NovelToon NovelToon
Pesta Jailangkung

Pesta Jailangkung

Status: tamat
Genre:Teen / Misteri / Horor / Eksplorasi-misteri dan gaib / Tamat
Popularitas:557.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rani Je

(Revisi)
Tahun 2000, menjadi awal tahun baru bagi Merri yang bersekolah di SMA KASANOVA. Ia ingin mulai hari baru dengan tidak mau terlibat dengan hal gaib lagi. Sebab, salah satu penyebab ia pindah sekolah karena teman sekelas dari sekolah terdahulu merasa takut dengan kemampuan Merri yang ternyata bisa melihat Hantu. Oleh sebab itu ia berusaha menutupi keahliannya.

Namun ternyata, baru satu hari bergabung di SMA KAsanova dn berteman baik dengan Arinda, seorang siswi di kelasnya meninggal dengan tidak wajar. Semua siswa yang penasaran mulai mencari tau penyebabnya, dan mereka memutuskan bermain Jailangkung. NAmun, saat pesta itu di mulai Dia yang ingin di perhatikan dan di Akui mengambil kesempatan itu. Dari sana hari-hari Merri kembali tidak tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 Layar Monokrom

“Apa?” Merri membulatkan matanya. “Aku udah dua hari ga sadarkan diri?” Merri kaget jika hari ini bukan hari Sabtu, melainkan hari Minggu.

Kusuma tidak begitu menanggapi, dia sibuk membolak balikan telur dadar untuk di sajikan bersama nasi goreng nantinya. Selain seorang dukun ternama, Kusuma ternyata juga sangat ahli untuk urusan dapur. Dia sendiri juga

punya usaha kafe di beberapa kota yang tentunya di tangani oleh orang lain.Bisa di bilang Kusuma seorang pengusaha kafe sedangkan dukun hanya sebatas tanggung jawab dari apa yang diturunkan leluhurnya.

“Tapi Bu, Aku berfikiran kejadian itu Cuma berlansung dua jam, atau lebih. Aku ga tau jika sampai dua hari.”

“Itulah beda antara waktu kita dengan dunia gaib Merri, perputaran waktu disana sungguh lambat, jika di bawa kedunia kita.” Jelas Kusuma. Dia menuangkan susu hangat ke sebuah gelas. Nasi goreng dan segelas susu menjadi menu sarapan mereka.

“Pantas saja, waktu itu juga...?” pikir Merri. Dia lansung ingat perjalanan aneh yang membuatnya terlempar dalam lorong rumah sakit. Dimana ia melihat kejadian yang menimpa Mikha. Sewaktu ia kembali kekamarnya, jam di dinding kamar itu telah menunjukkan pukul enam pagi.

“Pantas apa?” tanya Kusuma, ia mengecek keadaan leher Merri. Bekas cengkaraman Rohi masih menyisa di kulit lehernya.

“Ga ada apa-apa sih bu.” Jawab Merri. “Aku benar-benar ingin makan, aku sangat lapar.” Merri antusias melihat makanan hangat yang terhidang didepannya.

Kusuma mengangguk, ia kembali ke meja makannya, “Ibu juga lapar, ibu lupa kapan terakhir makan enak dengan kamu.” Jawab Kusuma yang menyunggingkan senyum tulus.

Merri melemparkan tawanya, membalas senyum hangat sang ibu. Ia benar-benar merindukan suasana hangat seperti ini. Seminggu tidak bersapaan dengan sang ibu membuatnya hampa dan kosong. Bahkan ia mengabaikan bekas luka yang tergores di lehernya, yang mungkin saja menjadi nasib baik atau sebuah mimpi buruk lagi.

.

.

.

.

Arinda mengoles dua lembar roti yang telah ia panggang. Kemudian segelas penuh jus jeruk. Dia membawa dua menu sarapan sederhana itu di ruang tengah. Seperti biasa, hari minggunya ia isi dengan menonton beberapa program tv favoritnya.

“Selamat pagi sobat semua dan selamat datang lagi Bintang Remaja, tempat para remaja muda berbakat dan penuh talenta berkumpul Dan pastinya selama tiga puluh menit kedepan kalian akan di temani VJ tampan, Arta!” seru pemandu acara di layar tv tersebut.

