Fredella Dominique tidak menyangka harus menikahi pria yang usianya lebih tua. Dia dijodohkan oleh ayahnya yang bekerja sebagai salah satu orang kepercayaan keluarga calon suaminya.
Tapi siapa sangka, calon suaminya sangat perhatian dan mencoba memulai hubungan yang baik diantara mereka. Tidak seperti rumor beredar bahwa pria itu dingin, datar juga kejam, melainkan sikapnya sangat manis pada Fredella.
Hingga keduanya menikah atas dasar cinta. Fredella jatuh cinta pada suaminya, kegigihan dan ketulusan pria itu meluluhkan hati.
Tapi siapa sangka suatu hari badai datang mengusik bahkan menghancurkan kehidupan manisnya bertubi-tubi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Terbagi
BAB 18
Selesai memanjakan suaminya, wanita yang kini rapuh akan keadaan terlelap kelelahan. Dariel memang paling bisa memberi kebahagiaan padanya.
Memastikan sang istri tidur pulas, ia keluar kamar menuju ruang kerja. Dariel memeriksa ponsel yang beberapa kali bergetar. Membaca siapa yang menghubunginya lalu dua pesan singkat menyita perhatiannya, laporan dari seseorang yang Dariel percaya.
Sejenak ia diam, memijat pelipis, semakin hari masalahnya ini besar dan entah bagaimana menghadapi ke depannya.
Keduanya sama-sama penting dan berarti bagi Dariel. Jika memang itu ‘miliknya’, dan untuk saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali sebuah tanggung jawab semu dan secara tidak langsung menyakiti ketiganya. Jujur tidak kuasa menghadapi semua seorang diri, tapi apa yang dilakukannya saat ini adalah yang terbaik.
Bila suatu hari semua terangkat ke permukaan, Dariel harap semuanya akan menerima, menerima kesalahan besar yang pernah ia lakukan. Terutama Fredella, bagaimana dengan wanitanya itu? Janji Dariel untuk selalu membahagiakan Fredella lenyap sudah terbawa hembusan angin.
Ia tidak ingin kehilangan belahan jiwa, tapi di lain pihak ada sosok yang sangat membutuhkan kehadiran serta kasih sayangnya.
“Arggghhh.” Melempar gelas pada dinding. Sungguh ia tak ingin menyakiti siapapun, tapi ini terjadi begitu saja, tiba-tiba tanpa direncanakan.
Tubuhnya merosot di atas kursi, dia yang merasa kehidupannya beruntung kini tidak lagi. Nada, harmoni, dan jiwanya dalam hidup hancur sudah bersama dusta yang tercipta.
“Maafkan aku Fredella.” Gumam Dariel, tidak akan bisa Dariel hidup tanpa Fredella, wanita hebat yang ia luluhkan, wanita yang menyita perhatiannya, wanita yang membuat Dariel selalu ingin bersamanya, menghabiskan waktu berdua merajut kisah indah dari cinta mereka.
Dariel mengetik sesuatu pada layar datar itu, sebuah pesan singkat untuk seseorang yang ditemuinya kemarin, sampai sukses membuatnya melupakan Fredella dalam sekejap.
“Tidurlah, kamu harus sehat, sampaikan padanya kalau aku menyayanginya.”
Kata-kata ia janjikan hanya untuk Fredella dan milik istrinya tetapi kini terbagi, ya terbagi begitu saja.
Dariel menatap sendu pada layar berukuran 8 inchi, nyaris meneteskan air mata. “Maaf aku tidak bisa selalu bersama mu, ku harap kamu sehat hingga saatnya tiba nanti. Aku tidak bisa meninggalkan istriku, wanita yang ku cintai.” Membelai layar datar itu.
Usai meluapkan emosi yang mengganggu jiwa, ia memutuskan kembali ke kamar. Dilihatnya posisi Fredella masih sama, meringkuk di atas empuknya ranjang, wajah sang dewi itu begitu tenang, rambutnya menutupi sebagian wajah serta ceruk leher.
Disingkirkan perlahan rambut coklat Fredella, ia menikmati aroma khas yang selalu membuatnya lupa diri. Menempelkan bibir pada ceruk leher putih, meninggalkan jejak kemerahan, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang, menenggelamkan kepalanya pada punggung ringkih Fredella.
**
Satu minggu pasca kepulangan Fredella, kediaman Bradley saat ini sibuk menyiapkan perjamuan karena malam nanti keluarga Tuan Dominique datang, menjenguk putrinya.
Fredella sangat senang papa, mama dan kakaknya akan segera tiba dari Korea. Rasanya lama sekali tidak berjumpa, ia ingin melepas kerinduan. Walaupun terbiasa hidup merantau tetapi kasih sayang orang tua selalu membuatnya merasa berbeda.
Para keponakan Dariel semakin meramaikan suasana rumah, empat anak itu saling berebut mainan hingga salah satu dari mereka menangis dan berlari menghampiri ibunya.
