inilah ujian terberat dalam hidupku, Mas Rayhan suamiku yang aku cintai berselingkuh dengan mantan muridnya. Setelah aku tau perselingkuhan itu, Mas Rayhan bilang ia akan bertaubat dan tidak akan mengulanginya lagi. Tapi Mas Rayhan bohong, ia masih berhubungan dan bahkan malah menghamilinya.
Akankah aku bisa mempertahankan rumah tangga ini atau memilih bercerai?
ig author : wentyoktaria
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wenty Oktaria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kak Haikal
"Mama ayo, aku udah siap nih!" Syafiq mengajakku ke ulang tahun temannya.
"Duhh, anak Mama udah ganteng banget."
"Iya dong."
"Siapa yang milihin bajunya?"
"Bude, Ma..."
"Oh, Bude."
"Ganteng kan aku?"
"Iyaa..."
"Yaudah Mama cepetan siap-siap!"
"Oke deh, Ganteng. Mama ganti baju dulu ya."
"Jangan lama-lama, Ma."
"Iya."
Aku bergegas kekamar untuk mengganti baju. Lima belas menit berlalu, aku sudah siap menemani anakku.
"Abi mana?"
"Itu diteras lagi main laptop."
Aku menghampiri Mas Rayhan, "Mas, bisa antar aku dan Syafiq ga ke restoran siap saji pinggir jalan sana? Faiz teman sekolahnya Syafiq ulang tahun."
"Aku lagi ngoreksi tugas anak-anak. Kamu naik taksi online aja ya, nih uangnya..." Mas Rayhan memberikanku uang dua ratus ribu rupiah.
"Yaudah. Yuk Nak, kita naik taksi aja."
Sepuluh menit menunggu, akhirnya taksi online datang, aku dan Syafiq segera menaikinya.
Sesampainya disana, Syafiq langsung berhambur dengan teman-temannya yang sudah datang lebih dulu. Aku hanya menunggu dimeja belakang sambil bertegur sapa dengan ibu-ibu yang lain.
Aku meninggalkan Syafiq sebentar untuk menunaikan solat ashar.
Selesai solat tiba-tiba, "Lingga..." Ada yang memanggilku didekat musholla.
Kumenoleh kearah suara yang memanggilku, sepertinya aku mengenal orang itu, wajahnya tidak asing bagiku, beberapa menit aku mengingat-ingat. Aku berhasil mengingatnya, ia adalah Haikal, kakak kelasku sewaktu SMA diPonpes. Kamipun beradu senyum.
"Kamu apa kabar?" Ia memulai pembicaraan.
"Baik."
"Udah lama banget ya ga ketemu."
"Iya."
"Kamu kesini sama siapa?" Tanyanya lagi.
"Sama anak aku."
"Ohh..."
"Ke acara ulang tahun Faiz?"
"Iya..."
"Berati anak kita satu sekolah, aku juga nganter anak aku ke ulang tahunnya Faiz." Ujarnya.
Kenapa aku jadi canggung dan deg-degan begini ya, sekian lama tak bertemu, tak menyangka ternyata ia masih mengenaliku.
Sekilas tentang Haikal
Ia adalah Kakak kelasku sewaktu SMA, pertama kali aku masuk sekolah, ketika aku bertemu dengannya, senyumnya sudah membuat hatiku terpana, manis sekali. Ia menjadi ketua OSIS, jadi idola para siswi kala itu, termasuk aku. Tapi aku saat itu hanya bisa mengidolakannya, tidak pernah memilikinya, aku pernah mengirim surat kepadanya, tapi tak pernah ada balasan, entah ia membaca surat dariku atau langsung merobek dan membuangnya ketempat sampah. Yang membuatku bahagia pada saat itu, saat aku berkirim salam lewat temannya, lalu tiba-tiba temannya bilang, "Katanya salam balik", hati ini langsung berbunga-bunga. Setiap aku bertemu dengannya, aku hanya berani melempar senyum, tak berani bertegur sapa. Seolah mulut ini terkunci, tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Hanya satu tahun aku bisa melihatnya disekolah, setelah itu ia lulus dan tidak ada kabarnya lagi. Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku lupa begitu saja dengannya.
