Zahra awalnya hanya mengagumi sosok lelaki tampan yang selalu bersikap dingin, namun sering sekali ia merasa kesal kepadanya karena sikapnya itu. Siapa sangka kekesalan itu akhirnya berubah jadi cinta.
Sama halnya dengan Zaidan yang juga tertarik dengan Zahra tetapi tidak berani untuk mengatakan karena status mereka, dan menganggap itu adalah sesuatu yang mustahil untuk di gapai.
Bagaimana perjalanan Cinta Zahra dan Zaidan ?
Penasaran gimana ceritanya ?
Langsung baca aja ya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keyakinan Hati Zaidan
"Malam ini kok hujan lagi sih, udah berapa malam ini hujan terus deh kayaknya. Duh bawaannya hujan hujan gini jadi pengen makan mi ayam pangsit pak Agus deh. Sampe ngiler nih." Ucap Zahra sembari menarik gorden jendela kamarnya dan melihat keluar.
"Wah rame ternyata. Nggak papa deh kalau lagi pengen begini nggak bisa ditunda lagi nih." Lanjut Zahra yang sedang bersiap siap untuk keluar kamarnya.
Tak lama setelah itu, Zahra keluar dengan sebuat payung ditangannya. Dari depan rumah Zahra memang langsung terlihat warung mi ayam nya di depan. Zahra hanya mengenakan Hoodie berwarna putih dan celana jeans warna Aqua, dan dengan rambut yang dikuncirnya. Terlihat sederhana namun sangat cantik. Begitu ia keluar dari pagar rumahnya, saat ia hendak menyeberang jalanan. Zaidan yang melewati jalan tersebut, berhenti seketika karena melihat Zahra sedang berdiri di pinggir jalan depan rumahnya.
"Eh itu Zahra bukan ? Mau kemana dia hujan hujan begini ?" Tanya Zaidan pada diri sendiri.
Setelah berhasil menyeberang, Zahra langsung masuk ke dalam warung mi ayam tersebut. Dan ia meletakkan payung nya di luar lalu membuka tudung Hoodie nya yang menutupi kepalanya tadi sehingga terlihat rambut yang dikuncirnya.
"Dia mau makan mi ayam ya ? Kebetulan ni bisa liat dia malam ini." Ucap Zaidan yang sedang memutar mobil dan memarkirkan di depan warung mi ayam tersebut.
"Pak Agus, Mi ayam pangsit seperti biasa satu ya. Jangan lupa banyakin ayam sama sayurnya loh pak." Ucap Zahra sambil tetawa.
"Iya nak Zahra seperti biasa." Balas pak Agus yang juga tertawa.
Meski hujan hujan namun pelanggan Mi ayam pak Agus ini terus berdatangan. Tak terkecuali Zaidan, Setelah melihat posisi Zahra, Zaidan mencari tempat duduk yang pas agar bisa melihat Zahra tanpa ketahuan. Tetapi sayang sekali, semua tempat sudah penuh kecuali tempat duduk Zahra, karena Zahra hanya duduk sendiri.
"Yah nggak ada yang kosong lagi. kayaknya terpaksa nih harus duduk di depan Zahra." Batin Zaidan yang sedang berjalan menuju tempat yang Zahra duduki.
"Ehem.. Zahra saya boleh duduk disini nggak ? Soalnya udah nggak ada tempat yang kosong lagi kecuali di tempat kamu ini." Ucapnya menanyai Zahra.
Zahra sungguh kaget karena tiba tiba Zaidan sudah berdiri didepannya. Padahal, sedari tadi ia tidak melihat akan keberadaan Zaidan disini.
"Hah.. Eh. Pa..Pakk Zaidan." Ucap Zahra sembari melihat ke kanan dan ke kiri. Ternyata memang sudah penuh.
"Iya silahkan pak." Lanjut Zahra.
Zaidan duduk tepat dihadapan Zahra, itu sangat membuat Zahra panik.
