NovelToon NovelToon
Same But Different

Same But Different

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Trauma masa lalu / Teen School/College / Teman lama bertemu kembali / Bullying dan Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kanza Hann

Isya sadarkan diri dalam kondisi amnesia setelah mengalami kecelakaan ketika studi wisata. Amnesia itu membuat Isya lupa akan segala hal yang berkaitan dengan dirinya, bahkan banyak yang menilai jika kepribadiannya pun berubah. Hari demi hari ia jalani tanpa ingatan yang tersisa. Hingga pada suatu ketika Isya bertemu dengan beberapa orang yang merasa mengenalinya namun dengan identitas yang berbeda. Dan pada suatu hari ingatannya telah pulih.

Apa yang terjadi setelah Isya mendapatkan ingatannya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanza Hann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

018 : Diam-diam Cemburu

"Ini kan foto Haikal. Siapa gadis di sebelahnya? Apa kalian tahu?" ucap Isya sembari bertanya siapa gadis yang tengah bersama Haikal dalam postingan tersebut.

"Bukankah itu Milka?" jawab Naila.

"Jadi benar itu postingan Milka?" Quin semakin heboh, "Whoaah… berani sekali dia posting foto seperti itu! Sya... ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!"

Isya jadi bingung dengan sikap temannya yang mendadak heboh setelah melihat postingan tadi, "Siapa itu Milka? Kenapa kalian jadi heboh seperti ini?"

"Kamu nggak tahu siapa Milka?" tanya Quin. Naila akhirnya mengingatkan Quin sambil menepuk pundak.

Puk puk puk…

"Isya kan lagi amnesia, tentu saja wajar kalau dia lupa siapa Milka!"

"Ah, iya ya... pokoknya yang jelas Milka itu teman sekelasnya Haikal!" tegas Quin. "Oh... teman sekelas rupanya," ucap Isya sambil manggut-manggut santai. Melihat reaksi Isya yang biasa saja Quin jadi heran, "Kamu tidak marah?"

"Kenapa aku harus marah?" tanya Isya bingung.

"Masa kamu nggak marah sih saat pacarmu jalan bersama dengan perempuan lain?" tanya Quin geram seperti penonton drama yang terbawa suasana karena sang pemain tidak peka.

"Kan mereka teman sekelas. Wajar mereka bersama, mungkin saja sedang mengerjakan tugas. Lagipula lihat tuh background fotonya seperti sedang ada di perpustakaan!" jelas Isya sesuai apa yang ia pikirkan. Dia tidak terbiasa untuk berpikiran negatif terhadap orang lain.

"Astaga Sya, Isya...!" Naila menepuk jidat, "Kamu bilang itu wajar? Malah nggak wajar kalau bukan kamu yang bersama Haikal di sana!"

Isya pun menjelaskan kenapa hal ini bisa terjadi, "Sebenarnya kemarin Haikal sudah mengajakku pergi ke perpustakaan umum, tapi aku menolak karena ingin menghabiskan waktu santai bersama kalian berdua! Dan mungkin saja Haikal bertemu Milka di sana, lalu mereka belajar bareng. Kalau menurutku sih begitu."

"Kamu menolak ajakan Haikal untuk pergi ke perpustakaan?" naluri introgasi Quin mulai muncul. Anggukan kepala ia terima sebagai respon atas pertanyaannya. "Tumben sekali kamu menolak ajakannya? Malah biasanya kamu menolak ajak kami untuk pergi bersenang-senang."

Isya tidak tahu pasti apa penyebab dia seperti ini. Namun, yang jelas memang inilah yang dia inginkan. "Entahlah, aku tidak tahu! Karena amnesia ini aku jadi ingin lebih banyak meluangkan waktu untuk santai juga sedikit bersenang-senang. Akhir-akhir ini aku berusaha belajar keras pun malah rasanya kepalaku jadi semakin sakit."

Mendengar penjelasan itu, Naila jadi lebih paham dengan kondisi Isya sekarang ini, "Yah... sepertinya kamu lebih memerlukan banyak waktu santai agar amnesiamu lekas sembuh."

"Amin, semoga saja." dalam hati Isya selalu berharap agar kondisinya segera pulih.

Naila kembali melanjutkan ucapannya yang belum selesai, "Tapi... seharusnya Milka tidak memosting foto itu di media sosialnya jika dia tahu kalau Haikal sudah punya pacar. Seharusnya dia bisa menjaga perasaanmu juga," Naila mengatakan hal itu untuk menenangkan Isya yang mungkin dalam hati dia juga merasa panas sembari mengelus pundaknya.

Isya menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa terganggu dengan postingan tersebut, "Aku tidak apa-apa. Lagipula itu bukan masalah besar dan aku percaya pada Haikal sepenuhnya."

"Sejak kapan kamu jadi bijak seperti itu?" Quin meragukan sikap bijaksana Isya dalam menghadapi persoalan yang berhubungan dengan Haikal.

"Lalu aku harus bagaimana? Apa aku harus sekarang juga datang ke sana dan memergoki mereka, kemudian marah-marah gak jelas seolah mereka sedang bermain mata dibelakangku?"

