Entah keberuntungan atau kesialan bagi seorang Sheril dengan mudahnya jatuh ke dalam pesona seorang Arion yang ketus, galak dan cuek.
Arion si pemilik sejuta pesona, mampu memikat banyak hati orang, tapi nyatanya hati Arion lah yang paling sulit untuk dipikat.
Bagi Sheril, Arion adalah orbitnya. Dunia Sheril seakan hanya tertuju kepada Arion seorang.
Bagi Arion, Sheril adalah salah satu dari sekian banyak bintang yang mengelilinginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon haniyahhputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17 - Air Mata Sheril
"Adena!"
Pemilik nama menoleh ke arah sumber suara, tahu siapa yang memanggilnya, Adena segera mengalihkan pandangannya berpura-pura tidak mendengar jika Gara memanggilnya.
Gara berlari mengejar Adena, ini adalah satu-satunya cara agar Adena mau berbicara dengan Gara. Selama ini Adena tidak ingin bicara dan menampakkan diri di hadapan Gara.
Tangan Gara mencekal lengan Adena agar tidak pergi. Adena berusaha melepaskan cekalan tangan Gara.
"Lepas!"
"Kita harus bicara," Gara semakin kencang mencekal tangan Adena.
"Gak! Gue gak mau! Lepas Gara!" Semakin Gara mengencangkan cekalan tangannya, semakin besar juga usaha Adena untuk melepaskan diri.
"Gue gak akan bahas tentang kita lagi sebelum elo kasih bersedia. Ini tentang Sheril dan Arion, bukan kita. Lo, mau dengerin gue?" Gara merendahkan nada bicaranya ketika bertanya.
Adena menghela napas, akhirnya setelah hampir 1 tahun menolak bicara dengan Gara, Adena mengabulkan permintaan Gara, mendengarkan lelaki itu bicara.
Gara membawa Adena ke ruang musik, mencari tempat sepi agar tidak seorang pun dapat mendengar pembicaraan mereka.
"Harus banget apa di sini?" Adena resah sendiri berduaan di tempat sepi dengan Gara.
Benar-benar tidak ada seorang pun di ruang musik.
"Gue gak mau orang lain tau. Setelah gue pikir semalaman, gue harus ngomong tentang ini ke elo, gue bingung apa yang harus gue lakuin," Gara mengeluarkan ponsel kemudian menunjukkan sesuatu kepada Adena.
Tidak salah lagi, yang di tunjukkan oleh Gara adalah video kejadian semalam. Adena terkejut melihat subjek yang berada di video tersebut, ingin menyangkal tapi matanya tidak salah melihat.
"Awalnya gue ngerekam itu cuma iseng, Sheril gak tau sama sekali kalau Arion ikut balapan sejak Minggu lalu. Niat gue ngerekam itu ya buat nunjukin ke Sheril, padahal gue udah ngebayangin ekspresi kesemsem Sheril kalau liat Arion di arena balap, penampilannya beda banget sama sehari-hari di sekolah. Tapi, gue bener-bener gak nyangka itu bakal terjadi. Gue gak siap liat ekspresi Sheril kalau tau tentang ini," Gara bercerita sepanjang Adena melihat video itu.
Dalam hubungan asmara, Gara dan Adena belum menemukan titik terang dalam hubungan mereka. Semakin Gara mendekat, maka Adena akan semakin menjauh. Tapi dalam soal pertemanan, mereka berdua sama-sama peduli dengan Sheril sebagai seorang sahabat. Sheril menjaga Adena dengan sepenuh hati sesuai permintaan Gara. Gadis itu telah melakukan hal yang menguntungkan bagi setiap pihak.
Adena menggeleng pelan, mengingat setiap rona bahagia Sheril ketika bercerita tentang Arion, lelaki tambatan hatinya membuat Adena tidak tega jika Sheril tahu tentang yang terjadi antara Reina dan Arion.
"Hapus video ini, jangan sampai Sheril liat. Bersikap pura-pura gak tau, gue gak mau Sheril tau tentang ini." Ujar Adena tegas.
Pintu ruang musik terbuka lebar, menampilkan sosok Sheril berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah yang tak bisa di artikan.
