seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pusat inti zenith
Lorong menuju pusat inti Zenith terasa seperti jalan menuju dunia lain.
Semakin jauh mereka berjalan, semakin sunyi suasananya.
Tidak ada suara alarm.
Tidak ada dengungan drone keamanan.
Bahkan jaringan utama Zenith terasa menghilang dari udara.
Seolah tempat ini diputus dari seluruh akademi.
Lampu putih redup menyala otomatis setiap mereka melangkah maju. Dinding logam di sepanjang koridor dipenuhi kabel neural tua yang menjalar seperti akar pohon.
Alya berjalan paling belakang.
Tangannya masih memegang kalung biru di lehernya.
Cahayanya belum berhenti bersinar.
Dan semakin mereka mendekat—
denyut itu semakin terasa.
Seperti jantung kedua di dalam tubuhnya.
Hana berjalan sambil memeluk dirinya sendiri.
“Aku serius ya,” katanya pelan. “Kalau tiba-tiba ada hantu cyber muncul dari dinding, aku resign dari kehidupan.”
Reno yang berjalan paling depan menjawab datar:
“Kalau ada hantu di sini, kemungkinan besar itu mantan peneliti Zenith.”
“Itu tidak membantu sama sekali.”
Namun meski bercanda, Hana juga mulai sadar.
Tempat ini berbeda.
Bahkan Reno terlihat lebih waspada dari biasanya.
Tatapannya terus bergerak memperhatikan setiap sudut lorong.
Alya memperhatikan punggungnya diam-diam.
Sejak rekaman ayahnya tadi, Reno menjadi lebih pendiam.
Dan entah kenapa…
itu membuat Alya semakin yakin bahwa Reno menyembunyikan sesuatu.
“Aku mau tanya sesuatu,” katanya pelan.
Reno tidak menoleh.
“Tanya saja.”
“Kau pernah ke pusat inti ini sebelumnya?”
Langkah Reno melambat sedikit.
Hanya sepersekian detik.
Namun Alya menyadarinya.
“…Pernah.”
Jawaban singkat.
Terlalu singkat.
“Kapan?”
“Hari terakhir laboratorium Zenith masih aktif.”
Suasana langsung terasa lebih berat.
Hana menatap Reno.
“Jadi tempat ini benar-benar pusat eksperimen lama?”
“Ya.”
“Dan kau masih mau masuk?”
“Kita tidak punya pilihan.”
Mereka tiba di sebuah pintu raksasa berbentuk lingkaran.
Jauh lebih besar dibanding pintu lain di area bawah tanah.
Di tengahnya terdapat simbol biru yang sama dengan kalung Alya.
Elysium.
Lampu di sekitar pintu mulai menyala satu per satu saat Alya mendekat.
ACCESS DETECTED.
Hana langsung mundur setengah langkah.
“Oke, aku resmi tidak nyaman.”
Alya menatap simbol itu tanpa berkedip.
Entah kenapa…
ia merasa familiar.
Seolah ia pernah melihat pintu ini sebelumnya.
Namun itu mustahil.
“Kenapa sistemnya meresponsku?” bisiknya.
Reno memperhatikan Alya sebentar sebelum menjawab:
“Karena tempat ini mengenali inti Elysium.”
“Jadi benar…” Hana bergumam. “Alya benar-benar kunci semuanya.”
Kalimat itu membuat Alya tidak nyaman.
Ia tidak ingin menjadi “kunci”.
Ia hanya ingin hidup normal.
Namun semua itu terasa semakin jauh sekarang.
Pintu raksasa mulai terbuka perlahan.
GRRRRRKKK—
Udara dingin langsung mengalir keluar.
Dan saat pintu terbuka sepenuhnya—
ketiganya terdiam.
Ruangan di baliknya sangat besar.
Jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Bentuknya seperti kubah bawah tanah raksasa.
Di tengah ruangan berdiri struktur menyerupai pohon logam raksasa dengan ribuan kabel cahaya biru menjalar ke seluruh langit-langit.
Seperti akar.
Atau pembuluh darah.
Cahaya biru lembut memenuhi seluruh ruangan.
Dan di pusat pohon logam itu…
terdapat inti kristal bercahaya.
Jantung Elysium.
Hana langsung melongo.
“…Astaga.”
Alya bahkan tidak bisa bicara.
Pemandangan itu terlalu indah.
Dan terlalu menyeramkan dalam waktu bersamaan.
Reno menatap struktur besar itu dengan ekspresi sulit dibaca.
“Masih aktif…”
Sistem ruangan tiba-tiba menyala.
WELCOME TO ELYSIUM CORE.
Suara AI tua menggema lembut.
AUTHORIZED HOST DETECTED.
Tatapan Alya langsung berubah.
“Host…”
Kalungnya bersinar lebih terang.
Dan tiba-tiba—
seluruh kabel biru di ruangan ikut menyala.
BZTTT—
Energi mengalir cepat seperti jaringan hidup.
Hana langsung menunjuk panik.
“Kenapa semuanya menyala lagi?!”
Reno segera berdiri di depan Alya.
“Jangan bergerak dulu.”
Namun sudah terlambat.
Cahaya biru dari inti utama tiba-tiba melesat.
Dan menyentuh kalung Alya.
SEKETIKA—
seluruh tubuh Alya membeku.
Matanya melebar.
Dan dunia di sekitarnya menghilang.
---
Alya berdiri di tempat asing.
Ruangan putih luas tanpa ujung.
Sunyi.
Tidak ada dinding.
Tidak ada langit.
Hanya cahaya putih.
“Aku… di mana?”
Suara langkah kecil terdengar di belakangnya.
Alya langsung menoleh.
Dan napasnya tercekat.
Seorang anak kecil berdiri di sana.
