Bukan sebuah keberuntungan bagi Linnie di kejar seorang pria tampan yang bergelar seorang Casanova. Meski pria itu terkenal kaya raya dan memiliki kuasa namun Linnie sungguh tidak tertarik dengan pria itu.
Linnie sendiri bekerja di salah satu bar milik Gavin Marva Liam. Seorang pria berusia dua puluh sembilan tahun namun sudah banyak meniduri banyak wanita di negara nya.
Tidak mudah bagi Gavin untuk menaklukkan hati Linnie. Gadis itu terlalu dingin membuat Gavin geram sendiri. Meski pun begitu, Gavin sangat sabar untuk membuat istri nya jatuh cinta pada nya.
Penasaran?? yuk....baca langsung😁
Jangan lupa Rate, Like, Vote and Comment 👍👍
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
Fb:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.Terimakasih
Gavin pergi ke kamar Linnie, pria itu memberitahu jika sebentar lagi mereka akan pulang ke mansion. Linnie merasa gelisah, gadis itu tidak ingin tinggal bersama dengan Gavin meski mereka sudah menikah.
"Bisakah aku tetap tinggal di rumah ku?" tanya Linnie merasa takut.
Gavin terdiam, sejenak memandang wajah perempuan yang sudah resmi menjadi istri nya itu. "Tapi kita sudah menikah. Meski pun pernikahan kita hanya di atas kertas, tapi aku tetap ingin bertanggung jawab pada mu." ujar pria itu membuat Linnie tertunduk diam.
Gadis ini cukup bodoh,rasa takut nya pada Gavin belum hilang. "Baiklah....!" ucap Linnie pasrah.
"Apa kau masih takut pada ku? maafkan aku Linnie, aku berjanji tidak akan menyentuh tanpa seizin mu." ucap Gavin dengan wajah serius.
"Kenapa?" tanya Linnie singkat.
"Karena kau perempuan baik-baik.Sebejatnya laki-laki, dia tetap akan memilih perempuan baik-baik untuk jadi istri dan ibu dari anak-anak nya." sekali lagi, kata-kata Gavin mampu mengunci mulut Linnie. "Ayo pulang....!' ujar Gavin berjalan terlebih dahulu tanpa menggenggam tangan Linnie.
Tak ada pembicaraan atau obrolan di sepanjang perjalanan pulang ke mansion. Linnie merasa canggung dengan status baru nya sekarang. Mata Linnie terbelalak ketika melihat pagar mansion yang sangat tinggi bahkan terlihat mewah itu.
Masih sama, Gavin tidak mengeluarkan suara pria itu keluar terlebih dahulu lalu memberi perintah kepada kepala pelayan untuk mengurus Linnie. Pria itu masuk begitu saja, membuat Linnie merasa tidak enak hati. Benar, Gavin sedang merasa jika hati nya kecewa.
Lagi-lagi Linnie di buat kagum dengan kemewahan mansion milik Gavin. Gadis itu masuk setelah kepala pelayan mengajak nya masuk. "Ini kamar nona, jika nona butuh sesuatu bisa panggil saya." ucap kepala pelayan dengan sopan.
"Terimakasih paman." ucap Linnie kemudian gadis itu masuk ke dalam kamar.
Linnie manatap ke seluruh ruangan kamar, sungguh lucu memang. Linnie menertawakan diri nya sendiri karena luar kamar ini melebihi luas rumah nya. Dengan tempat tidur yang mewah di tambah lagi fasilitas yang membuat Linnie merasa tidak percaya diri.
Linnie menghembuskan nafas panjang, menjatuhkan diri di atas tempat tidur yang sangat empuk itu. "Sudah benarkah pilihan ku ini?" tanya nya pada langit-langit kamar.
Belum juga Linnie membuang lelah, gadis itu sudah di panggil keluar. Kepala pelayan membawa Linnie ke ruang makan yang di sana sudah ada Gavin menunggu nya. Linnie duduk, rasa nya canggung sekali makan malam bersama dengan Gavin yang sudah resmi menjadi suami nya ini.
"Kau pasti lapar, makanlah." ujar Gavin baru membuka suara.
"Kau juga, makanlah." ucap Linnie gugup.
Hanya ada bunyi dentingan sendok menghantam piring, makan malam kali ini serasa hambar terasa. Setelah makan malam, baik Linnie atau Gavin masih tidak saling mengobrol bahkan gadis itu sudah ada di dalam kamar nya sekarang.
Merasa lelah dengan kejadian hari ini, Linnie tertidur begitu saja. Rasa nyaman dari tempat tidur ini membuat Linnie sudah tidak merasakan apa-apa selain mimpi indah.
