Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Melza
"Mari bermain"
Dengan gerakan cepat Alberth langsung memgambil pistol yang ia sembunyikan di balik celananya, Alberth langsung menodongkan moncong pistol miliknya kearah gadis yang ada di depannya.
Kaki Elsa langsung terhenti saat Alberth menodongkan pistol kearahnya, bukan karena Elsa merasa takut atau ter intimidasi oleh Alberth. Hanya saja Elsa tidak mau meninggalkan bekas luka untuk Elza.
Alberth tertawa melihat gadis didepannya tidak bergerak.
"Berlutut bitchhhh!! " Bentak Alberth.
Elsa tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang di perintahkan oleh Alberth, Elsa harus bisa menahan dirinya untuk tidak gegabah. ia harus mendapatkan peluang agar ia bisa merebut pistol di tangan Alberth.
Alberth melangkah mendekat kearah pintu, tangannya langsung mendorong pintu itu hingga tertutup rapat. Alberth mendekat kearah Elsa, lalu Alberth berjongkok di hadapan Elsa yang sedang berlutut di hadapannya.
Alberth masih mengarahkan moncong pistol ke kepala Elsa, lalu ia menyeringai saat gadis angkuh di depannya tidak bisa berkutik sedikit pun di hadapannya.
"Kau tidak akan menang dari ku Elza" Sinis Alberth.
Salah satu tangan Alberth yang bebas langsung menyobek kemeja putih yang di kenakan oleh Elsa sehingga leher putih Elsa terpangpang jelas di hadapan Alberth, bahkan bagian dadanya sedikit terlihat.
Senyum tipis langsung muncul di bibir Elsa saat melihat tatapan Alberth teralihkan kearah dadanya yang masih tertutup oleh bra hitamnya, dengan gerakan cepat Elsa langsung membenturkan kepalanya ke wajah Alberth dengan keras.
Alberth langsung tersungkur ke belakang ketika gadis gila ini membenturkan kepalanya tepat di wajahnya, Alberth memegangi hidungnya yang patah bahkan memgeluarkan darah di lubangnya.
"Kau akan mati"
Alberth mendongakkan kepalanya ketika ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pelipisnya, ia tersenyum sinis saat pistol itu berbalik arah kearahnya.
"Never!! "
Elsa tersenyum sinis ketika Alberth masih bersikap angkuh, padahal jika Elsa menarik pelatuk di pistolnya maka Alberth akan langsung mati.
Bughhhh...
Elsa tidak punya pilihan lain selain membenturkan gagang pistol nya ke wajah Alberth hingga pria itu langsung tergeletak tidak sadarkan diri, Elsa tersenyum tipis ia tidak sabar ingin melakukan hal hal yang sudah ia rencanakan sejak tadi.
Hal pertama yang Elsa lakukan adalah mengikat tubuh Alberth diatas kursi kayu, ia mengikat tubuh Alberth dengan kabel yang ia temukan di ruangan pelindungan ini.
Setelah mengikat tubuh Alberth, Elsa langsung menuangkan isi air mineral keatas kepala Alberth.
Alberth langsung sadar ketika ia merasakan ada air yang mengguyur tubuhnya, ia meringis ketika merasakan pening di kepalanya.
"Sudah bangun eh" Elsa berjongkok di hadapan Alberth dengan seringai menyeramkan masih tercetak di wajahnya yang cantik "Sepertinya kita bisa memulai acaranya" Kekeh nya.
Elsa langsung bangkit dari posisi jongkoknya menjadi berdiri, ia melangkah mendekat kearah meja bundar yang diatasnya sudah di letakan berbagai macam peralatan untuk menyiksa Alberth.
Elsa mengambil palu dan 2 pulpen diatas meja, lalu berjalan mendekat kearah Alberth yang masih menatap dirinya dengan dingin dan tajam. Bukannya takut, Elsa malah jadi semakin bersemangat.
Elsa menarik paksa tangan Alberth agar ia bisa menancapkan pulpen itu di punggung tangan Alberth.
