SQUEL TERNYATA AKU ORANG KETIGA
Kisah tentang ketulusan ....
Dan sungguh setelah kesulitan terdapat kemudahan.
Sebuah peristiwa nahas mempertemukan dua sosok terpaut usia 20 tahun.
Keduanya patah hati dan merana sebab kehilangan orang tercinta. Hingga kekosongan itu saling melengkapi ...
Kebersamaan perlahan menumbuhkan benih-benih cinta itu ...
Rasa yang sekian lama seolah mati, kini memiliki tempat berlabuh.
Mampu kah hubungan itu mudah ditempuh?
"Setiap melihatmu aku seakan sedang melihat Dia ... Dan darimu aku kembali tau ada ekspresi wajah bernama senyum dan ada sebuah rasa bersama bahagia ...." (Dimas)
"Siapa sebetulnya pemilih wajah ini? Apakah ia begitu berarti untuk Om?" (Shofie)
Selain kisah kedua tokoh di atas, kisah anak-anak Dimas juga akan ditampilkan di sini❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAH PAHAM
"Viona?"
Tanpa aba-aba wanita yang tak pernah menyerah mendekati Dimas itu tiba-tiba merangkul bahu Dimas dan menautkan sebelah pipinya.
"Kamu semakin tampan, Mas!"
"Maaf Vi, tolong jaga sikapmu!" Sepasang tangan itu mendorong bahu Viona menjauh.
"Oh ... sorry. Bahagia membuatku lupa! Kamu tidak ingin memperkenalkanku pada besanmu, Mas?"
"Kuharap kamu tidak lupa batasanmu, Vi! Silahkan makan dan jangan ganggu acaraku!"
"Oh oke!"
Dari kejauhan Billy mendekat. "Om ... keluargaku akan pamit pulang!"
"Oh, baiklah!"
Dimas berjalan beriringan dengan Billy menghampiri keluarganya. Mereka melontarkan rasa terima kasih dan berbagai perharapan baik. Dimas mengangguk dan melontar rasa terima kasih pula berharap hubungan dua keluarga akan semakin erat sampai pernikahan itu tiba dan seterusnya. Tawa dan senyum mewarnai akhir pertemuan mereka.
Keluarga Dimas mengantar keluarga Billy ke pelataran. Di sana Billy meminta izin mengajak Mayra bersamanya dan akan mengantar Mayra setelahnya!
Dimas melihat tatapan pengharapan Mayra, ia pun mengiyakan namun tetap harus saling menjaga dan tidak boleh terlalu larut. Beberapa saat setelahnya satu-persatu mobil keluarga Billy ke luar melalui gerbang.
Diyara yang khawatir dengan kondisi Qii langsung naik ke lantai atas, keluarga Firgie tampak undur diri. Di kejauhan Dirga sedang berbincang dengan Viona. Dimas mendekat.
"Ga, ikut Ayah!"
"Permisi, Tante!" ucapan lirih itu terdengar di telinga Dimas.
Keduanya masuk ke ruang kerja. Dimas langsung melontar tanya.
"Ada apa sebetulnya ini Ga? Bagaimana bisa wanita itu bersamamu dan kamu mengajaknya ke sini!"
"Ia datang ke toko tadi. Ia diberi tahu Oma katanya tentang acara pertunangan Mayra dan ia ingin hadir!"
"Oma?" Dirga mengangguk.
"Aku ke atas dulu, Yah! Tubuhku lengket!" Raga tegap itu tak lama menghilang.
Dimas menghampiri Viona dengan otak memikirkan kondisi Shofi. Tampak Aldo terlihat mondar-mandir area rumah dan Dimas meyakini jelas Aldo pasti mencari Shofi.
"Sekarang katakan maksud kedatanganmu, Vi!"
"Beginikah caramu bicara pada wanita, Mas?" Jemari Viona sudah berada di dada Dimas. Dimas menghempasnya.
"Ayolah Mas, bahkan setelah istrimu itu meninggal kamu masih memberi jarak padaku!"
"Semua jelas Vi, bagiku Lyra selalu hidup di hatiku! Jadi jangan ganggu kehidupanku!" lugas Dimas.
"Mengganggu apa Mas, kamu harus sadar mbak Lyra sudah tidak ada dan kamu berhak bahagia kembali. Dan itu bersamaku!" Dimas tersenyum menaikkan satu sudut bibirnya ke atas.
"Kamu tau aku selalu mencintaimu sejak dulu, Mas!" ujar Viona lagi.
"Tapi aku tidak memiliki rasa apa pun dan berkali pula kukatakan tidak ada wanita mana pun yang akan mengganti posisi Lyraku!"
"Sadar, Mas! Sampai kapan kamu akan terpuruk dalam bayang-bayang dan kenangan!"
"Sebaiknya kamu pulang, Vi!"