Meskipun pintu kamar Linnie di kunci dari dalam, namun Gavin masih bisa masuk. Pria itu menghampiri istri nya, menyelipkan anak rambut yang menutup wajah nya. Gavin menurunkan suhu ruangan lalu menyelimuti tubuh istri nya. Lelaki itu tersenyum,rasa hangat di hati nya ketika menatap wajah polos istri nya.
"Tetaplah dingin hati mu istri ku, biarkan aku mengejar cinta mu sekarang." ucap Gavin pelan.
Tak mau mengganggu tidur istri nya, Gavin memutuskan untuk kembali ke kamar nya. Meski pun tidak ada malam pertama, sudah cukup bagi Gavin mengikat istri nya di mansion ini.
Malam berganti pagi, Linnie dan Gavin sudah rapi dengan pakaian kerja nya. Tidak ada bulan madu karena mereka sudah sepakat untuk langsung bekerja setelah menikah. Sarapan yang hangat, wajah Gavin tidak seperti kemarin lagi.
"Bagaimana tidur mu, apakah nyenyak?" tanya Gavin.
"Iya,...tempat tidur nya nyaman. Terimakasih!" ucap Linnie malu-malu.
"Jika kau butuh sesuatu, jangan sungkan v untuk bicara." kata Gavin hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Linnie. Tiba-tiba Gavin mengeluarkan sebuah kartu yang berwarna black gold dengan berlian yang menghias di kartu tersebut. Bukan main-main, Gavin memberikan istri nya kartu tanpa batas.
"Apa ini...?" tanya Linnie ketika suami nya memberikan kartu tersebut pada nya.
"Untuk mu, kau bebas menggunakan uang ini untuk keperluan mu. Jika kurang, kau bisa bilang pada mu." kata Gavin langsung di tolak oleh istri nya.
"Tidak, ini terlalu besar untuk ku. Lagian, masih ada gaji yang bisa aku gunakan." tolak Linnie.
"Ambilah,...aku suami mu dan aku berhak memberi mu nafkah. Meski pun kita menikah dengan surat perjanjian, tapi aku tetap menganggap pernikahan ini sakral." kata Gavin membuat hati Linnie tersentuh. "Ambilah Linnie..." ujar Gavin mau tidak mau Linnie mengambil kartu tersebut lalu memasukan nya ke dalam tas.
"Terimakasih...!" ucap Linnie.
Selesai sarapan mereka langsung berangkat bekerja. Masih sama, masih ada rasa canggung di hati Linnie untuk sekedar mengobrol dengan suami nya sendiri.
"Berhenti di sini...!" kata Linnie mambuat Gavin langsung menginjak rem mobil nya.
"Ada apa?" tanya Gavin bingung.
"Aku turun di sini saja. Tidak enak di lihat karyawan lain." ujar Linnie membuat Gavin langsung mengerutkan ke dua alis nya.
"Tapi,.....!"
"Ayolah Gavin,...aku belum siap untuk semua nya." potong Linnie.
Gavin menarik nafas dalam,lalu berkata dengan pasrah. "Iya,...hati-hati. Aku menunggu mu di loby."
"Terimakasih Gavin...!" ucap Linnie bernafas lega.
Gavin menatap istri nya yang berlari kecil menuju kantor. Rasa nya lucu sekali, Gavin tersenyum kecil melihat tingkah lucu istri nya. Pria itu kemudian melanjutkan perjalanan nya. Benar saja, Gavin menunggu istri nya di loby.
"Mana Linnie?" tanya Jeff celingukan.
"Sebentar lagi....!" kata Gavin tak berapa lama Linnie memasuki loby. Gadis itu langsung menghampiri suami nya dan Jeff.
"Minum dulu...!" ujar Gavin yang ternyata sejak tadi memegang botol minum.
Linnie memandang ke sekeliling nya lalu mengambil botol minum tersebut. "Akan ku minum saat di lift nanti." ucap nya sungkan. "Terimakasih...!" timpalnya kembali.
Mereka kemudian berjalan memasuki Lift, jika sedang berhadapan dengan karyawan seperti ini, sudah biasa jika Gavin memasang wajah dingin dan arogant nya. Ketika di dalam lift, Gavin mengingatkan kembali pada istri nya untuk minum untuk membuang rasa lelah. Jeff yang melihat sikap Gavin hanya bisa bergeleng kepala karena Gavin yang keras kepala bisa luluh dengan seorang perempuan dari kalangan biasa.