"Ini nak Zahra mi ayamnya." Ucap pak Agus sambil meletakkan mangkok mi didepan mereka.
"Ah tumben nak Zahra malam ini datang bersama pacarnya, bisa selalu sendiri." Lanjut pak Agus yang membercandai Zahra.
"Eh.. Bu..bukan pak Agus." Ucap Zahra tersipu malu oleh ucapan oak Agus.
"Terimakasih pak Agus !" Sela Zaidan tiba tiba membuat Zahra sangat canggung.
"Silahkan makan Zahra, kamu jangan perdulikan saya yang dusuk didepan kamu. Anggap saja tidak ada sya disini." Ucap Zaidan sampai membuat Zahra mendongak keatas menatap Zaidan.
"Eh.. Bagaimana bisa gue nggak anggap dia didepan gue. Ya Tuhan ini orang, gue sampe nggak bisa makan sumpah." Batin Zahra.
"Ah nggak apa apa kok pak. Bapak santai aja hehe." Jawab Zahra santai. Sebenarnya ia sangat panik, sampai memegang sendok dan garpu saja ia gemetaran. Namun Zahra berusah untuk tetap santai seperti tak terjadi apa apa.
"Hm.. Kamu sering kah makan disini ? Saya baru pertama kali makan disini. Karena kebetulan pas saya lewat tadi wangi mi ayam nya membuat saya lapar." Ucap Zaidan sembari menyendoki mi didalam mangkok..
"Iya baru baru ini juga sih sering. Karena warung mi ayam pak Agus ini baru buka sebulan yang lalu. Yah karena kebetulan sekali pas di depan rumah jadi sering kesini jadinya." Ucap Zahra.
"Pasti pak, kalau udah nyoba sekali bakal ketagihan deh. Coba aja nanti kalau nggak percaya." Lanjut Zahra.
"Iya sepertinya akan begitu !" Balas Zaidan yang memandang Zahra denga lekat.
"Eh ada apa pak ? Ada sesuatu kah di wajah saya." Tanya Zahra sambil meraba area wajahnya.
"Hm.. Tunggu sebentar !" Ucap Zaidan Sambil menyentuh dagu Zahra.
Deg..Deg..Deg.. Degupan jantung Zahra mulai berdebar kencang. Ia sampai tercengang karena Zaidan tiba tiba menyentuh dagunya.
"Maaf ya ! Kamu makannya berlepotan nih. Kamu gerogi makan bareng saya ? Atau saya pindah kesebelah kamu saja biar kamu makan nya nggak nggak ngeliatin saya" Ucap Zaidan tersenyum.
"Ah ngg..nggak papa kok pak, Bapak disitu aja nggak apa apa."Ucap Zahra terbata bata karena gerogi.
"Kalau duduk disebelah gue yang ada gue makin panik. Astaga, ini orang apa sengaja ngerjain gue apa gimana sih ?" Batin Zahra.
"Hm yaudah. Kamu lanjut makan aja deh nggak perlu gerogi. Saya nggak gangguin kamu Zahra." Lanjut Zaidan Sambil menyeruputi segelas teh hangat diatas mejanya.
"Ternyata dia bisa tersenyum lepas juga seperti itu ya" Batin Zahra. Ia terpesona saat melihat Zaidan tersenyum hingga pipi Zahra memerah.
"Bapak ternyata nggak sedingin yang saya pikirkan. Awalnya dulu saya sangat takut terhadap bapak karena bapak selalu memasang muka datar tanpa ekspresi sedikitpun." Ucap Zahra yang seketika tiba tiba jadi hening.
"Oh, Sebenarnya saya itu seperti yang kamu pikirkan lah Zahra, tapi terhadap kamu saya tau ntah mengapa saya berani seperti ini mengajak kamu ngobrol di luar begini.
"Deg..Deg..Deg.. Apa maksudnya itu." Batin Zahra.
