Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.
Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.
"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"
Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....
(MASIH DALAM TAHAP REVISI)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 18
Didalam mobil, seorang pria yang baru saja menjalin hubungan dengan seorang wanita yang telah diincarnya selama beberapa bulan belakangan ini terlihat memberengutkan wajahnya.
Bagaimana tidak, saat ini sang pacar tengah dalam pelukan adiknya dikursi penumpang, sedangkan dia sendiri duduk dibelakang kemudi layaknya seorang supir.
"Nyesel banget ngajak nih bocah," gumam Vano pelan yang didengar Tara, namun wanita itu hanya tersenyum tipis kearahnya.
Mereka saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah Vano. Vano berencana akan mengusir Deska terlebih dahulu sebelum ia mengantar Tara pulang kerumahnya. Memang ribet karena harus bolak balik, tapi demi dirinya agar bisa berduaan bersama Tara ia tak masalah.
Namun sepertinya Deska ditakdirkan untuk mengganggu kencan pertamanya. Bocah yang baru memasuki usia 16tahun itu ternyata ngotot untuk tidak mau turun, ia ingin ikut serta mengantar Tara pulang. Oke, semoga ini bukan pertanda buruk dari awal yang buruk, batinnya.
Setelah tiba didepan jalan rumah Tara, mereka turun dari mobil untuk mengantar Tara sampai didepan pintu rumah.
"Ka, kamu masuk mobil sana. Ada yang mau Kakak bicarain sama Kak Tara." Deska menggeleng tanda tak mau menuruti perintah Kakaknya.
"Ka ..." Deska menghentakkan kakinya kesal.
"Kak, Tara. Deska duluan ya, nanti pacar Kakak yang nyebelin ini ngamuk lagi." Deska memeluk Tara sebentar lalu melangkahkan kakinya menuju mobil.
Setelah Deska pergi, Vano memegang kedua tangan Tara. "Makasih ya, Tar."
Tara hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis.
"Em, Tar." Vano ragu untuk mengatakan kalimat berikutnya.
"Ngomong aja kali, kenapa jadi gugup gini?"
"Kamu udah fikirin baik-baik kan atas hubungan kita ini?" Tara diam sejenak lalu menganggukkan kepalanya yakin.
"Kamu ... gak ada masalah sama keyakinan kita?"
Tara tersenyum sebelum menjawab. "Udah berapa kali aku bilang, selagi aku nyaman sama orangnya, apapun agama, suku, atau jabatannya, aku gak masalah."
"Lagian juga, banyak 'kan orang-orang diluar sana yang menjalin hubungan dengan beda keyakinan tapi hubungan mereka baik-baik saja tuh." Tara tersenyum seolah apa yang diucapkan oleh mulutnya itu bukan masalah besar.
"Orang tua kamu?"
"Kayaknya mereka gak masalah deh," Tara mengedikkan bahunya. "mereka 'kan gak perduli," sambungnya dalam hati.
"Orang tua kamu sendiri?" tanya Tara balik.
Vano terlihat bingung. "Jujur, aku gak yakin. Tapi aku akan berusaha meyakinkan mereka apapun caranya. Yang terpenting, kita harus melewati ini sama-sama ya, Tar." Genggamnya erat tangan Tara.
Tara tersenyum menahan tawa. "Melewati ini sama-sama? Apaan tuh haha." batinnya.
Mereka baru saja menjalin hubungan yang bernama pacaran, untuk masalah restu, sepertinya itu tidak perlu karena mereka memang belum ingin menikah yang dimana memang diharuskan untuk meminta restu orang tua. Jadi Tara tak perduli apapun keputusan kedua orang tua mereka.
..........
Pagi hari penuh cinta bagi seorang Devano Aditya, senyum mengembang dibibirnya saat matanya mulai terbuka dari tidur panjangnya.
Dengan semangat ia meraih ponselnya dan mengirim pesan chat kepada seorang wanita cantik yang baru saja resmi menjadi pacarnya semalam.
Sepuluh hingga dua puluh menit tidak ada balasan dari Tara. Vano lupa menanyakan jam kerja Tara hari ini. Sekarang, waktu telah menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Jika sang pacar shift pagi, seharusnya dia masih sempat 'kan jika hanya sekedar membalas pesan singkatnya, tapi jika dia shift siang ... Apakah Tara masih tidur?
Toookkk ... Toookkk ... Toookkk ...
Gedoran pintu kamarnya membuat Vano terlonjat kaget.
"Kaakk Vanooo ... cepatan ditunggu Mama Papa," teriak Deska.
Vano menghela nafasnya, ia berjalan mendekati pintu dan membukanya. Terlihat Deska dengan wajah kesalnya didepan pintu.
"Cepetan turun, sarapan. Dari tadi juga dipanggil gak nyaut-nyaut!" ketusnya pada sang Kakak.
"Duluan aja, Kakak cuci muka dulu." Tanpa menunggu sahutan dari Deska, Vano menutup pintu dan berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan muka sebelum sarapan. Tidak mandi bukan masalah, tapi jika tidak cuci muka dan gosok gigi itu jelas masalah.
Setelah selesai dengan aktifitasnya selama hampir sepuluh menit, Vano menuruni tangga menuju meja makan. Ternyata orang tua dan adiknya sudah menyantap makanan terlebih dahulu. Vano langsung saja bergabung dan menikmati makanan buatan sang Mama tercinta.