"Akhhhtttt" Teriak Alberth kesakitan saat pulpen itu berhasil menembus punggung tangannya hingga menancap di lengan kursi yang ada di sebelah kirinya, napas Alberth langsung memburu saat merasakan sakit yang luar biasa di tangannya "Akhhhtt" Erangnya Alberth lagi ketika gadis gila ini melakukan hal sama kepada tangan kanannya.
Darah langsung menetes ke bawah hingga membentuk sebuah genangan yang berisikan cairan kental berwarna merah.
Elsa meletakan palunya, lalu mengambil pisau kecil di atas meja. Ia kembali mendekati Alberth.
Tanpa mengatakan apa pun lagi Elsa langsung menarik daun telinga Alberth, lalu mengiris daun telinga itu secara perlahan lahan.
Alberth terus berteriak kesakitan, ia menggerak gerakan kepalanya agar Elsa tidak berhasil memotong daun telinganya.
Darah terus mengalir ketika Elsa masih menggosok gosokan bagian sisi tajam pisaunya di daun telinga Alberth, hingga daun telinga Alberth terputus dari tempatnya. Elsa juga melakukan hal yang sama di bagian telinga kanan Alberth.
Napas Alberth sudah tidak beraturan, bahkan rasa sakit itu perlahan mulai membunuhnya. Tubuhnya sudah terlalu lemah menahan rasa sakit itu. Sepertinya Elsa tidak memberikan waktu baginya untuk sekadar bernapas saja, karena Elsa sudah berdiri di depannya sambil membawa gunting pemotong ranting tanaman dengan ukuran kecil.
Teriakan penuh kesakitan Alberth langsung terdengar didalam ruangan itu, ia tidak bisa melakukan apa pun ketika satu persatu jari di tangannya sedang di potong oleh Elsa tanpa ampun.
Setetes air mata keluar dari pelupuk matanya ketika ia merasakan sakit yang luar biasa, membuat tubuh nya gemetaran sangking sakitnya.
"Apa mau mu? "tawnya Alberth dengan suara lemahnya.
Elsa mengabaikan pertanyaan Alberth, ia memilih untuk mendekat kearah meja lalu meletakan guntung pemotong ranting itu keatas meja. Matanya mulai menjelajahi peralatan itu, selanjutnya alat apa lagi yang harus ia gunakan?.
"Jawab! "Bentak Alberth masih dengan nada lemahnya "aqpa mau mu hah? Aku berjanji akan memberikan apa yang kau inginkan"
Sudut bibir Elsa tertarik hingga membentuk sebuah senyuman misterius , Elsa membalikan badannya lalu mendekat kearah Alberth.
Elsa menarik kursi yang ada di dekatnya, lalu duduk tepat di hadapan Alberth. Elsa memainkan sebuah pisau besar di tangannya, memainkan sisi tajamnya di telapak tangannya. Lalu dengan gerakan tiba tiba Elsa langsung menancapkan ujung pisau itu tepat di paha Alberth.
"Akhhhttt" Teriak Alberth kesakitan, napasnya memburu dan penglihatan Alberta semakin tidak jelas.
Senyum langsung muncul di wajah cantiknya ketika melihat itu, teriakan Alberth seperti melodi yang mengasikan di telinganya dan Elsa tidak mau berhenti untuk membuat Alberth tidak berteriak.
Plak....
Tamparan keras itu berhasil membuat Alberth terkejut hingga tatapannya kembali jelas, ia menatap gadis di depannya dengan pandangan sayunya. Ia berharap jika gadis ini segera membunuhnya, karena Alberth sudah tidak tahan dengan rasa sakit ini.
"Jangan mati, Elsa masih belum puas" Kekeh Elsa.
"Kumohon bunuh aku sekarang! " Alberth berkata lirih.
Elsa tertawa kencang mendengar permohonan itu.
"Kau baru saja memohon kepada ku, Alberth? " Tanyanya dengan nada mengejek.
"wya, aku memohon kepada mu untuk segera membunuh ku"
Elsa tertawa kembali.
Tangan Elsa langsung mencengkeram rahang Alberth dengan kuat hingga Alberth meringis kesakitan.