Dimas beranjak, namun dengan langkah cepat Viona segera mengejar dan memeluk Dimas dari belakang.
"Viona, lepas!"
"Aku tidak akan melepaskanmu, Mas!
"Kamu gila! Jangan sampai aku menyakitimu!"
•
•
Di sebuah kamar, Shofi diselimuti resah setelah melihat orang-orang dalam masa lalunya berada sangat dekat darinya. Batinnya terus berbisik ....
Mengapa mereka ada di rumah ini? Apa mereka ada hubungan dengan keluarga calon suami Mayra?"
Ingin menceritakan gundah dan menanyakan segalanya pada Dimas, tapi ia tak jua datang setelah sebelumnya meminta Shofi menunggunya. Lirih terdengar suara satu-persatu mobil keluar dari gerbang.
"Mereka pasti sudah pergi, aku harus keluar dan segera pergi dari rumah ini! Berada di rumah ini membuatku sesak!" batin Shofi.
Shofi membuka pintu kamar itu perlahan, suasana tampak sepi, suara bik Imas yang mencuci piring yang masih terdengar. Ia terus melangkah maju hingga sebuah suara mengagetkannya.
"Apa yang kamu lakukan di rumahku?" Shofi tak sanggup berkata, teriakan itu mendominasi otaknya menyalurkan rasa takut di hatinya. Ia berbalik tampak Dirga di sana.
"A-ku ...."
"Kalau kamu mencari ayahku, ia sedang bersama teman dekatnya di ruang tamu!"
Ada binar bahagia sebab Dimas masih ada di sana. Shofi terus bergeming sebab Dirga tak jua beranjak.
"Kamu sungguh tak pantas menggunakan wajah bunda kami. Selamanya aku tidak akan ikhlas! Aku minta suatu saat kamu melepas wajah itu!" Shofi masih bergeming, kata-kata Dirga sangat menyakitinya. Ia menahan diri untuk tak membalas kata-kata Dirga, karena orang semacam Dirga tidak akan mempan dengan kata-kata, ia akan memiliki seribu pembenaran atas kata-katanya.
"Sana temui Ayahku! Tapi jangan ganggu ia dan temannya!" ucap Dirga menaiki anak tangga ke lantai atas setelahnya.
Shofi bersyukur lelaki itu tak terlihat lagi, perlahan ia menuju ruang tamu. Tapi alanglah terhenyak Shofi pria yang begitu dikagumi karena selalu menjaganya selama ini ternyata sedang berada dalam dekapan wanita. Walau wanita itu yang terlihat memeluk Dimas dari belakang tapi tetap saja Dimas seolah tak berkutik dan membiarkannya.
"Katanya tante Lyra adalah satu-satunya tapi kelakuan Om kali ini sangat mengecewakanku! Om jahat! Ya terang ... wanita itu terlihat sangat dewasa dan cantik!" bisiknya berkali-kali. Dadanya sesak. Rasa kesal, marah, kecewa menguasai. Ia berlari berbalik arah hingga bertabrakan dengan Aldo.
"Mas Aldo!"
"Akhirnya! Sejak tadi aku mencarimu, Shof ...."
"Mass ... bawa aku keluar dari rumah ini, please!" Aldo heran tapi rahut wajah Shofi membuat ia mantap membawanya pergi.
"Jangan ... jangan lewat situ, Mas! Kita lewat pintu samping saja!"
"Tidak izin mas Dimas?" Shofi terus menggeleng.
•
•
Di ruang tamu, Dimas yang kesal dengan perilaku Viona yang justru semakin erat mendekapnya, merasa kehilangan kesabaran dan terpaksa harus berbuat kasar. Ia merenggangkan lengannya sehingga himpitan jemari Viona merenggang. Ia menarik kedua lengan itu keatas, membalik tubuhnya dan menghempas tubuh Viona membentur dinding.
"Akhh ... mas, kenapa kamu kasar?"
"Jika kamu sejak awal mendengarkanku, aku tidak akan berbuat begitu!"
"Mang Jaja ...!"
"Iya, Pak!"
"Antar ibu Viona pulang!"
"Tapi Mas?"
"Ada masalah? Atau kamu lebih senang pulang dengan berjalan kaki?" Dimas meninggalkan ruang tamu dan bergegas ke kamar tamu, namun ia kaget tak mendapati Shofi di sana.
Dimas bertanya pada Imas, dan ia mendapati jawaban bahwa Shofi melewati pintu samping pergi dengan Aldo.
Hatinya semakin kacau. "Bukankah sudah kubilang kamu harus menungguku, Shof! Tapi mengapa kamu pergi dengan Aldo?" monolog Dimas. Ia dengan cepat meraih teriosnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
⛅Happy reading😘
makanya jadi orang jgn lemah gitu