Demonstrasi sejuta buruh dan mahasiswa yang mengepung istana negara menjadi perubahan konstelasi kehidupan seorang mahasiswi akhir bernama Nawa Putri. Agenda pertemuannya dengan dosen pembimbing skripsinya berjalan tidak sesuai rencana. Ia justru terjebak dalam malapetaka. Bahkan ia tak menyadari pasca-kejadian tersebut, Na—sapaan Nawa—telah masuk lebih dalam di kehidupan Saba yang rumit dan penuh intrik. Idealisme tidak lagi seia sekata dengan kerinduan yang mengharu biru. Tak jelas lagi ke mana arah yang dituju.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NL choi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Reuni
...17. Reuni...
Hari ini Nawa menghadiri seminar proposal temannya yang bernama Heru Budiono alias Heru B. Salah satu teman sekelas yang masih terus berjuang untuk mengejar ketertinggalan. Tidak beda jauh dengan dirinya.
Jika ia dikarenakan cuti kemarin yang membuatnya tertinggal jauh, sementara Heru entah alasan apa. Yang didengarnya dari Safiya, Heru kebanyakan tebar pesona rela menjadi mahasiswa abadi.
Sebagai teman yang pernah bersama ia mengakui jika Heru memang tipe social butterfly, jiwanya sosialis meski terkadang hedonis. Muka cina meski bahasa Indonesia medok Surabaya. Dua sifat yang bertentangan tapi anehnya bisa menyatu dalam diri Heru.
Terbukti selama sempro peserta yang hadir terlihat banyak dari berbagai lintas jurusan serta adik-adik kelas jurusan yang tidak begitu dikenalnya. Hanya tiga orang termasuk dirinya yang sekelas dengan Heru.
“Makannya ditraktir nih,” kelakar Safiya saat mereka tiba di kantin.
“Aman. Bentar lagi lo yang traktir kita, ya, gak?” sahut Heru.
“Habis ini lo balik Surabaya, Her?” tanyanya.
“Balik dulu. Habis itu langsung ke Bali.”
“Enak bener penelitian di tempat wisata,” celetuk Dika.
“Lo sendiri penelitian di sini, kalau mau wisata juga banyak. Ada Ancol, Monas,—“
Dika menyergah, “Itu mah sudah bosan. Lo sendiri gimana Na, kapan sidang?”
“Doain,” tangkasnya. “Si Fatur bagaimana kabarnya, ya?”
“Lagi balik kampung dia. Penelitiannya sudah selesai,” sahut Dika. “Gue sama Safiya gak bisa lama-lama, ya. Ada janjian sama orang dinkes.”
“Lho, lo ngapain Fi pergi barengan sama Dika?” tukas Heru.
“Biasa, gue jadi perantara ….” Mata Safiya mengerjap-ngerjap seraya tersenyum menampilkan giginya.
“Oo, begitu ya biar cepat dan lancar datanya pakai orang dalam,” ledek Heru.
“Lo lupa, nyokap Safiya kerja di dinkes?” ucapnya.
“Ya … ya, beruntung lo Dik, ada kenalan.”
“Eh, gue juga gak bisa lama, ya,” imbuhnya.
“Lo janjian sama orang dinkes juga, Na?” sergah Heru.
“Bukan. Gue ada urusan ke FT,” tukasnya.
“Sendirian dong gue, kalian pada pergi,” iba Heru.
“Alaahh … bentar lagi juga banyak yang datang,” cibir Safiya. Ia mendengar tadi saat seminar usai, bahwa Heru sengaja menemani mereka lebih dulu. Setelah ini Heru ada janji dengan temannya yang lain. “Nyokap lo sehat, Na?” sambung Safiya.
“Sehat.”
Safiya menukas, “Kapan Mbak Asthari berangkat ke Kanada?”
“Rencana minggu depan.”
“Lo juga, Na?” sosor Heru.
Ia menggeleng.
“Kenapa lo gak ikut tinggal di Kanada, Na?” Dika ikut bertanya. Sepengetahuannya, keluarga Nawa dari keluarga pendidik. Ayahnya saja dosen di fakultas teknik. Dan yang pernah ia dengar kakak Nawa sekolah dan bekerja di luar negeri.
“Gak mungkinlah … ada ibu yang harus gue jaga dan temani.”
“Kalau gue jadi Nawa, pasti akan ambil keputusan yang sama,” ucap Heru.
“Alaahh … sok peduli lo!” seru Safiya mencibir.
“Gue selama ini ngalah, Fi. Teman-teman sudah pada lulus gue rela ditinggalin. Demi apa coba? Demi ngasih slot ke kalian.”
“Gak salah dengar, tuh,” celetuk Safiya.
“Maksudnya karena banyak agenda yang lebih penting dari tugas akhir, makanya lo ngalah jadi yang terakhir,” sindir Dika.
