✨THE BEGINNING OF THE WORLD.
|Terlahir Kembali di Dunia Binatang...
Di hari pernikahannya, Niren kehilangan segalanya—termasuk nyawanya. Namun, takdir membawanya ke dunia lain, di mana manusia bukan lagi penguasa. Kini, ia terlahir sebagai kelinci betina dalam dunia binatang yang brutal.
Lebih buruknya lagi…
> "Selamat datang di Sistem Survival Betina! 🎉 Untuk bertahan hidup, tugas utamamu adalah… memiliki pasangan dan melahirkan sebanyak mungkin!"
Di dunia ini, betina sangat langka dan aturan yang ada bertentangan dengan logikanya. Hanya dengan melahirkan, ia bisa mendapatkan poin untuk bertahan hidup. Tapi Niren menolak pasrah.
Apakah ia akan tunduk pada aturan dunia ini? Atau justru menaklukkan nasibnya sendiri?
Sebuah perjalanan penuh tantangan, bahaya, dan romansa tak terduga pun dimulai.
⚠️ DILARANG JIPLAK! Kalo enggak suka bisa skip! Wajib Comment ya guys kalo suka🥹🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyx Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Cahaya Bulan
Di tengah hutan yang diselimuti kegelapan, hanya cahaya bulan yang menjadi penerang. Angin berdesir lembut di antara pepohonan, membawa aroma tanah yang lembap.
Seekor serigala putih berdiri di sana, kepalanya menunduk, hidungnya mengendus-endus ke tanah dengan gelisah. Mata keemasannya tajam, penuh kehati-hatian, tapi juga kecemasan yang sulit disembunyikan.
Sudah berhari-hari ia mencari, berlari tanpa henti, melewati hutan lebat dan menembus pekatnya malam. Rasa lapar dan lelah tak cukup kuat untuk menggoyahkan tekadnya.
Betinanya hilang.
Ia tak bisa menerimanya. Tidak peduli seberapa singkat waktu yang mereka habiskan bersama, instingnya telah lebih dulu mengklaim betina itu sebagai miliknya.
Rune mengangkat kepalanya, menatap cakrawala malam dengan geraman tertahan. Pikirannya berkecamuk, emosinya bergejolak. Ia tahu betul betinanya ada di luar sana—entah dalam keadaan hidup atau sekarat. Dan ia akan menemukannya, bagaimanapun caranya.
Saat ia hendak melangkah menyusuri tepi sungai, angin malam tiba-tiba membawa sesuatu yang membuatnya tersentak. Aroma yang sangat dikenalnya.
Aroma betinanya.
Rune menoleh tajam ke arah semak-semak yang bergetar tak jauh darinya. Cahaya bulan menyinari gerakan samar di balik dedaunan. Lalu, dalam hitungan detik, sosok kurus berlumuran lumpur terhuyung keluar dari sana.
Sosok yang begitu akrab.
"RUNE!!"
Teriakan itu menggema di malam sunyi, penuh keputusasaan dan ketakutan.
Rune membelalakkan mata. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kembali berpacu liar.
Itu Niren!
Tanpa berpikir panjang, ia mengubah tubuhnya menjadi manusia dan berlari menerjang sungai. Air dingin menyentuh kulitnya, tapi ia tak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah satu hal—Niren selamat.
Begitu mencapai tepi sungai, ia langsung merengkuh tubuh Niren erat-erat. Ia bisa merasakan betapa kurus dan dinginnya tubuh betina itu. Tangannya bergetar saat mengusap punggungnya, mencoba memastikan ini bukan sekadar ilusi.
"Huhuhu... Rune!"
Niren menangis tersedu di pelukannya, tubuhnya gemetar hebat.
Rune semakin mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di rambut betina itu, menghirup aromanya dalam-dalam. Meski bercampur lumpur dan debu, ia masih bisa mengenali wangi lembut yang selalu melekat pada Niren.
Ini betul-betul Niren.
Perlahan, ia melepaskan pelukan dan menatap wajahnya dengan tajam. "Kau dari mana saja, hah?! Semua orang mencarimu!"
Mata Niren melebar. Ada ketakutan di sana, tapi ia segera menunduk, menggigit bibirnya ragu. Ia mengingat apa yang dikatakan Key sebelumnya.
[Bagus, lanjutkan dramamu, Tuan Rumah.]
"Ishhh, diamlah, Key! Biarkan aku fokus!"
Menarik napas dalam, Niren berusaha memasang ekspresi penuh kesedihan. Ia menggigit bibirnya lagi sebelum akhirnya membuka suara dengan nada bergetar.