Kami masih berbincang sambil kembali ke tempat acara, khawatir Syafiq mencariku.
"Anak kamu yang mana?" Tanya Kak Haikal.
"Itu yang pakai baju biru elektrik."
"Oh..."
"Anak Kakak yang mana?"
"Itu yang pakai baju pink."
"Oh, cantik ya..."
"Iya, mirip almarhumah Mamanya."
"Almarhumah?" Tanyaku kaget.
"Iya, istriku udah meninggal dua tahun yang lalu."
"Ohh..."
Tiba-tiba Syafiq menghampiri kami, "Mama... tadi aku berani menyanyi kedepan dan dikasih hadiah ini..." Syafiq memberitahuku bingkisan hadiah karena ia sudah berani menyanyi kedepan.
"Oh iya, alhamdulillah."
Lalu Syafiq kembali berkumpul dengan teman-temannya.
"Kamu lagi hamil berapa bulan?" Tanya Kak Haikal yang berdiri disebelahku.
"lima bulan, Kak."
"Ini anak kedua?"
"Iya..."
Ia berada disebelahku, tapi aku benar-benar tidak berani melihatnya, apalagi memandangnya.
"Kakak tinggal dimana?" Aku memberanikan diri bertanya.
"Di Jalan Anggrek, ga jauh dari sini. Kamu tinggal dimana?"
"Di jalan Mawar."
"Oh ya, deket dong."
"Iya..."
"Ga nyangka ya bisa ketemu disini, aku pikir kamu masih dikampung." Tuturnya.
"Suamiku orang Jakarta, setelah nikah aku langsung tinggal di Jakarta, Kak."
"Ohh..."
Syafiq tiba-tiba menghampiri "Ma, aku mau makan nasinya dulu disini, aku laper."
"Yaudah, sini Mama suapin."
Kulihat, anaknya Haikal juga menghampiri ayahnya itu.
"Ma, itu temen aku namanya Zahra. Cantik ya, Ma?" Syafiq mengenalkan anaknya Haikal kepadaku.
"Oh itu namanya Zahra, iya dia cantik."
"Mamanya Zahra udah meninggal, Ma. Kasian Zahra cuma tinggal sama Papanya."
"Oh ya?"
"Iya."
Kumelihat, Kak Haikal dan Zahra yang juga sedang makan disebelahku.
"Eh Zahra, kita main perosotan yuk!" Syafiq mengajak Zahra ketika sudah selesai makan.
Mereka berdua sedang asyik bermain, sedangkan aku dan Kak Haikal melanjutkan obrolan kami, sampai akhirnya Kak Haikal bercerita tentang istrinya yang sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu, kini ia hanya membesarkan Zahra seorang diri.
Istri Kak Haikal meninggal karena kecelakaan sepeda motor. Pada saat itu sedang mengendarai motor, lalu tertabrak mobil yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan dan langsung meninggal ditempat. Terdengar nada suara Kak Haikal yang bergetar saat cerita, yang menandakan ia masih menyimpan kesedihan yang mendalam.
Drttt... Drrttt... Ponselku bergetar. Kulihat Mas Rayhan yang meneleponku.
"Assalamualaikum Mas..."
"Waalaikumsalam... belum selesai acaranya?" Tanya Mas Rayhan dibalik telepon.
"Udah, tapi Syafiq masih main sama temennya."
"Mau dijemput?"
"Ga usah, aku pulang sendiri aja, kan kamu masih sibuk ngoreksi tugas siswa."
"Yaudah..."
"Iya..." Aku langsung mematikan teleponnya.
Kulihat teman-teman Syafiq beserta orang tuanya sudah mulai pulang, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.
"Syafiq, mainnya udah ya, udah sore waktunya kita pulang."
"Iya Ma..." Syafiq langsung menghampiriku, disusul dengan Zahra yang menghampiri ayahnya.
"Kamu dijemput?" Tanya Kak Haikal.
"Nggak, aku naik taksi online."
"Aku bawa mobil, mau bareng?"
"Nggak, Kak."
"Kalau mau bareng sama aku, ga apa-apa, kan searah.
