Sebuah kabar mengejutkan hadir menghampiri hari bahagia Mentari kala itu.
Bintang yang merupakan calon suaminya, mengalami kecelakaan disaat mereka akan meresmikan hubungan mereka menuju halal.
Mentari pun menangis dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuhnya.
dan...
Mentari kembali terkejut, sebuah permintaan terakhir terucap dari mulut Bintang. Memintnya untuk menikah dengan pria lain, bukan dengan dirinya.
Langit nama pria itu, yang sesungguhnya juga mencintai Mentari dalam diam.
"Nikahilah Mentari, jadikan dia istrimu." pinta Bintang.
Apakah Langit mampu membuat Mentari bahagia, menghapus kesedihan yang begitu menumpuk.
"Izinkan aku untuk Menggenggam mu Mentari." ucap Langit di saat hari pernikahan mereka.
Yuk.. kepoin Ceritanya, jangan lupa dukungan terbaiknya😚🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Akan Mencintaimu
🌿Selamat membaca.
🌿Semoga suka dan terus ikuti kisahnya.
🌿Like dan komen baiknya selalu dinanti 🤗.
...----------------...
Masih di tempat yang sama, dengan langkah bolak balik Intan tengah menghubungi seseorang.
"Angkat dong Tante.. " bisiknya sendiri dan tampak kesal.
Setelah sekian kali mencoba, akhirnya seseorang yang tengah dihubunginya mengangkat panggilan Intan.
"Ya Intan, ada apa?" tanya seorang wanita yang disebut Tante oleh Intan, dan tak lain adalah Ibunya Langit, Rubi.
Rubi begitu terkejut, menatap ponselnya saat itu. Berkali-kali Intan menghubunginya, tanpa ia sadari.
"Maaf Tante, Intan menggangu Tante pagi-pagi."
"Tidak Intan, kenapa?"
"Sebenarnya tidak ada hal yang mendesak, Tante, Intan cuman mau kasih kabar kalau Intan saat ini sudah sampai di Jakarta."
"Oh.. Syukurlah, gimana kabar mu?"
"Baik Tante, Tante sendiri bagaimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik."
"Oiya, tadi Intan bertemu dengan Langit di bandara."
"Oh.. benar, Langit hari ini berangkat ke luar kota, ada pekerjaan yang mesti diurusnya."
"Ooo begitu, sendiri saja perginya?"
"Tidak, Asistennya ikut bersamanya."
"Ooo asisten." ulang Intan.
"Ya.., Kenapa?"
"Tidak, tidak apa-apa kok Tante, kalau begitu sampai di sini dulu Tante, taksi Intan sudah datang. Nanti boleh ya Tante, Intan main ke rumah."
"Boleh, main saja."
Setelah berhasil mendapatkan jawaban dari apa yang di pertanyakannya saat ini, Intan pun berpamitan dan mengakhiri pembicaraan. Ia menarik nafas panjang. Ia terdiam sejenak dan berpikir kemudian.
"Ckkck.. Hanya Asisten saja, sombong." sindirnya dan tersenyum sinis.
Beberapa menit kemudian Ia melanjutkan langkahnya dan berfikir kembali.
"Tapi kalau Asisten, kenapa Langit tidak protes saat wanita itu bilang mantan pacar?" tanyanya kemudian yang masih mengganjal dalam hati.
Lalu ia menyimpulkan sendiri akhirnya.
"Mungkin saja memang mantan pacar Langit yang beralih menjadi asistennya sekarang." ucapnya menyimpulkan.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk benar-benar melangkah meninggalkan bandara menuju rumahnya setelah menyimpulkan dan berharap kesimpulannya adalah benar.
.
.
.
.
Disepanjang jalan Mentari masih diam membisu. Wajahnya selalu menekuk menatap Langit pagi itu. Ia masih begitu kesal dengan wanita yang pagi ini ditemuinya.
"Tari, kau baik-baik saja..?" tanya Langit.
"Jangan ganggu aku dulu Mas, aku lagi malas bicara." keluhnya.
Langit sadar betul, Mentari saat ini masih merasa kesal dengan Intan. Wanita manja yang tak sengaja ia kenal melalui Ibunya. Mungkin sikap Intan yang membuat istrinya cemberut sepanjang perjalanan ini.
"Ya sudah, kalau kamu lelah, kamu bisa tidur dulu." ucap Langit lagi saat mereka sudah berada di dalam pesawat.
Perjalanan pun terasa begitu sunyi. Mentari yang masih diam membisu dan Langit yang tengah mencoba memahaminya.
Sampai mereka pun tiba di kota tujuan, Mentari tak kunjung merubah ekspresinya.
"Kamu mau makan dulu, atau mau langsung ke hotel saja?" tanya Langit lagi.
"Hotel saja Mas." jawab Mentari cepat dan mereka pun langsung melakukan perjalanan menuju hotel.
Tak memakan waktu yang lama, Mentari dan Langit kini telah sampai di hotel. Hotel yang dipilih Langit jaraknya memang tidak terbilang jauh dari bandara, dan perjalanan pun begitu lancar.
Setelah mengambil kunci kamar, Mentari dan Langit melangkah menuju kamar hotel. Perlahan dengan sedikit lelah yang dirasakan keduanya.
"Klek.." pintu dihadapan mereka terbuka kini, masuk perlahan secara bergantian dan menutupnya kembali.
