Tristan Emilio, menyimpan dendam atas kematian adiknya. Merencanakan pembalasan dendam dengan menyakiti Gendis Nayaka Putri.
"Kehormatan dibalas kehornatan, nyawa dibalas nyawa," ujar Tristan.
"Lakukan apapun semaumu, lampiaskan dendammu tapi jangan sakiti keluargaku," sahut Naya.
Apakah dendam Tristan akan terbayarkan?
Bagaimana nasib Naya setelah merelakan hidupnya untuk membayar kesalahan sang Kakak?
IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Atau Cinta
Tristan berbaring miring menghadap Naya yang sudah terlelap, bertumpu pada salah satu tangan menatap wajah perempuan yang sudah berbagi peluh dengannya. Berada di bawah selimut yang sama, dengan kondisi badan mereka masih polos.
Senyum terbit di wajah Tristan mengingat pergulattan yang dia lakukan bersama Naya. Entah berapa lama Tristan terus menyentuh dan menyatukan diri. Yang terasa berbeda adalah Naya tadi sempat merespon tidak seperti biasanya yang hanya diam saat Tristan menyentuhnya.
Kedua tangan Naya sempat memeluk tubuh Tristan saat berada di bawah kungkungan pria itu, bahkan mulut mungilnya berkali kali mendessah, membuat Tristan semakin bersemangat.
"Sepertinya aku semakin candu dengan tubuhmu, ini bukan lagi tentang balas dendam tapi ...." ucapan Tristan terhenti karena ada pergerakan dari Naya yang menggeser posisi tidurnya. Tristan menyelipkan helaian rambut Naya yang menutupi wajah Naya.
"Sepertinya kamu lelah sekali," ujar Tristan sambil memperbaiki posisi selimut yang menutupi tubuh yang terkulai lemas disampingnya.
Tristan sendiri bingung dengan apa yang dia rasakan. Awalnya dia sangat membenci bahkan saat ini pun dia masih membenci kalau mengingat adiknya pergi karena ulah Daru.
Rencana memanfaatkan Naya, agar mengalami apa yang Sheryl rasakan malah menjadi bumerang karena saat ini Tristan malah enggan melepaskan Naya bahkan memikirkan bagaimana mengikat perempuan itu.
Seperti malam ini, Naya dipaksa untuk tidak pulang oleh Tristan. Ponsel Naya yang sejak tadi berdering dinonaktifkan oleh Tristan.
Esok pagi.
Naya mengerjap membuka kedua matanya. Menggeliatkan tubuhnya yang terasa remuk redam dan menyadari saat ini dia hanya mengenakan selimut. Mengingat kejadian semalam bersama Tristan dan menoleh ke samping, ada Tristan yang masih terlelap dengan posisi tengkurap.
Naya turun dari ranjang dengan perlahan lalu memakai pakaiannya yang terlihat masih berantakan di lantai begitu juga dengan pakaian Tristan.
Naya tiba di rumahnya, masih mengenakan pakaian kerja yang kemarin dia gunakan, Naya akhirnya tiba di rumah. Bersyukur ternyata Daru tidak ada di rumah, padahal Naya sudah membayangkan dia dan Daru pasti akan kembali berdebat. Apalagi saat Naya menghidupkan ponselnya, banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Daru. Naya duduk di tepi ranjang memikirkan nasib hidupnya ke depan.
Dengan kondisi dirinya saat ini, apa masih ada pria yang mau menerimanya bahkan menikahinya dan membina rumah tangga dengan baik.
...***...
Entah Daru pergi kemana, bahkan sampai beberapa hari tidak ada pulang. Termasuk pagi ini, Naya akan berangkat kerja masih belum bertemu dengan Daru.
Sedangkan Naya sejak pagi tadi berada di meja kerjanya, belum melihat Tristan. Ternyata pria itu sedang berada di luar kota menemani Papinya masih urusan perusahaan.
Dion yang meng-handle perusahaan selama Tristan tidak ada, termasuk arahan tugas untuk Naya.
“Naya, tolong urus keperluan Tristan untuk menghadiri ini. Dia akan sampai di Jakarta menjelang acara,” titah Dion sambil menyerahkan kartu undangan yang sepertinya sudah dibaca oleh Dion.