"dimana sikap arogan mu itu, Alberth? "
"Kau iblis menjijikkan! "Umpat Alberth tidak tahan lagi.
Seringai muncul di wajahnya, ia langsung menghempaskan cengkeraman nya dengan kasar hingga kepala Alberth terhempaskan ke belakang.
"Iblis menjijikkan ini akan membuat mu pergi ke neraka" Elsa tersenyum begitu manis.
"Maka aku akan menunggu mu disana, Elza! " Ucapnya masih dengan nada lemahnya.
Elsa menggelengkan kepalanya cepat.
"Jangan tunggu aku Alberth, aku tidak akan mau bergabung dengan manusia menjijikan seperti kamu" Elsa mencabut pisau yang menancap di paha Alberth, sehingga Alberth kembali mengerang kesakitan.
"Dasar wanita edan! "
Elsa tertawa.
"Sepertinya kamu masih memiliki tenaga untuk melanjutkan acara kita" Kekehnya.
"Bunuh aku wanita sialan, bunuh aku " Teriak Alberth putus asa.
"Nanti" Kekeh Elsa riang.
Jresss..
Jrasss..
Jlepp..
Mendengar umpatan Alberth membuat Elsa semakin bersemangat untuk menggores dan menusuk di bagian tertentu di tubuh Alberth, Elsa tidak mau moment bersenang senangnya hanya bertahan sebentar. Maka dari itu Elsa menusuk di bagian tubuh Alberth yang jauh dari organ vital.
Elsa langsung melepaskan baju yang di kenakan oleh Alberth, hingga memperlihatkan berbagai luka gores dan luka tusuk disana. Darah bahkan sudah melumuri tubuh Alberth sehingga kulit coklat nya berubah jadi merah darah.
Jleppp....
Pisau itu kembali menusuk di bagian perut Alberth, Elsa menggerakan pisau itu dengan gerakan memutar sehingga Alberth kembali berteriak kesakitan. Elsa kembali mencabut pisau tersebut lalu menjauhkan dirinya dari tubuh Alberth yang mulai sekarat karena kehabisan banyak darah.
Tangan Elsa sudah di lumuri banyak darah, bahkan kemeja putih yang ia kenakan terkena cipratan darah Alberth begitu pun dengan wajah cantiknya. Sehingga Elsa tampak menyeramkan jika di lihat oleh seseorang.
Lantai yang tadinya berwarna putih, kini berubah jadi merah.
Elsa memgambil botol berisikan wine penuh, lalu membuka tutup botolnya. Tanpa memberikan jeda kepada Alberth hanya untuk sekadar mengatur napasnya, Elsa sudah lebih dulu menuangkan cairan merah itu ke tubuh Alberth.
"AKHHHTTTT" Jerit Alberth ketika rasa perih langsung menggerogoti seluruh tubuhnya.
Elsa hanya tertawa terbahak bahak melihat Alberth layaknya seekor ikan yang di letakan di darat.
"Shit aku lupa" Tiba tiba Elsa tersenyum girang "bukwankah tadi mata mu melihat dada ku, Alberth? Bagaimana kalau aku mencongkel salah satu bola mata mu itu? " Tanya Elsa bersemangat.
Tubuh Alberth sudah mati rasa, rasanya Alberth ingin segera mati untuk menyudahi siksaan dari wanita gila ini. Alberth bahkan hanya bisa menuduhkan kepalanya lemah, ia tidak memiliki tenaga untuk sekadar menanggapi ucapan Elsa.
Elsa sudah memegang sendok makan di tangannya, lalu mendekat kearah Alberth. Elsa langsung mencengkeram rambut Alberth sehingga wajah Alberth menghadap kearahnya.
"Jangan lakukan itu ku mohon" Ucap Alberth dengan lemah "Aku... Aku.. Minta maaf.. "
"Maaf?"
