Novel ketiga🍂
Akhirnya Nayara siuman setelah ia mengalami koma pasca melahirkan. Sebagai suami, Deon tentu merasa sangat lega dan bahagia, istri tercintanya telah sadarkan diri dan bisa kembali bertemu dengannya dan juga putranya yang baru saja lahir.
Namun bagi Nayara terbangun dari koma, seperti kembali menghadapi mimpi buruk. Meskipun ia sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan buah hatinya, tapi ia harus kembali menerima kenyataan bahwa ia terpaksa menerima kakak tirinya sendiri sebagai suaminya dan memutuskan hubungannya bersama Giandra, pria yang dicintainya sekaligus ayah kandung dari putra yang baru dilahirkannya.
Giandra dikenal sebagai satu-satunya atlet Basket yang dimiliki Indonesia yang berhasil tembus bermain di NBA dan dikontrak oleh klub ternama.
Siapakah Giandra di masa lalu? Akankah Giandra mengetahui tentang putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perih
Terdengar bunyi bel dan kemudian seseorang memanggil namaku, "Nay!" di luar sana.
Seketika aku bangkit dari posisi berbaringku dan menghampiri jendela. Kusingkap sedikit gorden dan melihat Gian di depan pagar rumahku.
Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar kamar dan menuju pintu depan. Saat berada di teras rumah, aku baru sadar.
Kenapa aku berlari begitu saja saat Gian ada di depan rumah?
Kini Gian terlanjur melihatku. Ia tersenyum sumringah. "Gimana keadaan kamu?"
Terharu sekali ia datang ke sini dan menanyakan hal itu. Padahal ia masih bisa mengatakannya melalui chat. Mataku bahkan berkaca-kaca sekarang.
"Kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Gian khawatir. "Kamu udah makan? Ini aku bawain kamu bubur."
Ya Tuhan, kenapa dia seperhatian ini padaku.
Aku membalikkan badanku, berpura-pura menutup pintu. Padahal aku ingin menyeka air mataku yang sudah menggenang.
Kemudian aku menatapnya lagi dari teras dengan tangan terlipat di dada. "Kamu ngapain ke sini?"
"Aku pengen jenguk kamu," jawabnya dengan senyum tipis.
"Kamu udah lihat saya, 'kan. Saya baik-baik aja. Sekarang kamu pulang."
Aku tak mau berkata sejahat itu pada Gian yang sudah menyelamatkanku, tapi aku tidak boleh memberinya harapan.
Atau lebih tepatnya aku sendiri tidak boleh membuat hatiku sendiri berharap lebih jauh.
Seketika wajah Gian terlihat kecewa. "Nay. Kamu marah gara-gara aku kasih nafas buatan buat kamu?"
Tentu saja tidak, bagaimana aku bisa marah pada orang yang sudah menyelamatkanku? Tapi aku hanya mengatakannya dalam hati.
"Iya. Kamu ngapain sih harus ngelakuin itu? Tanpa kamu ngelakuin itu, orang lain pasti ada yang bakal nyelametin saya. Kamu gak usah sok jadi pahlawan."
Gian terdiam beberapa saat.
"Aku cuma ngikutin insting aku aja," ucapnya kemudian. Ia terlihat kecewa. "Kamu gak tahu gimana paniknya aku saat kamu masuk ke kolam renang dan gak keluar lagi?"
"Udah cukup, Gian. Kamu udah terlalu jauh," sahutku segera. "Bahkan Mbak Dea sadar sama sikap kamu. Mbak Dea bilang kamu pernah nanya tentang guru apa boleh pacaran sama murid. Maksud kamu apa sih nanyain itu?"
"Terus aku harus gimana, Nay? Kamu kira selama ini aku baik-baik aja dicuekin sama kamu? Aku juga sering nyoba buat lupain kamu. Tapi aku gak pernah bisa. Aku suka banget sama kamu. Aku sayang banget sama kamu, Nay." Wajah Gian terlihat frustasi.
"Kamu belum berusaha cukup keras kalau gitu."
Sekuat tenaga aku mencoba menahan air mataku yang kembali menggenang agar tidak mengalir. Untung jarak kami cukup jauh, jadi sepertinya Gian tidak akan melihat mataku yang berair. "Kamu harus nyoba deketin perempuan lain. Di sekolah banyak 'kan temen-temen kamu yang suka sama kamu. Kamu harus coba membuka hati kamu buat salah satu dari mereka. Saya yakin kamu akan bisa melupakan saya."
Gian mematung di posisinya, sepertinya ia tidak menyangka aku akan menyarankan hal itu. Ia menatapku lekat, menyapukan rambut hitamnya, dan menjilat bibir bawahnya.
