Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Childish.
Sepanjang perjalanan menuju bandara, selama di dalam pesawat, hingga perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju kantor, Demian tidak banyak bicara. Dia seperti sudah membentengi dirinya agar tidak diganggu dengan memakai rayban hitam dan masker penutup mulut. Sarah yang mengetahui itu hanya bisa ikut silent jika memang tidak ada yang harus dia sampaikan.
Saat akan mengambil bagasi pun, biasanya hanya Sarah yang akan antri dan akan membawakan koper Demian. Kali ini pria itu ikut menunggu bagasinya dan membawanya sendiri. Lagi-lagi dia menolak dengan halus saat Sarah menawarkan bantuannya.
Mereka tiba tepat waktu di kantor. Perwakilan dari kantor Gottardo Group, yaitu Ibu Andini sudah hadir. Begitu pun dengan semua supplier yang akan bekerjasama dengan mereka. Tidak lupa Sarah juga sudah meminta seluruh kandidat Head Project yang baru lulus seleksi beberapa hari yang lalu untuk datang. Kali ini ruangan meeting cukup ramai dibanding biasanya.
Sarah sudah berganti pakaian dengan stok baju kerja yang ada di ruangannya. Begitu pun dengan Demian. Keduanya sudah terlihat serasi sebagaimana biasanya dan kini mereka sudah duduk sebagai center alias pusat perhatian di ruang meeting.
Selama meeting berjalan, puluhan pria calon Head Project mereka tidak bisa menahan mata mereka dari memandang Sarah yang cantik. Selama gadis itu berbicara Demian bisa melihat mereka saling berbisik dan tatapan memuja dari mata mereka tidak bisa disembunyikan. Membuat Demian geram sendiri. Tapi berhubung dia masih dalam mode perang dingin ke Sarah, dia mengabaikannya saja.
"Jadi mulai lusa kita sudah akan turun ke lapangan, dimulai dari Kota Medan. Head Project yang bertanggungjawab untuk Medan akan langsung ikut serta. Untuk kota selanjutnya akan menunggu kabar dari saya, paham ya? Ada yang ingin ditanyakan?" Gunawan selaku Project Manager memberikan kata penutup di akhir meeting. Seluruh kandidat Head Project mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Saya, Pak!" salah seorang dari mereka mengangkat tangan.
"Silahkan, Reza," Gunawan mempersilahkan.
"Apa biasanya Ibu Sarah juga akan turun ke lapangan, Pak?" tanyanya polos membuat se isi ruangan tertawa. Meski pun ada satu orang yang menganggap itu sedikit lancang dan terlalu berani.
"Bagaimana Ibu Sarah? Bisa dijawab pertanyaan kandidat kita?" Gunawan melemparkan pertanyaan pada Sarah yang ikut sumbringah karena malu.
"Biasanya sekretaris utama hanya memantau hasil laporan Project Manager-nya. Kalau tidak ada yang urgent, tidak akan turun ke lapangan," jawab Sarah sambil tersenyum. Lagi-lagi para pria itu mendesah lesu. Sementara Demian, dia hanya diam, memperhatikan wajah si penanya yang sudah pasti akan dia batalkan kontrak kerjanya setelah meeting selesai.
Sarah melirik sebentar ke arah Demian yang seakan tidak peduli candaan yang sedang terjadi di ruangan tersebut. Gadis itu mencelos di dalam hati. Apakah Demian sedang melancarkan perang dingin padanya? Sampai kapan? Dia harus berbuat apa? Sarah sama sekali tidak punya ide.
*****
Demian dan Gunawan tetap tinggal di ruang meeting untuk membahas jadwal keberangkatan ke Kota Medan. Karena ini adalah kota pertama proyek besar mereka dilaksanakan, Demian akan ikut turun tangan menyelesaikan semua urusan di sana hingga peletakan batu pertama nanti.
"Orang kita yang di Medan suruh stand by. Nanti sampai Medan saya mau langsung tinjau lokasi. Saya nggak mau ada divisi yang nggak hadir. Pak Gunawan paham ya?"
"Paham, Pak. Maaf Pak, apa Ibu Sarah ikut, Pak?"
"Saya saja. Sarah punya banyak kerjaan di sini. Lagian sudah ada Ibu Andini juga."
