Rumus selamat dari pembullyan di sekolah adalah berteman dengan cowok ternakal.
Dan sialnya, cowok itu adalah Rifat Basuki. Pemilik pondok pesantren ternama dimana omku menimba ilmu. Dia yang sejak dulu kukagumi, Gus Rifat.
Semenjak pindah ke ibu kota, aku jadi tahu jati diriku dan sungguh aku sangat kecewa dan memutuskan pergi dari rumah.
Beruntung ada om tampan tapi menyebalkan, Samuel Darius Alexander yang mau menampungku dengan syarat mau merawat kekasihnya yang sedang mengalami koma.
Namaku Alina Jovanca Putri
---
Hidup gue amat tenang selama 16 tahun ini. Tapi sejak kehadirannya, seolah semua keberuntungan berpihak padanya.
Dia merampas kasih sayang papa, dia berteman dengan bad boy sekolah yang super keren, dia cerdas, dan dia juga punya sugar Daddy yang sangat tampan.
Ahhh.... Gue iri!
Awas lo, kembaran!
Hidup lo nggak boleh tenang.
Kenalkan, nama gue Alisa Permata Yudha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Alin nampak murung saja sepanjang perjalanan malam ini. Bersama kakaknya, Vee dan Seno, gadis itu berniat menghadiri undangan yang Yudha sampaikan sore tadi sepulang sekolah, saat dia baru saja memasuki rumah.
Melalui Vee, Yudha mengundangnya untuk datang ke restoran di salah satu hotel bintang lima milik Yudha yang berada di pusat kota.
Hotel terkenal dengan fasilitas lengkap yang sering disewa oleh banyak orang tersohor, bahkan oleh petinggi negara untuk banyak kegiatan.
Seolah ingin memamerkan hasil jerih payahnya, Yudha ingin anaknya tahu keberhasilan yang papanya capai untuk menarik simpati darinya.
"Kalau kamu keberatan atau merasa nggak nyaman, boleh kok kalau kamu menolak undangan ini, Lin. Kakak nggak tega lihat kamu kayak serbet basah gitu, teronggok tak berdaya" kata Vee dengan pengibaratan yang menjengkelkan.
Alin melirik tajam pada kakaknya yang bertampang tak berdosa. Sementara Seno hanya bisa mengulum senyum agar tak jadi sebuah tawa.
"Aku nggak apa-apa kok, kak. Gus Rifat bilang kalau punya masalah nggak boleh lari, hadapi dan selesaikan" jawab Alin.
"Berpengaruh sekali ucapannya di kamu" ejek Vee.
"Semua ucapan yang baik dan bisa menjadi sebuah motivasi akan aku dengarkan dan lakukan, tak perduli siapapun yang mengucapkan, kak" kata Alin sedikit keberatan dengan pendapat Vee.
"Kebetulan saja gus Rifat yang mengucapkan itu dan ternilai benar di otakku" Alin masih meneruskan rasa keberatannya.
"Iya, maaf deh kalau kamu tersinggung. Tapi belum terlambat kok kalau kamu memang belum yakin. Kakak bisa beralasan apapun dan menunggu sampai kamu memang sudah sangat yakin" kata Vee.
"Nggak kak, lebih cepat lebih baik. Aku nggak mau urusan nasabku masih tidak jelas begini. Biarlah nanti apapun yang akan aku dapatkan akan aku usahakan untuk menerimanya dengan lapang dada" kata Alin sok bijak.
"Baik buruknya orang tuaku bukanlah urusanku. Tak ada anak yang bisa memilih dari rahim mana akan dilahirkan. Tugas kita sebagai seorang anak hanyalah berbakti, menyayangi dan menerima orang tua kita bagaimanapun bentuk dan rupanya. Dan saat kita mendapatkan orang tua yang baik dan penuh kasih sayang seperti bunda, itu adalah sebuah hadiah tak ternilai yang Allah berikan padaku" perkataan Alin yang bijak begitu membuat Vee dan Seno menjadi takjub.
Mereka tak menyangka jika Alin memiliki pemikiran sedewasa itu. Sedikit kebanggan di dalam hati Vee karena memiliki salah satu adik yang sangat bijak seperti Alin.
Entahlan nanti bagaimana jadinya saat Alina dan Alisa sudah yakin akan hubungan persaudaraannya. Tabiat mereka yang berbeda jauh semoga saja tak membuat mereka saling bermusuhan.
Sementara untuk Lisa, sejak pulang dari panti tadi, Yudha sendiri yang menjemputnya, tentunya bersama supir pribadinya.
Lisa yang merasa aneh karena papanya yang menjemput di jam sibuk membuatnya langsung bisa menerka jika ada satu hal yang ingin papanya sampaikan.
Dan saat dia tahu jika akan kembali diadakan pertemuan dengan pihak Alin malam ini, Lisa jadi merengut terus dan tak mau menyapa papanya.
Bahkan Yudha jadi bersikap sedikit keras dan baru kali ini dalam hidup Lisa, papanya membentak dan memaksanya untuk ikut saat dia merengek untuk tetap tinggal dirumah saja.
"Semua ini gara-gara si udik, Alin. Awas saja kalau sampai dia cari muka sama papa. Pokoknya gue nggak mau punya saudara kayak dia. Pokoknya gue maunya cuma jadi satu-satunya anak papa, nggak boleh ada yang lainnya" gumam Lisa dalam hatinya.
"Ingat ya, Lisa. Jaga perbuatan kamu selama pertemuan nanti. Bagi papa, Alina itu sama berharganya dengan kamu. Dia juga anak papa yang selama enam belas tahun ini tak pernah papa rawat" ucap Yudha yang duduk bersebelahan dengan Lisa di dalam mobilnya.
