Demi membayar biaya pengobatan ibunya yang tidak sedikit, Bayu harus berhutang ke semua orang yang mau meminjaminya uang. Dari awalnya yang hanya beberapa juta, terus menumpuk hingga mencapai seratus juta lebih.
Gaji Bayu yang tidak seberapa, semua habis hanya untuk membayar hutang. Ia sangat bersyukur ketika bisa makan, meski itu hanya nasi putih dan kecap, tanpa lauk apa pun.
Namun, kehidupan Bayu berubah ketika dirinya mengalami sebuah kecelakaan. Bayu awalnya berharap hidupnya berakhir saat itu juga. Harapan itu tidak terwujud. Justru, sebuah keajaiban muncul di hidup Bayu.
Apa yang akan Bayu lakukan selanjutnya setelah dia mendapatkan sebuah Sistem? Apakah dia akan berubah menjadi sombong, ataukah justru menjadi seorang yang dermawan. Ikuti kisah Bayu dalam mejalani misi-misi yang sudah Sistem berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyoka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKK 18 | Balikan?
“Aku baik-baik saja, sungguh. Jika kalian tidak percaya, lihat saja ini,” ucap Bayu yang sekarang langsung berdiri dari tempat duduknya. Ia lalu melakukan beberapa kali lompatan yang terbilang cukup tinggi.
Jika Bayu kesakitan maka dia tidak akan bisa melakukan lompatan seperti itu. Mereka yang mengetahui mengenai keadaan Bayu sebelum ini, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Meski sulit, tapi kenyataannya Bayu terlihat baik-baik saja sekarang.
“Kamu benar-benar baik-baik saja ternyata,” ucap Kaela yang masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ya aku baik-baik saja. Sepertinya kita tidak bisa mengobrol di sini. Kita pindah ke tempat lain saja,” ucap Bayu setelah mengetahui mereka menjadi objek tontonan dari semua orang yang ada di kafe itu.
“Aku akan membereskan semua yang ada di sini Tuan Muda. Sebaiknya sekarang Anda menunggu di mobil dahulu. Setelah ini aku akan menyusul ke sana,” ucap Keano.
“Baiklah.”
Bayu pun memimpin yang lain menuju ke mobil miliknya, yang merupakan pemberian Danial. Sebelumnya, Danial berniat memberikan Bayu sebuah mobil keluaran BMW. Namun, itu terlihat terlalu mewah untuk Bayu.
Meski berkat Sistem dan juga bantuan dari Danial kehidupannya sudah jauh lebih baik, Bayu tidak ingin kehidupannya langsung berubah begitu saja. Maka dari itu, ia hanya menerima mobil Avanza yang tidak terlalu mencolok. Beruntung Bayu memilih mobil ini sehingga semua bisa masuk ke dalam satu mobil.
Selama perjalanan menuju mobil, Bayu sangat berhati-hati dengan apa yang ia lakukan. Sekarang ini, Bayu belum bisa sepenuhnya mengontrol kekuatan barunya. Ia tidak mau kejadian gelas tadi terulang, dan itu terjadi pada manusia bukan gelas lagi.
“Bayu, sebaiknya Kamu semobil aja dengan Anya. Aku liat dia bawa mobil ke sini. Aku dan Arista bisa nungguin Keano aja,” ucap Kaela ketika melihat mobil Anya tidak jauh dari tempat mereka berada. Kaela ingin memberi kesempatan bagi Bayu dan Anya untuk mengobrol bersama. Ia yakin mereka memiliki banyak hal yang ingin dibicarakan berdua.
“Iya benar. Biar kita nggak berdesak-desakan di mobil, lebih baik Kamu bareng Anya aja, Bay,” imbuh Arista, yang seolah tahu apa tujuan Kaela melakukan hal itu.
“Ehm, baiklah,” ucap Bayu pada akhirnya setelah melihat Anya menatapnya dengan tatapan penuh harap. Bayu yakin ia melihat mata Anya berbinar setelah mendengar jawabannya.
…
“Jadi, gimana kabarmu, Bay?” tanya Anya setelah mereka berada di dalam mobil. Sepertinya Anya tidak berniat menjalankan mobilnya dan memilih mengobrol terlebih dahulu dengan Bayu.
Bayu bisa merasakan cara Anya menatapnya, sama seperti caranya menatapnya ketika mereka masih berpacaran dahulu. Tatapan kekaguman bercampur dengan tatapan mendamba.
“Baik. Sekarang aku jauh lebih baik. Dari segi kesehatan dan ekonomi, sekarang aku lebih baik daripada dahulu,” jawab Bayu.
“Syukurlah Kamu jauh lebih baik sekarang. Namun, aku tidak terlalu baik sekarang. Kamu tahu, aku masih belum sepenuhnya sembuh dari rasa sedih setelah kita putus. Aku masih tidak bisa menerima semua itu,” ucap Anya yang kini berubah sedih.
Bayu sendiri bingung harus menjawab apa sekarang. Bisa dibilang dahulu dirinyalah yang memutuskan Anya secara sepihak. Sudah jelas Anya sulit menerima hal itu. Apalagi, saat itu mereka berdua masih saling sangat menyayangi satu sama lain.
“Maafkan, aku Anya. Dengan keadaanku saat itu, aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku tidak mau Kamu terseret dalam masalahku yang cukup pelik,” jelas Bayu.
