Mendapati suaminya bercinta dengan adik kembarnya hingga hamil seolah belum cukup membuat Rana menderita, hingga Mamanya meminta Rana untuk berbagi suami dengan adik kembarnya itu, Rania. Karena merasa dirinya ikut andil menjadi penyebab perselingkuhan itu, Rana pun harus mengikhlaskan suaminya menikahi Rania, meski hatinya luar biasa hancur dan kecewa. Belum lagi sikap Rangga yang semakin lama semakin mengabaikan keberadaan Rana, demi Rania yang sedang mengandung anaknya.
Hadirnya sosok Ananta yang selalu menghibur dan membesarkan hatinya, membuat Rana sadar akan rumah tangganya yang mulai tidak sehat lagi. Rana pun menjadi bimbang, antara berpisah dengan Rangga dan kembali pada mantan kekasihnya itu, atau tetap mempertahankan rumah tangganya dan membuat Rania pergi dari kehidupan mereka?
Follow IG @si_nicegirl
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicegirl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Yang Jauh
“Na!” panggil Tasya untuk yang kesekian kalinya, membuat perhatian Rana teralihkan dari layar monitornya,
“Astaga, Tas. Kalau kamu mau istirahat, kamu ke kantin saja duluan, nanti Aku nyusul!”
“Tadinya aku juga memang mau duluan, Na. Tapi ini si Bos. Tahu kamu sudah masuk malah minta Aku ajak kamu makan bareng di Kafe sebelah.”
“Tas please, jangan mulai deh.”
“Ih, aku serius, Na. Nih liat chatnya kalau kamu tidak percaya.”
“Cariin alasan deh, Tas. Banyak file yang harus aku terjemahkan.”
“Kalau alasannya pekerjaan, Bos Nanta pasti bakal kasih kamu dispensasi, Na. Jadi mau kasih alasan apa lagi dong? Sudah banyak bohong aku sama dia,” sungut Tasya.
“Bukan aku yang minta kamu berbohong. Kamu sendiri yang tidak mau kasih alasan yang sebenarnya ke dia kalau aku tidak mau ikut gabung.”
Tasya baru akan membalas Rana ketika ponsel Rana berdering. Melihat nama Rangga yang menari-nari di layar ponselnya, Rana pun segera menerima panggilan telepon suaminya itu,
“Ya, Mas?”
“Sayang, kamu lagi sibuk tidak?”
“Umm tidak. Kenapa?”
“Aku mau ajak kamu makan siang. Sudah lama kita tidak makan siang bareng di luar. Kamu mau kan?”
“Tentu saja aku mau, Mas. Mau makan di mana?” Rana bertanya dengan wajahnya yang berseri-seri.
“Kamu bebas menentukan mau makan di mana kita hari ini,” jawab Rangga dengan sangat lembut.
“Umm, di mana ya?”
“Aku sudah sampai lobby kantormu. Sebaiknya kamu segera turun sebelum mobil lain membunyikan klaksonnya,” kekeh Rangga.
“Ya Tuhan, baik Mas aku segera turun!”
“Rangga?’ tanya Tasya.
“Ya, aku jalan dulu!”
“Tadi bilangnya sibuk banyak yang harus diterjemahin, tapi sekarang pergi begitu saja!” Rana mengabaikan protesan sahabatnya itu. Fokusnya saat ini hanyalah mencapai lobby secepat ia bisa, agar Rangga tidak terlalu lama menunggunya.
“Hai, Cantik. Mau makan di mana kita?” tanya Rangga setelah Rana memasuki mobilnya.
“Kamu ngajak makannya dadakan sih, Aku belum terpikirkan mau makan di mana.”
“Biasanya kamu makan siang di mana?”
“Kantin, Kafe sebelah, atau di manapun sekitaran kantor. Tapi, Aku mau mencoba kafe baru kalau sama kamu, Mas.”
“Jenuh yaa dengan makanan yang itu-itu saja. Bagaimana kalau kali ini kita makan sedikit lebih jauh, sentul misalnya?” saran Rangga.
“Astaga Mas, kejauhan. Belum lagi macetnya, tidak akan keburu balik ke kantor lagi.”
“Memang itu yang menjadi tujuan Mas Hari ini, Sayang. Mas ingin menghabiskan banyak waktu denganmu.”
Menyadari arah pembicaraan Rangga, Rana pun mengerti. Waktu untuk mereka bersama sekarang amatlah minim, mengingat Rangga harus menjadi suami Rania, dan mereka tidak bisa bermesraan selama berada di rumah, kecuali saat tengah malam dan Rangga berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar Rana.
“Tunggu sebentar, aku izin dulu ke Nanta.”
Rana baru saja mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya saat Rangga berkata,
“Apa tidak sebaiknya kamu resign saja, Sayang. Aku sama sekali tidak percaya pada pria yang masih jelas-jelas mencintai kamu itu.”