"AKHHHHHTTTTT"
*****
Rasa takutnya membuat Qia berusaha berlari sejauh mungkin, teriakan penuh kesakitan terdengar sangat memilukan membuat Qia tidak mampu untuk sekadar menoleh ke belakang. Saat ini Qia hanya bisa berlari untuk sampai ke pintu keluar, ia hanya ingin hidup bersama bayi yang ada di perutnya. Walau Bima sudah meninggal, tapi Qia ingin membesarkan anak nya sendiri. Ya Qia pasti bisa, dan ia harus segera menemukan pintu keluar agar ia bisa terbebas dari Elza yang berubah jadi iblis sekaligus malaikat.
"Ughhhh"
Langkah kaki Qia mendadak terhenti saat ia merasakan perutnya begitu sakit, bahkan ia merasakan aliran darah mengalir di area pangkal pahanya.
"Bertahan lah, ku mohon" Qia mengelus perutnya sambil memejamkan matanya, berharap dengan itu maka rasa sakitnya bisa menghilang.
Qia kembali menyeret kedua kakinya untuk berjalan dengan pelan, ia harus menggunakan sisa tenaganya untuk mencapai pintu keluar.
Qia langsung terduduk lemas saat ia melihat ada banyak mayat yang tergeletak di lantai lorong, langkahnya langsung mundur ia menutup hidung sekaligus mulutnya saat melihat itu. Qia tidak bisa menahan dirinya untuk mengeluarkan isi perutnya.
Kondisi mayat yang ia ketahui adalah anak buah milik Alberth berhasil di kalahkan oleh seorang gadis yang lebih muda darinya, bahkan Qia yakin jika anak buah yang di tugaskan berjaga di gedung ini adalah orang orang yang terpilih. Tapi gadis itu berhasil membunuh mereka semua. Qia menyesal telah menganggap gadis itu lemah.
Qia kembali menggerakan kedua kakinya menuju lorong itu, walau banyak darah di dinding sekaligus mayat mayat yang tergeletak disana tapi Qia harus tetap memberanikan dirinya melawati itu semua. Demi buah cintanya bersama Bima.
Walau Qia sudah menutup mulut dan hidungnya tapi bau amis sekaligus bau busuk masih tercium oleh indra penciuman, hingga rasa mual mulai terasa lagi. Bahkan seluruh tubuhnya gemetaran saat melihat kondisi mayat anak buah Alberth semakin jelas di penglihatannya, walau Qia sudah berusaha tidak melihat mayat mayat itu.
Setelah beberapa menit Qia berjalan di lorong itu, akhirnya ia bisa menghirup udara segar karena di depannya ada cahaya matahari pertanda jika Qia semakin dekat dengan pintu keluar.
Untuk pertama kalinya Qia bersyukur karena ia masih di berikan kesempatan untuk tetap hidup oleh sang maha kuasa, dengan langkah semangatnya Qia berjalan kearah pintu keluar itu.
Senyum bahagia Qia seketika menghilang, matanya terbelalak kaget bahkan raut wajahnya berubah jadi ketakutan saat di depannya ada orang orang yang mengenakan setelan jas hitam langsung mengarahkan senjata api kearahnya.
Refleks, Qia langsung mengangkat kedua tangannya, seperti seorang buronan yang kabur tapi terlihat oleh polisi.
"Aku mohon, jangan bunuh aku" Ucap Qia dengan nada bergetar sekaligus ketakutan.
"Turunkan senjata kalian bodoh! " Umpat Raka kepada seluruh anak buahnya.
Raka langsung berjalan mendekat kearea mereka, lalu anak buah yang kebetulan menghalangi jalannya langsung memberikan ruang untuk Raka agar bisa lewat dan mendekat ke arah Qia yang sudah tampak sangat ketakutan.
"Jangan takut, kami tidak akan membunuh mu" Ucap Raka mencoba untuk semakin mendekat kearah Qia "Kemarilah, aku butuh bantuan mu" Raka mengulurkan tangannya kepada Qia "Jangan takut! " Raka menatap Qia lembut berusaha menghilangkan keraguan di dalam diri wanita di depannya.
Qia menatap Raka dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, walau Qia merasa curiga dengan Raka tapi ia tidak punya pilihan lain selain mempercayai Raka. Qia menerima uluran tangan Raka, lalu ia merasakan tangannya di genggam erat oleh Raka.