“Oke,” sahut Naya.
Resepsionis menghubungi Naya dan mengatakan ada seseorang yang datang mencarinya. Karena orang tersebut enggan menyebutkan namanya, Naya bergegas turun untuk mengetahui siapa yang datang mencari.
“Kak Daru,” panggil Naya melihat kakaknya duduk di salah satu kursi ruang tunggu.
Daru pun menoleh dan menghampiri Naya.
“Kemana saja kamu?” tanya Daru lirih tapi bisa didengar oleh Naya. Tidak ingin membuat keributan dan akan merugikan mereka berdua.
“Seharusnya aku yang tanya kemana Kak Daru beberapa hari ini. Sia-sia pengorbananku agar Kak Daru tetap bisa menemaniku taunya malah hidup tidak jelas di luar sana,” ucap Naya.
“Aku ingin bertemu dengan Bos kamu dan buat perhitungan. Kamu nggak pulang karena bersama dia ‘kan?”
Naya menatap sekeliling, pembicaraan mereka mulai memanas. Tidak ingin menjadi konsumsi dan tontonan orang, Naya pun mengusir Daru.
“Baiknya Kak Daru pulang, kita akan bahas ini di rumah.”
“Tidak bisa, aku harus bertemu pria brengs*k itu.”
“Nggak ada Kak, dia nggak ada. Tidak setiap hari dia stay di sini,” ujar Naya berdusta.
“Aku tidak percaya.”
“Kak, urusan Kak Daru dengan adiknya Pak Tristan itu belum selesai. Kak Daru mau buat masalah baru dengan berulah di sini? Apa masih kurang, pengorbanan aku.”
“Aku tidak pernah minta kamu berkorban.”
“Tapi dari awal aku sudah menjadi pelampiasan dendam Pak Tristan.”
Daru mengusap kasar wajahnya.
“Pergilah Kak, jangan buat segalanya semakin kacau.”
Daru akhirnya pergi dengan wajah tidak bersahabat sedangkan Naya kembali ke meja kerjanya. Saat jam pulang, kedua rekan Naya sudah pulang lebih dulu. Naya masih mendapatkan arahan dari Dion terkait menyiapkan kebutuhan Tristan.
“Kamu ke butik itu, ambil pesanan Tristan dan bawa ke lokasi. Mengerti?”
“Mengerti, Pak.”
Kemudian Naya pulang setelah membereskan meja kerjanya. Saat keluar dari lobby menuju halte yang berada di depan pagar kantor, terdengar klakson motor. Naya pikir pengemudi motor terganggu dengan langkah Naya, ternyata Adi rekan Naya sebelum dia dipindah menjadi sekretaris Tristan.
“Mau kemana?” tanya Adi berhenti di samping Naya dan membuka kaca helmnya.
“Oh Mas Adi. Mau pulang dong, mau kemana lagi,” jawab Naya.
“Bareng yuk, cepat naik,” ajak Adi.
“Nggak apa, Mas Adi duluan aja,” tolak Naya.
“Udah naik, gue tahu kok tempat tinggal lo. Kita searah, nanti lo bisa turun di ujung gang,” saran Adi.
“Kok Mas Adi tahu?”
“Pernah lihat, ayo cepet.”
Akhirnya Naya memenuhi ajakan Adi. Dion yang hendak masuk ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari lobby, menyaksikan momen tersebut. Tersenyum lalu mengabadikan dengan kamera ponselnya dan mengirimkan pada Tristan.
“Kita lihat apa reaksi bos kamu Naya. Kalau dia marah berarti bukan lagi dendam tapi cinta,” gumam Dion yang mulai kesal pada Tristan terkait urusan Naya.
Dion merasa kasihan dengan Naya, gadis polos yang saat ini terjebak menjadi pelampiasan naf su Tristan.
gentala & ajeng
kerennnnnnnn lahhhhh pkknya
tristan²... kamu kan blum tau crta aslinya gmn, main bales dendam aja, hati² besok nyesel aja, tau rasa deh
Naya gak ada salah apapun. Sheryl juga salah karena gak bisa jaga diri.
pengecut kau... semoga kau bucin sama naya