Dendam dan Cinta gila yang membuatnya buta.
Arya Bimo Lee, seorang CEO blasteran Indonesia-Korea, kembali dari perjalanan bisnisnya dan menemukan calon istrinya sudah menikah dengan pria lain.
Ia tidak terima dan berniat merebut kembali perempuan yang sudah bersuami itu.
Memutuskan menikahi Miyu Kara Santana, adik perempuan dari pria yang telah memperistri kekasihnya. Niatnya tak lain dan tak bukan adalah untuk bisa lebih dekat dengan sang mantan dan merebutnya.
Akankah usahanya berhasil membuat pernikahannya sendiri dan kakak iparnya hancur?
Dan bagaimana reaksi Miyu Kara Santana ketika tahu bahwa pernikahannya hanyalah pernikahan dusta?
Mampukah ia bertahan atau malah meninggalkan hubungan yang tidak sehat itu?
Pantengin kisahnya hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Mencuri Pandang
Arya menarik nafasnya yang terasa sangat berat. Dadanya sungguh sangat sesak sekarang. Sebuah pernikahan dusta yang awalnya ia harapkan hancur kini benar-benar hampir terjadi saat ia sudah tidak menginginkan hal itu.
Dan sekarang ia tak bisa lagi mengelak karena sudah terbukti kalau punya perasaan yang sangat kuat pada Sherina Majid. Meskipun itu dulu sebelum ia menyadari betapa berartinya istrinya sekarang ini.
"Oh ya Tuhan, apa yang harus Aku lakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri. Perasaan bersalah karena telah menyakiti perempuan itu kini Menguasai relung hatinya.
Dan sekarang ia tak punya nyali lagi untuk bertemu dengan Miyu. Seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa dan menjadi korban dendam dan cinta butanya.
"Tuan. Untuk makan malam nanti, Apakah ada makanan tertentu yang ingin anda makan?" Mbak Rina bertanya dan berhasil membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Mbak, tanyakan sama Nyonya Miyu. Dia mau makan apa. Kalau Aku terserah saja. Aku ikut apa yang dia inginkan." jawab Arya seraya menyandarkan punggungku pada sandaran sofa yang ia duduki.
"Baiklah Tuan. Saya akan menemuinya di kamar utama." ujar Mbak Rina kemudian segera berlalu dari hadapan majikannya. Arya menutup matanya mencoba untuk beristirahat. Saat ini ia sedang lelah.
Sementara itu, Mbak Rina memasuki kamar majikannya setelah meminta izin untuk masuk.
Perempuan itu menemukan istri dari Arya Bimo Lee sedang membereskan bantal dan selimut yang berserakan di lantai kamar karena perbuatannya sendiri.
"Duh maafkan saya Nyonya, biar saya yang bereskan kamar ini," ujar Mbak Rina seraya membantu perempuan berhijab itu untuk membereskan kekacauan yang terjadi di dalam kamar itu.
"Gak apa-apa Mbak Rina, Aku biasa kok membersikan kamar sendiri. Di rumah kami, hanya punya Mak Siti yang membantu kami untuk masak jadi yang membersihkan adalah Aku sama Mbak Sherina," ujar Miyu tersenyum.
"Oh gitu itu ya Nya? kalau di rumah ini sih ada banyak Asisten Rumah Tangga yang akan siap melakukan semuanya untuk Tuan dan Nyonya." ujar Mbak Rina dengan wajah menunduk sopan.
"Nyonya Miyu tinggal bilang aja, mau apa nanti kami siapkan." lanjut perempuan itu dengan sikap yang sama.
"Duh, jadi merepotkan Mbak Rina dong. Gak apa-apa kok Mbak. Selama bisa Aku kerjakan maka akan Aku kerjakan. Nanti kalau udah gak sanggup pasti akan minta bantuan sama Mbak Rina." ujar Miyu tersenyum lalu melanjutkan dengan tertawa.
"Kalau Aku gak kuat Aku pasti akan melambaikan tangan pada kamera ya Mbak hihihi." Mbak Rina ikut tertawa dibuatnya.
Perempuan itu tidak menyangka akan bertemu dengan majikan muda, cantik, dan ceria seperti istri dari Arya Bimo Lee. Seorang CEO yang kadang nampak sangat dingin dan juga arogan.
"Nah sekarang, Nyonya mau makan apa untuk makan malam sebentar malam?" tanya Mbak Rina yang baru ingat kalau ia datang ke kamar itu untuk menanyakan keinginan Nyonya Mudanya.
"Siapkan makanan yang biasa aja Mbak. Aku ini omnivora, pemakan segala jenis makanan. Yang penting halal dan lezat, InsyaAllah Aku makan."