Mata Raka terbelalak kaget saat melihat kaki Qia berdarah.
"gqila, darah! Tim medis! " Teriak Raka.
Dengan gerakan cepat Raka langsung membopong tubuh Qia dengan panik, ia berlari kencang menuju kamp yang sudah di dirikan di halaman gedung tua itu.
Raka masuk kedalam kamp lalu membaringkan tubuh Qia ke atas matras, lalu ia membiarkan tim medis mengambil alih untuk menangani wanita itu.
Raka keluar dari sana, ia mengacak rambutnya frustrasi. Untungnya Raka membawa para medis seperti apa yang di katakan oleh Lucas, kalau tidak mungkin Raka akan kebingungan menangani mereka yang terluka. Raka menatap gedung tua itu dengan pandangan kesal sekaligus khawatir.
Ia tidak bisa membiarkan Elsa semakin gila, ia takut terjadi sesuatu kepada Elza jika di biarkan lebih lama lagi. Raka harus mengambil tindakan secepatnya agar ia bisa memastikan jika Elza baik baik saja.
Raka memutuskan untuk masuk kedalam gedung tua itu, apa pun risikonya Raka akan tetap menghadapi itu semua. Ya, Raka harus segera masuk kedalam sana untuk menyelamatkan Elza.
Setelah mempersiapkan peralatan yang akan ia butuhkan didalam sana, Raka langsung menggendong tas kecil yang berisikan pelataran yang mungkin bisa membantu untuk menghentikan kegilaan Elsa.
Raka hanya membawa 3 anak buahnya untuk ikut masuk kedalam gedung tua itu, sementara sisanya ditugaskan untuk berjaga di luar. Takutnya Elsa melarikan diri dari sini.
"bawgaimana? "Tanya Raka menatap seseorang yang ia suruh untuk memeriksa keadaan orang orang yang tergeletak diatas lantai.
"Meninggal bos" Jawabnya.
"Penyebab? "
"Kehabisan darah"
Raka memijit pangkal pahanya ketika mendapatkan informasi itu, ia bisa menyimpulkan siapa yang telah membunuh mereka, siapa lagi kalau bukan Elsa.
"Mari berpencar" Raka menatap satu persatu wajah anak buahnya "Kita harus menemukan Elza sebelum dia kabur dari sini"Tambahnya.
"Baik bos"
"Jika salah satu dari kalian menemukan Elza, segera laporkan ke gue dan.. ..." Raka menarik napasnya panjang "Jangan berani mendekati dia"
"Baik bos"
Setelah mendapatkan instruksi dari Raka, ketiga pria itu langsung berpencar ke arah yang berbeda beda.
Raka menghembuskan napasnya kasar ketika melihat anak buahnya sudah menghilang dari penglihatannya, Raka berharap jika mereka tidak akan terluka saat bertemu dengan Elsa. Raka langsung bergegas mencari keberadaan Elsa sebelum Elsa selesai bersenang senang.
*****
Raka langsung bergegas menuju lokasi dimana salah satu anak buahnya berhasil menemukan keberadaan Elsa, beberapa kali Raka hampir terjatuh ketika ia mulai menaiki undakan tangga menuju lantai dua.
Sesampainya disana Raka melihat anak buahnya tengah menunggu kedatangannya.
"Dimana? "Tanya Raka langsung.
"Mereka ada didalam"
Raka mengikuti apa yang di tunjukan oleh anak buahnya, lalu mendekat kearah pintu berlapis baja itu.
"Cepat buka"
"Baik bos"
Raka langsung mengeluarkan jarum suntik yang berisikan cairan obat bius, hanya ini satu satunya cara yang bisa Raka lakukan untuk mengembalikan kesadaran Elza.
Bipp..
Kunci pintu itu terbuka, Raka langsung mendorong pintu tersebut hingga memperlihatkan isi dari ruang rahasia itu.
"Elza!! " Panggil Raka cepat.
Panggilan itu membuat gerakan Elsa terhenti, padahal ia sedang berusaha mengeluarkan bola mata Alberth. Elsa mendongakkan kepalanya, lalu menatap seseorang yang mengganggu kesenangannya itu.