"Apa yang gue gak boleh liat? Apa yang gak boleh gue tau?"
🌞🌞🌞
Sheril berjalan riang sepanjang koridor, tak jarang juga ia menyapa ramah beberapa orang yang kenal dengannya. Senyuman di wajah Sheril selalu menjadi daya tarik tersendiri.
"Echa!" Sapa Sheril ceria.
Echa yang sedang asik mengunyah permen karet melambaikan tangannya seraya membuat balon dari permen karet di mulutnya.
Sheril menghampiri Echa dengan bersemangat. "Aduh temen gue yang mau jadi ibu dokter tapi hobinya mainin permen karet di atas meja dari mulutnya, bagi permen karetnya dong sis!"
Echa tertawa ringan. "Sialan lo," rutuk Echa, tapi tak urung juga gadis bertubuh mungil itu memberikan permen karet kepada Sheril.
"Aduh calon ibu dokter, 고마워 (gumawo)." Ujar Sheril senang, seakan ia baru saja mendapatkan rezeki tak terduga.
Sheril memang seperti itu, terkadang ia terlalu berlebihan dalam mengekspresikan diri.
"Udah sana lo, sebelum gue enek liat kejomloan lo," ejek Echa.
"Sesama jomlo gak boleh ngejek spesiesnya sendiri!" Sheril terkekeh lalu pergi dari hadapan Echa sambil mengunyah permen karet hasil palakannya.
Senyuman Sheril sirna sesampainya di kelas Adena, ia tidak melihat batang hidung Adena di kelas ini. Tumben sekali Adena sudah pergi dari kelasnya sebelum Sheril menghampirinya.
Sheril menoel salah satu siswa yang sedang bermain kartu di lantai dekat papan tulis.
"Eh, elo, liat Adena gak? Kok tumben gak ada di kelasnya,"
Siswa itu menoleh ketika pundaknya di sentuh oleh Adena. "Lo liat Adena di kelas ini gak?" Tanyanya balik.
Sheril mengernyit, namun ia juga menjawabnya dengan gelengan kepala. "Enggak,"
Otak Sheril sedang berpikir. Bukankah ia yang bertanya kenapa jadi ia yang di berikan pertanyaan sama oleh siswa ini? Kalau tahu pun Sheril tidak akan bertanya sekarang.
"Enggak kan? Lo pikir Adena setan kalau elo gak liat dia di kelas terus gue bisa liat ada di kelas?"
Kerutan dahi Sheril semakin dalam, masih mencerna apa yang di katakan lawan bicaranya. "Ini yang bego gue apa elo?"
Menyadari sesuatu, Sheril menepuk punggung lelaki itu dengan sadis. "Kalau gue tau Adena dimana juga gue gak bakal nanya elo anjeng! Gue jadiin rujak juga lo lama-lama," Sheril menjadi kesal.
Lelaki itu tertawa ringan. "Ternyata elo gampang di begoin ya, udah sana lo cari indung lo dimana. Adena gak ada di sini, syuh," usirnya tak tanggung-tanggung.
Sheril menjambak rambut lelaki itu dengan satu tarikan yang sadis lalu segera keluar dari kelas Adena sebelum mendapatkan amukan.
"GUE ULEK JUGA LO SHERIL!"
Mengabaikan teriakan yang Sheril tahu siapa pemiliknya, Sheril kembali bertanya kepada siswi yang sedang mengobrol di depan kelas.
"Hai, liat Adena enggak kemana dia?"
Siswi itu mengedikkan bahunya acuh. "Tadi gue liat dia di pergi sama Gara,"
"Hah? Gara? Gak salah?"
"Serius, beneran pergi sama Gara. Kayaknya tadi mereka pergi ke arah ruang musik deh," jelasnya meyakinkan.
Percaya tidak percaya, Sheril berterima kasih kepada siswi itu karena telah memberitahu dirinya. Selama di perjalanan menuju tempat yang tadi siswi itu beritahu, Sheril masih tidak percaya, selama ini Adena menolak berbicara dengan Gara. Kenapa tiba-tiba mereka pergi bersama?
Setelah mengecek ruangan yang berada di koridor ini satu persatu, Sheril berdiam sejenak di depan ruang musik, karena hanya ruangan inilah yang belum ia periksa.