"Baik, Pak. Jadi urusan yang biasa Ibu Sarah handle kalau di project, akan langsung saya take over."
"Good. Saya rasa itu saja. Masih ada yang ingin Pak Gunawan tanyakan?"
"Sejauh ini cukup, Pak."
"Baiklah. Bapak bisa meninggalkan saya. Saya masih harus mengurus sesuatu."
Sepeninggal Gunawan, Demian membuka laptopnya. Membuka email dari akuntan pribadinya. Laporan mengenai investasi yang ia tanam di perusahaan keluarga Grasian. Dia tidak mendapat keuntungan sama sekali karena perusahaan yang bersangkutan dilaporkan mengalami penurunan omset.
"Penurunan omset, hah? Kalian hanya sedang memelihara ular licik di dalam sana," maki Demian dalam hati. Dia memijit keningnya. Rasanya ingin sekali menarik investasinya dari sana, tapi dia belum menangkap basah Grasian. Dia tidak akan puas jika belum melakukannya.
"Pak Demian?"
Demian mengangkat kepalanya dan melihat ke arah pintu ruang meeting yang sepertinya tidak ditutup kembali oleh Gunawan. Sekarang Sarah ada di sana. Membuat pusing di kepalanya tiba-tiba lenyap. Andai dia bisa memeluk gadis itu, sepertinya dia akan sangat bersemangat sekarang.
"Kenapa, Sar?"
"Saya bisa masuk?"
"Masuklah."
Sarah masuk dan menutup pintu ruangan. Setelah itu melangkah mendekat ke sebelah Demian.
"Kenapa?" tanya Demian duluan. Dia langsung mengunci mata Sarah dengan tatapannya.
"Maaf, Pak. Tadi saya ketemu Pak Gunawan. Saya di info kalau saya nggak perlu ikut ke Medan. Benar begitu, Pak?"
"Iya, Sar. Kau handle kerjaan di sini ya?"
"Ehm ... Bapak beneran bisa sendiri, Pak? Saya nggak bisa membiarkan Bapak sakit lagi," ujar Sarah takut-takut.
"Tenang saja, aku sudah tau pemicunya apa. Aku bisa mengantisipasinya nanti," balas Demian, masih berpangku tangan dan masih menatap lurus mata hitam legam Sarah. Gadis itu sebenarnya terlalu cantik untuk dianggurin atau dicuekin. Tapi Demian tidak ingin memaksakan gadis itu tetap disisinya jika bukan karena kemauannya sendiri.
"Tapi Pak ..." Sarah tidak melanjutkan kata-katanya.
Katakan kau mau ikut denganku, Sar. Mohon Demian dalam hati.
"Tidak apa-apa, Sar. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku. Oh iya, bagaimana Grasian? Kau sudah menjenguknya lagi?"
Sarah tidak menjawab.
"Sar?" Demian mengangkat alisnya. Sarah yang diam itu hanya menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa ia mengerti.
"Baiklah, Pak. Saya mengerti. Saya akan pesan akomodasinya dari sekarang. Permisi."
Sarah keluar dengan hati yang kacau balau. Mengapa Demian harus sengaja membahas Grasian sekarang? Tidak bisa kah pria itu melihat jika dia begitu tulus mengkhawatirkannya? Demian seakan ingin membuat rasa bersalahnya semakin dalam.
Sementara Demian sendiri menghembuskan napasnya kasar. Sarah tidak bersikeras ingin ikut dengannya. Harusnya dia sudah menduga itu. Grasian lebih membutuhkannya di sini. Ah, si brengsek itu, kenapa dia tidak mati saja sekalian? Rutuk Demian kesal.
*****
Selesai jam kantor, Sarah mendapat telepon dari Grasian. Pria itu memberi kabar bahwa dirinya sudah bisa keluar dari Rumah Sakit. Grasian ingin Sarah menjemputnya sekarang.
Sarah tidak langsung mengiyakan. Dia beralasan lembur berhubung Demian akan ke luar kota dua hari lagi. Untungnya terakhir Grasian mau mengerti.
"Oh iya, Sar. Tadi aku mau transfer ke rekeningmu, tapi kok failed terus ya?"
Akhirnya!
