ZIRA FATASYA wanita dua puluh tahun, saat kecil dia mengenal seorang anak laki laki yang usianya tujuh tahun lebih tua dari Zira yang bernama Zico, yang mana memebuat Zira jatuh cinta pada pandangan pertama, namu saiapa yang mengiria saat mereka sudah tumbuh dewas Zico malah menjalin kasih dengan Kakanya Zahra Fatasya, hanya karna mengira jika Zahra adalah Zira gadis masa kecilnya, bahkan keduanya juga sudah hampir bertunangan.
Zira yang saat itu membenci keluarganya atas perlakuan tidak adilnya pada dirinya, dia nekat merebut Zico dari kakanya saat malam akan di langsungkan pertunangan Kakanya dan Zico, dengan cara menjebak Zico dan berakhir Zico menikahinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakiya el Fahira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Beberapa hari telah berlalu, hubungan Zico dan Zira semakin terlihat romantis, dimana Zico yang selalu memperlakukan Zira dengan lembut serta memanjakannya.Hari ini Zira sedang sibuk di restoran pusatnya, begitu juga dengan Zico yang tak kalah sibuknya seperti Zira.
Zira yang sedang serius melihat layar laptopnya, teralihkan ketika mendengar suara dering ponselnya.
''Halo Kak'' sapa Zira.
''Bagaimana kabarmu Zira?'' tanya pria di sebrang telfon.
''Zira baik Kak'' sahut Zira.
''Kakak percaya, terdengar jelas dari suaramu, kalau kamu sangat baik dan juga bahagia sekali'' ledek pria di sebrang telfon yang tak lain adalah Dokter Rio.
Zira terkekeh karna yang di katakan Dokter Rio benar adanya, kalau dirinya sangat bahagia, bahkan Zira sampai lupa dengan penyakit kanker otak yang di deritanya.
''Kak Mala sama Kevin bagaimana Kak?, mereka baik, Zira sudah lama tidak bertemu kalian'' tukas Zira.
''Mereka baik'' sahut Rio.
''Syukurlah, nanti kalau Zira ada waktu, Zira akan berkunjung ke rumah kalian '' ucap Zira.
''Kakak akan menantimu'' sahut Rio.
Lalu mereka menyudahi obrolannya, dan memutuskan sambungan telfonnya, Zira yang akan meletakkan ponselnya di atas meja tidak jadi, ketika ada notifikasi pesan masuk di ponselnya.
[ Sayang, meskipun sibuk jangan lupa makan sama istirahat ya 😘 ]
Zira tersenyum membaca pesan dari suaminya, meskipun Zico masih tidak tahu siapa dirinya, namun dengan sikap lembut dan perhatian yang di berikan Zico saat ini, bagi Zira itu lebih dari cukup.
Di perusahaan setelah mengirim pesan pada istrinya, Zico kembali fokus pada pekerjaannya, namun saat jemarinya akan mengetik di atas laptop tiba tiba asistennya Tomas masuk ke ruangannya.
''Ada apa Tom?'' tanya Zico dengan jari jemarinya menari di atas laptop dengan lincahnya.
''Ada Nona Zahra, dia ingin bertemu dengan anda'' jawab Tomas membuat gerakan tangan Zico terhenti, namun sebentar lalu kembali mengetik di atas laptop.
''Katakan saja padanya, kalau aku sibuk dan tidak bisa di ganggu'' tukas Zico, dan Tomas menganggukkan kepalanya, lalu melangkah keluar untuk menemui Zahra yang sedang menunggu di depan pintu ruangan Zico, karna beberapa hari yang lalu Zico berpesan pada Tomas agar tidak membiarkan Zahra masuk sesuka hatinya ke dalam ruangannya, karna dia tidak ingin Zira mengira kalau dia masih memiliki perasaan pada Zahra, dia tidak perduli meskipun di tuduh kejam karna sudah menghianati Zahra dengan menikahi adiknya Zira, tapi Zico dia adalah orang yang sangat anti lari dari tanggung jawab, jadi dia rela meninggalkan cintanya demi tanggung jawab atas sesuatu yang berharga yang telah ia ambil dari Zira, tapi siapa sangka niat awal dia menikahi Zira hanya untuk tanggung jawab, namun semakin hari berada satu atap dengan Zira membuat cintanya pada Zahra perlahan memudar, dan kini hatinya sudah di penuhi oleh nama Zira.
''Tomas bagaimana?, apa aku boleh masuk'' tanya Zahra tersenyum.
''Maaf Nona, Tuan sedang sibuk, beliau tidak bisa di ganggu'' jawab Tomas membuat senyum Zahra memudar.
''Apa Kak Zico benar benar sudah tidak mencintaiku lagi'' gumam Zahra sedih yang masih bisa di dengar oleh Tomas.
'' Nona, saran saya, lebih baik Nona lepaskan saja Tuan, saya yakin anda akan mendapatkan penggantinya, dan mungkin memang Tuan bukan jodoh anda '' ujar Tomas yang mana membuat Zahra menatap marah pada Tomas.
''Enak saja kamu bilang begitu, kamu dengar ya, sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan Kak Zico, karna aku sangat mencintainya'' geram Zahra lalu pergi dari hadapan Tomas, menuju ke arah lift untuk mengantarnya turun ke lobi perusahaan.