Arinda menikmati program yang tayang sekali seminggu itu dengan mengunyah sarapannya.

“Lansung saja, penampilan pertama adalah dance dari SMA 1 JAKARTA!!”

Kring..kring..

Telfon rumah yang tidak jauh dari tempat ia duduk itu berdering. Arinda melihat sekitar, ia tidak melihat penghuni rumah lain selain dirinya.

“Pada kemana sih?” pikir Arinda kesal. Walau agak malas, dia terpaksa meninggalkan tempat duduknya dan mengangkat telfon tersebut.

“Hallo !!” sapa Arinda.

“Rinda, ini gue!!” sapa suara di sebrang.

“Lo To!” sahut Arinda yang lansung mengenal suara Tito. “Ada apa, tumben nelfon.”

“Gak, gue mau nanya, lu sama Karin udah baikan belum?” tanya Tito yang lansung membuat mood Arinda jadi turun.

“Kenapa?” tanya Arinda sedikit jutek.

“Gak, gue nanya aja. Soalnya gue udah dengar cerita dari anak-anak kalo kalian berantem di toilet cewek.”

“Ya, emang, dia mau hajar gue. Kan lo tau sendiri dia anak tapak suci. Dia sering pamer kegiatannya itu ke kitakan!!”

“Bukan, bukan itu maksud gue, Fitri cerita kalau Karin bertingkah aneh, dia ga mukul loe, tapi dia kayak... hmmm gimana ya... katanya dia sengajain mukul cermin buat ga bisa mukulin lu.” Jelas Tito.

“Apaan sih, kok lo berberlit belit ga jelas gitu.” Omel Arinda.

“Kan gue dengar cerita dari anak-anak, Nda!” jelas Tito. “Tapi menurut gue apapun itu, apa ga baiknya kalian kelarin baik-baik gitu, kita duduk di kafe trus kita lurusin semua masalah.” Ajak Tito.

“Kok loe tiba-tiba perhatian sama Karin sih, loe suka ya sama Karin?!” Arinda yang tersulut emosi menjadi menuduh Tito.

“Ish, kok lo jadi aneh gini sih.”

“Bukan aneh sih, Cuma heran aja. Tiba-tiba kalian yang biasa berantem jadi saling dukung kek gini?!”

“Arinda, gue sama Karin kan emang biasa kek gitu, loe tau sendiri lah kita udah berteman sama dia dari kelas satu, sama Fitri juga. Masa loe kek baru kenal dia kemaren. Lagian, kalau gua pikir-pikir sih Karin kasihan

tau, tangannya sampe berdarah gitu, dia harus terima jahitan empat senti gara-gara tangannya robek. Dari itu aja gue merasa Karin juga korban, sedangkan loe ga kenapa-kenapa. Apa ga lebih baik buat maafin Karin, trus kita

kayak dulu lagi.”

“Udahlah Bullsh*t!” Arinda membanting ganggang telfon.

Ia segera kembali duduk di sofa tepat di depan TV. Dia tidak mood untuk berbicara dengan siapapun. saat ia menyandarkan tubuh di sofa, kedua mata bulat Arinda melihat tampilan siaran lain. Sebuah program yang menayangkan acara jadul dengan tampilan monokrom.

“Siapa yang ganti sih?” kesal Arinda.

Ia mencari remot TV diatas meja dan di sekitar ia duduk. Namun ia tidak melihat benda yang dimaksud. “Kemana perginya sih?” tanya Arinda pada dirinya. Sementara itu tampilan program TV yang tiba-tiba bewarna hitam putih itu menampilan seorang remaja wanita berkepang dua dengan stelan jadul. Gadis di dalam TV itu berhenti dan berdiri tepat di tengah layar. Matanya terus menatap seolah memperhatikan Arinda.

Arinda yang belum sadar di perhatikan masih sibuk mencari remot TV. Gadis itu sekarang berinisiatif untuk mencari di kolong sofa. Bisa jadi benda itu jatuh disana. Tangan Ramping Arinda mencoba meraba di bawah kolong meja.

Arinda sama sekali tidak merasa apa-apa. Hanya lantai dingin dan sedikit debu yang menempel di tangannya. Saat Arinda mencoba mengulurkan lebih dalam, ia terhenti akan satu benda. Seolah lengket dan juga basah. Dengan cepat Arinda segera menarik tangannya.

