Arfan Malik Adyatma di hadapkan dengan sebuah kenyataan atas kepergian sang Ayah dan perusahaan milik keluarganya yang harus collap. Di usia 23 tahun dia harus mengemban tanggung jawab untuk Bunda dan adiknya serta memperjuangkan perusahaan agar tetap menjadi milik keluarganya.
Di tengah kepelikan cobaan yang dia hadapi, seseorang yang mengaku sahabat sang Ayah mengulurkan tangan bersedia membantu dia menyelesaikan kuliah dan memperjuangkan perusahaan milik sang Ayah namun dengan persyaratan yang membuat dirinya galau untuk menerimanya.
Keputusan apa yang akan Arfan ambil, berjuang dengan tangannya sendiri atau menerima bantuan dari sahabat Ayahnya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deutzyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 18
Setelah hampir dua minggu di rawat di rumah sakit, hari ini Nasha sudah di perbolehkan pulang. Sebenarnya kondisi Nasha sudah jauh lebih baik dari seminggu yang lalu namun Dad meminta agar putrinya itu tetap di rawat, Arfan pun mengikuti saran Dad. Dua hari yang lalu Arfan harus pergi keluar kota ada urusan perusahaan yang tidak bisa di wakilkan. Perjalanan yang terpaksa Arfan lakukan karena berat meninggalkan istrinya itu namun tanggung jawab atas perusahaan membuatnya harus tetap pergi. Dad memberikan dua asisten sekaligus bodyguard untuk menantunya itu, Arfan sudah menolak namun atas permintaan istrinya akhirnya Arfan pun menyetujui.
“ Papa kok belum pulang ya de..” gumam Nasha, “Eve, kamu telepon Mateo sekarang.” Eve langsung menghubungi asisten Tuannya.
“ Tuan sudah di perjalanan Nona, sebentar lagi mereka juga sampai.”
“ Minta maid buat teh hangat untuk suami ku.”
Nasha beranjak untuk menyiapkan air hangat dan baju ganti untuk suaminya itu. Dia di larang untuk melakukan aktifitas berlebihan, dan untuk menghilangkan kebosanan Nasha duduk di sofa balkon kamarnya sambil membaca novel.
“ Assalamu’alaikum sayang..” ucap Arfan saat masuk ke dalam kamarnya.
“ Wa’alaikumsalam Papa..” jawab Nasha, dia hanya menjawab tanpa menghampiri Arfan, dia akan menunggu suaminya itu bersih-bersih terlebih dahulu. Arfan melihat baju ganti yang sudah di siapkan oleh Nasha, dia pun bergegas mandi agar bisa memeluk istrinya.
“ Hari ini masih mual nggak?” ucapnya menghampiri Nasha di ranjang mereka.
“ Masih tapi nggak sampe muntah parah, aku masih mual kalau makan nasi jadi tadi Mom buatin pure alpukat sama di rebusin ubi buat pangganti nasi.”
“ Susu sama vitamin nggak lupa di minum kan?”
“ Pasti sayang, Mom nungguin aku sampe aku minum keduanya.”
“ Good,Mama dan anak Papa pinter..” Arfan gemas melihat perut istrinya sudah mulai terlihat membuncit.
“ Besok aku ikut ke kantor ya..” ucap Nasha, dia mencari posisi nyaman untuk tidur.
“ Iya, tapi paginya aku kuliah kamu di rumah aja.. nanti aku jemput.”
Nasha mengangguk, rasa ngantuk sudah menyerangnya. Tak membutuhkan waktu lama, dia pun sudah tidur pulas. Arfan bergerak perlahan agar tidak mengganggu tidur Nasha, dia ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan, dia rela menunda pekerjaannya agar waktunya dengan Nasha tidak berkurang.
^^^
“ Jadwal Tuan hari ini setelah makan siang bertemu dengan perwakilan dari A Corp.” ucap Jun membacakan jadwal kegiatannya.
“ Kalau ada meeting lagi, kamu reschedule buat besok.” Arfan menghubungi nomor istrinya.
“ Baik Tuan.”
“ Halo sayang..” ucapnya setelah teleponnya di angkat Nasha.
“ Yaudah kamu tunggu aku aja di rumah ya..”
Arfan meletakkan kembali ponselnya, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang tepat waktu. Sementara waktu, urusan café di pegang penuh oleh Fattan, Arfan hanya sesekali memantau dan datang ke sana. Masalah di café sudah menemukan titik terang, Dio sudah mengakui kesalahannya, Arfan dan Fattan memberikan Dio kesempatan jadi dia tidak di pecat dari café. Dio sempat terjerumus dan Arfan membantu cowok itu agar melakukan pengobatan di panti rehab.
Arfan keluar dari ruangannya menghampiri Jun, “ Kamu sudah boleh pulang Jun..” ucap Arfan.
“ Baik Tuan..” jawab Jun, dia merapihkan meja dan mengambil tas kerjanya.
Arfan berjalan menuju lift bersama dengan Jun dengan Mateo dan Felix di belakang mereka. Arfan tidak menghiraukan atensi yang dia dapatkan dari para karyawan wanita di kantornya. Baginya Nasha sudah menjadi wanita paling cantik dan posisinya tidak akan terganti.
“ Bos Arfan gantengnya nggak nanggung-nanggung ya..” ucap salah satu karyawan saat melihat Arfan sudah masuk ke dalam lift.