Mereka tertawa. Menyantap makanan sambil bercerita dan bercanda gurau. Sudah sangat jarang ia bisa berkumpul dengan teman-temannya. Kalaupun ada momen untuk bertemu, mereka akan sulit menyepakati waktu. Kesibukan masing-masing dari mereka yang menjadi alasannya.
Kebersamaan selama 4 tahun tentu sangat berkesan. Meski ia menyadari tak banyak teman yang dekat dengannya. Mungkin karena ia seorang ambivert. Meski suka bercengkerama dengan orang tetapi ia tetap menyukai kesendirian. Walau temannya banyak tetapi ia lebih nyaman dengan sedikit teman.
Satu jam telah berlalu. Bertepatan dengan teman-teman Heru yang datang menghampiri.
Safiya dan Dika pamit pergi dulu. “Salam buat nyokap lo dan Mbak Asthari, Na.” Menitipkan pesan kepadanya.
“Hati-hati kalian,” balasnya sambil melambaikan tangan. Ia sempat menyapa teman-teman Heru yang tak dikenalnya. Lantas ikut pamit pergi.
Tiba di gedung dekanat fakultas teknik ia bisa melihat mobil abah yang telah terparkir. Ia mengirimkan pesan pada Asthari. Bahwa ia menunggu di luar. Kondisi dan suasana kampus tempat abahnya dulu mengajar terlihat lebih ramai. Hal ini bertepatan dengan acara dies natalis fakultas teknik.
Berhubung undangan acara dies natalis hanya diperuntukkan dua tamu undangan saja, maka dari itu hanya ibu dan Asthari yang ikut mewakili acara seremoni.
Ia memilih untuk melihat-lihat stand bazar di taman teknik. Ragam stand berdiri berdasarkan departemen dan jurusan. Semua menonjolkan ciri dan khas dari masing-masing departemen yang ada di fakultas teknik.
Inilah kali kesekian abah mendapatkan penghargaan atas dedikasinya. Namun baru pertama kalinya sejak abah meninggal, abah mendapat penghargaan Satya Karya Jasabakti. Suatu penghargaan yang diberikan kampus untuk dosen yang telah meninggal dalam masa bakti aktif sebagai tenaga pendidik.
Bangga.
Ia dan keluarga tak percaya mendapat undangan satu minggu yang lalu. Abah termasuk salah satu dari dua penerima penghargaan Satya Karya Jasabakti tersebut.
“Nawa!” Panggil seseorang yang membuatnya menoleh ke arah sumber suara.
“Bang Leo,” ucapnya sedikit terkejut.
“Ngapain?” tanya Leo. Mengulurkan tangan.
Ia buru-buru menyambut uluran tangan itu. “Nunggu ibu dan Mbak Asthari.”
Leo tampak kurang paham.
Ia kembali menjelaskan, “Undangan dies natalis.” Menunjuk gedung yang digunakan untuk acara seremonial dies natalis.
Mantan mahasiswa abah itu bergumam. “Oo.” Kemudian berkata, “Duduk situ, yuk!” Leo mengajaknya duduk di bangku beton. Yang kebetulan baru saja ditinggal orang yang menempati.
“Bang Leo masih aktif di sini?” Mereka berjalan menuju tempat duduk yang kosong. Lalu duduk bersebelahan.
“Gue ambil program master.”
“Wih keren,” sergahnya. Ia kenal Leo karena dikenalkan oleh Mbak Sapta. Beberapa kali ke rumah. Dan kebetulan abah adalah dosennya.
“Eh, gimana kabar Mbak Sapta? Masih di Bandung, kah?”
“Masih.”
“Gue sudah lama gak kontak. Mungkin 3-4 tahunan kali, ya. Lupa gue. Pokoknya sejak menikah. Suaminya orang Bandung, kan, ya?” tanya Leo. Meski ia adik kelas Sapta namun hubungannya dengan Sapta cukup dekat. Sapta kakak kelas yang baik, banyak membantunya. Ditambah Pak Sudjana—ayah Sapta dan Nawa—adalah dosennya.
Ia mengangguk.
“Sudah punya anak berapa Mbak Sapta?”
“Satu. Cowok.”
“Oo … gak nyangka, dulu Mbak Sapta itu kayak cowok. Teman-temannya banyak cowok.”
Memang Mbak Sapta seperti anak laki-laki. Kata ibu sudah sejak kecil. Ditambah kuliah di jurusan teknik yang identik dengan jiwa laki-laki. Sesuai dengan kemauannya. Malah, orang-orang tahunya nama Sapta itu cowok. Untuk pembeda dan memperjelas gender akhirnya tambahan nama rini disambung menjadi Saptarini
“Bang Leo sudah menikah?” tanyanya. Usia Leo tak jauh dari Mbak Sapta.
“Masih muda, Na. Masih 30 tahun,” selorohnya sambil tersenyum. “Belum ada calon juga,” sambungnya.
Ia menyergah, “Masa, sih?! Pekerjaan mapan belum ada gandengan?” ledeknya.
