Elijah Wood bertahun tahun menyembunyikan identitas aslinya sebagai penyihir dengan menjadi seorang Bakers pemilik The Magic Cakes.
Pengkhianatan kekasihnya Felix mengantarkan Elijah Wood pada Black Alliance, klan penyihir yang memburunya sejak kecil. Belum lagi Kutukan dewa Apollo semakin memperumit keadaannya.
Dia dihadapkan oleh situasi rumit menyelamatkan keluarganya dari ancaman Black Alliance, mematahkan kutukan Apollo dan menyelamatkan cintanya sendiri.
Akankah Elijah Wood bisa mengatasi semua permasalahan yang menghadang ataukah harus mengakui kalah dan harus tunduk pada takdir leluhurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nath_e, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Menguatkan
Pagi rupanya telah menjelang saat kami kembali ke dunia nyata. Sisa-sisa hantaman badai semalam masih terlihat, beberapa pohon tumbang, sampah berserakan dimana mana beberapa papan nama toko jg terlepas dari tempatnya.
Ken menarik tanganku untuk segera masuk ke dalam mobil. Kami mulai meninggalkan pelataran parkir. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari Kenneth. Aku masih belum percaya dengan kenyataan bahwa dia adalah jelmaan Arion salah satu penjaga Tongkat Merlin.
" Ada yang salah denganku sayang...?" tanyanya padaku
Aku bahkan tidak bisa mengedipkan mataku sedetik pun dari makhluk tampan yang ada di depanku.
" Nothing....aku hanya masih tidak percaya...ini benar kau atau bukan..." jawabku tanpa mengalihkan tatapanku
" Hentikan Elijah....kau membuatku tidak nyaman...atau kau ingin kita berhenti sebentar di sisi jalan..."
Aku hanya terdiam dan tidak menjawabnya tapi aku yakin dia tahu keinginanku. Ken menepikan mobil sesaat setelah melewati perbatasan kota.
" Okey....now you can ask me anything..."
" Sejak kapan....sejak kapan kau tahu aku seorang penyihir...?"
" Sejak pertama kelahiran mu....aku seorang dewa, Elijah....apa yang tidak aku ketahui..."
" Ya Tuhan....lalu berapa usiamu sekarang...?"
Ken tertawa...yup...silly question ...bisanya aku menanyakan hal itu padanya.
" Kau sungguh ingin mengetahuinya...?"
" Aaah....tidak lupakan...jadi...selama ini kau mengikutiku...?"
" Aku menjagamu dari kejauhan tepatnya....ketika kau beranjak dewasa...aku semakin ingin menjagamu dari dekat..."
" Aku bahkan tahu setiap kebiasaan mu...apa kau ingat malam saat kau bertemu dengan seorang anak kecil....itu aku....dalam versi kecil.."
" Aku mengingatnya....kau lari saat aku mau menanyakan siapa namamu..." kenangku
" Aku melihat kedatangan Dominic malam itu....aku berniat melindungi mu...tapi rupanya kau cukup hebat untuk menanganinya...."
" Dominic....energi gelapnya luar biasa..."
" Kau bukan tandingannya untuk saat ini....kau harus melatih dirimu dengan baik sebelum bulan baru datang..."
Aku teringat sesuatu, " Ken....kau dan Dominic mengatakan sesuatu tentang hukum alam...apa maksudnya...?"
Ken sedikit mengerutkan keningnya,
" Hukum alam....pada dasarnya setiap makhluk yang diciptakan tidak bisa dan tidak akan pernah mengetahui masa depan...baik manusia ataupun penyihir tidak diperkenankan melihat itu..."
" Dominic melanggarnya....aku seharusnya mencegah itu terjadi...tapi aku hanya ingin melihat dan mengamati apa yang ingin dia lakukan padamu..."
" Jadi maksudmu visi yang kulihat saat itu adalah masa depan ..."
" Ya.....dan....tidak....Dominic telah memanipulasi kenyataannya..."
" Benar kau pemimpin klan penyihir dan salah ketika ia memaksakan bahwa ia yang akan berkuasa mendampingi mu..."
" Aku mengerti sekarang ....itu sebabnya aku tidak bisa melihat visi itu sepenuhnya..."
" Karena aku segera menarik mu dari visi yang tidak seharusnya kau lihat.." sahut Ken
" Kau tau aku melihat visi itu....?" tanyaku keheranan
" Aku dewa...Elijah....aku selalu mengawasi mu..."
" A-apa.....termasuk ketika aku....?"
Ken tertawa dan mencubit pipiku,
" Jangan berpikir bodoh....aku dewa....tapi aku tidak semesum itu Elijah...tentu saja ada batasan yang harus aku jaga..."
Aaah....ya ...tentu saja....kenapa aku berpikir sejauh itu...bodohnya aku....
" Lalu Bibi Edwina....?"
" Nyonya Edwina tepatnya....aku memanipulasi pikirannya seolah olah aku benar keponakannya....dia wanita tua yang sangat baik....beberapa kali dia menolongku saat aku menjelma menjadi manusia...aku iba melihatnya harus menghabiskan masa tua nya sendiri...jadi...aku ku putuskan untuk menjaganya sebagai balas budi..."