Rambut hitam pendek.
Mata biru terang.
Dan kabel neural samar di lehernya.
Reno kecil.
Anak itu menatap Alya diam-diam.
Ekspresinya kosong.
Namun matanya menyimpan kesedihan besar.
“Apa ini…?” bisik Alya.
Reno kecil mendekat perlahan.
“Akhirnya kau datang.”
Tubuh Alya langsung menegang.
“Kau bisa melihatku?”
Anak itu mengangguk kecil.
“Aku sudah menunggu lama.”
“Apa maksudmu?”
Namun sebelum Reno kecil menjawab—
suara lain terdengar.
Lembut.
Hangat.
“Alya.”
Tubuh Alya membeku.
Ia mengenali suara itu.
“Ayah…?”
Cahaya putih di depan mereka perlahan berubah membentuk sosok.
Arman.
Wajahnya terlihat muda dan tenang.
Namun matanya penuh kelelahan.
Air mata Alya langsung jatuh.
“Ayah!”
Ia berlari mendekat.
Namun tubuhnya menembus sosok itu.
Hologram.
Atau memori.
Bukan manusia sungguhan.
Arman tersenyum kecil sedih.
“Maaf.”
Alya menggigit bibirnya keras.
“Kenapa…?”
Suaranya bergetar.
“Kenapa Ayah menyembunyikan semuanya dariku?!”
Arman terdiam beberapa detik.
Lalu menjawab pelan:
“Karena Ayah ingin kau punya hidup normal.”
“Tapi aku tidak normal!”
Emosi Alya meledak.
Ruangan putih di sekitar mereka ikut bergetar.
“Aku bahkan tidak tahu siapa diriku!”
Arman menatapnya dengan sedih.
“Kau tetap anakku.”
“Benarkah?”
Hening.
Pertanyaan itu terasa terlalu menyakitkan.
Arman menutup matanya sebentar.
“Elysium memang ditanamkan padamu sejak kecil.”
Tubuh Alya gemetar.
“Jadi Kaizer benar…”
“Tapi bukan untuk menjadikanmu senjata.”
Arman melangkah mendekat.
“Dulu Elysium terus gagal.”
“Semua subjek kehilangan emosi mereka.”
Tatapannya jatuh pada Reno kecil.
“Termasuk dia.”
Alya menoleh pada Reno kecil.
Anak itu hanya diam.
“Namun saat Ayah menemukan metode sinkronisasi emosional…”
Arman menatap Alya.
“…kau lahir.”
Alya membeku.
“Maksudnya…”
“Kau kompatibel dengan Elysium karena sejak awal inti itu tumbuh bersamamu.”
Air mata Alya jatuh lagi.
“Jadi aku memang eksperimen…”
“Tidak.”
Suara Arman tegas untuk pertama kalinya.
“Kau adalah harapan.”
Ruangan kembali sunyi.
Arman melanjutkan:
“Kaizer ingin menggunakan Elysium untuk mengendalikan kesadaran manusia.”
“Sedangkan Ayah…”
Ia tersenyum kecil.
“…ingin menyelamatkan mereka.”
Alya menggenggam tangannya erat.
“Kalau begitu kenapa Ayah meninggalkanku?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar.
Pertanyaan yang sejak tadi menyesakkan dadanya.
Arman terdiam lama.
Dan saat akhirnya bicara—
suaranya hampir pecah.
“Karena kalau Ayah tetap bersamamu…”
“…Zenith akan menemukanmu.”
Hening.
Alya menunduk.
Tangisnya semakin pelan sekarang.
Bukan ledakan emosi lagi.
Melainkan rasa sakit yang jauh lebih dalam.
Reno kecil tiba-tiba mendekat.
Ia menatap Alya lurus.
“Dia tidak bohong.”
Alya sedikit terkejut.
Anak itu melanjutkan:
“Arman selalu melindungimu.”
Tatapannya kosong.
“Tapi dia gagal melindungi semua orang.”
Ruangan putih tiba-tiba mulai retak.
Alarm samar terdengar.
WARNING.
UNAUTHORIZED ACCESS DETECTED.
Ekspresi Arman langsung berubah.
“Mereka menemukannya lebih cepat dari perkiraan…”
“Apa?”
Arman menatap Alya cepat.
“Dengar baik-baik.”
“Kaizer akan datang ke pusat inti.”
Jantung Alya berdetak keras.
“Dan kalau dia berhasil menguasai Elysium…”
Tatapan Arman berubah gelap.
“…Zenith tidak akan lagi menjadi akademi.”
Ruangan retak semakin besar.
Cahaya merah mulai muncul di sela-sela putih.
“Ayah—!”
Namun sosok Arman mulai menghilang.
“Alya.”
Senyumnya muncul sekali lagi.
Lembut.
Hangat.
“Jangan takut pada dirimu sendiri.”
Lalu semuanya pecah menjadi cahaya.
---
“Alya!”
Suara Reno terdengar jauh.
Tubuh Alya tersentak sadar.
Ia kembali ke ruang inti Zenith.
Napasnya terengah.
Kalungnya bersinar sangat terang.
Dan alarm di seluruh ruangan berbunyi keras.
WARNING. EXTERNAL BREACH DETECTED.
Hana langsung panik.
“Beritahu aku itu bukan Kaizer!”
Namun pintu utama di belakang mereka perlahan terbuka sendiri.
Langkah kaki terdengar pelan.
Tenang.
Santai.
Dan sangat familiar.
Kaizer masuk ke dalam ruangan inti sambil bertepuk tangan kecil.
“Ternyata sistem masih memilihmu.”
Tatapannya jatuh pada Alya.
Lalu perlahan tersenyum.
“Selamat datang di jantung Elysium.”