Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERTUA DATANG MONA PERGI
Author mohon maaf ya kalau jarang balas komen. Tempat tinggal saya susah sinyal. Mohon para reader jangan kecewa. Terimakasih supportnya. 😘😘😘
Selamat membaca.
Mona sering menghabiskan waktunya di rumah sakit. Dia enggan lama-lama berada di rumah Ken. Mona merasa tidak punya muka setelah Ken tahu semuanya.
Sulit baginya untuk melepaskan semua yang dia miliki sekarang. Susah payah dia mendekati Ken sejak lama. Keluarganya terus saja mendesaknya untuk menikah dengan laki-laki kaya pilihan mereka waktu itu. Bahkan Mona merelakan hubungannya bersama David kandas.
Kalau bukan demi harta dan kedudukan, Mona memilih untuk tetap bersama David ketimbang Ken. Dia bosan hidup susah. Papanya selalu saja pilih kasih dalam memperlakukan anak-anaknya.
Hubungan Ken dan Al semakin dekat. Mona memilih tinggal di rumah sakit untuk mengurangi kontak langsung dengan Ken. Kalau tidak terpaksa dia enggan untuk berada dalam satu meja.
Sampai detik ini Al belum mengetahui jika dalang di balik penculikan itu adalah Mona. Ken masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya. Orang tua Ken sepertinya tahu dari Mita tentang semua yang terjadi.
Ting Tong...
Bunyi bel rumah membuat Al yang sedang duduk santai di taman samping beranjak untuk membuka pintu.
"Biar saya aja Non!" cegah Mita. Penculikan Al membuatnya ikut waspada. Lebih baik dia yang membuka pintu. Kalau ada apa-apa dia bisa langsung berteriak-teriak dan mengeluarkan jurus membabi buta.
"Baiklah!" jawab Al sambil tersenyum. Dia berjalan ke dapur dan menggantikan Mita mencuci piring. Jika Mita tahu dia pasti akan melarangnya.
"Al Sayang... Kamu di mana?" suara yang sangat Al kenal menggema di seluruh rumah.
"Mama Mila!" seru Al.
Al meninggalkan pekerjaannya dan berjalan menghampiri Mila. Mila juga berjalan menghampiri Al.
"Cantiknya menantu mama. Gimana kandungan kamu Sayang?" tanya Mila.
Tangannya mengelus perut Al yang sudah terlihat membuncit. Mila terlihat bahagia menanti cucu pertamanya. Setelah sekian lama akhirnya dia memiliki penerus Takeshi Corp.
"Kami sehat, Ma. Cucu mama sudah mulai bergerak-gerak." Al terlihat antusias menceritakan hal baru yang dia rasakan.
"Benarkah? Sini Sayang, mama punya oleh-oleh untukmu."
Mila membawa Al ke ruang keluarga. Di atas meja ada beberapa buah papper bag. Mila mengintip isi di dalamnya dan memilah-milah mana untuk Al dan mana miliknya.
"Ini untuk kamu Al."
Mila menyerahkan 3 buah papper bag berisi pakaian merk ternama.
"Wah, banyak sekali Ma! Ini semua untuk Al?"
Al terlihat sumringah menyambut oleh-oleh dari mertuanya. Dia mengeluarkan dan melihatnya satu persatu. Baju hamil model terbaru yang terlihat modis dan trendi.
"Baju yang biasanya kamu pakai pasti udah mulai banyak yang nggak muat kan? Kapan-kapan kita beli lagi, Sayang," ucap Mila penuh perhatian.
"Iya, Ma. Sepertinya Al gemukan sekarang."
"Pastilah sayang. Mama dulu juga begitu waktu hamil Ken. Mungkin tubuh mama 3 atau 4 kali lipat dari sekarang."
"Masa sih, Ma?"
"Iya. Mama makannya banyak sekali waktu hamil. Sedikit-sedikit bawaannya laper."
"Al juga Ma. Mungkin sebentar lagi jadi gemuk banget."
Wajah Al terlihat cemberut. Dalam hati berharap Kenzo tidak akan berpaling jika bentuk tubuhnya berubah. Mila tanggap situasi. Dia tahu apa yang Al pikirkan saat ini.
"Itu biasa terjadi, Sayang. Setelah melahirkan perlahan semuanya akan kembali seperti semula."
"Iya, Ma. Mungkin paman Ken juga nggak akan keberatan." nada bicara Al terlihat sedih.
"Ken nggak akan keberatan lah. Dia saja sampe nangis saking senengnya waktu cerita sama mama kalau kamu hamil. Kira-kira cucu mama cewek apa cowok ya?"
"Belum tahu Ma. Kata paman, sebentar lagi akan terlihat kalau di USG. Mungkin 1 atau 2 bulan lagi."
"Ah, mama jadi nggak sabar Al. Kamu ke Jepang aja ya. Di sana alatnya lebih canggih. Kamu juga udah lama kan nggak ketemu Oma." Mila sangat ingin sekali melihat calon cucunya.
"Nanti aku bilang paman Ken dulu Ma. Al sih, mau-mau aja."
"Ken pasti ngikut Al. Mana bisa dia jauh dari kamu."
"Hehe, iya Ma. Oh, iya, papa di mana Ma? Dari tadi Al nggak lihat papa," ucap Al sambil melihat sekeliling.
