Novel ini merupakan sekuel dari Novel author yang sebelumnya, berjudul Cinta Dalam Diam,
Kelanjutan cerita dari kisah Nabila, putri dari Nuna dan Almarhum Dimas Adiwijaya yang kini menjadi putri kesayangan Dika Pratama, ayah sambung Nabila.
Meskipun Dika merupakan ayah sambung tapi perlakuannya melebihi seorang ayah kandung, wajar saja karena Dika yang membantu Nuna selama dia mengandung Nabila..
Bagaimana kisah selanjutnya? Nabila yang sudah beranjak dewasa? akan kah serumit kisah cinta sang Mama????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Dan...
Mata Nabila membelalak sempurna ketika sosok itu sudah ada di depan matanya saat ini.
"kamu....!" seru Nabila tak percaya.
"Nabila?" seru Bian juga tak kalah terkejutnya dengan Nabila.
"kamu ngapain disini? jangan bilang kamu sedang menguntit?" tuduh Nabila.
"menguntit?? cih.. memangnya kamu artis?" cibir Bian.
"ya siapa tahu! kamu kan suka ngurusin hiduo orang lain!" sungut Nabila sambil melipat tangannya di dada.
Bian memperhatikan penampilan Nabila dari atas sampai bawah.
"apa lihat lihat hah?" sungut Nabila lagi melihat Bian yang sedang memperhatikannya secara intens.
"ye.. siapa juga yang ngeliatin!! aku cuma aneh aja, ngapain kamu duduk disini malam malam begini dengan pakaian aneh seperti itu!" ujar Bian.
Nabila tampak salah tingkah, dia baru ingat jika pakaiannya saat ini, sengaja di kenakan nya untuk memperburuk penampilannya di depan putra keluarga Hermawan.
"ya.. ya suka suka aku dong mau pake apa aja!" sahut Nabila terbata, berusaha meredam kegusarannya di depan Bian.
"huh.. dasar cewek aneh!" celetuk Bian dengan sengaja membuat emosi Nabila tersentil.
"apa kamu bilang??? aku aneh??" ucap Nabila yang sudah berkacak pinggang dengan setengah berteriak.
"iya.. A..N..E...H.. kamu cewek aneh!!!" ucap Bian sambil tertawa mengejek.
"dasar cowok kepo ga tau sopan santun!!" balas Nabila.
Nabila setengah mendorong tubuh Bian dan mengusirnya dari taman itu,
"hus.. hus.. sana pergi!! ngapain juga kamu muncul disini, merusak suasana saja!" ujar Nabila dengan jengah.
"kamu ngusir aku?" ucap Bian tak percaya.
"iya.. pergi sana!! kehadiran kamu bakal ngerusak suasana romantis ku tahu!!!" sungut Nabila mulai kesal.
"cih.. suasana romantis apaan!!" protes Bian.
"kamu ga tahu ya? aku sengaja duduk disini untuk menyambut kedatangan calon suamiku!!" kata Nabila berbohong, dia benar benar tidak ingin kehilangan image di depan Bian.
"hahaha.. calon suami?? emang ada ya yang mau sama cewek aneh kaya kamu?" tawa Bian yang terdengar sangat mengejek Nabila.
Nabila semakin geram dibuatnya.
"kamu ga percaya? aku calon menantu keluarga Hermawan tahu!' sungut Nabila dengan lantangnya,
Keributan kecil itu mengundang perhatian semua orang, termasuk orang orang yang tadinya ada di ruang tamu, sekarang sudah berdiri melihat Nabila dan Bian berdebat.
"apaaaaa?" seru Bian terkejut.
Dika, Nuna, Tuan dan Ny Hermawan hanya bisa menganga mendengar seruan Nabila barusan.
"Nabila...." seru Nuna masih dengan tatapan tak percaya.
Nabila seakan mati gaya, wajahnya merah padam menahan malu tatkala menoleh pada Mamanya dan di sana semua orang sedang menatap dirinya dengan mulut setengah menganga.
M*mpus aku sekarang...mau taruh dimana nih muka? kenapa aku harus berteriak sih? memalukan.
Nabila menggaruk tengkuknya untuk mengalihkan kecanggungan nya.
Bian menatap tak percaya pada Nabila.
Jadi dia? putri dari sahabat Papa?? yang ujung ujungnya pasti akan di jodohkan dengan diriku?? dia? Nabila?? benarkah?? ya Tuhan..kejutan apalagi ini?
"eh.. anu.. maaf..bukan maksud Nabila..em..." Nabila terbata dan kehabisan kata kata.
"gapapa sayang...lebih bagus kalo kamu lebih dulu mengatakannya!" ujar Ny Hermawan senang.
"Mama..." protes Bian,
Nabila semakin membelalak ketika mendengar Bian memanggil Ny Hermawan dengan sebutan Mama.
apa katanya?? Mama?? Benarkan dia bilang Mama?? Bian anaknya Om dan Tante Hermawan?? jadi dia?? dia?? haduhhh benar benar pengen m*mpus aku sekarang, atau setidaknya menghilang sejenak dari muka bumi ini!! ya Tuhan....tolooooooong.