"Ma..Maksud bapak gimana ?" Tanya Zahra ragu ragu.
"Maksud saya, saya memang orang suka bersikap dingin sama semua orang. Tetapi terhadap kamu rasanya aku mulai mencair. Kamu pahamkan maksud saya ?" Lanjut Zaidan.
"Ah iya pak, saya paham sedikit." Jawab Zahra dengan santai.
"Astaga ! Ternyata gue bisa buat dia yang sedingin balok es itu mencair kah ?" Batin Zahra. Ia Tersipu malu saat Zaidan mengatakan hal tadi.
Zaidan masih saja memandang lekat Zahra tanpa sepengetahuannya. Ia sangat terpesona oleh Zahra. Bahkan agar dapat mengobrol dengan dia memberanikan dirinya untuk menemui Zahra yang seolah olah bertemu karena kebetulan tanpa disengaja.
"Zahra, sekarang aku sudah meyakini hatiku. Sepertinya kamu harus menjadi milikku suatu saat nanti. Tidak perduli jika nanti kamu akan berpacaran dengan siapa, aku akan berusaha terus untuk mendapatkan kamu. Saat ini, aku masih belum bisa berterus terang padamu. Jika waktunya sudah tepat, aku akan mengatakan semuanya padamu. Ku mohon tunggulah aku Zahra." Ucap Zaidan didalam hatinya sembari terus memandangi Zahra.
Zahra adalah orang yang sangat diinginkan oleh Zaidan saat ini. Sebab baginya Zahra adalah wanita yang sangat menakjubkan. Selalu saja bisa membuat jantung berdebar debar setiap kali ia bertemu dengan Zahra. Zahra satu satunya gadis yang mengisi kekosongan hati Zaidan saat ini setelah sekian lama tak berpenghuni.
"Oh iya pak, saya udah selesai. Sepertinya saya harus pergi duluan." Ucap Zahra yang hendak buru buru pergi dari sana. Karena pikirnya semakin lama ia berada disini dengan pak Zaidan ia yakin takkan kuat menahan debaran jantungnya lagi.
"Ah, baiklah. Barengan saja saya juga sudah selesai. Biarkan saya yang membayar nya Zahra." Ucap Zaidan sembari mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Tidak usah pak, saya bayar sendiri aja. Jadi nggak enak di bayarin bapak." Jawab Zahra.
"Nggak apa apa, anggap saja sebagai tanda terimakasih karna udah menemani saya makan malam ini." Lanjut Zaidan sembari memberikan uang kepada pak Agus pemilik warung mi ayam.
"Yasudah kalau begitu. Terimakasih pak ! Lain kali saya yang akan mentraktir bapak ya !" Ucap Zahra yang mengangkat dua jarinya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Deg..Deg..Deg.. ( Zaidan tertegun hingga pipi Zaidan memerah melihat Zahra yang sangat cantik ketika tersenyum ), oke. Saya tunggu traktiran kamu di lain waktu ya Zahra." Ucap Zaidan yang lalu pergi menuju mobilnya .
Zahra pun akhirnya pulang kerumah setelah berada diluar cukup lama. Setiba dirumah Zahra langsung ke kamarnya.
"Ya Tuhan.. Ya Tuhan. Ini sungguh bukan mimpi, gue barusan makan bersama pak Zaidan dan mengobrol cukup lama dengannya. Gue nggak pernah bayangin ini sebelumnya. Astaga gue bahagia banget. Terimakasih Tuhan untuk malam ini." Ucap Zahra sembari meloncat loncat di kamarnya kemudian melemparkan dirinya ke atas tempat tidur.
**Di lain tempat**
"Selamat malam Zahra, Semoga selanjut kita bisa bertemu lagi seperti malam ini." Ucap Zaidan sembari mengelus wajah Zahra yang ada di layar ponselnya itu..
Zahra dan Zaidan sama sama berharap semoga setelah malam ini akan ada hari hari atau malam selanjutnya lagi..