Suara tangisan bayi menyita perhatian seorang pemuda yang sedang duduk di taman. kakinya melangkah mendekati sumber suara. Ia meraih bayi mungil itu dan menggendongnya dengan penuh kelembutan. "Alesya." gumamnya membaca ukiran kalung berlian di leher bayi cantik itu.
Bayi kecil itu kini sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dengan Alex sebagai orang tua tunggalnya. Rasa sayang pada anaknya telah berubah menjadi cinta pada seorang wanita. Alex berusaha menepis namun tidak bisa. Pria itu ingin memiliki Alesya. Menjadikan gadis itu sebagai ratu di hatinya.
Mampukah Alex mempertahankan Alesya untuk tetap di sisinya di tengah pencarian keluarga kandung gadis itu?
Bisakah Alex membuat gadis itu menerima perasaannya?
Ikuti terus cerita menarik ini.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancur
Satu tahun berlalu begitu cepat. Al kini sudah berusia tujuh belas. Ia sudah merayakan ulang tahunnya bersama keluarga kemarin dan kini gadis itu akan merayakannya bersama sang Daddy. "Kita mau kemana Dad?" Tanya Al saat dalam perjalanan menuju tempat yang entah Ia juga tidak tahu. "Kemanapun. Kita akan bersenang senang sayang." Jawabnya penuh makna.
Seperempat perjalanan keduanya telah sampai di sebuah Villa mewah. Alex langsung turun dan membukakan pintu untuk putrinya. Pria itu menggenggam tangan Al dengan erat. Membimbing gadis itu untuk masuk ke dalam. "Tidak ada orang ya Dad?" Tanyanya dan Alex menggeleng sembari tersenyum. "Hanya kita berdua disini. Para pekerja sudah Daddy perintahkan untuk cuti." Jelasnya membuat Al mengangguk paham.
Setelah puas berkeliling. Alex langsung mengantarkan Al masuk ke dalam kamar. "Kamu istirahat dulu ya. Daddy mau ambil makan. Nanti Daddy kembali lagi." Alesya mengangguk. Gadis itu menurut saja dengan apa yang dikatakan Daddynya. Al melangkahkan kaki menuju balkon. Gadis itu menghirup udara yang begitu sejuk dan menyegarkan. Pemandangan sangat cantik dari atas sana. Hamparan kebun teh yang luas dan sungai sungai nampak menyejukkan mata.
Alex tampak berbicara dengan orang di sebrang sana melalui poselnya. "Jangan ganggu aku." Katanya dengan kesal. "Sudah aku bilang kau tidak perlu ikut campur. Ini urusanku." Pria itu langsung memutuskan panggilannya. "Hanya ini satu satunya cara." Lirih pria itu sembari membawa nampan yang sudah penuh dengan makanan.
"Sayang." Panggil Alex ketika memasuki kamar Al. Gadis itu tersenyum kemudian masuk ke dalam. "Ayo makan dulu." Alex duduk di sofa menyusul Al yang sudah terlebih dahulu duduk disana. "Daddy masak sendiri?" Tanyanya. "Tidak. Daddy bawa dari rumah. Tinggal di panaskan saja. Ayo makan." Kata pria itu dan Al mengangguk. "Ini Villa milik Daddy?" Tanya Al di sela sela makan. "Iya. Kamu suka?" Al mengangguk. Jujur Ia menyukai villa ini. Desainnya minimalis dengan tempat yang nyaman dan indah. "Daddy senang kamu suka. Karena ini Daddy beli untuk hadiah ulang tahun kamu." Alesya tersedak begitu terkejut dengan apa yang diucapkan Daddynya. "Pelan pelan sayang." Tuturnya sembari membantu Al minum. "Dad...." Ia memandang Alex. "Benar Sayang. Daddy beli ini untuk hadiah ulang tahun kamu. Jangan menolak. Daddy hanya punya kamu." Lirih pria itu. "Terimakasih." Al memeluk Daddynya dengan erat. "Sama sama Sayang." Jawabnya mengusap punggung Al dengan lembut.
Sore menjelang malam. Alex memasuki kamar putrinya dengan bertelanjang dada. Pria itu hanya mengenakan ****** ***** saja. "Daddy." Alesya terkejut dengan tingkah Daddynya. Alex tak menjawab. Ia semakin mendekat dan mencium bibir Al dengan paksa. "Dad. Sadarlah." Gadis itu menangis diperlakukan demikian. "Aku sudah menahannya terlalu lama. Dan sekarang saatnya. Aku mencintaimu sayang. Cinta pria kepada seorang wanita." Ungkap Alex membuat Al menangis semakin kencang. "Aku anak Daddy." Lirihnya membuat Alex menggeleng cepat. "Kamu buka anakku. Kamu wanitaku." Katanya penuh penekanan sembari mendorong tubuh Al ke ranjang. Al mencoba memberontak namun tidak mendapatkan hasil. Tubuh Alex yang kekar membuatnya kesulitan. "Daddy...." Al mencoba meloloskan diri berkali kali namun Alex selalu berhasil membuat tubuh ramping itu terlentang di ranjang. Al hanya bisa menangis saat perlahan dan pasti Alex mulai menjamah tubuhnya. "Dad.." Panggil Alesya di sela sela tangisannya. "St...Diam Sayang. Aku akan memuaskanmu." Katanya mengikat kedua tangan Al setelah berhasil membuat gadis itu telanjang.
Alesya sangat benci pria itu. Awal cinta yang kini berubah menjadi benci tak terkira. Alex sedang bermain di dada Al. Mengecup dan menyesap dengan penuh semangat. Lidahnya menyusuri setiap inchi dan turun ke bawah hingga bagian inti dan bermain disana sampai basah. Lidahnya bergerak dengan lincah. Menusuk dan menjilatinya membuat Al menggelinjang. "Akan sedikit sakit Sayang. Kamu bisa berteriak sesuka hati." Kata pria itu menatap wajah Al yang menangis sedaritadi. "Akh...." Teriak Al saat merasakan merasakan benda yang menerobos dengan paksa beberapa kali. "Sakit..." Ia menangis semakin kencang. "Maaf...Akh... nikmat." Rancu Alex sembari menghentakkan pinggulnya dengan lembut dan penuh irama.
Alex menyudahi kegiatannya yang berlangsung berjam jam. Pria itu meraih tissue basah dan membersihkan area sensitif Al yang berdarah. "I love you." Lirih pria itu kemudian ikut berbaring memeluk Al yang tertidur pulas.
Tepat jam 12 malam. Semua keluarga tengah panik karena tidak ada kabar dari Al. Mereka kemudian bergegas menuju Villa tempat gadis itu berada. Alvin mengetahui semua itu lewat GPS di ponsel adiknya. Membiarkannya pergi dengan Alex tadi memang idenya. Namun pria itu sudah berjanji jika akan memulangkan Al tepat jam 7. Namun sampai tengah malam pun keduanya belum ada tanda tanda akan pulang.
Sampai disana Alvin segera turun dengan Papinya. Tidak ada tanda tanda keberadaan orang. Mereka langsung menerobos masuk ke dalam dan mengecek seluruh ruangan. "Bajingan kau." Papi langsung memukul pria yang sedang duduk mengamati putrinya yang tak sadarkan diri dengan kedua tangan terikat.
typo Thor...