“Sial!”” dumelnya. Arinda memperhatikan noda berbentuk merah jambu yang sangat lengket dan bau amis. “Ueeeek!!” Arinda menutup mulutnya. Perutnya naik turun seketika mencium aroma itu.

Arinda segera ke kamar mandi dan mencuci tangannya di westafel sana. Saat itu Arinda masih belum sadar jika ia tengah di tonton oleh wanita yang ada di tv. Dengan senyum yang terus tersungging, mata bulat tanpa berkedip si gadis TV itu masih terus mengawasi Arinda.

.

.

Sesampai di kamar mandi, Arinda terus mencuci tangannya. Beberapa kali ia cek aroma di tangannya, lalu kembali menyabuninya dengan sangat banyak. Gadis cantik itu sungguh terlihat kesal.

“Kenapa sih ada yang buang kotoran sana? Apa ada yang muntah ya? Pasti kucing liar atau tikus !” batinnya yang sejak tadi sungguh merasa kesal.

Lampu kamar mandi tiba-tiba mati dalam beberapa detik, kemudian menyala. Mata cantik itu melihat sekitar kamar mandi. Sedangkan di luar kamar mandi, satu bayangan itam tengah melintas dengan anggun. Tubuhnya di jalari rasa takut. Kejadian di toilet wanita tempo itu membuatnya menjadi takut. Arinda segera menyelesaikan membersihkan tangannya, menutup kran dan lansung meninggalkan kamar mandi.

Sesampai di ruang tengah, dia melihat TV nya masih menyala dengan tayangan yang dia tidak tau. Sekelompk remaja, terdiri tiga wanita satu pria tengah bermain di sebuah rumah tua.

" Acara apasih? Mana layarnya itam putih lagi!” begitulah Arinda kalo sudah badmood.

Mata bulat gadis itu tertarik dengan pemandangan yang ada di atas meja. Tepat ditempat ia duduk semula, tepat di samping gelas berisi jus jeruk dingin itu, remot TV yang sedari tadi ia cari, ternyata tertata dengan rapi dan manis disana.

“Kok bisa disini sih?” Arinda meninggikan suaranya. Ia bertanya kepada dirinya sendiri, ia juga kesal dengan harinya yang sangat sial.

Arinda segera mengambil remot TV itu, lalu menekan nomor sesuai cahnnel yang ingi  ia tonton. Sial, sungguh sangat teramat sial, remot itu tidak bekerja sama sekali. Tayangan jadul yang melihat adegan keempat remaja yang tengah di kejar orang jahat terus trpatri disana

“Kok ga bisa sih? Apa jangan-jangan batrenya habis?” pikir Arinda.

Ia meniup poninya dengan kesal. Ia harus mencari batrei remot TV yang baru. Semoga saja ia bisa menemukan di laci yang ada di bawah rak TV tabung ukuran jumbo itu. Sementara si Tv masih menayangkan program entah apa.

“Tolong!” Arinda terhenti, ia mendengar suara Karin.

“Jangan bunuh kami..!!!” Itu suara Fitri.

“Saya tidak salah apa-apa, Mikhaa jangan!!” Lalu suara Tito.

Mata cantik itu lansung menoleh layar TV. Warna suara yang familiar itu membuat Arinda mendongak karena penasaran. Kemudian ia memperhatikan adegan yang di mainkan di dalam TV tersebut.

“Maafkan aku Mikha, maafkan, aku janji akan menebus kesalahanku...!!!” Warna suara itu persis 100% dengan warna suaranya.

Arinda menatap lekat-lekat, keempat remaja itu tengah diikat disebuah meja, mungkin meja makan. Lalu, di belakang mereka sudah berdiri seorang algojo dengan kapak besar. Wajah mereka tidak terlihat, karena tertutup

penutup wajah dan juga jubah yang sangat besar.

“Selamat menikmati pembalasan dariku.” Senyum satu gadis yang ada sana. Mata Arinda tak henti menatapnya. ia belum bergumam apa-apa. Sampai pada satu adegan mengejutkan, barulah badan ramping dan tinggi itu tersentak

kaget.