Akhirnya!
Jantung Sarah yang tadinya normal-normal saja berubah menjadi dentuman-dentuman keras yang membuatnya bergetar.
"Failed gimana maksudnya, Gras?"
"Iya, katanya nggak bisa transfer karena ada limitnya gitu. Harus pindah buku langsung ke bank, datang bareng sama yang punya rekening. Limit apaan ya itu, Sar?"
"Ohh, bentar Gras, ada Pak Gunawan bentar ..." matilah aku, batin Sarah. Dia yang kebetulan masih di ruangan langsung berjinjit lari ke luar ruangannya dan masuk ke ruangan Demian tanpa izin. Demian yang melihatnya hampir saja berbicara kalau saja Sarah tidak cepat-cepat memberi tanda untuk diam dulu. Lalu dia menekan tombol speaker dan recording sekaligus.
"Halo Gras? Sori tadi Pak Gunawan kasih dokumen dulu. Gimana-gimana?"
"Iya, itu limit maksudnya limit apa ya, Sayang?"
Mendengar pertanyaan Grasian, Demian langsung bereaksi. Dia mendekatkan dirinya ke Sarah dan ikut mendengar dengan seksama.
"Limit apa ya? Atau jangan-jangan itu limit yang dulu pernah aku buat. Iseng sih itu dulu. Memangnya kamu transfer berapa, sayang? Itu aku limit kalau di atas dua puluh juta. Kamu mau nyimpen duit di aku berapa?"
Sejenak hening di dalam sana.
"Gras?"
"Ohh ... gitu. Iya, tadinya mau simpen dua ratus juta, Sayang."
"Hah??? Bayak-banyak amat! Kalau tau kamu punya duit sebanyak itu aku porotin loh kamu!" canda Sarah yang dengan cepat mendapat lirikan bengis dari Demian.
"Hahaha ... bisa aja kamu, Sayang. Kamu aja yang selalu nolak kalau mau aku beliin ini itu."
"Hm ... jadi gimana dong? Aku nggak bisa bantuin kamu dong?"
"Yahh, padahal cuma kamu harapanku satu-satunya. Kamu bisa bantuin ikut ke Bank nggak sayang?"
"M ... tapi berarti Papa harus ikut dong, Sayang. Karena itu juga butuh waliku untuk tanda tangan di dokumennya nanti."
"Papa kamu?? Kenapa harus ngelibatin Om sih, Saarrr?"
"Yaa ... namanya juga dulu, Gras. Itu juga karna papa yang bantu urusin waktu itu."
"Ya sudahlah. Sia-sia minta tolong sama kamu."
Klik!
Setelah Grasian mematikan teleponnya, Sarah juga mematikan recording-nya.
"Brengsek dia itu! Investasiku sama sekali nggak berkembang di perusahaannya. Malah merugi," Demian memaki dengan kesal.
Sarah tidak merespon. Dia justru fokus pada jarak mereka yang cukup dekat saat ini.
"Kenapa dengan wajahmu itu?" Demian menyadari ekspresi Sarah.
"Saya sudah bisa putus dengan Grasian, Pak?"
"Hah? Kenapa tanya aku?"
"Nggak enak lihat Bapak jealous. Pusing saya. Sama sakit hati."
Demian tertegun. Jadi Sarah tahu dia cemburu?
"Saya jealous? Kok bisa?"
"Jadi nggak jealous? Biar saya nggak terlanjur Ge-er nih..." Sarah menatap kedua mata Demian lekat. Dia sudah tidak tahan dengan cara Demian mengabaikannya, bahkan pria itu sampai ingin menjauh darinya. Childish sekali.
"Jangan ge-er, Sar. Aku nggak ngerti sama omonganmu," Demian sudah ingin bergerak dari posisinya, tapi Sarah cepat-cepat menahan langkahnya dengan semakin mendekat.
"Childish banget sih!! Udah tua juga!"
Demian membesarkan matanya. Gadis itu barusan bilang apa?? Dan ... barusan dia menghilangkan formalitasnya??
"Kalau cemburu ya bilang aja, nggak usah sok kuat, tapi ujung-ujungnya menghindar dan bikin akunya sakit hati. Kamu itu kayak anak SMP tau nggak sih??"
*****