Bareng? Apa kata tetanggaku nanti, bisa jadi fitnah, belum lagi kalau Mas Rayhan atau mertuaku melihat.
"Nggak Kak, ga usah."
"Mama, aku mau pulang naik mobil Zahra, yuk Ma bareng aja pulangnya sama Zahra!" Ajak Syafiq.
Aku terdiam sesaat.
"Lingga, jadi mau pulang bareng atau nggak?"
"Iya Om aku mau..." Celetuk Syafiq. Ah anak ini.
"Tapi aku turun dipinggir jalan aja, ga usah sampai depan rumah."
"Oh iya..."
Sepertinya Kak Haikal sudah mengerti, kalau aku takut terjadi fitnah.
"Tante, tante naiknya didepan aja, aku sama Syafiq dibelakang ya!" Pinta Zahra.
"Kamu aja yang didepan, Sayang."
"Aku kan masih mau main sama Syafiq di jok tengah."
Dengan berat hati, aku duduk di jok depan, samping Kak Haikal. Mobil mulai melaju, tapi tidak ada pembicaraan sedikitpun antara aku dengan Kak Haikal. Sesekali kumenoleh kebelakang, melihat betapa asyiknya Syafiq dan Zahra bermain sambil tertawa, dunia anak kecil memang indah.
"Aku turun disini aja, Kak!" Seketika Kak Haikal memberhentikan mobilnya.
"Iya, hati-hati ya..."
"Iya, Kak. Makasih ya."
Aku turun tanpa sedikitpun menoleh kearahnya, aku benar-benar takut, takut hati ini terpesona lagi padanya.
Mimpi apa aku semalam, hari ini bisa bertemu Kak Haikal, bayangan tentang sosoknya masih memenuhi pikiranku. Aku sudah berusaha menepisnya, namun masih juga tidak bisa.
Lingga, kamu masih bersuami dan sedang hamil, tidak boleh memikirkan laki-laki lain, batinku berbicara.
💕💕💕
Tok... tok... tok... "Lingga..."
"Iya Bu..."
Ibu membuka pintu kamarku. "Ibu mau ngomong sama kamu."
"Ngomong? Yaudah ngomong aja."
Ibu menutup pintu kamarku, sepertinya Ibu serius ingin menyampaikan sesuatu dan tak ingin ada yang mendengarnya.
"Ada apa sih, Bu?"
"Lingga, kemarin waktu kamu pergi, Ibu lihat Zidny dan suamimu ngobrol diruang tengah, kok keliatan mesra ya?" Ungkap Ibu lirih.
"Mesra? Mesra gimana, Bu?"
"Iya, mereka saling tatap, lalu suamimu membelai rambut wanita itu. Tapi Ibu ga dengar apa yang mereka bicarakan, karena mereka bicara dengan suara yang lirih, seperti ada hubungan lebih diantara mereka."
"Maksud Ibu?" Tanyaku pura-pura tidak mengerti.
"Masa kamu ga ngerti, Ndok?"
"Mereka seperti orang pacaran lho, Ndok."
"Masa sih, Bu?"
"Iya, ibu ga bohong. Ibu curiga sama mereka berdua, jangan-jangan mereka ada hubungan lebih."
Mas Rayhan, padahal sudah kubilang padanya untuk tidak berduaan apalagi mesra-mesraan selama Ibu ada dirumah.
Aku menunduk. Apa sekarang saatnya kuceritakan semuanya pada Ibu?
"Mbak Widya mana, Bu?"
"Lagi beberes diatas."
"Aku panggil sebentar ya..." Aku bergegas keatas.
"Mbak... kebawah dulu yuk! Aku mau ngomong sesuatu?"
"Ada apa, Dek?"
"Udah, ayo!" Kumenarik tangannya untuk segera turun kebawah.
Kututup pintu kamarku rapat-rapat, agar tidak ada orang yang mendengar.
"Ndok, ada apa sebenarnya?" Tanya Ibu penasaran.
"Iya, ada apa sih, Dek?"
Kuberusaha menguatkan hati, bismillah aku akan menceritakan semuanya pada Ibu dan Mbak Widya.
ki ga dilanjut
kutunggu kelanjutannya