"A-aku… aku ditangkap…" suaranya lirih, tubuhnya sedikit berguncang, seolah mengingat sesuatu yang sangat mengerikan. "Tapi aku berhasil kabur... M-maaf sudah merepotkanmu…"
Ia berusaha terlihat setenang mungkin, tapi dalam hatinya, ia merasa sedikit bersalah. Ini semua rencana sistem gila itu—membiarkan tubuhnya penuh lumpur dan bau, agar Rune percaya dengan apa yang di katakan nya.
Rune, yang awalnya dipenuhi amarah, kini menatap Niren dengan ekspresi yang berbeda. Kekesalannya perlahan mereda, tergantikan oleh sesuatu yang lebih lembut. Matanya menyapu setiap luka kecil di wajah dan lengannya, rahangnya mengeras.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" suaranya kali ini lebih pelan, lebih lembut. "Kenapa kau sampai seperti ini?"
Nada suaranya membuat jantung Niren berdetak lebih cepat.
"A-ada orc liar…" Niren kembali menangis, kali ini lebih histeris. "Mereka mengejarku… Mereka menculikku… Mereka…"
Niren terisak, menggigit bibirnya seolah tak sanggup melanjutkan. Ia benar-benar memainkan peranannya dengan baik.
Rune mengusap punggungnya, mencoba menenangkannya. Matanya semakin tajam, penuh amarah. "Dimana bajingan yang menangkapmu itu sekarang?!"
[Peringatan! Tuan Rumah, jangan biarkan Rune mengetahui keberadaan Aaron saat ini. Mereka sangat cemburu dan tidak ingin barang mereka direbut. Jika mereka mengetahui satu sama lain, kita tidak akan bisa mendapatkan poin misi melahirkan setelahnya. Dan kita akan musnah!]
Niren: "...."
Dengan cepat, ia menunduk, berpura-pura semakin ketakutan. "J-jangan tanya lagi… Hikss, aku mohon… bawa aku pulang, Rune… Aku ingin segera bertemu Nyonya Fenrisa, aku takutt.…"
Rune terdiam. Ia menatap Niren yang kini menangis semakin keras, tubuhnya tampak lemah dan rapuh.
Dalam benaknya, ia tahu—betina yang diculik orc liar jarang bisa kembali hidup-hidup. Jika mereka berhasil selamat, kebanyakan dari mereka memilih untuk bungkam, tidak ingin mengingat apa yang telah terjadi.
Dan kini, melihat betinanya sendiri menangis seakan-akan dunia telah runtuh, Rune merasakan sakit yang aneh di dadanya.
Perlahan, ia menarik Niren kembali ke dalam pelukannya, membiarkan tubuh mungil itu tenggelam dalam dekapannya. "Maaf…" bisiknya. "Ini semua salahku…"
Saat itu, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa.
Tubuh Niren terasa panas.
Rune segera menarik diri, menatap wajahnya dengan cemas. "Niren, kau sakit?!"
Niren menggeleng pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Eghh… enggak… Cuma… sedikit pusing…"
Ia bersandar lemah di dada Rune, tubuhnya gemetar. Seperti kucing kecil yang mencari kehangatan.
Rune tidak berpikir dua kali.
"Pegang aku erat-erat. Jangan lepaskan!"
Dalam sekejap, tubuhnya kembali berubah menjadi serigala putih yang gagah. Dengan ekornya, ia melilit pinggang Niren, mengangkatnya ke punggung lebar miliknya.
Lalu, tanpa menunggu lagi, ia melesat menembus hutan, berlari secepat mungkin.
Malam masih panjang, tapi Rune hanya punya satu tujuan..
Membawa betinanya pulang.
>>>To Be Continued...
Akhirnya... perjalanan Niren di buku ini resmi selesai. 🥹
Sebelum itu, aku mau minta maaf dulu karena sudah cukup lama menghilang dan jarang update. Beberapa waktu terakhir aku lagi sibuk dengan pekerjaan dan urusan lain, jadi waktu menulisku agak berantakan. Terima kasih banyak buat kalian yang masih sabar menunggu sampai sekarang. 🫶
Dan terima kasih juga untuk semua yang sudah membaca, memberi komentar, vote, maupun sekadar menemani perjalanan Niren dari awal sampai akhir. Jujur, tanpa kalian mungkin cerita ini tidak akan sampai sejauh ini.
Meski buku ini sudah tamat, kisah Niren sebenarnya belum berakhir.
Masih ada banyak hal yang belum terungkap, masih ada perjalanan yang harus dilalui, dan masih ada rahasia yang menunggu untuk ditemukan. Karena itu, kelanjutan cerita Niren nantinya akan berlanjut di buku baru. ✨
Anggap saja ini akhir dari satu perjalanan dan awal dari petualangan yang lebih besar.
Sekali lagi, terima kasih sudah bertahan sejauh ini bersama Niren. Sampai jumpa di buku berikutnya! ❤️