Leo tertawa.
“Bang Leo ambil program master apa?”
“Perencanaan wilayah dan kota.”
“Na, baru dengar. Dulu kayaknya gak ada.” Abah mengajar di departemen Teknik Sipil. Sehingga ia sedikit banyak tahu. Apalagi Mbak Sapta juga di departemen yang sama dengan Abah.
“Baru tahun ini dibuka,” sahut Leo. “Lo sendiri sibuk apa sekarang, Na?
Ia tersenyum. “Masih skripsi.”
“Lo, di FKM, kan?”
Kepalanya mengangguk.
“Bang Leo sendiri sibuk apa sekarang?”
“Eh, tunggu. Gue cari minuman dulu. Gak enak banget kita ngobrol kering begini. Tunggu, ya.” Leo bangkit dan menuju ke salah satu stand yang menjual berbagai minuman dan makanan. Tak lama Leo kembali dengan membawa dua buah minuman berwarna merah. “Jus buah naga, lo suka?”
“Suka,” sahutnya. Menerima minuman tersebut. “Makasih,” imbuhnya.
“Gue di DPR, bantu-bantu aja sih,” tukas Leo.
“Merendah banget,” celetuknya. “Banyak orang yang ingin bekerja di sana kali.”
“Sodara gue yang jadi anggota DPR, bukan gue. Waktu itu dia cari tenaga ahli untuk komisi V. Gue coba-coba masukin aja. Keterima. Ya, sampai sekarang,” kata Leo.
“Jadi lanjut pasca biar makin berbobotlah, ya,” timpalnya.
“Eits! Gue tersinggung ini,” sergah Leo.
“Sorry maksud, Na bukan itu.” Ia keceplosan tidak sadar bahwa Leo juga punya postur tubuh yang tambun.
“Ya, tahu gue,” ucap Leo. “Sekarang makin kesini makin selektif dan kompetitif buat cari pekerjaan. Mau gak mau harus upgrade diri. Bener, gak?”
Ia mengangguk-angguk. Setuju.
“Eh, siapa kakak lo yang di atas percis?”
“Mbak Asthari.”
“O, ya lupa gue. Padahal urutin aja ya ….” kelakar Leo.
“Mbak Astha mau berangkat ke Kanada alhamdulillah dapat beasiswa lanjut program master,” tukasnya.
“Hebat lah … anak-anak Pak Sudjana memang pintar-pintar,” puji Leo.
“Gue saja yang gak pintar, Bang,” selorohnya.
Leo tertawa, “Jangan merendah gitu. Pak Sudjana pasti didik anak-anaknya supaya pintar. Pak Sudjana dan Bu Tiyuh pasti mewariskan gen pintar pada anak-anaknya.” Tiba-tiba Leo teringat sesuatu. “Eh, gue cabut duluan ya, Na. Mau ada diskusi publik bareng Malaka.” Leo melihat arloji di lengannya.
“Gak apa-apa, Bang. Kapan-kapan kita sambung lagi,” tukasnya.
“Atau lo mau ikut gue gabung diskusi? Gue baru setahunan ini gabung Malaka. Orang-orangnya enak, asyik, banyak insights yang berguna buat kita,” terang Leo.
Ia tersenyum. “Kapan-kapan saja deh, Bang. Na, lagi nungguin ibu sama Mbak Astha.”
“O, ya sorry … sorry lupa gue,” Leo bangkit dan membawa minumannya. “Minta nomor lo dong, Na. Kali-kali aja gue butuh diskusi sama isi kepala anak FKM.”
“Na, masih jauhlah kalau diajak diskusi. Lagian belum punya pengalaman.” Ia berdiri kemudian menyebutkan angka-angka nomor ponselnya.
“Lo gak pede aja. Biasanya masih mahasiswa itu isi kepalanya masih fresh dan penuh ide-ide baru. Kalau kepala gue sudah dipenuhi pekerjaan. Dan sekarang ditambah kuliah lagi,” urai Leo.
“Makasih, Bang,” ucapnya sekali lagi seraya mengangkat minumannya.
“Ah, cuma minuman ini. Lain kali gue traktir makan di restoran yang enak,” ucap Leo. “Duluan, ya. Salam buat Ibu Tiyuh dan kakak lo.” Leo menepuk pundaknya.
Ia tersenyum dan kembali duduk.
“Nawa!” seru Leo membuatnya melihat Leo yang memanggilnya.
“Kapan-kapan gue ajak diskusi di Malaka. Lo gak bakalan nyesel. Nanti gue ….” Leo mengangkat tangannya memberikan isyarat menelepon.
Ia kembali tersenyum dan mengangguk.
tolong lanjutkan lagi lah nih novel...
please,,.
ah bang saba kurang peka
mungkin ada banyak kosakata baru yg saya mengerti..
karena saya tidak pernah kuliah,
dan masih banyak teka-teki yg belum ke jawab