Mayra memilih meredam sendiri perasaan cintanya pada seorang pemuda tampan yang merupakan teman satu sekolahnya, sekaligus putra bungsu dari sebuah keluarga baik hati yang sudah begitu banyak membantunya.
Mayra sadar, perasaannya tidak mungkin berhasil, terlebih pemuda tersebut telah memiliki seorang gadis sebagai tambatan hatinya.
Lalu, apakah cinta Mayra benar-benar tidak akan mungkin terwujud?
Yuk, ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Mayra tengah sibuk berkutat di dapur, menghadapi berbagai jenis bahan masakan yang dibawakan oleh orang suruhan Agam. Sementara Agam, pemuda itu malah tengah menikmati tidur lelapnya di lantai atas.
"Aku sudah seperti ibu rumah tangga yang sibuk di dapur menyiapkan makan siang," gumam Mayra sambil membalik seekor ikan berukuran cukup besar di atas wajan panas.
Setelah menghabiskan dua jam berkutat di dapur, Mayra mampu menyajikan tiga jenis menu makanan yang berbeda di atas meja makan. Mayra merasa bersyukur, karena kegiatannya membantu Budhe Darmi dan Pak Wahyu di dapur, ia jadi bisa memasak sendiri makan siang untuk Agam tanpa begitu merasa kerepotan.
Setelah selesai urusan di dapur, Mayra hendak menuju ke lantai atas untuk memanggil Agam. Tapi Agam malah sudah turun lebih dulu menuju meja makan.
"Sudah selesai masaknya?" tanya Agam, sambil berjalan melewati Mayra yang tengah berdiri tertegun menatap wajah Agam yang terlihat segar dengan rambut hitam pekatnya yang terlihat basah. Mayra jelas bisa menebak, jika Agam baru saja selesai mandi.
Agam yang sampai di meja makan, langsung tergiur saat melihat dan mencium aroma hidangan yang tersaji di atas meja. "Mayra... " panggil Agam. Seperti biasa, Agam ingin Mayra melayaninya di meja makan.
Mendengar Agam memanggilnya, Mayra yang masih berdiri melongo, menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya, lantas buru-buru menghampiri Agam yang sudah duduk anteng, siap menyantap hidangan yang sudah tersaji di atas meja.
Dengan cekatan, Mayra mengisi piring kosong Agam dengan nasi dan lauk pauk yang sudah ia masak, tidak lupa mengisi gelas Agam dengan air mineral dingin seperti yang setiap hari ia lakukan.
"Bagaimana rasanya" tanya Mayra saat Agam selesai menghabiskan sepiring nasi beserta lauk pauknya.
"Lumayan," jawab Agam singkat. Mayra tersenyum puas, karena Agam menyukai hasil masakannya.
Selesai makan siang, Agam kembali ke lantai atas, sementara Mayra sibuk membereskan peralatan bekas mereka makan. Namun sebelumnya, Agam sempat berpesan pada Mayra agar segera menyusulnya setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur.
Selesai mencuci peralatan dan membereskan meja, Mayra bergegas menemui Agam di lantai atas.
Masuk kembali ke dalam kamar pribadi Agam, sebenarnya membuat Mayra sedikit sungkan. Namun sesuai perintah Agam, Mayra pun berjalan masuk kemudian mendekati Agam yang tengah berdiri di balkon sambil memandang ke arah jalanan.
"Sudah selesai belajarnya?" tanya Mayra berbasa-basi sambil berdiri di samping Agam, memandang ke arah jalanan yang terlihat ramai.
"Aku tidak belajar," jawab Agam tanpa mengalihkan pandangannya.
"Ah iya... Aku lupa, kamu bahkan tidak perlu belajar," ucap Mayra.
"Itu pujian atau sindiran?" ketus Agam.
Mayra terkekeh kecil, rupanya Agam sedikit kesal dengan ucapan Mayra tadi. Meski sebenarnya, Mayra tidak sedang menyindir. Mayra justru merasa kagum pada Agam yang mampu meraih nilai sempurna tanpa harus belajar dengan susah payah. Entah amalan apa yang sudah Ayah Vino dan Bunda Alya jalankan, hingga memiliki putra yang pandai seperti Agam.
Untuk beberapa saat keduanya saling terdiam, memikirkan banyak hal yang sulit untuk keduanya ungkapkan secara lisan. Hingga kemudian, Agam memiringkan tubuhnya, menatap Mayra yang masih betah memandang ke arah jalanan.
"Besok, saat aku mengikuti olimpiade. Jangan pergi kemana pun dengan Rere apalagi dengan sepupunya itu!" peringat Agam tiba-tiba.