Rana meletakkan ponselnya di atas pangkuannya saat ia menatap lekat-lekat mata Rangga,
“Mas, sudah berkali-kali kita membahas masalah ini. Aku sudah nyaman bekerja di perusahaan itu, dan aku sama sekali tidak akan merespon Nanta lagi kecuali dalam hal pekerjaan tentu saja.”
Rangga memang paling cemburu dengan Ananta, karena mengetahui perpisahan Ananta dengan Rana bukan karena mereka sudah tidak saling mencintai lagi. Tapi karena Rania yang berulah menjadi Rana dan menggoda Ananta, bahkan menuduh Ananta telah menyetubuhinya.
Meski Rana sama sekali tidak mempercayai tuduhan Rania, namun Rana tetap harus meninggalkan Ananta, karena Rania yang mengancam akan bunuh diri kalau Rana masih terus berhubungan dengan pria itu.
“Tetap saja Mas masih takut kalau suatu saat kamu akan kembali lagi padanya.”
“Mas tenang saja. Apapun hubungan aku dengan Nanta sekarang ini hanyalah sebatas Bos dengan karyawannya saja. Lagipula, sekarang ini Ananta sedang menjalin hubungan dengan Jessica, sekretarisnya.”
“Akhirnya pria itu bisa move on juga darimu.”
“Sudah jangan bahas masalah itu lagi. Kita jadi makan di Sentul?”
“Iya jadi, aku sudah booking salah satu restoran di sana.”
Rana menyipitkan kedua matanya saat bertanya, “Jadi, kamu sudah merencanakan ini dengan sangat matang? Lalu kenapa tadi menyerahkan sepenuhnya padaku? Bagaimana kalau tadi aku menyebutkan salah satu kafe yang ingin aku datangi?”
Seringaian lebar Rangga mengembang di wajahnya, meski berusia delapan tahun lebih tua dari Rana, namun pria itu masih saja terlihat muda,
“Aku akan membujukmu untuk setuju makan di Sentul,” jawabya.
Rana mendengus pelan, “Modus sekali kamu!”
Rangga yang selalu gemas saat Melihat Rana seperti itu pun langsung mencubit hidungnya,
“Memangnya siapa lagi yang harus aku modusin selain istri cantik aku ini,” godanya.
“Ya sudah aku izin dulu ke Nanta.”
Setelah mengatakan itu, Rana pun mengirimkan pesan singkat ke Ananta yang berisikan izinnya pulang cepat karena sedang tidak enak badan. Tidak butuh waktu lama untuk pesan singkatnya itu berbalas,
“Kamu sakit apa, Na?”
Rana pun terbayang raut wajah khawatir Ananta yang sudah ia kenal betul saat membacanya. Bagaimanapun juga, dua tahun lebih ia menjalin kasih dengan pria itu.
“Hanya flu biasa, tapi akan memburuk kalau aku tidak istirahat. Biasanya seperti itu,” balas Rana.
“Ok, get well soon.”
“Thanks.”
“Sudah?” Rangga bertanya setelah Rana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
“Ya, sudah mengantongi izinnya,” jawab Rana.
“Bagus! Kita tidak akan terburu-buru jadinya.”
Kafe yang Rangga pilih merupakan salah satu kafe yang sedang hits saat ini. Terletak di perbukitan yang indah, dengan pemandangan yang tidak kalah indahnya juga. Meski akses menuju ke kafe itu belum sepenuhnya bagus. Karena masih dalam Tahap pengembangan.
“Kamu Suka?”
“Ya, aku lihat di media sosial memang bagus. Tapi tidak sebagus saat melihatnya dengan mata kepala aku sendiri.” Puji Rana tanpa mengalihkan pandangan takjubnya ke sekitar kafe itu.
“Aku sudah dapat menebaknya kamu pasti akan emnyukainya. Tidak Hanya pemandangannya saja yang Indah, menu di kafe ini pun bervariasi dan semuanya lezat.”
Barulah saat itu Rangga mendapatkan perhatian penuh Rana,
“Kamu sudah pernah ke kafe ini sebelumnya?”
“Belum.”
“Lalu darimana kamu tahu kalau makanan di sini lezat-lezat?”
“Aku membacanya di review kafe ini. Aku selalu berpatokan pada review, semakin banyak yang memuji semakin bagus untuk ratenya.”
“Oh, pantas saja percaya diri sekali seolah pernah mendatangi kafe ini.”
Rangga mencondongkan sedikit tubuhnya untuk berbisik di telinga Rana,
“Aku juga sudah memesan Villa di sini. Pemandangannya luar biasa, Aku yakin sekali kamu akan menyukainya juga.”
“Villa? Apa kita akan bermalam di sini?”