"Letakan sendoknya! " Perintah Raka tegas.
Raka melangkah memasuki ruang rahasia itu dengan perlahan.
Elsa berdecak kesal.
"Jangan menganggu kesenangan Elsa"
Raka menggelengkan kepalanya cepat.
"Kamu tidak perlu menjadi setan untuk melawan setan, Elsa!"
Elsa menghembuskan napasnya kasar.
"Cukup Elsa cukup! Kamu membuat pemilik tubuh ini tampak menyeramkan, sebaiknya hentikan aksi gila mu itu"
Raka masih berusaha melangkahkan kakinya mendekat kearah Elsa secara perlahan.
"Dia membunuh teman Elza, maka Elsa harus membunuh orang ini"
"Tidak! Elza tidak akan suka membunuh orang demi membalaskan kematian temannya, Elza punya cara sendiri untuk membalas kematian temannya" Jelas Raka.
"Tapi... Dia sudah membuat Elza sedih"
"Tidak! " Raka berkata dengan nada tegasnya "Elza tidak sedih, Elza orang yang kuat"
"Elsa tidak mau! Elsa mau membunuh orang ini"
"Tidak!! " Bentak Raka "Aku mohon jangan lakukan itu! Kamu hanya akan membuat Elza seperti monster! "
Elsa terdiam.
"Aku mohon hentikan! " Bentak Raka "Kasian Elza, dia tidak tahu apa apa dengan apa yang baru saja kamu lakukan. Apa kamu tega membiarkan semua orang menjauhi Elza, karena merasa takut"
Elsa menggelengkan kepalanya cepat.
"Elsa nggak mau Elza jadi sedih"
"Maka dari itu sebaiknya kamu berhenti, biar aku yang menangani orang ini"
"Baiklah"
Akhirnya Raka bisa bernapas lega saat Elsa mendengar ucapannya, Raka langsung membopong tubuh tidak sadarkan diri itu.
"Bos, kita apakan orang ini? "Tanya anak buahnya.
"Biarkan saja" Jawab Raka tidak peduli "Dia yang membuat sisi gelap Elza bangkit, maka dia akan menerika konsekuensi nya"
Anak buahnya hanya diam saja.
"bawkar tempat ini, buat seolah olah kematian mereka karena kecelakaan " Perintah Raka dengan tegas kepada anak buahnya "Dan bawa Leo untuk mencari teman Elza"
"Baik bos"
Raka langsung bergegas keluar dari tempat itu sambil membopong tubuh Elza yang tidak sadarkan diri itu, Raka menatap sebentar wajah cantik Elza yang di penuhi oleh banyak darah. Raka menghembuskan napasnya kasar, ia merasa begitu kasian dengan Elza. Gadis ini sudah menanggung banyak penderitaan di umurnya yang masih begitu muda, bahkan Raka tidak bisa menempati janjinya untuk melindungi Elza.
"Maaffin gue Za"
*****
1 hari yang lalu....
Menjadi kepala keamanan perusahaan Micheal'Grup, bukan perkara yang mudah. Apalagi menghadapi sikap Melvin yang sering meledak ledak ketika terjadi sesuatu, membuat Alex selalu berpikir keras untuk mencari solusi dari masalah itu.
Kalau saja Melvin bukan sahabat baiknya, mungkin Alex sudah keluar dari pekerjaan nya ini.
Terkadang Alex harus memiliki stok kesabaran yang banyak untuk menghadapi sikap Melvin yang sering marah marah tanpa memberikan solusi kepadanya. Sialan kau Melvin!.
Sudah beberapa hari ini Alex harus bertugas lembur karena ia sedang meningkatkan tingkat keamanan dari perusahaan Micheal'Grup, agar semua informasi penting di dalam perusahaan tidak bocor keluar.
Alex masih berusaha menyelidiki pengkhianat yang membocorkan tentang jadwal Melvin tentang kunjungannya di mall beberapa hari yang lalu, setelah mendengar semua cerita tentang insiden yang beberapa hari di alami oleh Melvin. Alex langsung bisa menyimpulkan jika ada seseorang yang membocorkan jadwal Melvin.
