Darren, seorang aktor berusia 30 tahun. Yang saat ini karier nya sedang menanjak. Tiba-tiba didatangi seorang anak berusia 14 tahun bernama Axl, yang mengaku sebagai anak kandungnya. Buah kesalahan nya di masa remaja bersama seorang gadis bernama Mikha.
Seketika hidup Darren pun berubah. Ia yang tak tau jika anak itu dilahirkan pun terpaksa harus bertanggung jawab. Karena Axl meminta untuk tinggal bersamanya.
Berbagai keseruan dan masalah pun mewarnai hidup keduanya. Terkadang mereka akur, kadang bertengkar. Di satu sisi Darren harus berusaha menjadi ayah yang baik untuk Axl. Namun disisi lain, ia juga harus menutupi status Axl dari publik.
Dikarenakan saat ini, Darren tengah digandrungi oleh publik terutama kaum perempuan. Jika statusnya sebagai laki-laki yang telah memiliki anak terbongkar, dikhawatirkan akan mempengaruhi kariernya.
Ia berusaha keras merahasiakan hal tersebut. Sementara disisi lain, Axl bercita-cita menyatukan kembali orang tua nya. Namun baik Darren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pratiwi Devyara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utuh
Axl terbangun dengan kepala yang terasa sangat berat. Ia berusaha bersandar pada bantal dan menarik nafas dalam-dalam. Tak lama kemudian kedua matanya terbuka lebar dan ia sangat terkejut ketika mendapati Darren yang tengah tertidur lelap di sampingnya.
Axl merasa mual tiba-tiba, ia pun segera berlari ke kamar mandi dan muntah sebanyak 3 kali. Darren yang mendengar suara gaduh dari dalam kamar mandi pun terbangun dan langsung mendekat ke arah sumber suara itu.
"Axl...”
Darren mendekat dan langsung mengusap punggung anaknya yang tengah muntah itu dengan sabar. Selang beberapa menit kemudian ia dan Axl tampak berada di sofa dan duduk saling berhadap-hadapan.
Darren menatap Axl dengan tatapan yang menginterogasi. Sementara anak itu kini hanya bisa menunduk. Sambil menahan pusing dan rasa mual yang masih tersisa.
"Kenapa mesti melakukan hal bodoh kayak gini?"
Darren bertanya dengan nada yang lembut. Namun terdengar seperti penuh kekecewaan.
Axl diam, ia masih saja menunduk. Ia tak berani menatap mata ayahnya itu. Ia tau jika ia salah.
"Apa semalam, Papa marahin Chico dan Adrian?" tanyanya kemudian.
"Papa nggak menyalahkan teman kamu, papa sedang menyalahkan kamu. Kenapa harus sampai seperti ini?"
Axl kembali diam. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tak menyangka jika Darren akan tau soal ini. Karena ia mengira jika Darren masih dalam proses syuting dan tidak akan pulang dalam waktu dekat.
"Apa benar, Kaela itu adalah mama?"
Axl balik menyerang Darren dengan pertanyaan yang membuatnya sedikit sungkan untuk menjawab.
"Pertanyaan papa belum kamu jawab.”
"Axl mau pertanyaan Axl dulu yang papa jawab.”
"Kamu tuh sama persis dengan ibu kamu. Egois, maunya hak kamu aja yang di dahulukan. Bertindak tanpa berfikir. Papa kecewa sama kamu.” Suara Darren mulai meninggi.
"Axl juga kecewa sama papa. Kenapa papa mesti merahasiakan hal besar itu dari Axl. Dari awal Axl udah curiga sama hubungan kalian yang sebenarnya. Kenapa papa nggak jujur aja?"
"Papa mikirin kesiapan mental kamu. Kamu udah cukup terguncang dengan tau kalau kamu bukan anak pak Andrew melainkan anak di luar nikah dari dua orang yang salah langkah ketika mereka masih sekolah. Sekarang buktinya aja, kamu kaget dan syok setelah tau kalau Kaela itu adalah Mikha, ibu kamu. Mental kamu belum siap artinya. Itulah yang papa takutkan selama ini. Kenapa papa selalu melarang Mikha untuk sembarangan bertindak.”
Axl mulai menangis. Kali ini Darren menurunkan sedikit volume suaranya. Ia mendekat lalu memeluk anak itu.
"I am so sorry, Ax. Ini nggak mudah untuk kita semua. Bukan cuma kamu yang menderita dan tertekan. Kita semua berada di lingkaran yang sama. Papa, mama, kamu, pak Andrew, om James, kita semua menderita karena hal ini.”