Sheril mendorong pintu ruang musik hendak masuk, namun gerakannya terhenti ketika mendengar suara Gara sedang berbicara di dalam.
"-tapi, gue bener-bener gak nyangka itu bakal terjadi. Gue gak siap liat ekspresi Sheril kalau tau tentang ini,"
Hah? Kok nama gue di sebut-sebut?
"Hapus video ini, jangan sampai Sheril liat. Bersikap pura-pura gak tau, gue gak mau Sheril tau tentang ini."
Sheril semakin penasaran atas apa yang terjadi sebenarnya ketika mendengar suara Adena tegas seperti itu.
Dengan sekali hentakkan Sheril membuka pintu ruang musik, Gara dan Adena terkejut dengan kehadiran Sheril tanpa di duga.
"Apa yang gue gak boleh liat? Apa yang gak boleh gue tau?"
Refleks, Adena menggeser satu langkah mendekati Gara. Adena tidak ingin memberitahu apa yang terjadi kepada Sheril. Adena menarik kemeja seragam Gara yang memang jarang di masukkan ke dalam celana, memberi kode agar Gara yang menangani hal ini.
Gara dan Adena sama-sama tegang, seperti dua orang yang tertangkap basah sedang melakukan hal yang tidak-tidak.
"Sher," gumam Gara.
Sheril di buat semakin penasaran, melihat Gara berusaha menyembunyikan ponselnya di balik tubuhnya, secepat kilat Sheril merebut ponsel Gara dari sang pemilik.
"Sheril!" Seru Gara dan Adena secara serempak.
"Ah, gue gak tau harus senang atau kesal soal ini. Senang karena kalian akhirnya mau bicara, atau kesal karena kalian nyembunyiin sesuatu dari gue?" Sheril tersenyum tipis seraya menunjukkan ponsel Gara yang kini sudah berada di tangannya.
Adena dan Gara di buat panas dingin ketika Sheril mulai menyetel video berdurasi satu setengah menit tersebut. Gerakan tangan Gara yang semulanya ingin merebut ponselnya terhenti saat mendengar Sheril tersenyum senang melihat video tersebut.
"Ini Arion'kan? Serius? Cakep bener cowok gue," Sorot mata Sheril berbinar saat 30 detik pertama video tersebut.
Matanya mulai mengerjap saat melihat 30 detik video selanjutnya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia salah lihat jika sosok yang di video ini adalah seorang Arion yang pipinya sedang di cium oleh, Reina?
Mulutnya mulai menganga melihat 30 detik terakhir video. Sedang menyangkal bahwa yang di video tersebut bukanlah sosok yang ia kenal, bukan Arion yang Reina tengah berciuman. Meski yang Sheril lihat hanyalah punggung Reina, tapi Sheril yakin bahwa mereka tengah berciuman. Posisi mereka persis seperti di drama Korea yang suka Sheril tonton.
"Sher," panggil Adena pelan, Sheril masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya barusan.
"Gar, lo di ajarin edit video sama Rangga ya? Hebat. Atau video ini potong scene dari film-film yang biasa gue tonton? Kasih tau gue apa judulnya," ujar Sheril dengan pandangan kosong.
"Sheril," Adena melangkah maju mendekati Sheril.
"Gara, tell me the truth," Sheril menatap Gara dengan tatapan memohon.
Tidak tega dengan Sheril, Gara memberitahu yang sebenarnya. "Lo gak salah lihat,"
Sheril menggeleng pelan, kakinya mundur perlahan, menjauhi Gara dan Adena. "Gue gak percaya sebelum gue pastiin sendiri," ujarnya lalu segera berlari pergi dari ruang musik.
"SHERIL!" Teriak Adena dan Gara serempak, berusaha mencegah Sheril, tapi terlambat. Sheril tidak akan berhenti.
🌞🌞🌞
"Arion!" Panggil Sheril tegas. Berjalan tegak menghampiri Arion, Sheril tidak pernah percaya apapun sebelum ia memastikannya sendiri secara langsung.
Arion mengernyit, merasa aneh dengan Sheril, tak biasanya gadis itu bersikap seperti ini. Tidak ada senyuman menyambut Arion.