Setelah meletakan tas di salah satu sudut ruangan, Tari melangkah kembali menuju sisi ranjang hotel dan duduk di sana. Langit Pun menyusulnya, ikut duduk tepat di sampingnya.
Rasanya cukup sampai di sini, kesunyian yang dirasakan Langit sejak tadi. Ia harus menyudahinya. Langit merasa ini adalah saat yang tepat untuk berbicara pada Mentari.
"Kenapa kau masih diam saja?" ucap Langit dan Mentari masih diam tapi dia menatap Langit seakan meminta penjelasan.
"Wanita tadi bernama Intan." ucap Langit kemudian mencoba menjelaskan perlahan.
"Intan, rasanya aku pernah mendengar nama ini." bisik Tari dalam hati.
"Dia anak dari salah satu teman Ibuku." ucap Langit lagi menjelaskan.
"Oh.. aku ingat, wanita itu pernah disebut oleh Ibunya Mas Langit waktu itu." bisik Mentari kemudian.
"Kau senang bertemu dengannya Mas?" tanya Tari akhirnya mencoba mengintrogasi.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Langit balik bertanya dan mereka masih saling menatap.
"Sepertinya dia menyukaimu."
"Tapi, aku menyukaimu." ucap Langit dan berhasil membuat Tari menjadi malu mendengarnya.
Mentari langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat.
"Kenapa jadi bahas kita." ucap Tari kemudian.
"Kau cemburu..?" tanya Langit kemudian dan meraih jemari Tari saat itu.
"Ti.. dak.." ucap Tari cepat walau terbata mengatakannya, terlihat jelas kegugupan yang tengah dirasakannya.
Langit tersenyum menatap kegugupan Mentari saat itu.
"Aku hanya kesal saja dengan wanita itu, dia begitu sombong, songong, angkuh.. paket komplit pokoknya, semua yang menyebalkan ada dia." cerocos Mentari begitu saja.
"Aku kesal saat dia bilang, gara-gara aku kenal kamu, jadi dia memaafkan ku. Jelas dia yang menabrak ku, seharusnya dia yang meminta maaf. Aku malah diminta ganti rugi karena tasnya kotor." ucap Tari lagi meluapkan kekesalannya yang sejak tadi dipendamnya.
"Aku percaya kamu.."
"Ya.. Kamu memang harus percaya padaku Mas, bukan sama wanita keganjenan seperti dia." tuduh Tari kemudian.
"Aku senang kau cemburu.."
"Aku tidak cemburu.. aku hanya mengkhawatirkan mu.." ucap Tari lagi dan membuat Langit mengerutkan keningnya.
"Kau harus hati-hati dengan wanita itu, dia terlihat sekali menyukaimu, dia terlihat manis di depanmu, tapi kecut di depan ku." ucap Tari kesekian kali dan Langit masih menikmati percakapan mereka saat itu.
Sudah lama sekali rasanya Langit tak mendengar Tari berbicara seperti ini. Ia telah kembali seperti Mentari yang selama ini dikenalnya. Ia tak sungkan menceritakan apapun pada Langit, kesedihannya, kesenangannya, rasa tidak suka dan suka nya.
"Jikapun nanti kamu tidak bersamaku, ehm.. Maksudku, aku dan kamu..."
"Cukup Tari, aku tak mau mendengarnya." ucap Langit menghentikan pembicaraan Tari dengan cepat.
"Aku hanya mengandaikan saja Mas.., kalau misalnya aku dan kamu ternya..."
Deg.. terhenti kembali, bener-benar terhenti. Mentari mendadak diam membisu, bahkan tubuhnya tak bergerak sedikitpun. Ia begitu terkejut. Terkejut karena tiba-tiba saja Langit menyentuh bibirnya dan menci umnya. Menghentikan ucapan Mentari dalam seketika.
Jantung Mentari berdetak begitu cepat saat itu. Jemari Langit menggenggamnya begitu kuat. Langit menci umnya begitu lembut dan manis.
Mentari masih terdiam seperti patung. Bahkan saat Langit melepaskan ciu man itu, menatap Mentari dengan dengan jari-jari menyentuh wajahnya. Mentari masih diam membisu.
"Aku tak mau lagi mendengar kau berkata seperti tadi, kau istriku.. dan akan menjadi istriku selamanya. Aku hanya akan mencintaimu." ucap Langit begitu dalam.
Kesunyian mendadak terjadi, sampai akhirnya getaran handphone menghentikan segala kecanggungan yang tengah terjadi. Seseorang tengah menghubungi Langit.
"Kau istirahat dulu, aku keluar sebentar menemui Bayu." ucap Langit dan Mentari mengangguk mengiyakan.
Beberapa menit kemudian, hanya tinggal Mentari seorang diri. Meninggalkan keterkejutan yang tak pernah ia bayangkan.
"Duh.. kenapa mendadak jadi bodoh begini sih.." ucapnya setelah menyadari apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Barusan aku dan Mas Langit..." ucapnya lagi dan tak berani melanjutkan, ia menyentuh bibirnya dan mengingat kembali ciu man yang baru saja dirasakannya.
.
.
.
.
Enggak apa² Tari, kan udah Sah..🤭🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️
belum saya baca habis ada waktu luang nanti saya mampir baca ya thor 🤗
tetap semangat berkarya sukses selalu🙏
temen mentqri😅😅
🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️🏃🏻♀️