Axl menangis sesenggukan. Biar bagaimanapun juga ia masih berusia 14 tahun. Sekuat-kuatnya ia dalam kesehariannya, tetap saja ia masih seorang anak remaja yang belum tau soal banyak hal dan belum bisa mengatasi permasalahan dengan tenang.
"Maaf, pa.”
Axl terisak dalam pelukan Darren. Sementara Darren mencoba menenangkan anak itu dengan mengusap punggungnya sambil terus memeluknya.
"It's ok. Jangan di ulangi lagi. Setiap muncul permasalahan, kamu tidak harus lari kepada hal-hal negatif. Semua itu nggak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada. Lagipula kamu masih terlalu muda untuk bersentuhan dengan alkohol. Papa sedih tau nggak liat kamu kayak gitu.”
Axl masih terus menangis. Sampai kemudian terdengar suara ketukan pintu yang keras.
"Tok, tok, tok....."
Darren melepaskan pelukan nya dan beranjak ke arah pintu lalu membukanya.
"Pak Andrew..?”
Darren kaget dengan kedatangan Andrew Hadley yang tiba-tiba.
"Mana Nino?"
Suara Andrew terdengar berat dan dingin. Tatapan matanya tajam menghujam. Membuat Darren merasa sedikit tidak nyaman.
"Dia ada di dalam.”
Darren memberi celah pada Andrew untuk masuk. Tak lama kemudian tampak Axl menghambur ke pelukan nya.
"Dad...”
Axl memeluk erat Andrew seperti anak yang sudah bertahun-tahun tak bertemu ayahnya. Hati Darren bergemuruh demi menyaksikan kejadian itu.
"Saya akan bawa Nino untuk tinggal dengan saya lagi.”
Darren terkejut dengan pernyataan yang keluar dari mulut Andrew barusan. Dari tempatnya berdiri, ia menatap Andrew dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung. Axl sendiri sudah bergeser menjauhi kedua ayahnya yang kini berdiri saling berhadapan.
"Tapi, pak...”
"Kamu nggak becus jadi orang tua, Darren. Kamu pikir saya nggak tau apa yang sudah terjadi semalam?. Ada seseorang yang mengirimkan foto dan video rekaman kalau anak ini sedang mabuk-mabukan di sebuah klub malam. Dia bersama perempuan yang bahkan bukan sebaya dengan dia. Dia ini masih 14 tahun. Kamu sudah membebaskan dia untuk melakukan hal-hal buruk semacam itu.”
"Tapi, pak..”
Darren menjelaskan permasalahan yang sebenarnya pada Andrew. Ia juga mengatakan jika dirinya tak tahu-menahu, karena sedang berada di lokasi syuting saat Axl
memutuskan untuk pergi ke klub malam tersebut.
Ia juga menjelaskan bahwa ia yang mengirim Selena untuk mengawasi Axl, selama dirinya belum sampai ke lokasi tempat dimana Axl berada. Awalnya Andrew tetap bersikeras, sampai akhirnya laki-laki itu meredam emosinya sendiri dan mencoba berbicara dengan lebih tenang.
"Saya mohon, pak. Saya tau dia anak bapak. Tapi dia darah daging saya. Izinkan saya untuk menjaganya. Saya akan memperbaiki diri.”
Mata Darren berkaca-kaca. Terlihat sekali ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanpa terasa air mata Axl pun kembali menetes. Melihat kedua ayahnya saling bertengkar hanya untuk memperebutkan dirinya. Padahal kelakuan nya semalamlah yang menyebabkan pertengkaran ini terjadi.
"Baik, saya kasih kamu kesempatan satu kali ini. Kalau seperti ini lagi, saya akan bawa Nino kembali bersama saya. Kalau tetap bersikeras, saya akan tempuh jalur hukum.”
Andrew meninggalkan tempat itu. Setelah sekilas melirik ke arah Axl. Sementara kini Darren masih terpaku di tempatnya. Dari kejauhan, Axl terus memperhatikan Darren. Ia merasa sangat bersalah dan menyesal karena sudah bersikap bodoh dan bertindak tanpa berfikir tentang sebab akibat.
Esok harinya, Axl berjalan perlahan di sepanjang koridor sekolah. Namun tiba-tiba segerombolan orang dengan membawa berbagai macam kamera datang menyerbu ke arahnya.