Adegan sadis itu terjadi dalam beberapa detik. Dalam satu ayunan, Algojo berhasil menebas kepala keempat remaja, bersamaan dengan itu keempat kepala mereka yang terlepas, terletak diatas meja makan. Barulah disana

terlihat jelas jika keempat pemain yang ada disana memiliki wajah yang sama persis dengan Karin, Fitri, Tito dan dirinya.

“GyAAAA!!!!!!” Arinda melempar Remot Tv kesebarangan tempat. Dia teriak sejadi-jadinya. Rasa takut menjalar keseluruh tubuhnya. Menggerogoti jantungnya yang semakin berdetak kencang tidak karuan. Pundaknya sungguh terasa dingin dan kepalanya beku dan membuatnya sulit berfikir.

“ARINDA!!!!” Ajar Lubis yang baru datang, segera menghampiri Putrinya yang berteriak kesetanan di depan TV.

Arinda yang tengah takut, menutupi matanya dan ia hanya duduk jongkok sembari menakan kepalanya ketakutan.

“GYAAA!!!” Ia masih hilang kendali saat Ayahnya memegang pundaknya.

“Ini Ayah, nak! Arinda, hei, kamu kenapa!!!”

Mata itu menatap lekat-lekat, bulir-bulir air mata membasahi pipi dan wajahnya. “Ayah!!” Arinda memeluk erat sang ayah.

“Kenapa? Ada apa? Ada perampok, maling??” tanya Ajar Lubis yang khawatir.

“Itu!!!” Arinda menunjuk arah TV yang menyala.

“Apa? Kenapa dengan TV?”

Arinda dengan masih ketakutan menoleh, tapi kemudian dia juga terkejut dengan apa yang ia lihat.

“Terimkasih kawula muda, tetap jadi remaja yang aktif dan say no to drugs! Sampai jumpa minggu depan!!!” Ini program yang ia tonton dari awal.

“Kenapa, VJ Arta, idola kamu udah punya pacar, sampe kamu histeris?” tanya Ajar dengan wajah menahan tawa.

Arinda tidak merubris, dia terus menatap layar TV tabung ~~~~itu. Ini sungguh di luar nalarnya.

.

.

.

bersambung...

.

.

.

1
Witri Ayu
Luar biasa
Norhafizah
Thor2
Norhafizah
Udh habis?!
Ravana
sumpah ,aku baru baca novel ini langsung jatuh cinta sama gaya tulisannya, asyik gile
Madame Jeanne
luv luv buat author
Madame Jeanne
ampun Mbah,wes tak like iki
Bunda Israh Wahyuni Yuni
rani je.. klw ada sumur di ladang,jgn lupa siram tanaman yg ada di ladang,klw buat karya keren ky gini lg,jgn lupa kabari aku. semangat rani je
Bunda Israh Wahyuni Yuni
wes tak like mbah,tp aku ra gelem d kei kopi pait,wes idupku pait,pait kuwadrat mbah.. ke i z sm rani je,men iso dekne melek an nyelesaikn karya kerenny ini.
Bunda Israh Wahyuni Yuni
rani je.. karyamu keren y.. kucing mu jg imut. jantan p betina?
Bunda Israh Wahyuni Yuni
yuhuuuu thor... keren y alurny.. aku jd terbawa ne.. btw aw,,kekny aku g berani ne bc karyamu mpe mlm2.. takut. 🤭🤭
atmaranii
klo Dy brsikap bgtu mlh mngundNg prhatian...n lbh trksan aneh...knp GK brsikap normal aj
atmaranii
crtanya mnarik ...tulisan n bhsa jg ok
Ayu Marshella
yahhh udah selesai? ceritanyaa ngegantung ihhh
Diana Sujito
aku penggemar cerita horor..lanjut thor😁
author killua
gk serem
Uchi Young
👍👍👍
Anik Rubiyanti
cerita nya bagus....
Author Garis Biru
keren sih, dari awal pas baca sinopsisnya penasaran, sampai disini makin keliatan beberapa plot cerita yg gak ketebak dan buat cerita nya lebih nyata, semangat deh untuk author nya yang udah buat cerita semenarik ini
Noer Toifah
best best....moga d lanjut
Elly Arsida Lubis
keren novelnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!