Bercerita tentang Dian cewek SMA yang di panggil Datar oleh cowok yang dia suka.
Bermula dari ,
*sabuk pengaman yang lepas,
*ledekan yang tiada habisnya,
*bantuan konyol,
*suka,
*cemburu,
*salah paham,
*Jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dionesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanya Teman
Sepulang sekolah Nadin yang tidak biasa tanpa kedua dayangnya berdiri di gerbang sekolah. Ia penasaran sejak kapan Rifki dan Dian begitu dekat.
Pemandangan harmonis yang tak sengaja ia lihat di perpustakaan tadi membuatnya benar-benar gelisah.
"Dian." panggil Nadin menghadang Dian dan April yang hendak melewati gerbang.
"kenapa Bu?" tanya April.
"Aku gak lagi bicara samamu." jawab Nadin pada April. "Mending kamu pulang gih!" perintahnya pada April.
"Situ siapa ngatur-ngatur saya?" tanya April kesal.
"Aku mau bicara sama dia." balas Nadin menunjuk Dian. "Gak ada urusannya sama kamu." tambahnya lagi dengan mata yang tidak. lepas dari Dian.
"Yaudah pril. Kamu duluan aja." ucap Dian mengiyakan maksud Nadin.
"Kalau kamu di apa-apain sama dia kasih tahu aku besok." sahut April menepuk bahu Nadin membuat gadis jutek itu menepisnya.
Setelah April pergi Nadin langsung menarik Dian ke lantai dua depan kelas anak IPS.
"Kamu ada hubungan apa dengan Rifki?" tanya Nadin langsung keintinya membuat Dian tercengang. Dian tahu hari ini akan datang. hari dimana satu persatu penggemar fanatik Rifki akan datang mencari masalah dengan tuduhan-tuduhan yang membuatnya geli dan juga senang.
"Gak ada hubungan apa-apa." jawab Dian mencoba tenang menghadapi teman sekelasnya itu.
"Bohong!" sangkal Nadin mendekatkan dirinya pada Dian membuat gadis itu takut. Dian per ah mendengar Nadin lumayan bar-bar jika ada cewek lain yang dekat dengan Rifki.
"Kenapa aku harus bohong." ucap Dian menyangkal bahwa tuduhan Nadin padanya salah. "kalau kamu gak percaya." ucap Dian. " Kamu bisa tanya langsung ke Rifkinya." lanjut Dian menjelaskan bahwa tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka.
"Apa kamu lagi pamer?" tanya Nadin dengan nada dan senyum sinis pada Dian.
"Pamer Apaan?" tanya Dian balik.
"Pamer kalau kamu bisa ngomong seleluasa itu dengan Rifki." jawab Nadin menaikkan salah satu alisnya.
"Aku rasa kamu malah memiliki lebih banyak leluasa untuk itu pada Rifki." balas Dian yang belum mengetahui ada apa diantara Nadin dan Rifki.
"Ini hanya peringatan untukmu agar menjauh dari Rifki." ucap Nadin berbalik.
"kenapa aku harus menurutimu?" tanya Dian menarik ransel Nadin.
"kamu lancang ya!" Ucap Nadin melihat Dian yang cukup berani menari dirnya.
"Kamu yang lancang!" balas Dian mendahuluinya berjalan. "kamu menarikku kesini untuk membicarakan yang tidak penting." ucap Dian menoleh kebelakang melihat Nadin yang bertolak pinggang dengan wajah judesnya itu.
"Itu penting." sahutnya dengan ekspresi seolah ingin menerkam Dian dengan cakarnya. "Buatku Rifki itu penting." tambahnya lagi yang berjalan mendekat pada Dian.
"Apa kamu begitu menyukainya?" tanya Dian berbalik melihat kedalam dan meneruskan langkahnya.
"Iya." jawab Nadin yang menyusul Dian berjalan dibelakang Dian.
"Aku dengar dia punya pacar." ucap Dian menuruni anak tangga.
"mereka udah putus." sahut Nadin.
"Sungguh?" tanya Dian berhenti dan menoleh pada Nadin dengan wajah sumringah.
"Kamu bilang dia tidak penting. lalu kenapa ekspresimu sangat bahagia saat tahu kabar putus." Ejek Nadin pada Dian yang tertangkap basah.
"Kamu kali yang bahagia." bantah Dian pada tuduhan Nadin padanya. meskipun kenyataannya emang Dian merasa bahagia dengan kabar yang baru ia dengar.
"Ya!Aku akuin aku bahagia." ucap Nadin.
"Apa kamu bakal nyatain perasaanmu dengannya?" tanya Dian penasaran.
" Bagaiamanapun Nadin itu adalah gadis yang cantik. dia bahkan lebih cantik dari Kak Nina." gumam Dian menunggu jawaban Nadin akan pertanyaannya.
"Kenapa? Kamu gak rela ya aku nyatain perasaanku sama Rifki." jawab Nadin menepis bahuku dengan bahunya.
