Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Sisi Gelap yang Terbuka
Deru angin malam di sirkuit Sentul perlahan menyurut, menyisakan suara deru mesin Yamaha YZF-R1 dan Kawasaki H2 Carbon yang berdetak konstan mengeluarkan hawa panas ke udara bebas. Di bawah lampu sorot lintasan yang temaram, keheningan yang tercipta di antara Jayden dan Elleanor terasa jauh lebih mencekam daripada riuh mesin beberapa menit lalu.
Jayden masih mencengkeram pergelangan tangan kiri Elle, menatap angka 142 BPM di layar smartband dengan kilat mata yang sarat akan kepuasan iblis. Cengkeramannya tidak menyakiti, namun memberikan tekanan psikologis yang membuat Elleanor merasa seolah seluruh pasokan oksigen di sekitarnya telah habis disedot oleh dominasi cowok di depannya.
"Lepas, Jayden," desis Elleanor, suaranya bergetar menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun. Sifat barbarnya menolak untuk terlihat lemah, meskipun jantungnya berkhianat dengan berdegup sekencang itu. "Gua bilang lepas!"
Jayden tidak menurut. Ia justru memajukan tubuh tegapnya satu langkah lagi, mengikis jarak hingga dada bidangnya hampir bersentuhan dengan pelindung dada baju balap milik Elle. Ditundukkannya kepala hingga wajah tegasnya berada tepat di samping telinga Elle, mengembuskan napas hangat yang beraroma mint dan maskulin.
"Gua bisa aja nahan lo di sini malam ini, Elle," bisik Jayden, suaranya mengalun sangat rendah, serak, dan penuh dengan obsesi yang pekat. "Gua bisa minta Haikal buat ngunci seluruh gerbang sirkuit ini dan biarkan abang lo ataupun serigala jalanan itu frustrasi di luar sana. Tapi gua gak mau ngerusak kesenangan lo."
Jayden perlahan melonggarkan cengkeraman jarinya, membiarkan tangan halus Elle terlepas. Namun, sebelum Elle sempat mundur, jemari panjang Jayden bergerak naik, menyelipkan beberapa helai rambut panjang Elle yang basah oleh keringat ke belakang telinga gadis itu dengan gerakan yang terlampau lembut untuk ukuran ketua VULTURES yang berdarah dingin.
"Pulang sekarang," perintah Jayden datar, bertransformasi kembali menjadi sosok bermuka tembok dalam sekejap. "Gua biarkan lo kembali ke sarang lo malam ini. Tapi ingat, tiga minggu lagi di sirkuit ini... gua gak bakal cuma memojokkan jalur motor lo seperti tadi. Gua bakal mastiin lo bertekuk lutut di depan gua tanpa punya celah buat berdiri lagi."
Setelah mengatakan itu, Jayden berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia menyambar helm full-face-nya, menaiki Kawasaki H2 Carbon-nya kembali, dan memuntir gasnya dalam-dalam hingga motor sport bertenaga monster itu melesat pergi membelah kegelapan malam menuju arah pit stop utama Vultures, meninggalkan Elleanor yang berdiri sendirian di tepi lintasan dengan napas yang masih memburu.
Sementara itu, di dalam pit faksi independen yang terletak beberapa ratus meter dari tempat Elle berhenti, suasana mendadak panik. Alka, Matthew, dan Rafka menatap layar monitor komputer dengan wajah tegang. Grafik biometrik Elleanor yang sempat menyentuh angka 142 BPM perlahan-lahan mulai menurun ke angka 100 BPM, namun sinyal pelacaknya sempat tumpang tindih dengan sinyal motor Jayden selama hampir lima menit.
"Sialan! Jayden bener-bener nyegat Elle di tengah trek!" umpat Alka, membanting sarung tangan balapnya ke atas meja kerja mekanik. "Gua harus nyamperin dia sekarang!"
"Tunggu, Al! Jangan gegabah!" tahan Nalendra yang baru saja masuk dari arah koridor belakang dengan membawa botol air mineral. "Lihat monitor Matthew. Motor Elle udah mulai bergerak balik ke arah sini. Kalau lo nekat nerobos ke area Vultures sekarang, lo cuma bakal memicu keributan yang bikin panitia Inter-School punya alasan buat mendiskualifikasi faksi kita sebelum kompetisi dimulai."