"Axl tunggu, kami mau mengkonfirmasi.”
Salah seorang dari mereka berteriak dan langsung menghalangi langkah Axl.
"Ini ada apa?" tanya Axl bingung.
"Apa benar kamu adalah anaknya Cody Greyson?"
"Iya. Menurut kabar di akun lambe curah dan mak rumpita Juliana Jaya, kamu adalah anak dari artis Cody Greyson dengan seorang perempuan dimasa sekolahnya dulu.”
"Tolong jelaskan pada kami..!”
Axl diberondong pertanyaan secara bertubi-tubi oleh beberapa di antara mereka. Seisi sekolah kini memperhatikan nya. Mereka turut mengeluarkan ponsel dan merekam kejadian tersebut bahkan ada yang sempat LIVE instagram.
"Saya harus masuk kelas.”
Axl mencoba menerobos kerumunan orang-orang tersebut. Ia berlari pontang-panting tak tentu arah dan mereka masih mengejar.
"Axl tunggu, kami butuh penjelasan.”
"Iya Axl tunggu..."
"Tunggu....!”
Axl terus berlari hingga sampai ke ujung halaman belakang sekolah, tiba-tiba muncul Adrian dan Chico. Sementara Jodi tampak memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Ax, kesini.”
Adrian dan Chico mengarahkan Axl ke suatu tempat. Mereka bersembunyi di sebuah ruang kelas yang tampaknya sudah lama tak digunakan. Orang-orang tersebut masih terus mengejarnya dan mencari disekeliling sekolah.
"Orang-orang itu tadi, siapa sih?"
tanya Axl dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Nggak bisa apa gue tenang sedikit.”
lanjutnya kemudian.
"Mereka wartawan infotaintment. Beberapa di antaranya admin akun lambe-lambean mungkin. Mereka udah disini sejak pagi. Tadi gue telpon lo mau ngasih tau, tapi nggak bisa-bisa.” ujar Adrian.
"HP gue di silent tadi. Lagian kenapa bisa sih, pihak keamanan sekolah membiarkan mereka masuk?"
"Mereka barbar semua Ax, sampe naik pagar segala. Nggak ngerti sekolahnya dimana dulu. Masa awak media nggak ada etika nya sama sekali gitu. ujar Chico menanggapi.
Adrian mengintip keluar.
"Kayaknya mereka udah ke depan semua deh.”
ujar Adrian kemudian.
"Buruan, Ax..!”
Adrian mengajak Axl untuk keluar. Namun baru saja mereka melangkah beberapa meter tiba-tiba dari suatu arah terdengar sebuah teriakan.
"Itu Axl...!”
Mereka kembali berlari ke arah Axl sementara pemuda itu kini kembali berlari kencang bersama Adrian dan Chico.
"Ax , naik dan loncat dari tembok.”
Adrian berseru.
Axl menatap Adrian.
"Buruan, Bambang. Ngapa jadi tatap-tatapan sih.” ujar Adrian sewot.
Axl pun nyengir bajing. Sempat-sempatnya anak itu tertawa sebelum akhirnya ia naik ke atas pagar tembok dan melewatinya diikuti Adrian dan Chico. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di sisi mereka semua.
"Axl, buruan...!"
Tampak Selena berbicara dari dalam mobil dan menyerukan Axl untuk segera masuk ke dalam mobilnya. Adrian dan Chico pun mendorong Axl agar segera masuk kesana. Tak lama kemudian mobil itupun melaju meninggalkan tempat itu.
Adrian dan Chico segera kembali ke kelas lewat gerbang depan. Mereka berjalan dengan tenang dan seolah tak terjadi apa-apa. Dan beruntung para wartawan itu tak ada yang melihat wajah keduanya dengan jelas, saat mereka berlari menyelamatkan Axl tadi. Jadi mereka berdua tidak dicurigai sedikitpun. Tak lama kemudian, pihak keamanan sekolah yang tadi kualahan menghalau mereka semua, kini tampak mengusir mereka satu persatu.
"Pergi kalian....!”
Seru salah seorang petugas keamanan sekolah, beberapa guru pun turut mengamankan situasi.
"Kalau masih belum pergi juga, jangan salahkan kami kalau lapor polisi.” ujar petugas yang lainnya lagi.
Para orang yang mengaku wartawan itu pun akhirnya pergi. Mereka agaknya kecewa karena tidak mendapat keterangan apapun dari Axl.
