahan tapi saat di lepaskan akan meledak seketika.

Malam ini ia akan mengajaknya bertemu, karna besok ia harus tiba di tempat kerjanya. Ia berdiri di stasiun kereta, mengirimkan pesan ke Luz. Tapi tak kunjung di balas bahkan centang satu abu.

Akhirnya Zaren memilih datang mengunjungi rumah Luz. Pagar rumahnya yang sedada masih terbuka, ia masuk dengan perasaan tak karuan. Seakan melupakan Gladys juga. Jujur saja, ia merindukan Luz, entah dalam konteks apa, itu tidak jelas. Perasaannya samar dan tidak mudah di tebak.

Zaren memencet bel, ada mobil dan motor terparkir. Apa mungkin dia ada di rumah atau di kost? Tadi jelas di kost kosong dan tidak lagi disana, untung ia pernah mengantarnya pulang dulu jadi tau alamatnya. Apa jangan-jangan Luz udah pindah?

Ini bel kesekian, hingga akhirnya pintu terbuka.

“Cari siapa Mas?” tanya Bebingah.

Kaget, kok yang keluar beda orang. Itu siapa? Apa pemilik baru.

Dengan ragu ia nanya, “Luz?”

“Oh, sebentar ya saya panggilkan dulu—“

“Siapa Bi yang datang?”

Bebingah menyengir kikuk, ia balik lagi. “Mas siapanya?”

Zaren duduk di teras, kakinya di ketuk-ketuk. “Temennya.”

“Te—“ Bebingah berhenti bicara.

“Langsung panggil aja siapa tau penting,” pungkas Minawari lalu masuk lagi ke kamar.

Luz pun turun dengan wajah bingung. Dari tadi ia terus nanya. Dia cewek apa cowok, ciri-cirinya gimana? Sampe Bebingah kewalahan dan minta Luz cek sendiri.

Langkah Luz terhenti, dia tidak percaya kalau orang yang ingin menemuinya justru orang yang ia hindari juga sekarang.

Zaren menoleh, ia melihat kaki Luz kian putih. Naik ke atas sampai diam di perutnya. “Luz?” Melihat Luz menghindari ia bicara lagi. “Mau ngomong sebentar, penting.”

“Gak.”

Zaren memohon-mohon tidak seperti biasanya. “Gue mau tanggung jawab Luz.”

Luz melihat tangan Zaren yang memegang tangannya. “Maksudnya?”

“Kita nikah.”

Luz tertawa. “Gak bisa.”

“Kenapa?”

“Gue udah nikah dan lo juga udah kan?” Luz menatapnya tajam, lalu membuang pandangan dan melotot saat mengingat, kalau di rumah ini ada Bebingah dan ibunya.

Lidah Zaren kelu, mulutnya jadi kaku. “G-gua---“

Luz langsung membekap mulut Zaren, menyeretnya menjauh dari rumah.

“Ngomongnya jangan kenceng-kenceng, gue gamau ada masalah baru dengan ketololan lo barusan itu.”

“Gua serius, beneran, kita nikah.”

Luz menoyor kepala Zaren. “Dari dulu gak berubah-ubah ku, ada aja begonya. Stupid!”

“Gue udah nikah.” Luz menunjukkan cincin di jari manisnya. “Jadi gue gak perlu lo lagi. Udah deh gausah dateng lagi ke hidup gue.”

Zaren tercengang. “Tapi anak gue---“

“Udah jadi anak dia. Ini bukan anak lo.”

“Tuhkan, apa gue bilang. Tapi gue yakin ini anak gue.” Zaren bersikeras. Tapi Luz menolaknya.

Sampai Luz menarik tangan Zaren dan mengusirnya. “Pergi! Gausah dateng lagi. Pake akal sehat lo, jangan karna gue pergi, lo jadi mendadak beloon.”

“Luz tapi gue perlu lu sekali aja.” Zaren mengguncang gerbang yang kini telah di kunci.

Dimana Zaren pergi, Devan dateng ngamuk-ngamuk udah di kunciin di luar. “Sialan, gue di suruh tidur di luar apa.” Manjat kali ya, bisa sih pendek juga gerbangnya. Tapi motor gedenya? Di panggil gitu? Pinggangnya bisa patah.

...--To Be Continued--

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!