Gilang Herlambang adalah seorang mantan mafia yang memiliki lima anak perempuan yang terkenal dengan kecantikannya.
Karena khawatir dengan keselamatan kelima anaknya, akhirnya Gilang mengutus lima bodyguard untuk kelima anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah keputusan Gilang mengutus bodyguard untuk anak-anaknya adalah hal yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 (MENYAMAR)
Hari itu adalah hari kedua Daniyal di rawat di rumah sakit.
Gilang dan keempat anaknya memutuskan untuk menjenguk Daniyal sambil membawa buah-buahan dan makanan lainnya.
"Morning kakak!!" teriak adik-adik Irene sambil membuka pintu dengan keras.
Irene yang mendengar teriakan adiknya langsung menoleh ke arah Daniyal yang sedang tertidur dan kembali melihat adik-adiknya dengan jari telunjuk di tempelkan ke mulutnya.
"Ga bisa diem ya!?" ketus Irene.
Keempat adiknya segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sedangkan Gilang hanya mengintip apa yang sedang terjadi di dalam ruangan.
"Ehmmm.." Daniyal bersuara dan membuka kedua tangannya dengan perlahan.
"Kan dia bangun karena kalian!" ketus Irene dengan tatapan tajamnya.
"Yaelah kak, sejak kapan kamu perhatian sama bodyguardmu sendiri?" tanya Nancy.
"Tapi kak Iren benar, kita memang tidak boleh mengganggu saat orang lain tidur tau!" sambung Ratu.
"Hah? Kamu sedang membela kak Iren? Wah kalian berdua memang memiliki sifat yang sama!" ucap Nancy.
"Sudah jangan ribut terus kalian! Niat kita kemari untuk menjenguk Dani." tegas Gilang.
Gilang langsung menerobos kerumunan anak-anaknya berjalan mendekati Daniyal.
"Bagaimana keadaanmu Dani?" tanya Gilang.
"Tuan Gilang, keadaanku sudah mulai membaik." balas Daniyal.
"Syukurlah kalau sudah membaik, terimakasih banyak karena sudah melindungi anakku, dan maaf karena kamu jadi tertimpa musibah karena sudah menyelamatkan anakku." ucap Gilang.
"Jangan terlalu sungkan tuan, itu adalah tanggung jawab saya untuk melindungi anak tuan." jawab Daniyal.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Daniyal dan langsung masuk ke dalam tanpa mengetahui kalau Gilang dan anak perempuannya juga ada di sana.
Semua orang yang berada di dalam ruangan terkejut melihat para bodyguard yang lain datang menjenguk Daniyal dengan penampilan biasa.
"Wah! Kak Abizar memang benar-benar tampan sekali kak.." gumam Aleena kepada Irene.
"Apaan sih leen, kamu menyukai bodyguardmu sendiri?" tanya Irene.
"Papi bilang ga masalah kalo aku menyukainya kak, jadi kakak jangan melarangku.." ucap Aleena.
"Hah? Papi, seriously?" tanya Irene yang di balas anggukan oleh Aleena.
Semua bodyguard yang sedang berlibur itu segera membungkuk memberi salam kepada Gilang dan kelima anaknya.
"Wah ternyata baru beberapa hari bersama kalian berlima sudah semakin dekat ya?" ucap Gilang sambil tersenyum ke arah para bodyguarnya.
"Untungnya kami semua cepat dekat tuan, dan sebagai rekan kerja kami semua sepakat untuk menjenguk kak Dani." balas Albani.
"Bagaimana keadaan papamu Bani?" tanya Gilang bertanya tentang keadaan Bayu.
"Yah papa masih sibuk dengan pekerjaannya tuan." jawab Albani.
"Bukan Bayu namanya kalo ga sibuk sama pekerjaan." balas Gilang yang di balas tawa oleh Albani.
"Mumpung semua berada di sini, bagaimana kalau kita makan bersama, aku akan memesan makanan untuk kalian." ucap Gilang.
"Loh, anda tidak makan bersama kita tuan?" tanya Aiden.
l
"Aku harus pergi karena beberapa urusan pekerjaan, kalian makanlah dan mencoba untuk mendekatkan diri." jelas Gilang.
Gilang tersenyum lalu segera berjalan keluar ruangan sambil menghubungi driver untuk memesan makanan enak dan membawanya ke rumah sakit.
Gilang yang sudah selesai menelfon segera menekan tombol lift dan tetap memainkan hpnya.
Namun saat pintu lift terbuka, Gilang tidak sadar jika dirinya berhadapan dengan laki-laki yang sangat membencinya.
Gilang yang tidak mengenali Bramantio karena hari itu Bram menyamar dan memakai kumis palsu dengan topi hitam yang hampir menutupi wajahnya itu hanya menatap wajah Bram sekilas lalu segera masuk ke dalam lift.