"Heran, jangan-jangan mereka itu wartawan gadungan lagi.” ujar si petugas keamanan sekolah dengan mimik wajah kesal.
"Bisa jadi, mereka itu admin akun lambe-lambean.” jawab temannya.
"Mungkin, mana ada wartawan modelnya begitu. Nggak sopan, mengganggu ketertiban umum. Mana disekolah lagi.” lanjutnya kemudian.
Pihak keamanan sekolah itu pun segera mengunci pintu pagar rapat-rapat dan mengawasi di sekitaran pagar. Takut kalau-kalau ada lagi sekumpulan orang yang mencari Axl. Ini adalah hari yang penuh perjuangan bagi mereka.
Sementara kini Axl sudah berada di jalan. Ia tak tau apakah tadi itu kebetulan atau Selena memang sengaja datang untuk menemuinya.
"Kak Sel...”
Ia menatap Selena yang berada disampingnya. Namun gadis itu masih terus fokus menyetir.
"Kak, maafin aku soal kejadian malam itu. Chico dan Adrian bilang saat aku mabuk, aku peluk kakak.”
"It's ok..”
Selena menyela pembicaraan Axl. Meski telah menyatakan dirinya tak apa-apa atas sikap Axl malam itu, namun tetap saja Axl merasa bersalah dan tak enak hati. Karena sudah memeluk Selena seenaknya bahkan hendak menciumnya.
Mereka terus melaju hingga sampai tiba di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Axl merasa bingung kenapa dirinya dibawa ke bandara. Sedang ia tidak ingin kemanapun atau menjemput siapapun saat ini.
"Kak, koq ke bandara?. Emang kita mau jemput siapa?" tanya Axl kemudian.
"Kita nggak sedang menjemput siapapun, Axl. Darren sudah menunggu di dalam. Dia mau mengajak kamu menenangkan diri dulu di suatu tempat.”
"Kemana?"
"Kamu masuk aja, koper dan paspor kamu ada di belakang. Tadi aku ambil paspor kamu di apartment Darren. Harusnya tadi ada jemputan khusus yang menjemput kamu di sekolah. Tapi karena Adrian bilang ke Darren kalau sejak pagi sekolah sudah dikerubuti wartawan, maka Darren yang menyuruh aku untuk jemput kamu"
"Kenapa papa nggak bilang dari tadi dirumah? Tau gitu Axl nggak usah sekolah.”
"Tadi kamu berangkat naik apa?"
"Naik bus.”
"Darren tau kamu sekolah?"
"Nggak. Tadi dia tidur. Axl nggak tega bangunin.”
Selena menarik nafas lalu mengeplak kepala anak itu.
"Gimana Darren ngasih tau, kamu aja pergi saat dia masih molor.”
"Iya sih.”
"Terus kenapa nggak papa aja yang jemput?"
"Kalau ada yang wartawan yang liat gimana?"
"Iya sih.”
Kali ini selena kembali ingin mengeplak kepala Axl. Ia gemas pada anak yang pikirannya terkadang pendek itu.
"Hhhhhh, Rengginang pedes.” ujarnya gregetan. Axl hanya tertawa.
Mobil Selena pun berhenti, ia membantu Axl mengeluarkan barang yang harus dibawa oleh remaja itu. Tak lama kemudian ada seorang petugas menjemput Axl dan membawa nya ke ruang check in khusus first Class. Setelah itu ia diarahkan menuju lounge. Dimana sudah ada Darren disana.
Axl menatap Darren, namun ia tidak duduk di dekat ayahnya itu. Ia memilih untuk duduk agak berjauhan karena takut ada orang yang melihat mereka dan berita ini akan menjadi ladang uang bagi admin akun lambe-lambean maupun wartawan infotaintment yang pada akhirnya akan mengganggu karir Darren.
Mereka pergi ke Jepang. Kebetulan Axl sendiri sudah pernah kesana saat ia masih bersama Andrew Hadley. Jadi layanan bebas visanya masih berlaku, karena ia dan Andrew pergi kesana belum lama ini. Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih 7 jam, mereka tiba di bandara Narita.
Darren sendiri sudah memesan hotel tak jauh dari sana, karena tujuan nya sebenarnya adalah mengajak Axl traveling ke beberapa distrik atau provinsi dinegara itu. Maka dari itu ia memilih hotel mana saja dulu, yang penting bisa beristirahat sejenak. Sebelum akhirnya mengatur jadwal untuk berbagai perjalanan wisata.
Darren dan Axl menghabiskan waktu dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata disana. Mereka melupakan sejenak permasalahan yang ada di Indonesia. Mereka benar-benar menikmati waktu berkualitas antara ayah dan anak. Meskipun acap kali mereka bertengkar karena masih sama-sama egois. Namun Darren berusaha tampil sebagai ayah, kakak sekaligus teman bagi Axl.
Bagian yang paling Axl sukai adalah ketika mereka mengunjungi salah satu pusat latihan Kendo yang cukup terkenal di salah satu kota di sebuah distrik. Darren dan Axl menghabiskan waktu disana dengan belajar pada ahlinya. Bahkan mereka melihat secara langsung bagaimana serunya pertandingan Kendo, pada sebuah turnamen yang diikuti oleh para kendoka dari seluruh dunia.
Mereka pun tak lupa mengunjungi tempat-tempat makan terkenal, museum, bahkan belanja begitu banyak barang hingga keduanya tampak puas dan sangat bergembira.
Tempat yang terakhir mereka kunjungi adalah distrik Kyoto. Kota yang sudah 1000 tahun menjadi ibu kota Jepang sebelum Tokyo tersebut, menjadi destinasi terakhir mereka.
Ditempat itu mereka menyewa sebuah rumah bergaya arsiteksur khas tradisional Jepang. Karena Kyoto memang masih syarat dengan bangunan tradisional. Penuh kenyamanan dan juga menenangkan. Rasanya Axl ingin disini saja dan tidak mau pulang ke Jakarta. Namun ia sendiri sudah bolos sekolah selama beberapa hari ini.
"Ax, kamu mau makan sesuatu nggak?" tanya Darren ketika keduanya tengah duduk disamping rumah sambil memperhatikan taman ZEN atau taman batu yang disusun sedemikian rupa menyerupai riak air.
"Papa mau makan emangnya?" tanya Axl kemudian.
"Iya, kamu mau makan juga nggak?"
"Boleh.”
"Kita ke luar yuk!. Di perempatan jalan di ujung sana ada kedai ramen yang enak banget. Papa kalau kesini pasti mampir ke sana. Mau nggak?"
Axl mengangguk. Tak lama kemudian mereka pun menyambangi kedai ramen tersebut dengan berjalan kaki. Karena memang tempatnya tak begitu jauh. Sesampainya disana mereka langsung saja memesan ramen. Namun belum lagi ramen itu selesai dibuat, tiba-tiba seseorang datang dan langsung duduk di dekat Axl.
"Sumimasen, rāmen no ichibu ga hoshīdesu.”
Axl mengenali suara itu. Secara serta merta ia pun menoleh. Begitu juga dengan orang itu. Betapa terkejutnya ia, ketika mendapati sesosok wanita yang sudah tidak asing lagi baginya.
"Ka, Kaela.”
Suara Axl terbata-bata. Mikha pun tak kalah terkejutnya. Apalagi kini Darren juga refleks menatap ke arahnya. Lalu hening. Suasana makan malam itu berubah menjadi kaku. Ketika ramen tersebut selesai di buat, mereka sudah terlanjur berada dalam suasana hati yang gugup serta jantung yang berdebar-debar. Mereka masih tak menyangka bisa bertemu ditempat itu.
Mikha tak tau harus bersikap seperti apa pada anak dan mantan kekasihnya itu. Axl sendiri tak tau harus bagaimana. Sementara Darren tak berkata sepatah pun, ia juga bingung harus apa dan bagaimana.
Sampai ketika makanan habis, mereka hampir tidak bisa merasakan enaknya ramen tersebut lantaran perasaan mereka kini campur aduk.
"Kenapa kamu disini?"
Akhirnya Darren membuka pembicaraan ketika mereka telah selesai dan memutuskan untuk duduk di sebuah kursi taman yang tak jauh dari tempat makan tersebut.
"Aku sedang mengurus pekerjaan.” jawab Mikha singkat.
"Lalu kalian sendiri?. Bukannya Axl belum libur sekolah?" tanyanya kemudian.
"Di Jakarta sedang kacau. Banyak wartawan infotainment yang sepertinya sudah tau kalau aku punya anak. Mungkin di beberapa kesempatan aku lalai dan terlalu tampak di depan umum. Mungkin mereka melihat aku dan Axl sering bersama sehingga mereka mencari tau.”
Mikha menunduk, ia tidak tau harus berkata apa lagi. Ia kasihan pada Darren. Namun disisi lain, ia pun tak bisa banyak membantu.
"Pasti itu berat buat kamu.” ujarnya kemudian.
Darren hanya tersenyum.
"Kamu pulang kemana?" tanya Darren seraya menoleh dan menatap mata Mikha.
"Aku menginap di hotel nggak jauh dari sini.”
Axl beranjak dari tempat duduk. Ia berjalan-jalan di sekitar. Dari tempat mereka duduk, Darren dan Mikha memperhatikan anak itu. Lalu mereka kembali larut dalam obrolan yang panjang. Hingga tanpa mereka sadari, mereka sudah kehilangan Axl.
"Axl tadi dimana ya?"
Darren melihat ke sekitar, dan tak menemukan siapa-siapa diantara kerumunan orang yang lalu lalang. Mata Mikha pun menjelajah kesana kemari dan hasilnya sama. Ia tak menemukan Axl. Mereka berdua pun beranjak dan mengitari tempat itu.
"Duh, kemana sih anak itu.”
Darren mulai panik.
"Telpon aja ke HP nya.”
"Masalahnya HP nya ini.”
Darren menunjukkan handphone Axl yang berada di tangan nya. Membuat Mikha yang semula sedikit tenang menjadi benar-benar panik. Mereka mulai bertanya-tanya pada orang di sekitar sambil memperlihatkan foto Axl. Mereka terus mencari kesana kemari hingga setengah jam lebih. Sampai kemudian, Axl muncul di hadapan mereka dengan membawa 3 cup kopi hangat.
"Axl dari mana aja kamu, kita tuh panik tau nggak.”
Suara Darren terdengar cukup keras. Jelas sekali laki-laki itu merasa cemas dan takut jika Axl kenapa-kenapa. Namun di luar dugaan, anak itu hanya tertawa.
"Kamu tuh ya dibilangin orang tua malah cengar-cengir. Nggak lucu tau, kalau kamu ilang di negara orang.”
Kali ini Mikha menambahi. Dan lagi-lagi Axl hanya tertawa.
"Kamu tuh ya...”
Darren dan Mikha berucap nyaris di waktu bersamaan. Seketika mereka pun menyadari sesuatu bahwa dari tadi mereka sudah terjebak ke dalam situasi yang membuat mereka saling bekerja sama. Bekerja sama mencari Axl dan bekerja sama memarahinya. Persis seperti kedua orang tua dari sebuah keluarga yang bahagia dan harmonis.
Mereka pun akhirnya tertawa. Axl membagikan kopi yang ia bawa dan malam itu suasana pun mulai mencair. Mereka berjalan-jalan sambil berbincang. Mengambil beberapa foto serta membeli apapun yang mereka mau. Mereka tampak seperti sebuah keluarga yang utuh. Yang seolah tak tersentuh kata perpisahan.
Sampai ketika mereka sama-sama kembali ke Indonesia, kenangan manis itu masih terus terasa. Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Sekedar menemani Axl belajar, atau sengaja pergi ke salah satu tempat wisata di Indonesia.
Meskipun harus kucing-kucingan dengan wartawan dan hengpong jadul para admin akun lambe-lambean, Namun mereka selalu memiliki kesempatan untuk bersama.
Axl sendiri sudah lupa kalau kedua orang tuanya telah terpisah sejak lama. Ia hanya menikmati kebersamaan itu dan merasa bersyukur, karena kedua orang tuanya tak lagi harus sikut-sikutan guna mendapat perhatiannya.
Kedua orang tuanya sudah mulai dewasa dan mau berbagi satu sama lain. Dulu-dulu saat diawal. Ketika Axl belum mengetahui jika Mikha adalah ibunya, acapkali ia merasa aneh pada sikap ibu dan ayahnya ketika mereka bertemu.
Mereka tampak seperti bersaing untuk merebut perhatian Axl. Mereka terlihat ingin menunjukkan siapa yang paling dekat dengan anak mereka.
Namun kini semua itu telah berakhir. Darren agak melonggarkan celah agar Mikha bisa mengenal anaknya lebih jauh. Bahkan kini mereka kompak untuk sama-sama memberikan Axl perhatian ekstra. Mengingat selama anak itu tumbuh, mereka berdua tak bisa mengasuh atau pun memberikan kasih sayang padanya.
Anna maria dan r
fernando
Cindy ini benar2 menyebalkan, sama saja dengan suaminya jahat 😡
top 👍👍👍👍👍
novelnya susah di tebak ending nya
👍👍👍👍👍
sudah ta vote Thor