Tanpa menatap ke arah Agam, Mayra hanya menganggukkan kepala. Menyetujui apa yang barusan Agam perintahkan padanya.
Anggukan kepala Mayra, tidak membuat Agam puas. Agam membutuhkan sebuah janji pasti yang keluar dari mulut Mayra, bukan hanya sekedar anggukan kepala yang tentu saja tidak bisa dijadikan sebuah jaminan janji.
Agam meraih lengan Mayra, membuat Mayra refleks menoleh, memiringkan tubuhnya untuk menatap Agam. "Iya Agam, aku janji bakal langsung pulang ke rumah. Tidak berniat pergi bersama Rere apalagi Kak Arsene," ucap Mayra yang paham dengan maksud Agam.
"Juga Ridho," tambah Agam cepat.
Mayra langsung mengangguk patuh. "Termasuk Ridho," tambahnya cepat.
Melihat Mayra yang patuh seperti ini, membuat Agam tersenyum puas. Agam melepas lengan Mayra untuk kemudian menyentuh pucuk kepala Mayra, berlanjut dengan mengelus lembut rambut gadis itu.
"Jadilah gadis yang penurut! Jangan jadi gadis pembangkang seperti kemarin," ucap Agam sambil terus membelai lembut rambut panjang Mayra. Mayra yang mendapat sentuhan lembut dari Agam, menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang mungkin akan terlihat memerah menahan perasaan yang mulai bergejolak. Tidak bisa dipungkiri, Mayra menyukai sikap manis Agam saat ini.
Belaian lembut tangan Agam melipir menuju wajah Mayra, mengelus lembut mulai dari dahi, pelipis, pipi hingga sampai di bagian dagu. Selanjutnya, Agam sengaja mengangkat dagu Mayra agar mereka bisa saling berpandangan.
Begitu wajah Mayra mendongak, kedua pasang mata itu saling bertatapan, namun fokus Agam teralihkan saat melihat bibir merah tipis Mayra yang begitu menggoda, apalagi Agam sempat merasakan manisnya bibir itu meski hanya sekilas.
Mayra yang malu karena ditatap begitu intens oleh Agam, hendak kembali menundukkan kepala. Namun dengan gerakan cepat, Agam lebih dulu menarik tengkuk Mayra, menempelkan bibirnya ke atas bibir Mayra untuk selanjutnya ia lumat perlahan.
Kedua mata Mayra membulat, jantungnya berdegup kencang, tidak menyangka dengan apa yang tengah Agam lakukan pada bibirnya. Namun gerakan bibir Agam yang terus melumat dan menyesap lembut bibirnya, membuat Mayra terbuai hingga ia pun menutup kedua mata, menikmati apa yang Agam lakukan padanya.
Cukup lama kedua bibir saling menyatu, hingga Mayra yang mulai kehabisan nafas, mendorong tubuh Agam agar ciuman itu terlepas.
Mayra meraup oksigen sebanyak-banyaknya begitu Agam melepas ciumannya, "Aa-Agam... " ucap Mayra yang masih terbata. Masih berusaha menstabilkan nafas serta detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
Agam tidak menjawab, ia malah menarik tubuh Mayra untuk kemudian ia peluk erat. "Hanya hari ini, biarkan aku menjadi diriku sendiri," ucapnya sambil memeluk tubuh hangat Mayra.
Mayra
anggp aja itu harga dibagi dua 😜
,, aku berasa mengalami lompat waktu, menilik masa lalu si cassanova arogan 😌
pelan2 mayra udah bisa nerima ridho. tapi ya gitu sih. kalo dipikir2 hidup mayra udah enak sebetulnya
serbuk apa tuh yg ditaburin ridho ke mayra? obat nganu kah?
mungkin ridho kayak gitu karna ridho berpikir mayra masih blm bisa berpaling dari agam
arsene di beberapa part ini dapet porsi yg cukup banyak
gimana ya agam kalo tau mayra udah nikah?
nana hyun jadi inget kekoreaan
agam juga tipe yg setia sih walau begitu anaknya
saya kalo di posisinya ridho kalo ngelakuin itu udah dibentak2 habis, mungkin bisa aja dicoret dari kartu keluarga. beruntung banget jadi ridho. mayra juga beruntung, tapi biasanya yg kayak ini ujungnya bikin galau terus
felicya sepertinya perempuan ga bener sampe jadiin kevin temen ranjangnya.
agam ini dia betul2 cinta sama mayra. sejauh yg saya baca (walau lupa2 inget karna udah lama banget ga baca lagi) agam cuma bersikeras sama mayra. cewe lain ga diperlakuin sespesial itu sama agam, kayaknya agam ini ga buaya2 banget deh, perlakuan dia ke cewe lain sama ke mayra rasanya cukup berbeda