Sedangkan Bramantio melirik wajah Gilang dengan tajam lalu segera berjalan keluar lift melewati Gilang yang masuk ke dalam lift.
"Aku tidak akan membiarkanmu bahagia selamanya Gilang!" gumam Bramantio yang sudah keluar dari lift dan tersenyum sinis.
Bram segera berjalan menuju ruangan Daniyal dan mengetuk pintu ruangannya.
Tok,, tok,, tok... Bram memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruangan anaknya itu dan membuat semua yang berada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu.
Abizar dan Adyatma terkejut melihat kedatangan Bramantio begitu juga dengan Daniyal, walaupun Bram menyamar namun tentu saja ketiga anaknya sangat mengenal papinya.
"Papi? Kenapa dia kemari? Apa dia tidak melihat tuan Gilang tadi?" batin Daniyal sambil terus melihat papinya.
"Maaf, anda siapa ya?" tanya Irene dengan sopan.
"Ah saya omnya Dani, saya mendapat pesan dari Dani dan segera menuju kemari." ucap Bram mencari alasan.
"Om?" tanya semua orang, begitu juga dengan Abizar, Adyatma dan Daniyal.
"Kenapa kamu terkejut Dani? Bukankah dia ommu?" tanya Irene yang memperhatikan raut wajah Daniyal.
"Hah? Ah, i-iya dia adalah omku, aku lupa kalo udah ngabarin om kemarin." ucap Daniyal yang akhirnya mengikuti permainan papinya.
"Kalo memang begitu, biarkan mereka untuk berbicara, ayo kita keluar semua." ucap Irene mengajak semuanya untuk memberi waktu kepada Daniyal dan omnya.
Semua orang yang berada di sana segera menganggukkan kepala lalu keluar dari ruangan Daniyal bersama-sama.
Awalnya Adyatma tidak mau keluar karena penasaran dengan pikiran papinya yang tiba-tiba datang tanpa memberitahu, namun Abizar mencegahnya dan menariknya untuk keluar dari ruangan.
Queen yang awalnya memang curiga dengan semua bodyguarnya hanya bisa memperhatikan kedekatan Abizar dan Adyatma yang berbeda dari yang lain.
Saat semuanya duduk di kursi depan ruangan Daniyal, Queen terus saja menatap ke arah Abizar dan Adyatma hingga membuat keduanya menyadarinya dan merasa risih.
"Maaf nona, tapi kenapa kamu melihat kita terus dari tadi?" tanya Abizar kepada Queen.
"Eh? Aku cuma penasaran aja sama kalian, kayaknya udah kenal lama banget." ucap Queen.
Mendengar ucapan Queen membuat Irene yang awalnya melihat ke lain tempat mengalihkan pandangannya ke arah Abizar dan Adyatma.
Sedangkan Abizar dan Adyatma hanya bisa terdiam dan tergagap karena tidak tau harus mengatakan apa kepada Queen, terlebih saat Irene juga menatap mereka dengan tatapan curiga.
"Kami,, kami ini pernah bertemu beberapa kali bahkan saat seleksi menjadi bodyguard kami selalu bersama." jelas Abizar dengan sedikit khawatir.
Abizar khawatir karena menganggap Irene sangat cerdas dan dia takut kalau Irene mengetahui alasannya hanya sebuah kebohongan.
"Ah begitu,, pantesan kalian terlihat dekat, iya kan kak?" ucap Queen kepada Irene.
Abizar dan Adyatma akhirnya bisa bernafas lega karena berhasil membuat Irene dan Queen percaya.
Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan Gilang untuk mereka sudah datang.
"Maaf, saya mengantar untuk nona Irene." ucap kurir tersebut.
"Ah iya saya Irene, terimakasih banyak ya mas, udah di bayar kan?" tanya Irene.
"Sudah kok non, selamat menikmati saya pulang dulu terimakasih." ucap kurir tersebut yang langsung pergi meninggalkan Irene dan yang lainnya.
"Makanannya sudah datang, aku bilang ke Dani sama omnya dulu ya.." ucap Irene.
"Eh nona Irene, biar aku saja yang memanggil kak Dani dan omnya." sahut Adyatma tiba-tiba.
"Ah, yaudah kalo gitu terimakasih ya.." ucap Irene.
Adyatma menganggukkan kepalanya lalu segera mengetuk pintu ruangan Daniyal dan masuk ke dalam.
dan juga minimal kasih tau latar belakangnya..
kecuali klo bodyguardnya tidak tampil di seluruh cerita.. hanya sekilas
jgn sampe jadi monoton
Samagat Kaka 💪💪🔥🔥
apa mksud tujuan dani dan abi jd bodyguard ank nya papi gilang ya??
apa ada dendam terselubung dimasalalu??