"Kamu kira aku gak pernah ngelakuin itu? Kamu tahu Sandra?" tanya Gian getir.
Sandra? Gadis blasteran Jerman itu? Kapten cheerleader yang terkenal cantik dan populer? Ada apa dengannya?
"Dia deketin aku sejak awal kelas 12. Dia selalu baik sama aku. Dia sering ngajakin aku jalan. Tapi aku gak pernah gubris dia. Apa aku harus buka hati aku buat dia sekarang, Nay?"
Tidak. Jangan. Aku mohon.
"Iya," dustaku. "Kalian pasti akan jadi pasangan yang cocok. Mantan Kapten tim basket dan mantan kapten cheerleader. Semua orang akan seneng dengan hubungan kalian."
Gian tercengang dengan apa yang aku katakan.
Kami terdiam beberapa saat tanpa ada di antara kami yang mengatakan sesuatu.
Sampai kemudian, "Okay, aku bakal lakuin itu. Kamu pengen aku deketin perempuan lain? Aku bakal lakuin apa mau kamu. Aku bakal deketin Sandra."
Aku tertegun.
Sungguh aku tidak rela. Sangat tidak rela.
"Aku juga mulai cape diabaikan sama kamu. Maaf aku udah selalu ganggu kamu selama ini," lirihnya.
Tidak, Gian.
Ia menggantungkan keresek berisi bubur yang dibawanya di pagar rumahku. Ia menatapku sedih beberapa saat, kemudian Gian melangkah mundur dan masuk ke dalam mobilnya.
Mobilnya mulai menyala dan mulai melaju.
"Gian.." Tanpa sadar aku menyebutkan namanya cukup keras, aku tergopoh menuju pagar dan memanggilnya lagi, "Gian!!"
Tapi mobilnya sudah menghilang di persimpangan. Aku pun terjongkok dengan tangis yang pecah.
Tidak apa-apa, Nayara. Sakitnya hanya sementara. Hanya sebentar. Setelah ini kamu akan baik-baik saja.
Begitu aku berkata pada diriku sendiri.
Tapi pada kenyataannya ternyata tidak. Aku semakin sakit. Terutama saat kabar itu mulai berhembus di sekolah.
Kabar kedekatan Gian dengan Sandra.
Aku sempat melihat mereka beberapa kali. Mereka berjalan berdua di koridor, di kantin, bahkan di perpustakaan. Aku juga pernah melihat mereka bersama teman-temannya di lapangan. Gian bersama teman-teman basketnya terlihat sudah begitu akrab dengan teman-teman Sandra di ekskul cheers.
Mereka terlihat begitu cocok. Gian tampan, dan Sandra sangat cantik. Teman-teman mereka sudah saling mengenal dengan sangat baik.
Mereka sangat manis saat bersama.
Gian benar-benar membuktikan ucapannya untuk mencoba mendekati Sandra. Ia tak pernah lagi menatap hangat padaku. Ia selalu mengabaikan ku. Saat tak sengaja berpapasan, dia menganggap ku tidak ada. Bahkan saat privat, dia berubah dingin. Kami tak pernah berbicara selain hal yang berhubungan dengan rumus, soal, dan jawabannya.
Bahkan hingga pertemuan terakhir seperti itu.
Privat terakhir kami sepakat untuk dilakukan pada siang hari, setelah istirahat makan siang. Kebetulan hari itu adalah hari terakhir sekolah sebelum Gian menghadapi ujian akhir sekolah, dan pembelajaran hanya diadakan sampai siang hari.
"Ini pertemuan terakhir. Saya rasa kamu sudah siap untuk ujian akhir minggu depan. Semoga sukses ya," ujarku seraya membereskan barang-barang ku, begitu juga Gian, membereskan alat tulisnya dalam diam.
"Makasih atas bimbingannya selama ini," ujarnya singkat.
Kemudian dia pergi.
Begitu saja.
Aku melangkah gontai ke arah gerbang utama bersama dengan perasaan yang lagi-lagi perih. Aku sungguh tak bersemangat selama beberapa hari terakhir. Bahkan sempat terpikir untuk resign, pergi dari SMA Nusa agar aku tidak perlu lagi bertemu dengan Gian.
Aku menghela nafasku sepanjang kakiku melangkah. Hingga tanpa sadar aku sudah berada di halte persimpangan jalan, sekitar 10 menit jalan kaki dari sekolah.
Aku duduk di halte itu menunggu bus trans metro datang. Hari itu aku memang tidak membawa motorku karena helmku basah, kehujanan dan aku lupa untuk menyimpannya di dalam garasi.
"Nay?" Seseorang berdiri tepat di depanku. Aku pun mendongak dan melihat kakak sambung ku disana. "Kamu ngapain ngelamun di sini sendiri."
kasihan andranyaa