"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Kenapa kamu ada di luar rumah?” Matahari sudah naik. Yudhistira menunggu dua jam di jembatan, sedangkan Aqeel dan Maura baru mengeluarkan diri dari penginapan. Maura menunduk dan tidak menjawab.
“Kenapa diam?” Aqeel terdengar jengkel.
“Aku tersesat,” Maura memilih berbohong.
“Jembatan Ampera dari rumah kita sangat jauh. Kamu senang sekali membohongiku, ya? Apakah bayi itu yang membuatmu senang berbohong seperti ini?”
“Bukan salahnya,” Maura menampik. Entah kenapa, sudah menjadi kebiasaan Aqeel menyangkut-pautkan semua itu dengan kandungannya.
“Kita makan sebelum pulang,” Aqeel menarik lengan Maura. Dengan melihat perut perempuan itu Aqeel tahu Maura tidak makan, tidak ada makanan yang mengisi perutnya kecuali sebuah bongkahan daging anaknya.
“Satu hal yang kusuka saat kamu hamil,” Aqeel berkata saat melihat Maura makan dengan lahap. “Nafsu makanmu bertambah.” Aqeel tidak tersenyum, meskipun lelaki itu terlihat senang. “Tapi nafsumu padaku berkurang.” Maura berhenti mengunyah. Suasana hati Aqeel terlihat buruk.
Aqeel merogoh saku celananya. Menemukan tablet obat yang tidak sengaja dia simpan di saku celana. Aqeel membuangnya ke tong sampah.
“Kamu makan untuk dua orang ‘kan? Dan sepertinya bocah kecil itu lebih rakus darimu. Jadi makanlah, habiskan semuanya.” Maura mengangguk dan lanjut makan. Aqeel benar, Maura menjadi rakus, yang membuktikan anaknya yang ada di dalam sana lebih rakus.
Aqeel berhenti mengunyah. Entah kenapa pemandangan di depannya lebih bagus; Maura yang seperti anak kecil kelaparan. “Mau minum?” Aqeel menyodorkan jus saat melihat Maura banyak memasukkan makanan dan mengunyahnya, tapi belum meminum apapun sejak tadi. Senyum Maura mengembang, secara tidak langsung Aqeel juga perhatian pada anaknya. Wanita itu menerimanya dan menenggaknya.
Desah lega Maura membuat Aqeel semakin memerhatikannya.
“Kamu ingin membungkus beberapa makanan?” Aqeel bertanya. Maura mengangguk saja, Aqeel bangkit dari tempat duduknya untuk membungkus apa yang Maura mau. Aqeel memerhatikan piring di atas meja, meneliti makanan mana yang paling lahap Maura makan. Setelah memutuskannya, Aqeel membungkus empat jenis makanan yang paling banyak memenuhi perut Maura.
Setelah makan, keluar dari warung makan terampung tersebut Maura bermanja di lengan suaminya. Maura ingin mengambil hatinya, meluluhkannya, agar tangan bertato lelaki itu tidak mengambil tindakan lain. Aqeel terlihat datar, sebelah tangannya membawa plastik berisi makanan.
“Bagaimana dengan empat teman yang kamu maksud?” Maura bertanya.
“Yap, nanti kuperkenalkan. Mereka tengah menginap di hotel.”
Maura mengulum senyum. Mereka masuk ke dalam mobil, duduk di bangku belakang. Yudhistira yang sempat tertidur setelah salat Subuh segera dibangunkan oleh Aqeel. Yudhis menyiram air botol ke wajahnya lalu melajukan mobilnya, sebelum Aqeel meneriakinya. Tangan Aqeel ada di bahu Maura, mengusapnya, lalu turun ke dadanya. Saat singgah di perutnya, usapan Aqeel berhenti sesaat. Tiba-tiba meremuknya, Maura langsung berubah ketakutan. Terdengar ringisan kecil Maura, membuat remukan Aqeel terlepas.
Tangan Aqeel turun lagi, mengusap lutut Maura, lalu kepalanya berpindah ke sana, mencium lutut Maura. Aqeel meletakkan kepalanya ke pangkuan Maura. Maura terlihat berhati-hati, takut Aqeel melakukan sesuatu kepada kandungannya. “Dari sini, kamu terlihat begitu cantik, wanita.” Aqeel mengembangkan senyum, menatap Maura yang merunduk dari bawah.
“Dari sini, kamu juga terlihat tampan, suamiku.”
Aqeel menarik tengkuk Maura mendekat, napas hangatnya menghembus. Sejenak bibir mereka bertemu, Yudhistira yang tahu apa yang terjadi dari kaca spion menelan saliva gugup, takut ketahuan mengintip meskipun tidak sengaja.
Masih mencium Maura, Aqeel yang tahu apa yang Yudhis lihat mengambil pistolnya dan menodongkannya ke punggung kepala Yudhis. “Melihat kami lagi, aku tidak segan menembak kepalamu, Yudhis. Jangan membuat Maura enggan dan merasa tidak nyaman.”