Bahagiana Bahtiar adalah wanita cantik, cerdas dan kaya raya dari keluarga terpandang. Sosok yang tak pernah percaya dengan namanya cinta, kekasih, suami. Karena sesuatu terjadi pada salah satu organ tubuhnya, dia dijodohkan oleh sang Papi dengan Balin Azura, pria dewasa dan tampan dari kalangan biasa.
"Ilmu gaib apa yang kau gunakan hingga berhasil mencuci otak Papi?" bentak Bahagiana seraya berkacak pinggang, menatap tajam.
"Asal kau tahu bahwa salah satu dalam organ tubuhmu itu adalah alasan utamaku menerima PERJANJIAN PERNIKAHAN ini!" Batin Balin dengan perasaan murka karena kalimat yang dilontarkan Bahagiana.
"Tidak bisa menjawab? uang, harta dan kekayaan? selamat kau berhasil!" Teriak Bahagiana untuk kesekian kalinya.
Bagaimana kisah antara Bahagiana dengan Balin? dua sosok beda karakter, martabat yang akan hidup satu atap.
Ikuti kisahnya di karya author recehan ini yang masih banyak kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 18. Cangung
Karena sadar dengan apa yang mereka lakukan. Seketika bahagia melepaskan pelukan itu serta memundurkan dirinya.
Rasa kikuk meliputi dirinya. Inilah pelukan pertama pria lain selain Papinya. "Bodohnya kau Gia!" Rutuk Gia pada dirinya sendiri.
Bukan hanya Bahagiana yang merutuki diri sendiri tetapi Balin juga melakukan itu. Sungguh kejadian tadi membuatnya terlena.
Hmm
"Ayo kita makan?" Balin berusaha membuat suasana yang awalnya tegang.
Bahagiana yang biasanya acuh kini seperti orang yang habis ketahuan mencuri sesuatu. Ia berjalan dengan kepala menunduk.
Makanan yang dibawakan Balin sudah tertata di atas meja sofa, sofa tempatnya tidur beberapa hari ini.
Mereka makan dalam diam, hanya terdengar kunyahan halus diantara mereka.
"Pasti mereka mengumpat diriku, dan mengatai manja!" Tebak Bahagiana seakan tahu kebiasaan Mami Maya maupun Rika.
Balin menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan Bahagiana memanglah benar. "Sepertinya hubungan kalian tidaklah baik?" pungkas Balin.
Bahagiana melengkung kecil bibirnya mendengar perkataan Balin.
"Entah aku atau mereka yang tidak mengerti dalam hal ini," sahut Bahagiana seakan engan untuk berkomentar lebih dalam. Biarlah Balin sendiri yang menilai.
Balin manggut-manggut.
"Aku juga yakin jika mereka tidak menyukaimu!" Tebak Bahagiana seakan tahu.
Mendengar perkataan Bahagiana membuat Balin mendongak. Menatap wajah cantik itu yang sedang mengunyah.
Apa yang dikatakan istrinya itu memang benar. "Sepertinya begitu!" Balin menjawab dengan singkat.
Tidak terasa makanan mereka habis.
Tok tok
Pintu kamar diketuk dari luar.
"Masuk!" Sahut Bahagiana.
Klek
Pintu dibuka, ternyata itu adalah pelayan.
"Maaf Non, Pak saya hanya ingin membawakan piring kotor," ucap wanita paruh baya tersebut yang sudah puluhan tahun mengabdi kerja di rumah ini.
"Iya Bi. Kenapa repot-repot? Gia bisa bawa sendiri," ucap Bahagiana dengan nada lembut.
Sang Bibi tersenyum, dan mulai mengumpulkan dan meletakan di atas napan.
+++
Usai makan malam keduanya saling sibuk dengan laptop masing-masing. Membereskan pekerjaan yang belum selesai di kantor.
Bahagiana yang menempati meja kerjanya sedangkan Balin menempati sofa tempatnya tidur.
Rasa kantuk mempengaruhi konsentrasi Balin hingga membuatnya beranjak dari tempat duduknya. Sekilas pandangannya ke sosok Bahagiana yang lagi serius menatap layar laptop.
Balin memasuki kamar mandi. Membasuh wajahnya dan memoleskan krim pencuci muka. Ritual sebelum tidur sudah usai kini ia kembali keluar.
Rasa kantuk belum juga hilang hingga membuatnya menutup laptop, membaringkan tubuhnya.
Dalam sekejap ia terbawa ke alam mimpi. Lampu yang biasa membuat masalah tidurnya terganggu seakan tak pengaruh lagi.
Hoamp...
Bahagiana menguap, disertai sorot mata sayu. Matanya sudah berat di segarkan kembali. Rasa kantuk juga meliputi dirinya.
Ia lirik jam yang terpajang di atas sisi meja kerja. "Hmm ternyata sudah larut malam," gumamnya.
Ia beranjak dan menatapi sofa yang ditempatkan Balin. Ia dapat melihat sosok tampan itu tidur dengan sangat nyenyak dari jarak cukup jauh.
"Aku bahkan tak sadar jika sudah menyandang sebagai seorang istri!" Batin Bahagiana dengan mulut terkatup. Menghela nafas kasar.
Tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak ia pun melangkah masuk ke kamar mandi. Melakukan ritual seperti biasanya sebelum beranjak tidur.
Tidak butuh waktu lama. Bahagiana kembali ke kamar, langsung menuju ranjang.
Ia baringkan tubuhnya di sisi ranjang, menyelimuti tubuhnya sebatas dada. Sesaat pikirannya melayang-layang sebelum mimpi menjemput.
Tak butuh lama ia juga menyusul Balin masuk ke alam mimpi yang tentunya mereka yang tahu.
Malam-malam itu mereka lalui tanpa melakukan hubungan suami istri. Jangankan melakukan kewajiban, tidur saja mereka terpisah.
Bersambung....
🌹🌹🌹
Jangan lupa tinggalkan like vote favorit hadiah dan komennya agar author lebih semangat lagi
jangan lupa juga yaaa kak mampir vote dan likenya cmiww💐