NovelToon NovelToon
Wilson & Tisya

Wilson & Tisya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Romantis / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:322.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Tri Ani

Bagaimana jadinya jika seorang pria biasa yang tidak mempunya pengalaman tentang cinta di pertemukan dengan seorang gadis yang manja dan keras kepala?

Ikuti keseruan rumah tangga Wilson dan Tisya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Melihat apa yang di lakukan Wilson pada Tisya, tentu membuat hati Nara begitu sakit tapi untuk sementara ia harus bisa mengendalikan dirinya.

Wilson membawa Tisya ke kamarnya dan menidurkannya di tempat tidurnya, Wilson terlihat sekali begitu khawatir dengan Tisya.

"Siapapun, cepat panggilkan dokter!" teriak Wilson, ia terus mengusap tangan Tisya yang semakin dingin.

Nara pun dengan cepat menghubungi bidan desa, untuk menghubungi dokter mereka perlu ke rumah sakit yang ada di kota dan itu membutuhkan waktu yang lama.

Sambil menunggu bidan datang, Wilson terus mengusap tangan Tisya dan memintanya untuk bangun, Nara juga ikut menungguinya tapi Nara memilih berdiri sedikit jauh di belakang Wilson.

Kenapa kak Wilson begitu khawatir dengan Tisya? Apa benar hubungan mereka hanya sebatas sopir dan atasan? Atau ada hal lain yang tidak aku tahu ...

Nara menatap nanar mereka berdua, perlakuan Wilson pada Tisya sungguh membuat hatinya serasa terbakar saat ini.

Orang tua Wilson juga hanya bisa terus menenangkan orang tua Nara agar tidak terpancing dengan apa yang di lakukan Wilson pada Tisya.

Hingga akhirnya bidan desa pun datang, tapi karena malam dan jalanan yang tidak bersahabat membuat sang bidan hanya membawa peralatan seadanya.

Bidan pun memeriksa keadaan Tisya dengan alat seadanya.

"Bagaimana keadaannya?"

"Sepertinya ini_!" bidan tampak ragu untuk mengatakannya, takut menimbulkan fitnah dia pun tidak mengatakan yang sebenarnya, "Begini saja, untuk lebih jelasnya saat demamnya sudah reda, lebih baik di bawa ke puskesmas saja, biar saya periksa lebih lanjut. Untuk saat ini saya akan memberikan parasetamol dan vitamin!"

"Terimakasih, Bu bidan!"

"Sama-sama, kalau begitu saya permisi!"

Setelah meminumkan obat untuk Tisya, Wilson pun akhirnya meninggalkan Tisya. Saat keluar dari kamarnya, ia masih bisa melihat Nara di sana tapi tidak dengan kedua orang tuanya.

"Kak, aku mau bicara!"

"Kamu belum pulang?" Wilson malah mengalihkan pembicaraan.

"Kak, jangan mengalihkan pembicaraan! Bisa kan kita bicara sebentar!?"

"Baiklah, kita bicara di luar!"

Wilson dan Nara pun memilih untuk bicara di luar. Mereka duduk di teras di sebuah kursi kayu panjang buatan bapak Wilson sendiri.

"Ada apa?"

"Kak, hati Nara sakit kan liat kakak begitu perhatian sama Tisya, tidakkah kakak mengerti dengan perasaanku?"

"Nara maaf, kita sudah sama-sama dewasa, bukankah kepala sekolah itu juga menyukaimu? Bukankah dia lebih pantas denganmu?"

"Maksudnya pak Riski? Kak Wilson tahu dari mana?"

"Wilna yang memberitahuku!"

"Kak, kakak tahu sendiri kan dari kecil hanya kak Wilson yang aku sukai, dan semua warga kampung juga tahu hubungan kita, kita sudah di tunangkan semenjak kecil!"

"Nara, kita hidup di era modern! Sudah bukan jamannya perjodohan!"

"Maksud kakak, kakak mau membatalkan perjodohan kita? Enggak, Nara nggak mau!"

Nara berdiri dan berlalu begitu saja meninggalkan Wilson yang masih termenung di tempatnya.

Nara terus menangis sepanjang jalan, rasa takutnya untuk pulang sendiri tiba-tiba saja hilang. Hingga suara seseorang menyadarkannya jika saat ini ia tidak berjalan sendiri.

"Kamu tidak pa pa?" dengan cepat Nara membalik badannya dan pria yang baru saja di bicarakan dengan Wilson itu sudah berdiri di belakangnya.

"Pak, sejak kapan bapak mengikuti saya?"

Pria itu tersenyum, "Sejak melihatmu menangis tadi, takut saja kamu tersesat karena terlalu fokus menangis!"

Nara memilih berbalik dan kembali berjalan, Riski mengikutinya di samping Nara.

"Apa menurut bapak aku terlalu murahan?"

"Kamu istimewa bagi orang yang mencintaimu!"