"Papa harap kamu mau dan bisa menerima dia sebagai saudara kamu. Perlakuan dia dengan baik dan jangan pernah kamu berniat untuk berbuat jahat lagi terhadapnya" bahkan juga baru pertama kali dalam hidup Lisa, papanya mengancamnya demi orang lain.
Bertambah satu alasan bagi Lisa untuk tak bisa menerima Alin di dalam hidupnya.
Selama perjalanan menuju restoran, Lisa terus saja merengut dan menyembunyikan senyumnya. Meski papanya sudah memberitahu jika Seno juga akan ikut hadir.
Nyatanya masih tak bisa membuat Lisa bersemangat seperti biasanya. Yang Yudha tahu, Lisa sangat mengidolakan Senopati.
Tak terkecuali Jovan, pria itupun sangat gugup malam ini.
Harus dipertemukan dengan kedua putrinya dalam kondisi seperti ini, semoga saja tak membuat image nya sebagai seorang ayah yang biasanya menjadi panutan akan tersingkirkan.
Jovan sangat lemah dalam kisah masa lalunya. Dan bagian dimana si kembar terlahir adalah bagian terburuk dalam kisah hidupnya yang masih terbungkus rapi hingga detik ini.
Dan jika memang malam ini adalah saat dimana bangkai yang dia sembunyikan selama ini harus tercium baunya oleh Alin dan Vee, maka Jovan hanya bisa berharap agar putrinya itu bisa memaafkan kelalaiannya di masa lalu.
Mungkin hanya Yudha satu-satunya orang yang sangat menantikan momen istimewa ini. Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasa antusias untuk bertemu dengan orang lain.
Seseorang yang tak lain adalah salah satu putri kembarnya yang dengan terpaksa tak bisa dia rawat dengan tangannya sendiri.
Bagaikan seorang kekasih yang sudah sangat merindukan pasangannya, Yudha nampak begitu bersemangat. Bayangan-bayangan kecil tentang sebuah kebahagiaan membuat Yudha tak sabar untuk segera menemui Alina agar visa dipasangkan dengan kembarannya, Alisa.
Senyum di bibir Yudha terus terkembang sejak memasuki mobil. Lisa jadi muak melihatnya.
Memiliki seorang anak kandung adalah impiannya, memiliki anak yang terlahir dari rahim seorang wanita yang sangat dicintainya adalah dambaannya.
Dan memiliki sepasang gadis cantik yang sebentar lagi akan hadir di depan matanya adalah sebuah kebanggan bagi Yudha.
Dia melupakan bagaimana nanti tanggapan dari kedua putrinya tentang bagaimana dulu mereka dilahirkan. Tentang bagaimana status mereka di catat sipil negara, tentang bagaimana pandangan agama tentang perilaku Yudha menurut hukum agama yang Alina pelajari.
Yudha lupa jika salah satu putrinya terdidik dengan dukungan ketatnya hukum agama yang membatasi cara berperilaku dengan lawan jenisnya. Tentang bagaimana menjaga diri dari kejamnya bisikan setan yang membidik hawa nafsu.
Kembali Yudha memprioritaskan egonya untuk sebuah kepemilikan, sebuah status, sebuah kebanggaan, sebuah pencapaian.
Bayangan kebahagiaan di masa depan terpecahkan oleh telinganya yang mendengar rintih tangis dari gadis di sebelahnya.
"Lisa, kenapa kamu menangis, sayang?" tanya Yudha yang terkejut, masih lama perjalanannya menuju hotel.
"Papa jahat. Daritadi papa bersikap kasar padaku. Papa bentak aku, papa paksa aku hanya demi bertemu dengan cewek udik yang sangat Lisa benci" kata Lisa dalam tangisnya, dia memang sangat manja pada papanya.
Yudha bingung dengan rengekan putrinya kali ini, bagaimana menentukan sikap untuk ke depannya.
"Seumur hidup Lisa tinggal sama papa, baru hari ini papa bentak aku. Sakit hatiku, pa. Kecewa aku sama papa. Dan sejak tadi juga papa selalu mengingatkan aku supaya bersikap baik terhadap cewek udik itu, tanpa papa bertanya perasaanku seperti apa" Lisa semakin menangis saat menumpahkan kekesalannya.
"Apa rasa sayang papa selama ini sudah hilang karena Alina yang baru papa temui belum genap satu minggu? Belum juga satu Minggu papa bertemu dengan Alin, tapi papa sudah membentakku, apalagi kalau sudah sering bertemu dengannya, pasti papa melupakanku dan lebih sayang sama cewek udik itu. Pokoknya aku benci sama Alin" tangis Lisa semakin menjadi, merengek seperti balita yang sedang tantrum.
Rasa bahagia Yudha seketika lenyap, berganti kebimbangan karena janjinya dulu yang akan merawat Lisa dengan sepenuh hati dan merelakan Alina bersama Vani.
Dulu Yudha sudah cukup puas dengan didapatkannya Lisa dalam pelukannya. Tapi kini, melihat senyum cerah di wajah Alin yang penuh makna, membuat keegoisan Yudha sebagai seorang ayah yang menginginkan kedua putrinya seolah tak bisa dibantahkan.
Bahkan dia sudah menghadirkan Jovan di dalam keruwetan masalah ini.
Lantas bagaimana? Apakah Yudha mengharuskan hatinya untuk merasa cukup dengan Lisa berada disampingnya? Atau tetap memperjuangkan untuk bisa bersama dengan Alina dan mempersatukan sepasang gadis cantik dalam satu bucket kasih sayangnya?
Yudha bimbang!
Bongkar dong kebusukan Hansen
benar..
Alin jadi anak binti Vani, bukan anak bin Yudha😊