Mana mungkin mereka menyerang Melvin secara dadakan, pasti sudah di rencanakan jauh jauh hari. Pikir Alex begitu.
Kecurigaan Alex jatuh kepada Qia, beberapa kali Alex melihat interaksi antara Qia dengan pria asing di beberapa titik tersembunyi. Untungnya Alex memasang kamera CCTV di tempat tersembunyi, sehingga mereka tidak sadar jika ada CCTV di sana.
Alex seketika teringat sesuatu tentang seseorang yang menolong Melvin, tapi Alex tidak menemukan apa pun di sana selain Melvin. Alex menduga jika kamera CCTV sudah di manipulasi oleh seseorang sehingga orang yang menolong Melvin tidak meninggalkan jejak sedikit pun.
Sepertinya ia harus menemui Qia untuk mengorek informasi dari wanita itu, tapi Alex sudah menghubungi Qia berulang kali tapi nomernya tidak aktif bahkan Alex sudah pergi ke club tempat Qia bekerja. Tapi sang pemilik mengatakan jika Qia sudah berhenti bekerja di club sejak beberapa hari yang lalu.
Qia menghilang, dan itu membuat Alex kebingungan untuk mencari dalang dari penyerangan Melvin.
Memikirkan itu semua membuat kepala Alex pusing, ia melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sudah pukul 20.00 malam, dan Alex masih belum keluar dari ruang kerjanya.
Alex menghembuskan napasnya kasar, ia memutuskan untuk beranjak dari sana karena ia harus segera pulang.
Selama di perjalanan pulang Alex tidak bisa berhenti menguap, padahal sangat berbahaya baginya mengemudikan mobil dalam keadaan mengantuk. Tapi Alex tidak punya pilihan lain selain mengemudikan mobilnya sendiri.
Berulang kali Alex menguap , mungkin karena ia terlalu lelah sehingga ia butuh tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah sekali.
Jalanan tampak lenggang, walau begitu Alex harus tetap fokus agar mobilnya tidak keluar dari jalur. Bisa bahaya jika ia sampai keluar jalur.
"Astagfirullah " Kaget Alex
Kakinya langsung menginjak pedal rem secara mendadak saat matanya tidak sengaja melihat mobil yang berguling guling karena di tabrak oleh sebuah truk yang berlawanan arah dengannya, Alex langsung mematikan mesin mobil dan keluar dari mobilnya.
Dengan cepat Alex langsung menghubungi ambulans agar segera ke lokasinya.
Alex hendak mendekat kearah mobil yang mulai mengeluarkan kepulan asap hitam, tapi langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang ia yakini si penabrak. Bukannya menolong, tapi pria itu malah seperti berbicara dengan seseorang lewat telepon. Setelah berbicara, orang itu masuk kedalam truk membalikan mobilnya dan pergi begitu saja.
Buru buru Alex berlari kearah mobil itu.
Ia langsung memecahkan jendela kaca mobil dengan sikunya, setelah pecah ia membuka pintu mobil itu hingga lebar. Alex membulatkan kedua matanya saat melihat 2 pria disana sudah tidak sadarkan diri, bahkan mereka terluka cukup parah.
Sebelum mobil itu meledak, alangkah lebih baiknya Alex segera mengeluarkan kedua orang itu dari dalam sana. Walau tindakan Alex terbilang cukup berani, tapi Alex bisa bernapas lega ketika ia berhasil menyelamatkan kedua pria tidak sadarkan diri ini sebelum akhirnya mobil itu meledak.
Napas Alex naik turun, keringat bercucuran di wajahnya yang sudah tidak karuan lagi. Bahkan pakaian yang di kenakan olehnya sudah kotor dan ada beberapa bagian yang terkena bercak darah.
Beberapa menit kemudian ambulans datang, keduanya langsung di masukan kedalam ambulans sementara Alex mengikuti mobil ambulans itu dari belakang.
Tanpa Alex ketahui jika orang yang ia selamatkan adalah bagian dari anggota hantu, Vian dan Calvin.