Quin setuju dengan apa yang baru saja Isya bilang. Karena itulah yang lebih mirip dengan fakta sebelumnya, "Yap! Memang seperti itulah yang biasa kamu lakukan!"

Tidak ingin suasana semakin memanas, Naila menyarankan agar mereka segera memilih menu yang akan dipesan, "Teman-teman! Bagaimana kalau kita pesan menunya sekarang saja?"

Isya menyetujui saran Naila. Kemudian, ia meminta daftar menu makanan dan minuman di Pinky Dream, "Coba lihat daftar menunya!" Isya dan Naila beralih melihat daftar menu bersama, sementara Quin lanjut untuk memposting foto yang sempat tertunda akibat munculnya postingan Milka.

***

Sepulang dari Pinky Dream, Isya bergegas menuju kamar. Di sana ia langsung membuka aplikasi Lifestagram di ponselnya untuk kembali melihat postingan Milka. Rupanya rasa penasarannya kembali muncul.

Terlihat jelas Haikal tersenyum lebar seolah sedang berbahagia bersama Milka. Isya tahu kalau mereka hanya sebatas teman, tapi tetap saja statusnya sebagai pacar dari Haikal wajar kalau ada rasa cemburu di hatinya. Isya jadi menyesal menolak ajakan Haikal kemarin. Jika dipikir lagi pasti akan lebih menyenangkan menghabiskan akhir weekend bersama sang pujaan hati.

Isya hendak mengirim pesan pada Haikal tapi sempat ragu. Ia pun jadi mondar-mandir tidak jelas di kamar, "Kira-kira kalau aku mengirim pesan sekarang... apa dia balas ya?" Isya semakin bimbang. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, "Coba dulu deh! Siapa tahu dia balas."

"Kamu lagi apa?" selesai mengetik dia meng-klik send untuk mengirim pesan. Isya kembali mondar-mandir sambil gigit jari menunggu balasan dari Haikal. Tiga puluh menit kemudian belum juga ada notifikasi pesan masuk dari Haikal, "Yah... sepertinya dia sedang sibuk bersenang-senang."

Terasa semakin gerah, Isya pun melepas jaket yang ia kenakan lalu melemparnya ke atas ranjang. Dari saku jaket yang terhempaskan tadi, keluar gantungan kunci yang tersimpan di sana. "Gantungan kunci ini..." Isya mendekat untuk mengambilnya. Melihat gantungan kunci mawar merah muda itu membuatnya teringat kepada orang yang memberikan.

"Perkenalkan namaku Daniel Hamdan... panggil saja Niel atau Daniel!" kata-kata itu terngiang dalam ingatannya.

"Daniel..." Isya menyebut nama itu dengan lirih. Sekarang ia jadi beralih fokus memikirkan Daniel, "Kenapa dia membeli gantungan kunci ini jika akhirnya diberikan padaku? Kenapa tidak dari awal dia langsung memberinya padaku agar aku bisa membayarnya sendiri?"

Ada hal yang tidak Isya mengerti, "Oh ya… kenapa saat bertemu dengannya jantungku selalu berdebar? Rasanya seperti... ah entahlah!" ia pun tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.

Isya kembali melihat ke layar ponsel. Tidak ada notifikasi yang menandakan Haikal telah membalas pesannya, yang ada malah notifikasi di grup chat serta sekedar iklan online lewat.

***

Beralih ke Haikal yang masih berada di perpustakaan. Ia sedang sibuk membantu Milka untuk memilih tinjauan pustaka yang dicantumkan dalam laporan praktikum. Haikal juga sengaja memasang mode senyap di ponselnya agar tidak menggangu saat berada di perpustakaan. Karena itulah dia belum membaca pesan dari Isya apalagi membalasnya.

"Bagaimana kalau pendapat Aristoteles ini kamu cantumkan juga?" saran Haikal kepada Milka.

Milka melihatnya dulu sebelum menyetujui saran itu, "Coba aku lihat dulu!" sekilas ia mulai membaca. "Boleh juga, baiklah aku akan menulisnya!"

"Masih ada lagi kah teori yang kamu butuhkan?" tanya Haikal.

"Tidak! Sepertinya ini sudah cukup," jawab Milka.

"Baiklah, kalau begitu aku mau lanjut baca buku!"

"Oke!"

Haikal dan Milka masing-masing fokus dengan apa yang sedang mereka lakukan di perpustakaan. Mumpung Haikal masih asyik membaca, Milka berpikiran bahwa dia harus menyelesaikan laporan praktikum itu secepat mungkin sebelum pria itu pergi lebih dulu. Selepas ini pun, Milka berharap mereka masih bisa menghabiskan waktu bersama Haikal di tempat lain.

1
Nola
keren
Wy Ky
.
Protocetus
izin promote ya thor bola kok dalam saku
〈⎳ FT. Zira
like sub dan 🌹 untukmu kak Thor🫰🫰
〈⎳ FT. Zira
aku ninggalin jejak di chapter 1 dulu ya kak.. nanti baca secara berkala...

-One Step Closer-
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!