"Ini, lo?" Sheril menunjukkan layar ponsel Gara kepada Arion, kemudian memutar video tersebut.
Dahi Arion semakin bergelombang saat detik-detik terakhir di putarnya video tersebut.
"Siapa yang rekam?" Tanya Arion datar.
Sheril berdecih sinis, tidak menyangka jika pertanyaan inilah yang keluar dari bibir Arion.
"Gak penting siapa yang rekam. Ini elo kan sama Reina?" Tanya Sheril memastikan.
"Ya." Jawab Arion lugas, tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Sheril mundur satu langkah, menjauhi Arion.
"Ini bukan Amerika,"
"I know,"
"Ini Reina, cewek yang ribut sama gue waktu itu,"
"I know,"
"Lo gak mikirin gue?" Sheril menatap Arion tidak percaya.
Arion mendongkak, menatap Sheril lekat-lekat. "Apa hubungannya?"
Sepertinya menanyakan hal ini kepada Arion bukanlah suatu hal yang bagus. Bukannya mendapat jelasan, Sheril malah mendapatkan kekecewaan.
"Gue suka sama lo,"
"I know,"
"Terus selama ini gue itu apa di mata lo? Selama ini gue cuma bayang-bayang lo doang kan? Gue yang selalu di belakang elo, ikut kemanapun elo pergi, tapi gak pernah di anggap sama lo. Gue berarti gak sih di mata lo selama ini?" Sheril meluapkan isi hatinya yang telah lama ia pendam.
Tidak ada siapa-siapa di halaman belakang sekolah, jadi Sheril sendiri pun tidak akan menahan diri untuk mengungkapkan apa isi hatinya.
"Udah bicaranya?" Tanya Arion dingin.
Sheril tidak menjawab, hatinya semakin sakit melihat respon tak acuh Arion.
"Jangan ganggu privasi gue lagi. Padahal elo sendiri yang bersih keras kalau budaya barat itu menjaga privasi, tapi elo sendiri yang ganggu privasi gue?"
Sheril mundur satu langkah lagi, menjauhi Arion. Ia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Stop bothering my life again!" Perintah Arion tegas.
Mulut Sheril terbuka, hendak mengeluarkan semua unek-uneknya yang belum selesai ia sampaikan. Tapi semua itu tertahan di ujung lidahnya, tak mampu di ucapkan.
"Oh, oke." Benak Sheril terasa kosong saat ini juga.
"Gue minta maaf kalau selama ini gue udah ganggu hidup lo. Gue minta maaf ya Arion? Sesama manusia harus saling memaafkan biar di sayang Allah," Sheril tersenyum sendu kepada Arion.
Sementara Arion terpaku dengan senyuman Sheril, bahkan setelah Arion mengatakan hal itu Sheril masih bisa tersenyum kepadanya. Di balik senyuman Sheril, gadis itu tengah menahan agar air matanya tidak terjatuh di hadapan Arion.
"Kita gak perlu belajar bareng lagi kan? Lo pasti sibuk banget, maaf gue udah ganggu hidup lo. Makasih banyak udah ajarin gue selama ini. Mulai sekarang gue gak akan ganggu elo lagi sampai elo mengizinkan gue masuk ke hidup lo."
Sheril menarik napasnya dalam-dalam, lalu melanjutkan perkataannya yang terasa menyatakan hati Sheril sendiri. "Sebentar lagi ujian kenaikan kelas. Jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Sekali lagi maaf Arion,"
Tidak ingin mendengar perkataan Arion yang mungkin akan semakin menyakiti hatinya, Sheril segera melesat pergi dari hadapan Arion sebelum air mata Sheril membanjiri pipinya.
Terkadang, orang yang paling pandai memberikan luka adalah orang yang paling kita sayangi. Tapi sayangnya, orang itu jugalah yang akan dengan mudahnya menyembuhkan luka kita.
Kini Sheril tinggal berusaha bagaimana caranya ia tidak bergantung kepada Arion. Kehadiran Arion di hidupnya membawa pengaruh besar bagi Sheril.
Apakah suatu saat nanti kehadiran Sheril di hidup Arion akan membawa pengaruh juga?
Atau tidak sama sekali?
udh nunggu lama bgt 😭