Wanita yang telah aku nikahi, ternyata menyimpan segudang rahasia dan teka-teki.
Siapakah Dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis Jelata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Entah seperti apa murkanya Endar di luaran sana, aku pun tidak tahu. Yang jelas ... sekarang Rona sudah berada di dalam pelukanku. Jadi, aku sudah tidak peduli dengan masalahnya itu.
Namun, kalau boleh jujur, sebelumnya aku tidak begitu yakin, jika aku dapat memenangkan perseteruan itu. Bisa dibayangkan, aku yang hanya bermodalkan tekad dan keberanian, dengan butanya nekat mempertaruhkan seluruh jiwa dan raga demi dia--pujaan kalbu.
Nah!
Itulah yang disebut dengan keyakinan. Jika kita yakin, maka Tuhan akan kabulkan. Selagi kita mau memperjuangkan, Dia juga tidak akan mungkin menyia-nyiakan.
Ketakutan itu sebenarnya hanya ada di dalam pikiran. Jika saja, setiap orang berpikir bahwa dirinya adalah seorang pemberani, maka ketakutan itu pasti akan terpental jauh--ke lautan.
Jadi, bertindaklah sesuai suara hati, karena suara hati tak akan pernah mengkhianati. Namun, jika memang harus mengikuti pikiran diri, maka bersiap-siaplah menanggung penyesalan di kemudian hari.
...🍂🍂🍂...
Rona sontak menarik wajahnya, mungkin tak sepenuhnya percaya dengan apa yang sudah aku katakan. Terang saja, bagaimana bisa kami berada di surga jika belum melalui ritual penguburan? Apa mungkin ia sedang berpikir bahwa aku ini sudah lupa ingatan?
"Mas ... tolong jangan buat aku takut!" ujarnya kemudian diikuti ringisan di seluruh penjuru wajahnya.
Sebenarnya aku ingin tertawa terbahak-bahak dibuatnya, namun aku khawatir ia akan pundung level tiga. Jadi, aku hanya membuang wajah ke arah lain, lalu menggigit bibir bawahku agar tidak terbawa suasana. Suasana menggelikan yang begitu menggelitik ruang dada.
"Aku ini bukan Endar, ayo kita turun!" Tanpa menggubris perkataannya, aku lantas melepas sabuk pengaman, dan keluar dari mobil. Sedangkan ia masih terpaku menatap kaca depan--mungkin sedang merasa tersentil.
Ah, aku lupa!
Wanita itu begitu sensitif, walau hanya dengan kalimat sederhana yang menurut laki-laki itu adalah sebentuk gurauan.
Ini tidak bisa dibiarkan!
Dengan gerak cepat, kuhitari jok belakang, lalu membukakan pintu untuknya yang masih saja dalam mode terdiam.
"Maaf ... aku gak bermaksud mengingatkanmu padanya," ucapku dengan wajah penuh penyesalan. Setelah ini, aku berjanji tidak akan berkata bodoh lagi dalam setiap ucapan. "Ayo turun ... ada yang sudah menunggumu di dalam." Dialogku berikutnya sukses membuat ia mengarahkan pandangan.
"Siapa?" tanyanya dengan wajah yang bermandikan rasa penasaran.
"Kejutan ...," bisikku di telinganya dalam mode lamban. Ia kembali tersenyum setelah mendengar ungkapan polisi tampan.
Jiaaah!
"Aku suka kejutan." Ia lantas turun dari mobil, mengekori langkahku yang kini sudah melewati gerbang kediaman ayah dan ibuku.
Sebelum masuk ke dalam, kuminta security untuk memarkirkan mobilku sekaligus membawa masuk barang-barang kami. Rona tampak mengedarkan pandangannya pada kondisi sekitar--mungkin sedikit tersihir oleh keindahan taman hijau yang tertata apik di halaman depan rumah ini. Ibu dan ayah memang pecinta bunga dan antek-antenya, jadi tidak heran jika mereka merawat tanaman-tanamannya seperti anak sendiri. Ditambah lagi, ada Mang Yeye yang berperan sebagai tukang kebun sejati dan sehati.
Setelah mengucapkan salam, ibu lantas menghambur memeluk putra satu-satunya ini dalam dekap kerinduan yang sudah menjulang tinggi. Kubalas rengkuhan ikhlas penuh kasih sayangnya itu dengan dekapan yang memang sudah dinanti-nanti. Sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah ini. Empat tahun mengecam pendidikan di akademi, lalu menjalankan tugas pertama sebagai seorang aparat di negeri ini.
Ya, begitulah resikonya menjadi seorang polisi. Harus siap mental untuk berpisah dengan seluruh orang yang disayangi, termasuk ... kedua orang tua sendiri.
"Semoga Allah selalu melindungimu dalam setiap langkah. Ibu ikhlas dan ridha jika semuanya demi pengabdian untuk negeri," lirihnya di telingaku. Walaupun volumenya kecil, namun indera pendengaranku masih sanggup menangkap gelombang suara ibu.
Beliau lantas melerai pelukannya, memberi kesempatan kepada ayah untuk memasuki perannya. "Selamat datang kembali, Komandan." Pelukan dan salam macho dari pria tangguh yang sudah membesarkanku ini, cukup sukses menarik sudut bibir kedua wanita di sampingku--mengukir senyuman. "Sepertinya kesuksesan bukan hanya menyelimuti karirmu. Tetapi juga, dalam urusan kalbu," kelakarnya kemudian.
Aaah, pria ini ...!
SEDANGKN SIDQIA YG MMG BRCITA CITA JDI POLWAN, AKHIRNYA TRWUJUD, TPI MSH AMNESIA,, PANTAS WAJAHNYA RONA MIRIP SIDQIA, TRNYATA RONA ADLH SIDQIA SNDIRI
TRUS BERGELAYUT DI PIKIRANKU, SIDQIA YG MNINGGAL ITU SIDQIA SIAPA.....????
DISINI DISEBUTKN DI BUMI KHATULISTIWA,, YG ADA MASKOT TUGU KHATULISTIWA HNY ADA DI PROVINSIKU, YAITU KALIMANTAN BARAT...
RONA KMNA THOR MNGHILANGNYA...
APA HUBUNGAN SIDQIA YG MNINGGAL DGN SIDQIA POLWANYG PNY ABANG DLM CRITA INI
MISTERI APA SBNARNYA..???
KASUS SEORANG AYAH YG ANGGOTA POLISI YG MMBUNUNUH 2 ORANG ANAKNYA DGN DI MUTILASI ITU ADA DI DAERAHKU KALIMANTAN BARAT, WILAYAH HUKUM POLRESTA KAB SANGGAU....
klo benar tk perawan agik, sian benar si Huda, perwira Polisi dpt bekas penjahat...