Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertanya Sesuatu
Taka menutup pintu kamar dengan pelan dan cukup hati-hati lantaran takut Diba bangun.
"Diba mana?"
Taka menoleh dan mendapati mama Hartati yang baru saja pulang dari Apotek. Taka segera memberi kode dengan menempelkan jari telunjuk di bibir agar mamanya tidak berisik. Dengan itu mama Hartati paham jika Diba sudah tidur.
"Ini obatnya. Nanti kasih kalau Diba masih merasa pusing."
Taka meraih kantong kresek putih bening berisi obat dari tangan mamanya.
"Iya, ma. Terima kasih."
"Ya udah, kalau begitu kita makan siang dulu, ya."
Taka mengangguk setuju. Pria itu meletakan kantong kresek tersebut di atas nakas samping pintu kamar. Lalu mengikuti langkah mama Hartati ke ruang makan.
Taka menarik salah satu kursi lalu mendaratkan tubuhnya duduk di sana. Ada banyak sekali menu makan siang di atas meja. Namun Taka lebih memilih sup ayam.
"Mama boleh tanya sesuatu sama kamu?"
Taka mendongakan wajahnya menatap ke arah sang mama. Entah kenapa ia sudah merasa jantungan lebih dulu. Karena mimik wajah mamanya cukup serius.
"Iya. Mama mau tanya apa?"
Mama Hartati menghela napas pelan. Ia sedikit mencondongkan badannya ke depan menatap sang anak.
"Hubungan kamu sama wanita itu sekarang gimana?"
Kening Taka seketika berkerut. Ia bahkan mengurungkan suapan makannya.
"Diba?"
Mama Hartati menggeleng. "Vina."
Taka menelan salivanya mentah-mentah. Ia bingung kenapa mamanya harus membahas soal Vina.
"Aku sudah tidak punya hubungan apapun dengan dia."
"Yakin?"
Taka mengangguk. "Iya."
"Kamu sudah memutuskan hubungan dengannya sehingga hubungan kalian sudah berakhir."
Taka diam sejenak. Kemudian menggeleng.
Hembusan napas sedikit kasar terdengar dari wanita paruh baya itu.
"Kenapa? Kamu bilang kamu sudah tidak ada hubungan lagi dengannya."
"Iya, ma. Aku rasa aku sudah tidak ada hubungan lagi dengannya sejak hari itu. Sejak aku memergoki dia pergi ke hotel bersama seorang pria. Tapi, untuk mengakhiri hubungan aku tidak melakukannya. Karena aku rasa ini semua sudah berakhir."
Mama Hartati mempertajam sorot matanya mendengar kalimat Taka barusan.
"Mama tidak berharap kamu bertemu lagi dengan wanita itu. Tapi mama berharap kamu akhiri hubungan kalian. Karena mama tidak mau jika suatu hari kamu dan Diba bertemu dengan Vina dan Vina akan menjadi masalah dalam rumah tangga kalian. Karena dia merasa tidak pernah mengakhiri hubungannya denganmu," tutur mama Hartati.
"Iya, ma. Tapi-"
"Jangan pernah bilang kalau kamu sebenarnya masih punya perasaan dengan wanita itu, Taka!"
Taka diam. Kenapa mamanya bisa secepat itu menyimpulkan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Aku sedang berusaha, ma. Tapi memang tidak mudah untuk melupakan seseorang."
"Mama tidak mau Diba terluka, Taka."
"Aku juga begitu, ma. Aku tidak mau melukai perempuan sebaik Diba. Aku sedang berusaha melupakan Vina dengan cara mencintai Diba."
"Itu salah."
Kening Taka kembali berkerut. "Salah?"
"Iya, jelas. Kamu salah, nak. Buang jauh perasaan kamu terhadap wanita itu dulu. Setelah itu kamu baru bisa menumbuhkan perasaan untuk Diba. Karena jika alasan kamu mencintai Diba adalah untuk melupakan Vina. Itu sama saja kamu jadikan Diba adalah pelampiasan."
Taka bergeming. Apa yang di katakan mama Hartati memang benar. Dan tanpa sadar jika itu justru akan membuat Diba jauh lebih terluka karenanya.
"Apa kamu sudah melakukan hubungan suami istri dengan Diba?"
"Hm?" Taka sedikit terkejut dengan pertanyaan mamanya. Tak seharusnya mamanya bertanya demikian. Tapi mama Hartati pun memiliki alasan kenapa ia bisa bertanya sampai sejauh ini.
_Bersambung_