“Aurora anak pintar bunda, ayo main lagi, berhenti ya menangis sayang.” Suara keibuan yang lembut mengalun dari bibir Dayana, kakak sepupu Dariel yang tengah mengandung anak keduanya.
Pandangan Fredella tertuju pada Dayana, kembali ia tersayat akan kekurangan sebagai seorang wanita. Namun, ia berharap keajaiban datang padanya.
“Aku tidak boleh menangis. Ini hari istimewa.” Lirihnya dalam hati.
“Onty, angis?.” Suara cadel Zoey dalam gendongan Fredella.
“Ah bukan sayang, onty hanya senang, bukan menangis.” Menciumi puncak kepala keponakan dari suaminya.
Seorang wanita cantik, tubuh bak model mengalihkan perhatian semuanya. Clarissa kakak Fredella datang lebih dulu, wanita itu memang memiliki butik di ibu kota serta kota lainnya.
Wanita yang selalu membuat Fredella iri, selain cantik kakaknya juga berbakat, salah satu designer yang cukup di segani di kawasan Asia Tenggara.
“Kakak?.” Fredella tersenyum lalu memeluk Clarissa, wanita itu mendapat kasih sayang dari Tuan dan Nyonya Dominique, berbeda dengannya, Nyonya Dominique tak pernah menyayangi setulus hati.
“Maaf aku baru menjenguk, aku.....aku turut berduka Fredella semoga kamu di beri kekuatan menghadapi ini semua.” Lirihnya turut merasakan kesedihan sang adik.
“Dimana Dariel?.”
“Ah masih di kantor, mungkin satu jam lagi sampai, ayo duduk ka.” Ramah Fredella selaku tuan rumah.
Kedua mata sipit itu sengaja melirik pada banyaknya bingkai foto yang terpajang dalam tempat khusus di ruang keluarga. Salah satunya berhasil menarik perhatian Clarissa, potret adik bersama suaminya, tawa bahagia terlihat dalam gambar itu, hari pernikahan yang mereka impikan setelah berbulan-bulan menjalin cinta.
Tidak seperti biasanya, hari ini Dariel pulang lebih awal, tuntutan dari kedua orang tua tentunya. Dariel melangkah masuk, keempat keponakannya berebut ingin digendong. Tiga dari mereka menangis bersamaan, membuat kepalanya cukup pusing.
“Hey....hey, aku ini paman kalian, dimana mama dan papa kalian? Seenaknya saja menitipkan anak padaku.” Gerutu Dariel mendengar suara tangis keras ketiga keponakannya, karena ia hanya menggendong salah satunya saja.
“Daddy, aku malah, aku malah, daddy jangan cium aku lagi.” Ancam gadis kecil bernama Zoey, sementara Dariel hanya tersenyum geli, keponakannya ini sangat mirip dengan kembarannya.
“Dwyne, lihat putrimu sangat mirip sekali dengan mu, masih kecil sudah berani memarahi ku.” Suara lantang Dariel masuk ke dalam, menggendong Zoey dan Aurora agar tidak berisik lagi dan merusak pendengarannya.
Namun, Dariel tersentak melihat sosok wanita yang telah lama dikenalnya.
Wanita itu tersenyum manis dan mengedip manja pada Dariel.
“Sayang, bisa bantu aku melepaskan mereka?.” Pinta Dariel pada istrinya yang tertawa karena Dariel selalu kewalahan menangani keempat keponakannya.
Tapi siapa sangkan Clarissa juga turut berdiri dan menghampiri adik iparnya ini, “Kakak?.” Panggil Fredella terkejut.
“Ah aku hanya membantu saja, kamu baru menjalani operasi besar jadi jangan terlalu mengangkat beban berat.” Alasan Clarissa meraih Aurora dari sisi kiri Dariel.
Sengaja menempelkan kulit lengannya dengan adik iparnya itu. Sontak Dariel mendelik tajam dan mengeratkan rahang.
Setelah dua bidadari kecil terlepas, pria ini tanpa sungkan menggendong istrinya menunjukan sikap mesra dan perhatian di depan anggota keluarga.
“Aku merindukanmu sayang.” Mengecup bibir merah delima sang istri penuh gairah.
“Hey, tidak tahu sopan santun. Sebaiknya kalian ke kamar.” Teriak Dwyne melempari kembarannya dengan bantal kursi.
“Kita diusir sayang, ayo ke kamar.” Goda Dariel menempelkan hidung bangir pada pipi merona sang istri.
“Dasar pasangan dimabuk cinta, dunia terasa milik berdua.” Cibir Dwyne yang tertawa karena dirinya pun sama seperti Dariel.
Tanpa mereka perhatikan, Clarissa menyunggingkan senyum kecut di bibirnya.
...TBC...
TAMAT 😍😍😍😍