"apa?? ngapain melotot kaya setan begitu?" ucap Bian menoleh pada Nabila yang tampak pias.
"eh.. anu.. ja..jadi.. ka..kamu anaknya Om dan Tante Hermawan?" tanya Nabila terbata, nafasnya tersekat.
"haha..kamu sendiri yang bilang jika anak keluarga Hermawan adalah calon suami kamu, kenapa sekarang kamu tidak mengenali calon suamimu sendiri hah?" kata Bian berusaha menggoda Nabila.
"sudah.. sudah Bian.. kau jangan menggoda Nabila terus!" tegur Ny Hermawan sambil menjewer telinga anaknya tersebut.
"auw.. sakit Mah! kenapa malah di jewer sih!" protes Bian sambil mengusap telinganya yang memerah.
"abisnya kamu usil!" sahut Ny Hermawan.
"dia yang mulai duluan Mah! bahkan tadi dia sempat mengusir Bian!" kata Bian setengah mengadu pada Mamanya.
"eh.. enggak enggak!! mana aku tahu kalo kamu anaknya om dan tante! aku kira kamu sengaja menguntit ku sampai kemari!!" sungut Nabila tidak terima.
"haha.. menguntit lagi yang kau bahas!! lagian buat apa aku menguntit gadis sepertimu!!" cibir Bian.
"Sudah sudah Bila.. ayo masuk!" titah Nuna mulai jengah melihat perdebatan Nabila dengan Bian.
Nabila menghentakkan kakinya dengan keras dan menatap tak suka ke arah Bian.
"awas kau!!" seru Nabila kemudian.
"hus.. tidak boleh begitu Bil!" tegur Nuna.
"kau yang awas!" sahut Bian tak mau kalah.
"Bian..." Ny Hermawan memperingati.
Tuan Hermawan yang sedari tadi diam, akhirnya ikut andil menjewer telinga putranya tersebut.
"bersikap sopan lah pada tamu!" ucap Tuan Hermawan setengah berbisik pada Bian.
"iya iya Pah! aduh sakit Pah! lepasin telinga Bian!" sahut Bian sambil meringis.
Mereka semua sudah ada di ruang makan,
"silahkan di nikmati hidangannya! anggap saja rumah sendiri!" ucap Ny Hermawan mempersilahkan.
"heh.. calon istri!" panggil Bian sambil menatap tajam ke arah Nabila.
Nabila pun balas memelototi Bian, karena tidak suka dengan panggilan Bian kepadanya.
Bian mengetuk piringnya yang kosong dengan sendok, sambil terus menatap Nabila,
"katanya calon istri! tolong berlaku lah sebagai calon istri yang baik!" goda Bian membuat semua di sana terkekeh.
"apa?? siapa yang mau jadi calon istrimu? cih!" decih Nabila tak suka.
"kau sendiri yang menyebut dirimu calon istriku!" ucap Bian kembali menggoda Nabila.
"cih.. kalau aku tahu itu kau! aku tidak akan berkata seperti itu!" sungut Nabila.
"hei.. sudah sudah, kenapa kalian berdebat lagi sih?" ujar Dika.
"dia yang mulai duluan Pah!" adu Nabila.
"kamu yang duluan!" balas Bian.
"ya Tuhan.. kalian ini ya.. Papa nikahin besok baru tahu rasa!" sahut Dika geram.
"TIDAAAAAKKKKKK....!!!" seru Bian dan Nabila bersamaan.
"maka dari itu, berhenti lah berdebat dan makan dengan tenang!" kata Dika berusaha meredam emosinya.
Tuan dan Nyonya Hermawan terkekeh melihat mereka berdua,
"oya ngomong ngomong kalian kenal dimana?" tanya Ny Hermawan penasaran.
"kenal di..." Bian menggantung kata katanya, tak mungkin dia bilang kalau mereka kenal karena tidak sengaja bertemu di kampus, bisa bisa Mamanya kepo tentang keberadaannya di kampus Nabila.
"di?? dimana Bian?" tanya Ny Hermawan lagi.
"di.. em..." Bian kembali menggantung kalimatnya.
"di jalan Tante..." sahut Nabila kemudian, dia merasa Bian sedang menutupi tentang sesuatu kepada kedua orang tuanya.
"iya.. bener Mah.. kita kenal di jalan!" sahut Bian akhirnya menyetujui ide Nabila.
"di jalan? kok bisa?" tanya Ny Hermawan yang masih penasaran.
"panjang ceritanya Mah.. sebaiknya kita makan dulu, nanti makanannya keburu dingin!" sahut Bian beralasan.
Akhirnya mereka bisa makan dengan tenang, tanpa ada yang bersuara sedikitpun.
🐌🐌🐌🐌🐌🐌🐌
tinggal lanjut di cerita yang lain
makasih Thor untuk karya nya, sangat menghibur.
ditunggu karya selanjutnya, semangat selalu othor ku💪💪❤️❤️
tp kalau aq pikir2 dlu 😁😁😁😁😁😁😁
seharusnya foto Han sedang marah..kok itu senyum..bikin pangling aja😄😄😄