"Iya, baik Nyonya. Kalau begitu saya permisi ke Dapur untuk memberitahukan pada Bibi di sana."
"Ah iya silahkan Mbak. Aku juga sekarang mau mandi." Mbak Rina pun pergi dari kamar itu untuk melanjutkan mengerjakan tugasnya.
Sedangkan Miyu segera mencari pakaian gantinya yang masih berada di dalam koper yang ia bawa tadi sore dari rumah sang Ayah.
Miyu melupakan sedikit masalahnya karena punya teman bicara seperti Mbak Rina. Meskipun berbeda usia yang banyak tetapi ia merasa pelayan itu lebih bisa ditemani bicara daripada Arya Bimo Lee, sang suami yang memiliki cinta dan hasrat pada yang lain.
Setelah mandi, waktu magrib pun masuk. Ia sholat sendiri dan membaca Alquran sampai waktu isya tiba.
Arya sang suami samasekali tidak muncul di dalam kamar itu sejak ia bersitegang dengan pria itu tadi Sore.
Miyu tidak perduli. Bahkan kalau tidak datang pun itu lebih baik. Ia masih sangat kesal pada pria itu karena ia samasekali tidak membantah apa yang ia katakan.
"Makan malam sudah siap Nyonya. Tuan Arya sudah menunggu anda di meja makan." Miyu tersenyum lebar kemudian menjawab,
"Aku sudah lama menuggu undangan ini Mbak Rina. Perutku sedari tadi keroncongan minta makan, hehehe." ujar Miyu terkekeh.
"Waduh, Maafkan saya kalau begitu Nyonya. Kata Tuan Arya anda biasanya tidak mau makan kalau belum sholat isya."
Deg
Miyu menatap wajah Mbak Rina dengan tatapan penuh tanya, "Apa benar dia mengatakan hal itu?"
"Iya Nyonya. Katanya kebiasaan di rumah mertua Tuan Arya harus dilaksanakan di sini juga." jawab perempuan itu dengan wajah tertunduk.
"Hah?" mulut Miyu membola dengan apa yang barusan dikatakan oleh pelayan itu.
"Iya Nyonya, kami semua sudah briefing oleh Tuan Arya. Dan semua kebiasaan dan aturan di Rumah mertua harus kami laksanakan di sini supaya Nyonya Miyu tidak merasa asing di Rumah yang baru ini."
"Hah?" sekali lagi mulut Miyu membola. Ia tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya barusan.
Ah iya. Semua urusan di rumah Ayah kan Mbak Sherina yang ngatur jadi tentu saja Arya di minyak goreng itu hafal betul apa saja peraturan dan kebiasaan di Rumah itu.
Hem, kamu jangan baper ya Miyu.
Miyu mencibir dengan segala pikiran-pikiran yang melintas di dalam kepalanya.
Perempuan itu pun keluar dari kamar itu mengikuti langkah Mbak Rina. Ia belum hafal letak-letak ruangan di dalam rumah bagai istana itu.
Di meja makan, ia melihat Arya sudah duduk dengan tenang. Menghadapi berbagai macam menu makanan di depannya.
Ia pun duduk setelah dipersilahkan oleh Mbak Rina. Meja makan besar itu hening. Tak ada uang memulai pembicaraan. Mereka berdua hanya saling menatap dalam ekspresi yang berbeda.
Kruukk
Miyu menutup mulutnya malu karena tiba-tiba saja perutnya berbunyi karena sudah kelaparan.
"Makanlah, peternakan di dalam perutmu sepertinya sudah butuh nutrisi." ujar Arya seraya menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Ia takut istrinya akan bertambah kesal lagi padanya.
"Terimakasih banyak Pak Arya atas sedekah anda pada peternakan cacing dalam perutku." jawab Miyu dengan bibir mencibir. Ia langsung mengisi piringnya dengan beberapa menu yang ada di atas meja itu.
Dan tanpa permisi, ia kemudian segera menyantap makanan itu dengan khusuk bin lahap. Arya tersenyum kemudian ikut makan.
Pria itu kadang melirik istrinya yang benar-benar menikmati makan malam itu. Ia bersyukur karena meskipun kesal padanya, perempuan cantik itu tetap mempunyai nafsu makan yang tinggi.
"Kenapa lihat-lihat? Aku terlalu makan banyak ya?" Mata bulat Miyu mendelik kesal karena tahu kalau suaminya sering mencuri-curi pandang padanya.
Arya Bimo Lee tersentak sampai tersedak karena ketahuan sering mencuri pandang padanya.
"Uhukkkk uhukkkk uhukkkk."
🍀
*Bersambung
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
dia,