"Papa langsung ke rumah sakit tadi. Katanya sih mau ketemu sahabat lama di sana."
Mila menyembunyikan fakta jika Takeshi ke rumah sakit untuk menemui Kenzo dan Mona. Dia sangat marah mengetahui tentang penculikan dan penganiayaan Al. Dia sangat menyayangi Al seperti putrinya sendiri.
"Papa pasti capek. Begitu datang langsung ke rumah sakit."
"Papamu mana ada capek Al. Kalau dia punya mau nggak ada kata capek dalam kamusnya."
"Hehehe. Iya, Ma. Mama sudah makan belum?" tanya Al.
"Sudah tadi sebelum papa ke rumah sakit. Kamu sudah makan sayang? Tadi mama juga bawa beberapa bumbu dan bahan makanan kering. Aku suruh Mita menyimpannya."
"Al sudah makan Ma. Makasih Ma, nanti Al masakin makanan kesukaan Mama sama papa untuk makan malam."
"Kalau kami capek biar mama sama Mita aja yang masak," ucap Mila sambil mengelus rambut Al.
"Kalau duduk terus Al malah capek Ma. Mama mau istirahat sekarang?"
"Iya, Al. Mama badan mama sedikit pegal. Tolong nanti kamu panggilin tukang pijat langganan mama, ya. Tapi suruh dateng agak sorean. Biar mijit papa sekalian."
"Baik, Ma. Nanti Al telepon bu Ima," jawab Al sambil tersenyum.
"Ya sudah. Mama ke kamar dulu ya, Sayang. Kamu juga harus istirahat."
"Iya, Ma."
Al dan Mila pergi ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Al juga merasa sangat mengantuk. Sebenarnya dia sangat ingin mencoba baju hadiah dari Mila tapi dia urungkan.
...
Ketika Al dan Mila menyiapkan makan malam di dapur, Mona pulang dari rumah sakit seorang diri.
"Sore, Ma! Kapan Mama datang?" sapa Mona sedikit canggung.
Mona duduk di kursi ruang makan.
"Sore. Tadi siang." Mila menoleh sebentar ke arah Mona lalu kembali fokus memasak.
Tampak Mila berbicang sangat akrab dengan Almahyra saat memasak. Sesekali mereka bercanda ringan. Mila terlihat sangat sayang dan perhatian pada Al.
"Aku pergi ke kamar dulu, Ma."
Mona berjalan meninggalkan ruang makan sambil mengumpat dalam hati. 'Apa sih hebatnya Al. Bisa masak doang. Mending juga aku seorang dokter berprestasi dengan jam terbang tinggi. Pinter banget kamu Al meraih simpati wanita tua itu.' ucap Mona dalam hati.
Terlihat jelas dari tatapan Mila, dia sangat tidak menyukainya. Mona merasa mereka tahu jika selama ini dia berbuat tidak baik pada Al. Setelah berpikir sejenak, Mona memutuskan untuk menghindari mertuanya.
Secepatnya Mona harus pergi dari rumah Kenzo. Terpaksa Mona harus pulang ke rumah orangtuanya untuk sementara. Dengan begitu dia tidak akan merasa muak dengan tingkah anak menantu dan mertua yang tidak di sukainya.
Tadi siang Takeshi juga memangilnya. Beruntung pasiennya sangat banyak. Pasti ada hal yang sangat penting jika bapak mertuanya itu turun tangan.
Mona menata baju dan keperluannya di dalam koper miliknya. Keputusannya sudah bulat. Jika memang harus berpisah dengan Kenzo dia rela. Toh dia sudah memiliki jabatan penting di rumah sakit. Setelah bercerai dia masih bisa berkarir di sana.
Saat Mona turun, Al terlihat sedang mengobrol di ruang makan bersama Mila. Sekelebat tampak Kenzo masuk ke kamar Almahyra. Di ruang keluarga Takeahi sedang tidur saat di pijat.
"Kak Mona mau kemana?" tanya Al heran.
"Ke rumah mama," jawab Mona singkat.
"Aku panggil paman Ken, ya biar dia antar Kak Mona." Al hendak pergi memanggil Ken.
"Nggak usah, Al."
"Kenapa kamu tiba-tiba pergi ke rumah orang tuamu, Mon?" tanya Mila.
"Aku kangen sama mereka, Ma. Aku pergi dulu."
"Ya, sudah. Salam untuk mereka." Mila berusaha bersikap baik meskipun dia melihat gelagat aneh dari tatapan Mona.
"Iya, Ma."
Tak mau berlama-lama mengobrol, Mona segera menarik kopernya dan membawanya ke luar. Almahyra terus mengikutinya.
"Kak, jangan pergi dulu! Kita temani dulu mama sama papa. Mereka nggak akan lama di sini." Al mencoba mencegah Mona.
"Kamu temani saja. Kamu senang kan mereka di sini. Aku enggak!" seru Mona sambil menatap Al penuh kebencian sebelum berlalu.
Al tidak berani menjawab atau menghalangi Mona lagi. Tak ada yang bisa dia lakukan selain berdiri mematung menatap kepergian Mona. Dia baru beranjak dari garasi saat mobil Mona benar-benar sudah pergi.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo