Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Di Balik Bayangan
Pagi berikutnya, udara di hotel kecil dekat Hamptons terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Arthur sudah duduk diam di ruang makan kecil sejak pukul 07.30 pagi. Di hadapannya, terbuka sebuah komputer jinjing dan dua lembar foto yang dicetak secara kasar. Ia bahkan belum menyentuh cangkir kopi hitamnya yang kini telah mendingin sepenuhnya. Fokusnya terkunci total pada lembaran kertas di meja.
Manuel dan Elena datang ke ruang makan hampir secara bersamaan. Wajah Manuel digayuti gurat kelelahan yang mendalam, sementara Elena tampak masih segar dengan rambut pirang yang diikat rapi serta jaket kulit hitam andalannya.
"Kau memanggil kami sepagi ini," kata Manuel sambil menarik kursi untuk duduk. "Ada perkembangan apa, Arthur?"
Arthur tidak langsung menjawab. Dengan gerakan tangan yang pelan dan terukur, ia mendorong dua lembar foto tersebut ke tengah meja, tepat di hadapan Manuel dan Elena. Foto pertama adalah tangkapan layar dari rekaman kamera pengawas yang berhasil dipulihkan oleh Elena, menampilkan siluet sesosok pria berpakaian hitam dengan wajah yang samar akibat pencahayaan minim. Foto kedua adalah hasil jepretan jarak dekat dari wajah Derek Grant yang diambil Arthur secara diam-diam kemarin sore.
"Bandingkan struktur anatomi keduanya," kata Arthur dengan suara yang rendah dan tenang.
Elena mengambil kedua foto itu lebih dulu. Sepasang mata birunya menyala, menyipit fokus secara saksama. Beberapa detik kemudian, kedua alisnya terangkat tinggi karena terkejut. "Garis rahangnya… bentuk struktur kepalanya… ini memiliki tingkat kemiripan yang luar biasa tinggi."
Manuel condong ke depan untuk ikut memeriksa. "Kau serius, Arthur? Derek Grant adalah saudara sepupu kandung Senator. Jika analisis ini benar, lalu apa motifnya?"
Arthur menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi, membiarkan tatapan matanya menggelap. "Itulah kepingan teka-teki yang harus kita cari tahu hari ini. Karakteristik fisiknya terlalu identik untuk sebuah kebetulan belaka. Postur tubuh, cara berjalan, bahkan sudut kemiringan bahunya saat bergerak melangkah. Aku berani meyakini hingga delapan puluh persen bahwa mereka adalah orang yang sama."
Elena menatap Arthur dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Kali ini, tidak ada lagi nada ejekan atau sinisme yang keluar dari bibirnya. Sisa rasa bersalah akibat bentakannya di ruang rapat tempo hari membuat wanita Rusia itu memilih untuk bersikap lebih menghargai. "Keputusanmu untuk memotretnya secara diam-diam kemarin ternyata sangat taktis. Namun, jangan besar kepala dahulu, Wales. Kemiripan visual di atas kertas belum bisa dijadikan sebagai bukti konklusif di pengadilan."
Arthur menyunggingkan senyum tipis yang kaku, menghargai sikap profesional Elena. "Aku tahu betul hal itu. Karena itulah aku mengumpulkan kalian sepagi ini. Kita perlu membedah seluruh latar belakang kehidupan Derek Grant secara radikal. Aliran keuangannya, riwayat hubungannya dengan Senator Elias Grant, dan yang paling krusial adalah validitas alibi malam kejadian."
Manuel mengangguk setuju, merasakan urgensi yang nyata. "Aku akan segera mengatur jadwal pemeriksaan kedua dengan Derek di kantor kepolisian setempat sore ini. Elena, kau lakukan pelacakan rekam jejak digitalnya secara lebih mendalam."
Elena mengangguk patuh, tetapi sudut matanya masih diam-diam tertuju pada Arthur yang kini kembali fokus menatap layar komputer. Jauh di dalam lubuk hatinya, rasa kagum itu kembali tumbuh dan menguat. Arthur tidak hanya memiliki kemampuan membaca psikologi orang mati, melainkan juga tingkat kehati-hatian yang sangat tinggi dalam menyusun strategi investigasi. Jika kerja sama tim ini bisa dipertahankan tanpa ego, mereka akan menjadi unit pemburu kriminal yang sangat menakutkan.
Sepanjang siang hari itu, ketiganya mengurung diri di dalam ruang kerja sementara untuk membedah data yang berserakan. Kerja keras mereka mulai membuahkan hasil yang signifikan. Elena berhasil menemukan adanya transaksi transfer uang dalam nominal besar yang sangat mencurigakan dari rekening pribadi Derek menuju ke sebuah rekening offshore di luar negeri tepat tiga bulan lalu. Di sisi lain, Arthur berhasil mengendus berkas catatan hukum lama yang menyatakan bahwa Derek pernah terlibat pertengkaran fisik yang hebat dengan Senator Grant terkait masalah pembagian harta warisan raksasa milik keluarga besar mereka.
Tepat pukul 16.00 sore, Derek Grant kembali dipanggil menuju kantor polisi setempat untuk menjalani sesi interogasi kedua.
Kali ini, atmosfer di dalam ruang pemeriksaan terasa berkali-kali lipat lebih mencekam. Derek duduk di kursi interogasi dengan postur yang masih berusaha tampak ramah, tetapi Arthur bisa melihat butiran keringat tipis yang mulai bermunculan di sekitar pelipis dan dahi pria itu.
Manuel memimpin jalannya pertanyaan dengan nada suara yang menuntut. Arthur memilih duduk di baris belakang dalam keheningan, mengamati setiap mikro-ekspresi tersangka, sementara Elena memantau pergerakan data dari balik laptopnya di sudut ruangan.
Saat Manuel mulai menanyakan detail mengenai alibi di malam pembantaian terjadi, pertahanan ketenangan Derek tampak mulai menunjukkan celah-celah keretakan. "Saya sudah mengatakannya kemarin, Detektif. Malam itu saya berada di rumah sendirian. Tidak ada saksi mata yang bisa mengonfirmasi, karena saya memang sedang beristirahat."
Arthur tiba-tiba membuka suara, memecah keheningan dengan intonasi yang sangat tenang namun menghujam langsung ke mental tersangka. "Derek… struktur anatomi wajahmu memiliki tingkat kesamaan hingga delapan puluh persen dengan sosok bertopeng hitam yang terekam di dalam kamera pengawas penthouse."
Tubuh Derek seketika membeku. "Apa maksud ucapanmu itu?"
Arthur bangkit berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati meja interogasi sambil meletakkan sebuah komputer tablet yang menampilkan perbandingan grafis struktur wajah. "Foto ini diambil kemarin sore. Dan foto di sebelahnya adalah siluet pelaku pembunuhan. Ini adalah kau, bukan?"
Derek menatap layar tablet tersebut untuk waktu yang lama. Wajah tampannya seketika memucat pasi, tetapi ia masih memaksakan seulas senyuman sinis di bibirnya. "Ini adalah tuduhan yang sangat konyol. Banyak orang di New York yang memiliki bentuk rahang yang mirip dengan saya. Ini tidak membuktikan apa pun."
Elena yang duduk di baris belakang langsung menyahut dengan suara yang sedingin es. "Kami memiliki jauh lebih banyak bukti daripada sekadar kemiripan wajah, Mr. Grant. Kami sudah mengantongi data mutasi transfer uang ilegal ke server peretasan luar negeri, dokumen pertengkaran hebat Anda dengan Senator terkait warisan, serta hasil analisis laboratorium forensik yang menyatakan bahwa pola tapak sepatu kerja di dalam gudang kebun Anda sangat cocok dengan jejak yang tertinggal di atas karpet TKP."
Mendengar rentetan bukti konklusif tersebut, Derek Grant akhirnya terbungkam sepenuhnya. Alibi dan kesombongannya runtuh dalam sekejap. Kedua tangannya tampak gemetar hebat di atas pangkuan, dan ia tidak mampu lagi menyusun kalimat bantahan.
Manuel tidak membuang waktu dan langsung bangkit berdiri untuk memborgol kedua pergelangan tangan pria itu dengan satu entakan taktis. "Derek Grant, Anda resmi ditangkap atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Senator Elias Grant beserta seluruh anggota keluarganya."
Saat tubuhnya digiring keluar oleh petugas kepolisian untuk dimasukkan ke dalam sel tahanan sementara, Derek sempat membalikkan badannya. Ia menatap Arthur dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kobaran kebencian yang mendalam. "Kau… kau hanyalah seorang monster psikopat. Kau seharusnya membusuk di dalam penjara federal, bukan berada di sini!"
Arthur hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepahitan, lalu menyahut dengan suara yang sangat pelan. "Mungkin kau benar. Namun, setidaknya untuk hari ini, monster inilah yang berhasil menyeretmu masuk ke dalam kurungan."
Malam harinya, setelah seluruh berkas penangkapan resmi dilimpahkan kepada otoritas FBI, mereka bertiga duduk bersama di balkon hotel untuk menikmati angin malam sambil menggenggam cangkir kopi masing-masing. Angin laut bertiup dengan lembut, mengusir sisa-sisa ketegangan hari itu.
"Analisis visualmu terbukti benar lagi," kata Elena pelan, menatap lurus pada sepasang mata hijau milik Arthur. "Cara kau memperhatikan detail terkecil pada kontur wajah itu… harus kuakui sangat mengesankan."
Arthur tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang tulus dari pengakuan wanita itu. "Terima kasih, Elena. Namun, tolong jangan menyebarkan hal ini kepada para detektif di NYPD. Aku tidak mau reputasiku sebagai sosok monster yang menakutkan menjadi rusak karena pujianmu."
Elena akhirnya tertawa kecil, sebuah suara tawa renyah yang sangat jarang terdengar keluar dari bibirnya yang biasa ketat. "Kau memang tetap seorang monster, Arthur. Namun, setidaknya kau adalah jenis monster yang sangat berguna bagi kami."
Manuel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyuman lega di sudut bibir. "Luar biasa. Akhirnya telingaku bisa mendengar kalian berdua saling melemparkan pujian profesional secara damai. Aku rasanya ingin menangis saking terharunya."
Arthur mengalihkan pandangannya ke arah langit malam Hamptons yang bertabur bintang-bintang cerah. Di dalam lubuk hatinya, ada rasa lega yang membuncah karena ia berhasil menyelesaikan kasus besar ini tanpa harus menumpahkan darah baru. Namun, sebagai seorang jenius, ia tahu betul bahwa penyelesaian kasus pembunuhan Senator Grant ini barulah permukaan dari sebuah gunung es yang jauh lebih masif.
"Ada konspirasi yang jauh lebih besar di balik semua skenario ini," gumam Arthur dengan suara yang hampir menyerupai bisikan. "Derek Grant hanyalah seorang bidak pion yang digerakkan di atas papan catur. Kita masih harus melacak lebih dalam untuk menemukan siapa sosok dalang sesungguhnya yang memesan pembunuhan ini."
Elena mengangguk setuju, ekspresi wajahnya kembali berubah serius. "Besok pagi, aku akan mulai meretas lebih dalam ke jaringan server offshore tersebut untuk mencari tahu siapa pemilik asli dari rekening pengirim dana."
Malam pun merayap semakin larut di Hamptons. Tim investigasi yang pada awalnya dibentuk dengan riuh pertengkaran ego dan kecurigaan, kini perlahan-lahan mulai menjelma menjadi sebuah unit yang solid dan saling melengkapi. Meskipun Arthur masih sering memilih untuk membisu dengan senyuman pahitnya, di bawah pendar bintang malam itu ia tahu bahwa dirinya sedang melangkah di jalan yang benar untuk membuktikan kepada dunia, bahwa ia bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar label monster yang disematkan orang-orang padanya.