“ Iya tapi sayang udah jadi laki orang.” Ucap cewek satu lagi.
“ Istrinya pasti cantik banget ya?” ucap cewek yang bernama Dian, dia karyawan baru di divisi itu.
“ Uhh, lo bisa insekyur kalau liat.. dia menikah sama bos Arfan setelah lulus SMA, katanya sekarang lagi hamil.”
“ Wah, gue penasaran mau liat..”
“ Istrinya suka kok main ke kantor, nanti kalau dia main gue kasih tau.”
“ Yuk, kita langsung pulang..”
Kedua gadis itu berjalan menuju lift, mereka akan berjalan dari kantor menuju halte bus terdekat. Di lantai lobby masih banyak karyawan yang baru saja keluar untuk pulang.
“ Teo, kamu tau dimana bisa beli kue pukis..?” tanya Arfan pada Mateo.
“ Tuan mau kue pukis? Di restoran cepat saji sepertinya ada Tuan.” Jawab Mateo.
“ Bukan buat saya, kue nya buat istri saya.. yasudah kita ke sana sekarang.”
Mobil yang di kendarai oleh Mateo berbelok menuju restoran tersebut, sebelum pulang tadi Nasha mengirimkan pesan ingin di belikan kue pukis. Arfan pun tiba di rumah, dia langsung melangkah masuk mencari keberadaan istrinya.
“ Sayang..” panggilnya saat melihat istrinya duduk di pantry dengan Eve.
“ Kamu udah pulang, kue aku di beliin kan?”
“ Ini..” Arfan menunjukkan kantong makanan di hadapan Nasha.
Nasha menerima makanan itu dengan mata berbinar membuat Arfan tersenyum, “ Aku mau mandi dulu, nanti aku temenin kamu makan kue nya.”
“ Iya sayang, jangan lama ya.. baju kamu udah aku siapin di kamar.”
Maid membantu Nasha mengeluarkan pukis itu dan menatanya di atas piring, Arfan membeli dua lusin pukis dengan berbagai macam toping. Maid juga membuatkan minuman sesuai permintaan Nasha.
Di sekolah..
Arlo bergerak mengikuti langkah kaki Abila, gadis itu marah padanya karena membuatnya malu di depan Ken dan teman-temannya.
“ Bil…” panggil Arlo namun tidak di respon oleh Abila.
“ Abilaaa…” Arlo menarik lengan gadis itu agar berhenti berjalan. Arlo mengajak Abila melangkah ke taman belakang sekolah.
“ Bil.. jangan marah, gue minta maaf.” Ucap Arlo menatap wajah gadis itu.
“ Gue tanya apa alasan lo bisa semarah itu tadi?”
“ Gu..gue, cuma nggak mau kalau lo nanti di sakitin sama dia Bil.”
Abila mengernyit, “ maksud lo..?”
“ Gue nggak mau kalau Ken nanti nyakitin lo Bil.”
“ Bukan itu, maksud lo marah dan takut gue di sakitin apa? Gue bingung sama sikap lo Ar.”
Arlo terdiam, dia bingung harus ngomong apa. Saat Ken mendekati dan menyatakan rasa sukanya pada Abila tadi membuat rasa tidak rela di hatinya.
“ Lo suka sama gue Ar..?” pertanyaan to the point dari Abila membuat tubuh Arlo menegang.
“ Ke..kenapa lo mikir gitu Bil..?” jawab Arlo bertambah gugup.
“ Lo selalu menatap tajam cowok-cowok yang deketin gue, gue cuma boleh main sama teman-teman cowok selama ada lo di situ dan lo selalu marah kalau ada yang nyatain rasa sukanya sama gue.”
“ Bil, gue.. gue nggak bermaksud gitu.”
“ Gue minta lo jujur sama gue Ar.. sekarang..!!”
“ Haha, gu.. gue nggak mungkin suka sama lo Bil.. lo kan sahabat gue.” Arlo mengutuk mulutnya yang tidak berani mengakui.
Abila terpaku, “ Ohh, jadi lo nggak suka sama gue..?” ulang Abila.
“ Iya Bilaaa, kok lo bisa mikir kaya gitu.” Ucapan Arlo membuat Abila sadar bahwa dia harus mengubur semuanya.
“ Okay.. kalau emang lo nggak suka sama gue.. berenti buat ngatur hubungan gue sama teman-teman cowok dan jangan marah kalau ada yang nyatain rasa sukanya buat gue.”
Abila pergi meninggalkan Arlo yang terdiam mendengar kata-kata dari sahabatnya itu, “ Bil.. gue bego banget kan.. entah penyesalan kaya apa yang bakal gue terima.” lirih Arlo melihat kepergian Abila.
Abila melangkah di lorong sekolah yang sepi karena kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung, dia tidak kembali ke kelas namun pergi ke toilet sekolah. Dia masuk di salah satu bilik dan menangis di sana. Semuanya sudah jelas hari ini, dia sudah tidak penasaran lagi meskipun endingnya tidak sesuai dengan harapannya tapi hatinya sudah lega. Mulai hari ini semua tak lagi sama, keputusannya untuk tidak memiliki hubungan selama dia sekolah seperti keputusan yang tepat.
TBC..!!!
penasaran aku