"Kenapa pak Riski menyukaiku?"

"Ya karena kamu istimewa!"

"Meskipun pak Riski tahu kalau Nara sudah punya tunangan?"

"Kalian masih tunangan, akan kalah dengan yang sudah menikah?"

"Maksud pak Riski?"

Riski terdiam, ia tidak ingin memberitahukan apapun pada wanita di sampingnya itu.

"Lupakan, ayo jalan lagi aku akan mengantarmu sampai di depan rumah!"

"Tidak perlu serepot itu pak!"

"Aku tidak merasa di repotkan, tapi ngomong-ngomong jangan panggil aku pak jika di luar sekolah, kesannya aku terlalu tua saja, kita hanya beda lima tahun saja kan!?"

Nara tersenyum dan kembali berjalan, ia belum siap untuk memberi harapan pada pria di sampingnya itu sedangkan ia masih menjalin hubungan dengan pria lain yang walaupun dia tahu sepertinya pria yang dia maksud belum bisa atau tidak akan pernah bisa menerimanya.

"Terimakasih ya, kak Riski untuk hari ini!"

"Sama-sama!"

Flashback

Riski yang sedang mengunjungi rumah temannya yang ternyata dekat dengan rumah Wilson sedikit terpancing dengan keributan yang terjadi di sana.

Ia melihat Wilson yang membopong tubuh Tisya masuk ke dalam rumahnya, ia juga bisa merasakan rasa sakit yang di alami oleh Nara saat itu.

"Sudah aku duga, mereka punya hubungan yang spesial!" gumamnya tanpa berkeinginan untuk mendekat.

Saat hendak pergi dari rumah temannya, ia kembali melihat bidan yang amsuk rumah itu, saat bidan keluar Riski segera menghampirinya.

"Selamat malam Bu!"

Bidan itu tersenyum saat melihat siapa yang menyapanya, "Selamat malam pak, pak Riski di sini juga?"

"Ohh kebetulan saya sedang berkunjung di rumah teman, Bu bidan tadi periksa siapa? Maksudku siapa yang sakit?"

"Itu tamu dari kota!"

"Kalau boleh tahu sakit apa ya Bu?"

"Demam!"

"Hanya demam saja? Tapi kenapa wajah Bu bidan cemas?"

"Sebenarnya saya_!"

"Jangan khawatir Bu, saya tidak akan membicarakan jika ini sebuah rahasia!"

"Sepertinya gadis itu sedang hamil, tapi saya tidak yakin. Makanya saya meminta mereka membawa gadis itu ke puskesmas saat sudah baikan untuk memastikannya! Tapi janji ya pak Riski jangan beritahukan hal ini pada siapa-siapa dulu sebel saya benar-benar yakin!"

"Jangan khawatir Bu!"

"Kalau begitu saya permisi pak!"

"Silahkan Bu!"

Riski pun membiarkan bidan itu pergi, tapi ia masih tetap diam di tempatnya. Ia berfikir keras dengan segala kemungkinannya.

Hingga akhirnya ia kembali melihat Nara yang menangis dan pergi sendiri.

Bersambung

Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya

Follow akun Ig aku ya

IG @tri.ani5249

...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...

1
Marhaban ya Nur17
untung Nara g jd ulet bulu
Marhaban ya Nur17
tanggung malu pak lurah
Marhaban ya Nur17
iy Wilson terlalu lembek kek jeli
Marhaban ya Nur17
kasus 4G lebih tepatnya wkkwkw
Marhaban ya Nur17
tuh kan bapaknya Nara ternyata antagonis
Marhaban ya Nur17
sengaja di ulur"
Marhaban ya Nur17
lagat" nya Nara g tulus neh
Marhaban ya Nur17
pak lurahnya pasti ada udang di balik bakwan wkkwkw
Marhaban ya Nur17
sebenarnya simpel tinggal jujur kelar dah tp y gtu authornya mau dibikin seru" an
Marhaban ya Nur17
berlele-lele se thor
Marhaban ya Nur17
males klo cerita banyak rahasia
Marhaban ya Nur17
nama Wilson buat di kampung sungguh sangat keren wkkwkw biasanya kan wong kampung namanya ujang, agus wkwkkw, asep, aji dll klo Wilson uwww jauh
Marhaban ya Nur17
kek sinetron
Marhaban ya Nur17
maira kakak nya trs dokter Frans jg ???
Doharta Debora Be Gultom
Kecewa
Katherina Ajawaila
Mantap ngk bisa bekoar lagi tuh lurah tambun di borgol aja sm antek2 nya
Katherina Ajawaila
lurah Edan otoriter, biar ketahuan aja jahatnya jadi di pecat jadi lurah
Katherina Ajawaila
maruk matre lurah tambun tinggal di gorok aja di tiang bendera
Katherina Ajawaila
nyaho lurah gendeng, arogan
Katherina Ajawaila
biar kejengkang tu lurah yg arogan, penipu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!