" Apa yang kau lakukan pada Dominic dan para penyihir semalam...?"
" Aku menghukum mereka karena melanggar hukum alam....menghilangkan kemampuan mereka sementara..."
" Tapi aku mengkhawatirkan Dominic ....ia bersekutu dengan iblis aku yakin dia akan mendapatkan kekuatannya lagi dengan bantuan iblis...."
" Kau benar Ken....Dominic sangat mengerikan....obsesinya untuk menjadi penguasa sangat kuat..."
" Untuk itu kau harus bersiap Elijah....berlatihlah...dan cegah dia mendapatkan keinginannya..."
Aku hanya bisa terdiam saat Ken mengatakan hal itu. Sanggupkah aku melakukannya...
" Jangan khawatir....kami akan membimbing mu..." kata Ken seraya mengenggam erat tanganku.
" Ken....kutukan itu....apa kau tau cara mematahkannya....?" tanyaku penuh harap
Ken menatap mataku, ia merapikan rambut dan menelusuri wajahku. Sejurus kemudian kami sudah terlibat dalam ciuman hangat di bibir. Cukup untuk menenangkan ku.
" Kau akan menemukan jawabannya...aku percaya padamu...Merlin tidak akan memilihmu jika kau tidak mampu..."
" Apa kau yakin aku bisa Ken...?"
" Setiap kehidupan manusia sama dan layak diselamatkan....sama dengan halnya denganmu....kau pasti bisa menghentikan kutukan itu..."
" Sama seperti manusia....setiap dewa juga punya kelemahan...temukan dan kalahkan kelemahan mereka..."
" Bagaimana denganmu....apa kelemahanmu...?"
Ken tersenyum kepadaku dan mendekatkan wajahnya sekali lagi padaku lalu berbisik
" Kau...Mikhaela..."
Aku pun tersipu mendengarnya. Ken memberikan ciuman lagi di puncak kepalaku dan kembali ******* lembut bibirku. Manis sekali....aku benar-benar jatuh cinta pada dewa yang satu ini...Arion...my savior...
...----------------...
Akhirnya kami tiba di Renndolsetra, rasanya perjalanan begitu panjang dan melelahkan. Jonathan menyambut kami dan membantu menurunkan barang-barang.
" Kami sangat khawatir pada mu Elijah....aku dengar badai semalam cukup parah..." kata Jonathan sambil mengangkat kardus kertas berisi keju, butter dan buah kering.
" Kau benar Jo....aku bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak..." jawabku
" Jaringan pun sama sekali tidak berfungsi...syukurlah kalian baik-baik saja..." katanya lagi
Ken hanya sesekali tersenyum padaku tanpa menjawab. Ia membantuku membawakan beberapa kardus tepung sampai ke dapur Magic Cakes.
" Aku lapar sekali...Laura bisa kau buatkan kami makan siang..?" pintaku
" Tentu....kau duduklah....makan siang mu akan siap sebentar lagi..."
Aku duduk bersama Ken di sudut toko seperti biasanya. Kulihat beberapa buket bunga masih memenuhi toko kali ini berbagai macam mawar.
" Mereka masih mengirimkannya...." gumamku
Jonathan mendengar gumaman ku,
" Yup....dan masih akan kita terima hari-hari berikutnya..."
Siang ini Magic Cakes sedikit lengang, hanya ada satu dua pelanggan yang datang. Dan ketika tidak ada lagi orang yang masuk...
" liquescimus..."
Bunga-bunga cantik itu berubah menjadi debu halus warna warni yang beterbangan keluar Magic Cakes.
Jonathan terkejut begitu juga dengan Laura sementara Ken hanya tersenyum.
" Elijah.....itu sangat tidak sopan...." kata Laura
" Apa yang kau lakukan....kau mengubah bunga-bunga itu...?" tanya Jonathan
" Yuuup...aku benci melihatnya...dan jangan tanya kenapa Jo..."
Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya melihatku. Ken berbisik padaku,
" Kau jahat sekali sayang..."
" Stop it Ken...."
" Kau menggemaskan sekali jika sedang marah...boleh aku mencium mu...?" katanya lagi
" Cckk...Ken ......please....aku sedang tidak ingin digoda..." , Ken pun tertawa kecil melihatku cemberut.
Pintu kaca Magic Cakes terbuka, seorang pria tua di dampingi seseorang bertubuh tinggi besar masuk. Hawa dingin seketika menerpaku. Ken juga menyadari hal itu, kami saling bertatapan.
Pria tua itu berhenti sejenak dan mengedarkan pandangannya menyapu Magic Cakes. Dia menemukanku, dan tersenyum.
Aku berusaha menyambutnya dengan sopan begitu juga dengan Ken. Kami berdiri dan mendekati pria tua itu untuk memberi salam,
" Selamat datang Tetua Avram..."
...****************...
jadi siapa pemegang tongkat Merlin selanjutnya ?