Alka mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap lurus ke arah pintu masuk pit. Beberapa saat kemudian, suara raungan mesin Yamaha YZF-R1 milik Elle terdengar mendekat sebelum akhirnya motor hitam karbon VÈRUNE itu meluncur masuk ke dalam garasi.
Elleanor turun dari motornya dengan gerakan kaku. Ia melepas helmnya, memperlihatkan wajah cantiknya yang tampak pucat namun memancarkan kilat amarah yang tulus. Sifat barbarnya kembali menyelimuti dirinya begitu ia melihat wajah khawatir teman-temannya.
"Gua gak apa-apa, gak usah natap gua kayak liat mayat," ketus Elle sebelum Alka sempat membuka mulut. Ia berjalan menuju sofa, menjatuhkan tubuhnya di sana dan langsung meraih botol air mineral dari tangan Nalen, meneguk isinya hingga tandas.
"El, Jayden ngapain lo di tengah lintasan tadi?" tanya Alka, suaranya melembut namun getaran amarah di dalamnya masih terasa jelas. Ia berlutut di depan sofa, menatap pergelangan tangan kiri Elle yang masih dilingkari oleh gelang pintar hitam berlogo VULTURES.
Elleanor menatap gelang itu dengan pandangan benci. "Dia gak ngapa-apain fisik gua, Alka. Tapi dia tahu. Dia tahu gua adalah VÈRUNE, dan dia sengaja ngubah regulasi jadi Open Class biar gua bisa pakai seluruh tenaga motor ini... hanya untuk nunjukkin kalau kecepatan motor gua tetep gak bisa nembus batas pertahanan dia."
Matthew memutar kursinya, menatap Elle dengan kening berkerut. "Jadi... spek motor 1000cc Amerika lo tadi tetep kalah sama Kawasaki H2 Carbon milik dia?"
Elle terdiam sesaat, mengingat kembali bagaimana Jayden mengendalikan motor monsternya di tikungan S besar dengan sudut kemiringan yang tidak masuk akal bagi manusia normal. "Gua kalah di lintasan lurus terakhir karena dia sengaja menutup jalur gua, Matt. Tapi yang bikin gua frustrasi... cara dia bawa motor itu seolah-olah dia udah tahu semua titik pengereman gua sejak awal."
Nalendra yang sejak tadi menganalisis situasi akhirnya bersuara, "Jayden punya rekaman aksi balap lo di New York, Elle. Haikal pasti udah bikin algoritma simulasi berkendara lo dan memasukkannya ke dalam sistem komputer pribadi Jayden. Lo gak lagi balapan sama cowok SMA biasa; lo lagi balapan sama predator yang udah mempelajari setiap gerak-gerik mangsanya dari jauh-jauh hari."
Mendengar penuturan Nalen, atmosfer di dalam pit Wolfangs seketika berubah menjadi jauh lebih berat. Sisi gelap dari kekuasaan Frederick Group terbukti terlalu gurita untuk dihadapi hanya dengan modal keberanian jalanan.
Elleanor menarik napas dalam-dalam, lalu menegakkan punggungnya. Seringai liar yang menawan kembali terukir di bibirnya yang kemerahan, menepis segala rasa takut yang sempat merayapinya di lintasan tadi. Ditatapnya Alka dan jajaran inti Wolfangs bergantian dengan binar mata yang kembali menyala terang.
"Kalau dia udah mempelajari cara berkendara gua yang lama, itu artinya kita harus bikin cara berkendara yang baru," ucap Elleanor penuh determinasi. "Matt, Raf, mulai besok subuh hancurkan seluruh setelan suspensi standar Amerika motor ini. Kita rombak ulang dengan karakter liar yang gak bakal bisa ditebak oleh sistem simulasi Haikal. Kalau Jayden mau main-main di dalam kegilaannya... gua bakal pastiin malam kompetisi nanti gua bakal berubah jadi badai yang bakal ngehancurin seluruh kalkulasi komputer miliknya."