Tomas hanya menggelengkan kepalanya menatap Zahra yang masuk ke dalam lift. '' Sepertinya yang anda rasakan pada Tuan bukan lagi cinta, tapi obsesi'' gumam Tomas lalu membalikkan badannya dan masuk ke dalam ruangannya.
Hari ini Zico pulang sedikit telat dari biasanya, karna pekerjaannya di perusahaan benar benar menumpuk, dan membuatnya pulang tepat pukul sembilan malam.
''Kak Zico baru pulang '' Zira menghampiri Zico lalu membantu Zico melepaskan jas kerjanya.
''Capek'' ujar Zira namun Zico menggelengkan kepalanya. Tadi saat pulang dari perusahaan tubuhnya benar benar merasa capek, namun saat melihat istrinya menyambut kedatangannya rasa lelah yang ia rasakan lenyap seketika.
''Kak Zico sudah makan malam?'' tanya Zira menggandeng lengan Zico, membuat Zico mengembangkan senyumnya.
''Sudah, tadi Tomas membelikanku makan malam'' jawab Zico dan Zira mengangguk saja.
Mereka berdua melangkah berbarengan menuju ke lantai dua dimana kamar mereka berada, saat sudah tiba di kamar Zico langsung melepaskan bajunya juga celananya dan hanya menyisakan boxernya saja, yang mana membuat kedua pipi Zira memerah, di tambah saat melihat sesuatu yang menonjol di bawah sana membuat wajah Zira semakin memerah.
''Kak, bisa tidak kalau buka celana jangan di depanku'' cetus Zira.
''Memangnya kenapa sayang?, bukannya kamu juga sudah sering melihat juniorku, lagian ini juga masih di bungkus'' sahut Zico.
''Terserah ah, dasar tidak tahu malu'' decak Zira lalu membalikkan badannya dan berjalan ke arah ranjang king sizenya.
Zico hanya terkekeh lalu segera masuk ke dalam kamar mandi, karna merasa tubuhnya sudah sangat gerah.
Keesokan paginya Zico membaca majalah di mini bar sambil menemani istrinya yang sedang memasak, sedangkan Dina dia hanya bertugas untuk bersih bersih seluruh rumah, karna memang urusan dapur Zira sendiri yang melakukannya, bahkan Zira bukan hanya memasak untuk dirinya juga suaminya saja, melainkan untuk Dina, tukang kebun juga orang yang menjaga di pos gerbang depan.
''Kak, ini kopinya'' ucap Zira meletakkan secangkir kopi di depan Zico.
''Terimaksih sayang'' balas Zico meletakkan majalah yang di bacanya.
''Sayang, nanti kamu ke restoran?'' tanya Zico lalu menyeruput kopi buatan Zira yang menurutnya tidak ada tandingannya.
''Tidak, tapi mungkin dua hari lagi'' jawab Zira dengan tangannya sibuk memasukkan beberapa bumbu ke dalam panci untuk membuat sup ayam.
''Jadi nanti bisa nemenin aku makan siang di perusahaan'' tukas Zico dan Zira menganggukkan kepalanya.
Setengah jam kemudian semua menu sarapan pagi yang di buat oleh Zira sudah tertata rapi di atas meja, Zira juga memisahkan menu sarapan paginya ke wadah lain untuk Dina, tukang kebun juga penjaga gerbang, karna mereka selalu menolak jika Zira mengajak mereka untuk ikut makan bersama di meja makan, alhasil Zira hanya menata secukupnya menu sarapan paginya untuk dirinya dan suaminya, dan sisanya untuk ketiga pekerjanya.
Seperti yang di minta Zico, tepat pukul sembilan siang Zira sudah tiba di perusahaan Zico dengan membawa bekal makan siang untuk Zico, namun saat dia baru masuk ke lobi perusahaan kebetulan bersamaan dengan Zahra yang juga baru tiba.
''Kak Zahra''
''Zira''
''Mau apa lagi Kak Zahra kesini?'' tanya Zira ketus, sebenarnya dirinya sudah tahu kalau Zahra tidak pernah lelah mendatangi Zico, agar mau menikahi dirinya.
''Itu bukan urusanmu'' sahut Zahra tak kalah ketus, sejak Zira menikah dengan Zico, mulai saat itu Zahra sangat tidak menyukai adiknya, karan menurutnya adiknya sangat serakah, sudah di beri tubuh yang sehat tapi masih tega merebut pria miliknya.
''Tentu urusanku, karna perusahaan ini milik suamiku'' cetus Zira tersenyum miring.
Zahra yang kesal dengan ucapan Zira, dia merampas paperbag yang di tenteng oleh Zira, lalu membuangnya ke atas lantai, membuat semua bekal yang di bawa oleh Zira berceceran.
Zira yang tidak terima karna bekal yang di buatnya di buang oleh Zahra, dia langsung mendorong Zahra dengan kuat, membuat Zahra terjatuh terduduk di atas lantai.
Brukk
''Akhhhhh''
''Ada apa ini?!!''
Kalo seandainya SAD ENDING GA MASALAH.😅
semangat kk
semangattt