"Siapa bilang?aku cuma penasaran aja." sahut Dian meneruskan langkahnya mengabaikan omongan Nadin.
"Dian." panggil Nadin.
"Aku gak ada apa-apa sama Rifki." ucap Dian meninggalkan Nadin begitu saja. Ia sadar dibanding dengan Nadin dan April rasa sukanya pada Rifki bukanlah seberapa.
***
Keesokan harinya dikelas April menarik Dian masuk yang baru saja tiba. Ia mendudukkan Dian dengan amat terburu-buru.
"Nadin gak ngelukain kamu kan?" tanya April meriksa tanganku lalu menangkup kepalaku memeriksa wajahku.
"Apaansih April?" sahut Dian yang balik bertanya pada April yang terlihat panik dan mencurigai Nadin.
"Biasanya dia bar-bar." ucap April tidak menemukan luka apapun di pada wajah Dian.
"Emang dia sebrutal itu yak?" tanya Dian merapikan ikat rambutnya yang melonggar dan berantakan akibat kerasak-kerusuknya April.
"enggak juga sih." jawab April. "Dia baik kok sebernarnya." tambah April.
"Kalau dia baik kenapa kamu panik sampai segitunya. kalau aku bakal dibantai Nadin habis-habisan." ucap Dian yang masih penasaran dengan hubungan April dan Nadin.
"Rifki." ucap April.
"Kenapa dengan Rifki?" tanya Dian.
"jika itu mengenai Rifki itu anak pasti bar-bar." jawab April.
"Kamu kok bisa tahu kalau Nadin sekap aku untuk menanyakan perihal Rifki?" tanya Dian tercengang ternyata dari awal April mengetahui apa yang ingin Nadin mau dari Dian.
"Akhir-akhir ini kan kamu sama Rifki dekat." jawab April dengan nada santai.
"Kamu juga tahu."
"Dian aku gak tahu." celetuk April meraih tangan Dian. "Aku boleh tahu gak kenapa Rifki nempel sama kamu akhir-akhir ini." ucap April memohon dengan nada memelas.
"Nempel apaan?" bantah Dian tidak terima dengan penilaian April bahwa Rifki menempel padanya.
"Kayaknya kalian punya hal yang gak kita gak tahu ya?" tanya April mulai mengorek-ngorek informasi kedekatan Dian dengan Rifki.
"Gak ada." bantah Dian.
"Aku iri. Kamu bisa buat Rifki nempel gitu." goda April menyengol-nyenggol lengan Dian.
"Bukannya kamu juga dekat sama dia." Balas Dian memicingkan matanya. Ia tahu April bukan sekedar penggemar Rifki melihat dari sebelumnya April yang bisa berteriak seleluasa itu pada Rifki hanya karna blush-on.
"ngaco kamu." bantah April yang masih suka berpura-pura mengelabui Dian yang polos.
"Kamu sama Nadin juga bukan sekedar teman sekelas kan?" tanya Dian membuat April mengalihkan topik pembicaraan dengan mengeluarkan alat make up terbarunya dari tas.
"April hayo ngaku." ucap Dian mengoyang-goyangkan tangannya April. "April kamu sama Nadin punya masalah apa?" tanya Dian semakin mencerca April dengan pertanyaan.
"Atau jangan-jangan kalian terlibat cinta segitiga ya?" tanya Dian yang berpikir Nadin dan April saling berebut Rifki.
"Cinta segitiga apanya?" tanya April yang mulai merasa mual dengan analisa Dian yang membawa hubungan dia,Rifki dan Nadin adalah perang cinta tiga sejoli.
"Iya Cinta segitiga loh!" jawab Dian yang masih meneruskan analisanya yang terdengar konyol bagi April.
"Dian habis makan apa tadi?" tanya April menganggap Dian konyol telah melibatkan dirinya berebut Rifki dengan Nadin.
"Kamu kan suka Rifki. Nadin juga demikian." ucap Dian. "Jadi apalagi kalau bukan cinta segitiga."
"Sembarangan." ucap Nadin mengelak pembicaraan keduanya membuat Dian tercengang.
"Kami itu hanya temannya dodol." sambung April menyentil jidat Dian.
cerita dian sama rifki ini benar-benar penyegaran bagi aku.
aku juga uda baca novel "Bukan suami pengganti" novel aksi yng bagus.... dan smpai sekarang nunggu up keduanya.
aku tunggu selalu lanjutan karya ini 😊😊 sehat sehat y author
knp blum hadir?? bukankah kita dh janjian... bwt ketemu lg secepatnya... di sini???
lm
lama nian tak jua kembali. ... rindu hadirmu...
knp sih kmu itu lola???
cepet lanjut yak,,,
ceritamu bikin mood booster bagiku,, like, like, like
yg bnyk dong thor upnya.... biar revisinya sekalian.... 😅😇
kangen tau sm mrk yg dh alpa bbrp hr... rasanya dh setahun gk jumpa... rindu berat... 😘😘😘😛😛