“Tapi kenapa harus putus gitu aja? Kita masih bisa ngejalanin hubungan dengan baik bukan? Kamu juga seharusnya minjam uang ke aku aja. Atau aku kasih juga nggak masalah. Kenapa pake pinjem ke rentenir? Kalo Kamu nggak ngelakuin itu, maka hubungan kita akan baik-baik saja sekarang.”
Bayu hanya diam, tidak bisa menjawab pertanyaan Anya tersebut. Ucapan Anya memang ada benarnya, jika ia tidak meminjam uang kepada rentenir, maka kehidupannya tidak akan seberantakan sekarang. Namun, apa yang terjadi sudah terjadi. Bayu tidak bisa mengulang semua itu lagi.
“Lalu, Kamu ingin kita bagaimana sekarang?” tanya Bayu.
“Bisakah kita balikan? Bisakah kita kembali berpacaran kayak dulu?” tanya Anya penuh harap.
Bayu hanya diam, tidak langsung menjawab ucapan Anya. Ia hanya memandang tepat di mata Anya. Saat ini Bayu memang tidak memiliki kekasih, tidak ada pula orang yang ia sukai. Namun, entah kenapa Bayu cukup sulit untuk menyetujui ajakan Anya yang satu ini.
“Kenapa? Kenapa Kamu diam aja? Kamu nggak setuju?”
“Entahlah. Aku nggak yakin aja.”
“Apa Kamu sekarang udah punya pacar? Atau Kamu udah ketemu orang baru yang Kamu suka?” tanya Anya.
“Tidak. Tidak ada.”
“Lalu kenapa?”
“Aku hanya tidak yakin aja,” ulang Bayu. “Kamu tahu, kita sudah lima tahun tidak bertemu. Tidak ada komunikasi yang terjalin di antara kita berdua. Aku berubah, Kamu berubah. Aku nggak yakin hubungan kita akan berjalan baik jika kita langsung balik pacaran gitu aja,” jelas Bayu.
“Nggak yakin hubungan kita berjalan baik? Hanya karena itu? Bukankah dulu Kamu nggak terlalu memikirkan hal itu ketika ngajak aku pacaran. Kita bisa jalanin aja semuanya kayak dulu bukan?”
“Tetapi sekarang ini sangat berbeda, Anya.”
“Apa yang beda? Bukankah sama aja? Aku masih Anya yang sama. Tidak banyak yang berubah dariku. Jadi, semuanya akan baik-baik saja bukan?”
“Ini sangat beda, Anya. Dulu, aku pacaran denganmu hanya pacaran ala anak SMA. Sekarang ini aku nggak bisa ngejalanin pacaran kayak gitu. Umur kita udah dua puluh tiga tahun, Anya. Di umur yang sekarang, aku ingin menjalani pacaran yang serius, dengan tujuan membangun rumah tangga bersama.”
“Sedikit banyak ada perubahan pada diri kita, Anya. Dan aku nggak sepenuhnya yakin kita bisa menerima perubahan satu sama lain, untuk bisa memutuskan menjalani hubungan bersama,” jelas Bayu.
“Jadi apa keputusanmu?” tanya Anya.
“Kita perlu saling mengenal lagi satu sama lain. Rasa cinta nggak cukup untuk membangun rumah tangga, Anya. Kita perlu menyamakan visi dalam membangun hubungan.”
“Hubungan tanpa status, begitu maksudmu?”
“Mungkin seperti itu. Kita saling mengenal kembali untuk membangun komitmen bersama,” jawab Bayu.
“Berapa lam? Berapa lama waktu yang Kamu inginkan untuk kita saling mengenal kembali?” tanya Anya.
“Entahlah. Yang jelas, ketika aku sudah memiliki keputusan, aku akan memberitahumu mengenai hal itu.”
“Hah.” Terdengar hembusan napas panjang dari Anya di mobil itu. Anya lalu memalingkan wajahnya, memandang ke arah lain, selain Bayu.
Anya tidak mengerti mengenai jalan pikiran Bayu. Jelas sekali jika dia masih sangat peduli dengan dirinya. Buktinya, tadi ketika ia hampir menginjak pecahan gelas, Bayu langsung berlari dan menghadangnya. Laki-laki itu bahkan sempat memarahinya. Jika itu tidak peduli, lalu apa?
Sekarang, giliran Anya mengajaknya untuk kembali berpacaran, Bayu justru menolaknya begitu saja. Kenapa tidak menerima saja ajakan itu dan saling mengenal kembali dalam hubungan berstatus pacar?
“Baiklah. Jika itu yang Kamu mau, aku akan melakukannya,” jelas Anya.
“Terima kasih sudah ngertiin aku, Anya,” ucap Bayu.
Bayu sendiri sebenarnya ingin menyetujui ajakan Anya. Sangat ingin. Namun, sekarang ini Bayu tidak ingin membagi fokusnya. Bayu masih sibuk menjalani misi pemberian Sistem. Ia ingin fokus dalam memperkaya diri sebelum kemudian memikirkan hal yang lain.
Bayu ingin memberikan yang terbaik, bagi siapa pun itu yang menjadi pasangannya kelak. Ia tidak mau memberikan sesuatu yang tidak pasti seperti sekarang ini.
Meski Sistem miliknya sudah bisa diharapkan sekarang, tetapi itu belum sepenuhnya memberikan rasa aman secara ekonomi menurut Bayu. Mungkin, mungkin saja ketika keadaannya lebih stabil lagi, Bayu akan mengajak Anya untuk kembali menjadi pacarnya.