Suasana hati orang yang ada didalam rumah sedang dalam keadaan baik. Vano dan Deaka tak sungkan duduk disisi orang tuanya yang sedang duduk diatas sofa dengan pemandangan televisi yang menyiarkan berita pagi.
Seperti biasa, acara nonton tv orang tua Vano akan terganggu jika Deska berada disana. Namun kali ini apa yang Deska ucapkan terdengar lebih menarik dari pada berita yang sedang disiarkan di televisi.
"Ma, Pa. Kak Vano udah punya pacar loooh."
Papa Berto dan Mama Ica sontak menatap Deska kemudian menatap Vano.
"Kamu balikan sama Lin, Van?" tanya Mama Ica dengan wajah berbinar.
Ya, tidak ada yang tahu satupun perihal identitas Lin yang sesungguhnya kecuali Tara yang telah Vano ceritakan kejadiannya beberapa minggu lalu.
"Bukan, Ma. Kak Vano udah move on dari Kak Lin." Bukan Vano yang menjawab, melainkan Deska.
"Mama inget kan sama Kak Tara?" Mama Ica tampak berfikir sejenak." Yang kerja dimini market tempat langganan Mama beli ice cream itu loh." Mama Ica menganggukkan kepalanya ingat.
"Ya, itulah pacar Kak Vano," seru Deska bangga, namun sang kakak hanya diam saja.
Ia tengah berfikir bagaimana dengan keyakinan mereka yang berbeda? Jika orang tua mereka tahu kebenarannya, apakah mereka setuju dengan hubungan ini.
"Waah beneran, Van?" Mama Ica berbinar ingin memastikan, sedangkan Vano hanya mengangguk.
"Yang mana orangnya, Ma?" tanya Papa Berto.
"Itu loh, Pa. Papa pernah kok ketemu Tara waktu diultahnya Meysa. Inget gak? Yang duduk sendirian dipojok toko bakery Papa loh, Pa!" jelas Mama Ica antusias.
Vano senang jika Mamanya bahagia, begitu juga dengan Papanya yang tampak manggut-manggut dan tak protes dengan wanita pilihannya.
Tepat pukul sembilan, Vano bergegas menuju kamarnya untuk bersiap kerja. Masih tak ada balasan pesan diponselnya dari sang pacar. Vano mencoba menelfon via whatsapp, dua panggilan tak ada jawaban. Vano memutuskan untuk bersiap kerja lebih dulu, siapa tahu Tara sudah membalas pesannya saat ia keluar dari kamar mandi.
Namun hingga ia tiba di Cafe Senorita pun Tara tak kunjung membalas pesannya. Seharusnya pagi ini merupakan pagi istimewahnya setelah sekian lama ia tidak memiliki kekasih, namun Tara berhasil membuat paginya menjadi kacau balau.
Mulai dari laporannya kepada Pak Santo -Manager Cafe- yang terlihat kacau. Banyak typo disetiap kalimat yang ia ketik serta angka yang hilang disetiap perhitungannya.
"Sial, nih cewek mau buat gue hilang kendali apa?" gerutu Vano menatap layar ponselnya yang menampilkan ruang obrolan bersama Tara.
Beberapa detik pandangannya tak lepas dari sana, tiba-tiba terlihat tulisan mengetik.... di bawah nama kontak. Dengan mata berbinar, Vano memperhatikan layar ponselnya hingga balasan yang ia harapkanpun muncul tepat dibawah pesan chat darinya yang ia kirim beberapa menit lalu.
(08987654321)
'Ya.'
'Sorry baru bangun.'
Thats it?
Dengan gerakan cepat Vano menekan tombol panggilan video.
"Halo pacar," sapa Vano setelah Tara menjawab panggilannya.
Ternyata benar bahwa wanitanya itu baru bangun tidur, terlihat dari rambutnya yang berantakan diatas bantal merah bergambar hello kitty dan matanya yang masih terlihat menyipit.
"Hei pacar, bangun dong udah siang nih."
Tara hanya berdehem tak jelas membuat Vano terkekeh disana. Sesaat kemudian layar yang ada pada ponsel Vano terlihat menghadap kearah langit-langit kamar, menampakkan sebuah bola lampu bulat berwarna putih.
Cukup lama Tara meninggalkan ponselnya hingga satu wajah yang tak asing terlihat pada layar video call Vano.
"Eh, hai, Mal." Ya, dialah Kemala adik bungsu Tara.
"Masih inget kakak 'kan?"
"Em, yang pernah nyariin kak Tara didepan rumah waktu itu kan?" tanya Mala memastikan dan diiyakan Vano.
"Kakak kamu mana nih, dari tadi kok gak balik-balik."
"Dikamar mandi tuh."
"Ngapain?"
"Gosok gigi, cuci muka mungkin. Dia itu gak akan mau ngomong kalo belum gosok gigi, mulutnya bau." Bukannya ilfil, Vano malah terkekeh mendengarnya, sebau apa mulut Tara sampai gak berani ngomong sebelum gosok gigi?
Beberapa menit mereka mengobrol ringan hingga Tara kembali merebut ponselnya dari tangan Mala. "Pergi sana."
"Baru bangun udah pacaran aja." gerutu Mala keluar dari kamar.
.
******
.
Ditunggu Like, Coment, serta Vote nya...
Jazakamallah khair..